...☘️Happy Reading☘️...
Keesokan harinya. Di ruangan rapat perusahaan Abimanyu. Celina tengah mengadakan rapat penting antar dewan direksi perusahaan. Berhubung kerjasama dengan perusahaan Antariksa ini sangatlah penting, jadi harus mengadakan rapat untuk membahas beberapa hal penting perusahaan.
"Saya sangat menyesal karena kali ini, kerjasama antara perusahaan Abimanyu dan Antariksa mengalami kegagalan." Ucap Celina menyesal.
"Kenapa bisa gagal. Bukankah sebelumnya sudah ada persetujuan dan hal ini tidak mungkin terjadi" Protes dari salah salah orang yang mengikuti rapat.
"Itu karena, dia memang tidak mampu menjalankan perusahaan ini dengan benar" Jawab yang lainnya mengompori suasana.
"Tidak begitu. Saya juga berpikir, bahwa proyek ini tidak akan gagal. Tapi, semua itu keputusan dari mereka. Tapi, saya berjanji proyek kali ini akan berhasil, berikan saya kesempatan satu kali lagi, dan kalian tidak perlu khawatir lagi" Jawab Celina meyakinkan.
Semua orang menganggap bahwa ucapan Celina kali ini adalah janji, "Baiklah. Jika terjadi kegagalan lagi, maka kami akan memikirkan untuk mencari pengganti pimpinan yang baru." Ucap salah satu dari mereka.
"Sejak awal kami memang tidak pernah menyetujui bahwa yang menjadi pimpinan perusahaan ini adalah seorang wanita. Jadi, gunakan kesempatan ini untuk membuktikan diri" Lanjut mereka memperingati.
"Baik pak. Saya mengerti, dan saya tidak akan mengecewakan kalian lagi" Jawab Celina menyetujui.
Kelima dewan direksi itu pun pergi meninggalkan rapat. Sementara, sementara Celina masih duduk di ruangan dengan menghela nafas berat.
Di kantor. Lebih tepatnya di ruangan kerjanya. Celina langsung masuk ke ke ruangannya. Dia terlihat memandangi handphone miliknya dan berencana akan menghubungi perusahaan Pak Eiden dan berbicara dengannya.
Namun, setelah berhasil menelpon, pihak sana malah menolaknya dan berkata bahwa Pak Eiden sedang keluar.
"Bagaimana caranya aku mendapatkan proyek ini. Pimpinan Perusahaan Antariksa bahkan tidak mau berbicara kepadaku" Gumamnya bingung.
Disaat yang sama. Dua orang pria berjas mewah dengan ditemani dua orang pengawal terlihat datang ke ke kantornya. Mereka adalah pemilik perusahaan lain yang bekerja sama dengan perusahaan keluarga nya, yang sekarang sedang berada di bawah pimpinan Celina.
Dua Orang itu adalah pemilik perusahaan Elektronik yang cukup terkenal di kota. Putra dari CEO perusahaan elektronik itu terlihat juga ikut berkunjung.
Sementara itu, sebuah pintu diketuk dari luar. Celina terkejut dan langsung menyeru dari dalam.
"Masuklah!" Titah Celina.
Sekertarisnya masuk usai mendapatkan ijin, "Nona, pimpinan perusahaan Elektronik ingin bertemu dengan nona" Lapornya segera.
"Suruh mereka masuk" Titahnya lagi. Tak berapa lama, kedua pria itu pun masuk dan duduk di kursi panjang yang ada di ruangannya.
"Silahkan duduk pak Bram, dan Cris," Ujar Celina sangat ramah.
"Apa yang membuat anda datang kesini pak. Apa ada masalah pekerjaan yang harus kita bahas?" Tanya Celina heran. Pasalnya, mereka tidak memiliki janji pertemuan hari ini bersama perusahaan elektronik.
"Maksud kedatangan kami kemari, kami ingin menawarkan bantuan." Pak Bram menjeda ucapannya sejenak. Sementara, Celina terlihat mengerutkan keningnya bingung.
"Kami ingin memberikan saham kepada perusahaan Abimanyu, tapi dengan syarat kalau nona Celina bersedia bercerai dengan suami anda Deon dan menjalin hubungan dengan anak saya Cris" Ujar Pak Bram menyampaikan maksud kedatangan mereka.
Celina terlihat diam, "Lancang sekali mereka" Gumam Celina kesal, dengan wajah yang dibuat setenang mungkin dan memandang jijik ketika melihat Putra dari pengusaha kaya itu yang sejak tadi memandang nya dengan mesum.
Sejak dulu, Cris sudah mencintai Celina dan ingin mendapatkannya. Namun sayang, Celina tidak pernah memandangnya sebagai seorang pria yang mencintainya.
"Jangan terlalu repot-repot pak Bram. Maaf, saya tidak memperjual belikan harga diri saya. Mau bagaimana pun perusahaan kami, saya tidak akan menerima bantuan dari anda sedikitpun" Jawab Celina menolak mentah-mentah tawaran itu.
Pak Bram sedikit tertegun, "tidak perlu terburu-buru. Kami akan menemui Pak Abraham saja untuk membicarakan hal ini. Kamu mungkin tidak tau resiko yang akan kamu hadapi jika terus mempertahankan perusahaan yang akan bangkrut" Ujar Pak Bram memperingati.
"Maafkan saya pak Bram. Bukannya saya menolak tawaran itu, tapi saya sungguh tidak membutuhkan bantuan. Lagipula, Cris bukanlah pria yang saya cintai. Jika bapak butuh menantu, saya memiliki wanita lain untuk bisa menikahi anak bapak" Ujar Celina dengan ekspresi wajah yang masih tenang.
"Lancang. Kamu tidak tahu malu. Kami datang kesini untuk membantumu. Tapi kamu sangat sombong dan angkuh. Kita lihat saja, bagaimana cara kamu mempertahankan perusahaan ini" Kecam Pak Bram. Lalu pergi dengan membawa perasaan kesal.
Celina hanya menatap kepergian mereka dengan tarikan nafas panjang.
Sore itu, Celina pulang dari kantor. Namun, semua orang sudah menunggu kepulangannya. Mereka semua sudah mengetahui perihal kedatangan CEO perusahaan Elektronik ke perusahaan mereka yang ingin menawarkan bantuan.
Pak Abraham langsung menghentikan langkah Celina yang ingin pergi ke kamarnya.
"Celina. Tunggu sebentar!" Seru Pak Abraham.
"Masalah apa lagi ini" Gumam Celina di dalam hati. Dia berbalik badan dan menghadap kepada ayahnya yang kini sudah melangkah ke depannya.
"Papa sudah mendengar kalau Ceo perusahaan elektronik datang siang ini ke kantor. Beliau menelpon Papa langsung dan menawarkan saham yang besar. Kenapa kamu menolaknya?" Tanya Pak Abraham seraya menatap anaknya dan menuntut penjelasan.
"Aku menolaknya karena dia ingin aku bercerai dan menikah bersama anaknya. Aku bukan barang yang harus di beli, jadi aku menolaknya" Jawab Celina sekenanya.
"Hanya itu?" Tanya Pak Abraham seolah alasan penolakan Celina tidaklah begitu besar.
"Seharusnya kamu menerima tawaran itu. Apa susahnya hanya menikah bersama anaknya. Seharusnya kamu bisa lebih mementingkan keuntungan perusahaan. Jika mereka mau memberikan sahamnya. Maka kita tidak perlu lagi memikirkan kerugian perusahaan dan perusahaan kita akan bisa stabil dari krisis saat ini" Lanjut Pak Abraham.
Celina agak kecewa mendengar perkataan ayahnya. Menurutnya, ayahnya hanya mementingkan perusahaan dibandingkan harga dirinya sat ini yang seharusnya tidak diperjual belikan.
"Seharusnya kamu mendengarkan papa Celina. Semua ini karena ulah mu yang gagal dalam mengelola perusahaan. Dan suamimu itu, dia hanya membuat masalah, proyek perusahaan kita gagal karena dia. Dan dialah yang sudah menghancurkan bisnis keluarga. Lalu kenapa tidak kamu terima saja tawaran itu dan tinggalkan suami tidak berguna itu. Mumpung masih ada kesempatannya, lebih baik cepat cerai dan bantu selesaikan masalah bisnis keluarga dengan cepat." Sanggah Farhan yang ikut menyalahkan Celina.
"Menikah, menikah dan menikah. Tidakkah kalian memikirkan perasaan ku. Aku adikmu kak, kenapa kamu begitu tega. Kalian semua tega menjual ku demi saham keluarga. Kenapa hanya aku yang di bebankan. Kenapa hanya aku yang menjadi korban" Ucap Celina kecewa, yang kini sudah pergi dengan membawa tangis.
Celina berlari kencang dan menutup pintu nya dengan marah setelah sampai di kamarnya. Dia menangis kencang dan dia merasa sangat kecewa kepada keluarganya.
Sementara itu. Di lantai bawah. Deon terlihat baru kembali dari rumah sakit. Dia masuk, dan dia langsung di hadang oleh Farhan, Fadil dan bayu.
Deon terlihat bingung. Lalu bertanya apa yang sudah terjadi, "Apa yang terjadi. Kenapa melarang ku masuk?" Tanya Deon.
"Semua ini karena kesalahan kamu Deon" Ucap Fadil.
"Kenapa? Apa salahku?" Tanya Deon bingung.
"Salahmu karena menikahi adikku. Dan Karena kamu juga, dia hidup menderita. Kenapa kamu tidak berinisiatif untuk meninggalkannya saja. Dia akan lebih bahagia jika menikah bersama pria yang sangat kaya dan mapan. Tidak seperti kamu yang bisanya hanya menjadi beban keluarga kami" Jawab Farhan.
Pada saat yang sama, suara dering telepon Abraham pun berbunyi.
"Apa? Benarkah? Saya sangat bahagia mendengar kabar ini. Terimakasih banyak pak. Baik, besok kami akan bertemu dengan bapak dan melakukan tanda tangan proyek" Ucap Abraham yang terlihat senang usai mengangkat telepon itu.
Mereka langsung diam dan menatap ayahnya dan bertanya siapa yang menelpon.
"Siapa pa?" Tanya Farhan penasaran.
"Pak Eiden. Pak Eiden menyetuji proyek kerjasamanya" Jawab Pak Abraham bahagia. Semua orang sangat senang mendapatkan kabar ini, hingga mereka melupakan kemarahannya kepada Deon sejak tadi.
.
.
.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Harman LokeST
belum tahu sebenarnya Deon yang sebenarnya bila mereka mengetahui pasti ketakutan
2023-09-27
1