Bab 10. Makan siang dengan Fani

Dika kemudian menjahit luka di leher wanita itu. Tidak butuh lama baginya untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Selesai menjahit luka wanita itu Dika membawa wanita itu ke ruang perawatan.

"Aku harap kau bisa pulih dengan cepat agar aku bisa cepat membantumu membalas dendam kepada suamimu,"

"Baik dokter,"

Perempuan itu tampak berkaca-kaca saat mendengar penuturan Dika.

"Habisi makanannya, dan jangan lupa minum obatnya agar lukamu cepat mengering,"

"Baik dok,"

Pukul lima sore Dika pun memutuskan untuk pulang. Setibanya di apartemennya ia terkejut saat melihat sebuah surat tergantung di depan pintu apartemennya.

Ia mengambil surat itu dan membukanya. Ia terkejut saat membaca isinya.

"Surat panggilan untuk menghadiri sidang perceraian. Sepertinya Dona begitu ingin menikah dengan Anam hingga ia langsung gerak cepat untuk menceraikan diriku. Padahal belum ada satu bulan kami berpisah. Biklah kalau itu mau aku akan mewujudkan semua keinginanmu dan setelah itu aku akan membuatmu menyesali semua keputusanmu seumur hidupmu."

Keesokan harinya jika memenuhi panggilan pengadilan agama menghadiri sidang perceraiannya. keluar dugaan Ia hanya datang untuk menandatangani hasil sidang perceraian yang memutuskan jika ia dan istrinya sudah resmi berpisah.

Dika hanya tersenyum saat pengacara Dona mengatakan jika harta gono gini semuanya menjadi milik Kliennya, karena selama ini Dona lah yang bekerja mencari nafkah .

"Ambil saja semuanya aku tidak keberatan, lagipula aku bisa mendapatkannya lagi dalam waktu singkat," tandas Dika sengaja menyombongkan dirinya di depan mantan istrinya

Selesai menandatangani surat perceraian Dika pun memilih pergi meninggalkan Dona.

Saat ia tiba dihalaman pengadilan Dika bertemu dengan Anam.

"Sepertinya ada yang sedih karena kehilangan harta kekayaannya?" sindir Anam

"Kalau cuma tabungan yang tak seberapa aku rela memberikan semuanya kepada istriku, karena bagaimanapun juga seorang pria lebih baik memberi bukan daripada meminta bukan?" sahut Dika

Ia kemudian meninggalkan Anam yang terlihat kesal setelah mendengar jawaban darinya.

Dika langsung menuju ke rumah sakit, tempat yang pertama ia kunjungi adalah bangsal perawatan wanita yang berusaha membunuh dirinya sendiri.

Jessica seorang wanita berusia 25 tahun harus menelan pil pahit saat suaminya memilih berselingkuh dengan sepupunya. Saat ia berusaha untuk mempertahankan rumah tangganya suaminya justru menggugat cerai dey alasan ia jika Jesica adalah seorang wanita mand*l. Karena selama lima tahun pernikahannya ia belum memiliki anak.

Jesica menangis tersedu-sedu saat menerima surat panggilan dari pengadilan Agama.

Merasa memiliki nasib yang sama Dika pun berusaha menghiburnya.

Ia kemudian mengajak Jesica untuk jalan-jalan menikmati udara segar .

Saat keduanya sedang berkeliling rumah sakit, Seorang wanita cantik menghampiri mereka.

Dia adalah Stefani gadis yang ditolong Dika karena pingsan di jalan.

Hari itu Fani sengaja datang menemui Dika untuk mengucapkan terimakasih karena pria itu.

"Kalau kau tidak keberatan aku ingin mengajakmu makan siang," ucap Fani

"Tentu saja tidak, katakan saja dimana tempatnya aku pasti datang," jawab Dika

"Di rumah makan kemarin pukul satu siang," jawab Fani

"Baik, aku pasti akan datang,"

"Terimakasih banyak dokter, sampai ketemu di warung sederhana!" seru Fani kemudian berlari meninggalkan Dika

"Dia pasti kekasih mu ya?" tanya Jesica

"Bukan, dia itu pasienku," jawab Dika

"Tapi kalian terlihat begitu dekat dan akrab,"

"Sebenarnya aku sih biasa saja, mungkin karena pasienku itu masih terlalu muda, dan gayanya yang periang membuat kami terlihat dekat?" jawab Dika

"Benar sekali dokter, sebagai dokter anda memang berbeda dengan dokter lainnya. Anda begitu peduli dengan semua pasien, ramah, dan baik hati,"

"Kamu terlalu memuji," jawab Dika

"Kapan saya boleh pulang dok?" tanya Jesica

"Tentu saja setelah lukamu mengering. Nanti kita cek dulu jahitannya. Setelah semuanya ok, kamu pasti saya izinkan pulang,"

Dika kemudian mendorong kursi roda Jesica kembali ie bangsal perawatannya.

Heru tampak mengamati keduanya dengan intens.

Pukul satu siang, Dika pun bersiap menuju warung makan sederhana untuk memenuhi janjinya kepada Fani.

Fani menyambut kedatangan Dika dengan senyum lebar. Gadis 21 tahun itu langsung menggandeng Dika dan mengajaknya masuk ke dalam.

"Memangnya harus gandengan ya?" tanya Dika terlihat malu karena semua pengunjung rumah makan memperhatikan dirinya

"Iya dong dok, biar terlihat akrab," jawab Fani

"Oh begitu, tapi sayangnya orang-orang itu justru menganggap kita seperti seorang om-om yang mengajak sugar babynya.

Seketika tawa Fani meledak membuat semua mata tertuju padanya.

"Memangnya kenapa Om dokter, apa Om keberatan. Atau Om takut ketahuan istri Om?" goda Fani

"Bukan begitu hanya saja aku merasa kurang nyaman saja," jawab Dika

"Apa perlu aku peluk biar Om merasa nyaman?"

Seketika Dika langsung menjauh saat Fani hendak memeluknya.

"Jangan dong Fani," ucap Dika dengan mata melotot

Kembali tawa Fani membahana membuat semua orang lagi-lagi menoleh kearahnya. Memang tak bisa dipungkiri jika Fani terlihat semakin manis saat ia tertawa.

*Deg!

Sebagai seorang lelaki normal tentu saja Dika pun dibuat berdebar saat melihat wajah manis gadis yang memiliki gigi gingsul tersebut.

Namun Dika segera menepis perasaannya dan buru-buru memilih kursi kosong.

Fani segera memesan aneka macam makanan.

Dika tampak tak percaya saat meja makannya dipenuhi aneka makanan.

"Wew ini semua kamu yang pesan Fan?"

"Iyups!" seru Fani

"Memangnya perutmu muat apa makan sebanyak ini?" tanya Dika

"Muat dong kan aku masih masa pertumbuhan," jawab Fani

Dika hanya menggeleng pelan melihat Fani yang begitu rakus melahap semua makanannya.

Tidak lama Dona dan Anam memasuki ruangan itu. Melihat Dika bersama seorang remaja membuat Dona penasaran dan mendekatinya.

"Wah tidak ku sangka seleramu berubah. Sekarang kau lebih suka daun muda rupanya. Ah aku tahu Kenapa kau memilih pasangan yang lebih muda, itu karena mereka itu mudah kau bodohi. Kau tidak perlu memberi Mereka jatah bulanan seperti dulu saat kau menjadi suamimu. Dasar parasit!" cibir Dona

*Brakkk!!

Seketika Dona begitu terkejut saat Fani tiba-tiba menggebrak mejanya.

"Oi Tante ngaca dulu dong kalau ngomong. Kalau dokter Dika milih aku jadi pasangannya itu normal karena usia kami tidak beda jauh. Yang gak normal itu Tante karena memilih pasangan kakek-kakek. Biasanya ya, wanita yang memilih pasangannya yang jauh lebih tua biasanya itu cewek matre. Cewek matre cewek matre kelaut aje!" sahut Fani

Dona yang kesal berusaha menampar wajah Fani, namun dengan sigap Dika langsung menahan lengan Dona.

"Cukup Dona, hubungan kita sudah berakhir jadi jangan pernah ikut campur dalam urusan pribadiku. Lebih baik urus saja hubungan kalian daripada mengurusi kehidupan pribadi ku!" seru Dika.

Lelaki itu kemudian menggandeng Fani dan membawanya pergi meninggalkan Dona.

🥉

Terpopuler

Comments

Zuhril Witanto

Zuhril Witanto

cemburu dapat daun muda

2024-01-01

0

Zuhril Witanto

Zuhril Witanto

kok habisi

2024-01-01

0

⸙ᵍᵏ𝐙⃝🦜Titian Mentari 🦈

⸙ᵍᵏ𝐙⃝🦜Titian Mentari 🦈

sebenarnya Dona cemburu tuh tapi gengsi

2023-12-08

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!