Dika bersiap menuju ke tempat pertemuan para pengusaha rumah sakit di sebuah hotel yang tak jauh dari tempatnya menginap.
Hans bahkan sengaja menjemputnya. Keduanya berjalan beriringan memasuki lobby hotel.
Semua mata tertuju kepada Dika. Mereka mulai membicarakan sepak terjang dokter muda itu yang beberapa kali sempat viral karena aksi heroiknya.
Beberapa orang pengusaha langsung mendekati Dika. Mereka kebanyakan berusaha mendekatinya agar mau bergabung di rumah sakitnya. Namun semua tawaran itu ia tolak dengan santun karena Dika sudah nyaman di rumah sakit Harapan Kasih.
Saat Dika sedang menyendiri untuk menikmati makan malamnya, seorang pria mendekatinya. Anam menarik kursi di depan Dika dan duduk tepat di depannya.
"Wah, sepertinya ada yang rajin ngejilat atasan sampai maksain ikut acara seperti ini. Apa kau tidak tahu kalau ini acara khusus untuk para pemilik atau pengusaha rumah sakit, bukan dokter karbitan kaya lo!" ejek Anam
Dika hanya tersenyum menanggapi ucapan Anam. Ia tetap melanjutkan makannya tanpa sedikitpun terpengaruh omongan rivalnya itu.
"Dasar muka tembok, pasti kamu sengaja ikut acara seperti ini agar bisa dapat makan enak gratis kan. Secara kamu itu kan jarang makan enak selama ini, kecuali kalau mantan istri kamu mencuri makanan enak dari kafe tempatnya bekerja," imbuhnya seketika membuat Dika langsung menghentikan makannya
Ia menatap nyalang lelaki di depannya. Tangannya mengepal dengan tatapan mata tajam yang berkilat-kilat seolah menunjukkan kemarahannya dengan ucapan Anam tersebut.
"Andai saja aku tidak datang bersama atasanku, mungkin sudah ku bungkam mulutmu, atau bila perlu ku rontokkan gigimu agar tak sembarangan lagi berbicara!" sahut Dika
Anam tampak tersenyum bahagia. Ia merasa kali ini berhasil membuat Dika terpancing emosi.
"Sepertinya semua orang belum tahu sikap preman mu yang seperti ini. Selama ini kamu begitu rapih menutupi sikap bengal mu itu," jawab Anam
Lelaki itu kemudian pergi meninggalkan Dika setelah berhasil mendapatkan sesuatu yang ia inginkan.
Mengetahui popularitas Dika yang semakin melejit, membuat Anam merasa iri dengannya. Sebagai seorang dokter bedah lulusan terbaik di luar negeri harusnya ia yang terpilih menjadi ketua asosiasi dokter bedah seluruh Indonesia. Tapi ketua IDI justru memilih Dika sebagai ketuanya.
Hal inilah yang tentu saja membuat Anam semakin membenci Dika.
Dika yang sengaja merekam percakapannya dengan Dika sengaja mengeditnya dan meng-upload rekaman itu ke sosial media untuk menjatuhkan nama baik Dika.
Benar saja hanya dalam waktu singkat ancaman Dika terhadapnya langsung menjadi trending topik nomor satu di sosial media.
Saat Anam diberikan kesempatan untuk menyampaikan pidato selaku pengusaha rumah sakit termuda ia bahkan sengaja membahas tentang rekaman tersebut.
Tentu saja semua orang langsung heboh saat Anam memutar rekaman audio yang sudah ia persiapkan tersebut.
Semua orang yang sebelumnya menatap Dika dengan tatapan kagum kini justru tampak menggunjingnya.
"Sekarang, semuanya sudah jelas, kalau apa yang dilakukan oleh Dokter Dika adalah pencitraan. Tentu saja ini adalah pencitraan agar ia mendapatkan posisi penting di rumah sakit Harapan Kasih tempatnya bekerja. Bukan hanya itu saja, sepertinya ia memang sengaja mengincar jabatan lain saat menolong ketua IDI," tandas Anam seraya melirik kearah Dika
"Sudah ku duga jika ia sengaja memancing ku, kenapa kau selalu saja mengusikku Anam. Apa kau tidak tahu kalau semut pun bisa marah jika terus kau Injak!" ucap Dika penuh emosi
"Andai saja aku punya bukti perselingkuhannya dengan istriku, kau pasti mati kutu di tanganku," imbuhnya
*Grep!
Dika segera menoleh kebelakang saat seseorang menepuk pundaknya.
"Pak Sardi??" Dika membelakakan matanya saat melihat pria itu memakai seragam pelayan.
Sardi tersenyum menatapnya.
"Iya Pak Dokter, saya Sardi. Alhamdulillah saya senang bisa ketemu lagi sama dokter di sini?" jawabnya lirih
"Bapak sekarang kerja di sini?" tanya Dika
"Iya Pak, untungnya aku diterima kerja jadi pelayan freelance di sini," jawabnya
"Syukurlah, gimana keadaan istri anda sekarang?"
"Istri saya sekarang sudah sehat dan bisa beraktivitas berkat anda. Kemarin dia nitip salam buat Bapak tapi saya baru nyampein sekarang karena baru ketemu,"
"Aku ikut senang kalau gitu, salam. Juga buat istrinya," sahut Dika
"Baik, kalau begitu saya balik
kerja lagi pak," jawab Sardi
Lelaki itu kembali melayani para tamu. Sardi tampak terperanjat mendengar para tamu membicarakan tentang Dika. Terlebih saat mendengar ucapan Anam yang selalu menghujat Sang dokter .
Sardi menatap iba kearah Dika.
"Sekarang saatnya membalas kebaikan anda dokter," Sardi kemudian menghampiri Dika. Ia membisikkan sesuatu kepadanya hingga membuat matanya sang dokter terbelalak.
Sardi memberikan sebuah flashdisk kepadanya.
"Di sini ada rekaman pembicaraan kami saat Dokter Anam memerintahkan saya untuk menghabisi nyawa anda,"
Dika melotot mendengar penuturan Sardi. Ia tak menyangka jika Anam berusaha membunuhnya karena ia takut perselingkuhannya dengan mantan istrinya tersebar.
"Sekali lagi saya mohon maaf Dokter, jika anda ingin menggugat saya atas usaha percobaan pembunuhan ini silakan, saya ikhlas!" ujar Sardi
"Tapi anda sudah di tahan dan di bebaskan, lalu untuk apa aku harus melaporkan lagi kasus ini?" jawab Dika
"Pembebasan ku itu sebuah konspirasi. Dokter Anam sengaja menyuap petinggi kepolisian untuk membebaskan aku. Karena dia ia ingin memintaku untuk membunuh anda lagi. Untungnya semua itu gagal karena anda justru menolong istri saya. Dan itulah yang membuat saya mengundurkan diri sebagai anak buah dokter Anam dan memilih menjadi seorang pelayan di sini," terang Sardi
Dika benar-benar tidak menduga jika Anam benar-benar begitu membencinya hingga ia juga ingin membunuhnya.
"Pantas saja ia sengat membenciku dan selalu berusaha menghancurkan karier ku. Jadi ia takut aku akan membocorkan perselingkuhannya dengan mantan istriku,"
"Baiklah kalau begitu sekarang saatnya membalikkan keadaan,"
Dika yang tak mau harga dirinya diinjak-injak untuk kedua kalinya segera mengambil tindakan.
Ia segera pergi meninggalkan tempat duduknya. Lelaki itu kemudian menghubungi
Dika sengaja berjalan ke belakang panggung. Ia berusaha mencari sesuatu. Ternyata Dika mencari dimana Audio milik Anam di putar.
Setelah menemukan ruangan yang dicarinya, ia pun menunggu di luar. Dika sengaja u mencari tahu kondisi ruangan itu.
Saat melihat penjaga ruangan itu keluar Dika segera masuk ke ruangan tersebut.
Ia segera mematikan audio yang diputar oleh operator dan menggantinya dengan flashdisk pemberian Sardi.
Semua orang yang tengah mendengar pidato Anam tiba-tiba terkejut saat mendengar suara percakapan antara Anam dan Sardi.
"Aku tidak mau tahu kau harus membunuh dokter itu apapun caranya dan jangan tinggalkan jejak sedikitpun,"
Seketika wajah Anam pucat pasi mendengar rekaman suaranya yang diperdengarkan di ruangan tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
Zuhril Witanto
rasain
2024-01-01
0
⸙ᵍᵏ𝐙⃝🦜Titian Mentari 🦈
kapok kau Anam🤣
2023-12-12
0
Alanna Th
pecat dg tdk trhormat n idi mncabut izin prktkmu, anam
2023-12-07
0