Bab 7

...🪵Happy Reading 🪵...

Semua orang kembali ke rumah usai makan siang bersama Profesor Yasa. Mereka terlihat duduk di ruang tamu sambil berbincang mengenai bantuan yang diberikan oleh pihak rumah sakit.

"Aku merasa heran. Kenapa pihak rumah sakit tiba-tiba ingin memberikan bantuan pengobatan secara gratis untuk Shakila. Mereka sudah jelas tau bahwa kita bukanlah orang yang kurang mampu dalam finansial" Ucap Pak Abraham yang terlihat berpikir mengenai bantuan yang secara mendadak diberikan oleh pihak rumah sakit kepada cucunya.

"Ya. Aku yakin sekali jika bantuan itu memang di berikan kepada Shakila, karena pengaruh dari keluarga kita. Selain itu, dibawah pimpinan kak Farhan, ada sebagian perusahaan yang dikelola oleh kak Farhan dengan peralatan medis rumah sakit yang bekerja sama. Jadi, ada kemungkinan bahwa memang bantuan gratis itu karena bisnis keluarga kita yang terkenal oleh banyak orang" Ujar Fadil.

"Iya benar. Aku juga merasa begitu!" Jawab Farhan menimpali.

Semua orang terlihat berbincang mengenai bantuan yang diberikan oleh rumah sakit kepada Shakila, dan mengira bahwa semua itu karena pengaruh keluarga mereka yang cukup terkenal di kalangan bisnis Jakarta.

Sementara itu. Tante sintya dan Bayu terlihat tersenyum licik ketika melihat Deon memasuki rumah.

"Aku rasa menantu di rumah ini tidaklah berguna. Mana yang katanya dia memiliki biaya pengobatan putrinya? Yang ada malah membuat malu. Dasar tidak tahu diri!" Sindir Tante Sintya.

"Lihatlah. Pengaruh keluarga ini cukup besar sehingga bisa menyelamatkan hidup anakmu. Jika bukan karena nama besar keluarga, aku yakin, sampai sekarang pun kamu tidak akan bisa memberikan pengobatan terbaik untuk Shakila. Kamu hanyalah pria yang tidak tahu diri" Timpal Bayu menghina seraya membanggakan nama keluarga besarnya.

"Jangan dengarkan mereka. Kamu tenang saja, biar aku yang akan menghubungi rumah sakit, karena apa mereka mau membantu putri kita" Ujar Celina lembut. Melihat Deon yang hanya diam, Celina merasa kasihan dan dia pun tak tinggal diam melihat suaminya yang selalu di hina setiap hari.

"Heh babu. Kenapa diam saja. Kemana kartu ATM yang katanya memiliki banyak uang itu. Hahaha, dasar sampah" Sintya kembali mengejeknya.

"Hentikan Tante." Sentak Celina kesal.

Tante Sintya pun lantas tak berdiam diri dan balas menatap tajam seraya berkata, "Apa peduli Mu Celina. Suami sampah mu itu tidak layak berada di sini. Apa kamu tidak malu memiliki laki-laki seperti dia yang bisanya hanya menumpang hidup di keluarga mertua, hah?" Tante Sintya balas membentak.

"Dimana letak tanggung jawabnya sebagai suami. Apa kamu sudah buta sehingga tidak bisa melihat ketika dia tidak bisa membayar biaya pengobatan anakmu. Apa itu suami yang kamu inginkan, ketika kamu butuh makan, kamu harus mengemis di jalanan untuk bisa makan. Ketika anak mu sakit, dia berdiam diri karena tidak memiliki uang. Apa kamu mau hidup terus-menerus seperti itu, hah?" Lanjutnya.

Celina diam, namun raut wajah menunjukan kemarahan, lalu pergi begitu saja tanpa menanggapi ucapan Tantenya itu.

Keesokan harinya.

Pagi sekali, Deon sudah pergi menjenguk putrinya, kemudian dia berencana akan berangkat bekerja.

Selama ini, dirinya selalu dipandang remeh oleh semua keluarga istrinya. Hingga dirinya tidak dapat bekerja di perusahaan istrinya, sebab itu dia memutuskan untuk bekerja di tempat lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Sebelumnya, sewaktu berbincang bersama Pak Eiden beberapa hari yang lalu, Pak Eiden sempat mengatakan kepadanya, bahwa perusahaan di tempatnya bekerja sekarang adalah salah satu perusahaan cabang terbesar yang dimiliki oleh Organisasi Sekte Dewa Elang di Indonesia.

Namun, walaupun mengetahui semua itu, Deon tidak ingin mengatakan kebenaran tentang dirinya, bahwa dia lah pemilik perusahaan tersebut.

Sepanjang perjalanan menuju kantor. Deon hanya diam berpikir sembari mengayuh sepeda bututnya yang sudah reot.

"Aku tidak mengerti. Siapa diriku dan kenapa aku tiba-tiba mendapatkan semua kekuasaan dan kekuatan yang tidak normal ini." Gumam Deon yang terus berpikir tentang dirinya.

Setibanya di kantor. Deon segera masuk dan pergi ke meja kerjanya seperti biasa. Namun, belum sempat dirinya duduk, seseorang melemparkan sebuah surat tepat di atas mejanya, membuat Deon sedikit mendongakkan wajahnya bingung.

"Kamu dipecat!"

Deon menganga lebar, lalu segera berdiri, "Apa yang sudah saya lakukan pak. Kenapa saya di pecat?" Tanya Deon syok. Dirinya terkejut mendapatkan surat pemecatan dari atasannya tersebut.

"Apa kamu sudah pikun. Selama seminggu ini, tidak ada satupun barang terjual darimu. Pencapaian mu juga sangat buruk dan ini sangat merugikan perusahaan. Jadi, jangan bertanya kenapa kamu di pecat dari sini" Jawab Pak Anton, atasannya itu.

"Tapi pak.... "

"Tidak ada alasan. Kamu sudah dipecat! Sekarang pergi dari sini." Potong pak Anton yang tidak ingin mendengarkan penjelasan dari Deon lagi.

Deon terlihat kebingungan. Pencapaiannya di perusahaan selama ini selalu terdepan. Tetapi, atasannya tidak memberikannya kesempatan untuk menjelaskan semuanya.

Dengan berat hati, Deon pun terpaksa harus mengemaskan barang-barangnya dimeja kerjanya.

"Kasihan sekali dia. Pencapaiannya sangat bagus, tapi Pak Anton malah mengambilnya dan memberikannya kepada keponakannya yang baru lulus dari universitas."

Deon terdiam kala mendengar itu. Disaat dia akan bersiap-siap merapikan barangnya, ia malah mendengar rekan kerjanya yang bilang, kalau pencapaiannya

diambil oleh orang yang dipercayai atasannya. Deon merasa tak terima, ini adalah satu-satunya pekerjaan yang dia dimiliki. Ia pun pergi ke ruangan atasannya untuk meminta keadilan.

Sesampainya di sana. Deon membuka begitu saja pintu ruangan Pak Anton. Hatinya sangat marah mengetahui jika Pak Anton telah menipunya.

"Kamu...Siapa yang mengijinkan mu masuk ke ruangan saya?" Ucap Pak Anton marah.

"Saya mendengar jika Pak Anton sengaja memecat saya karena Pak Anton ingin memberikan pencapaian itu kepada keponakan bapak. Saya tidak terima pak. Saya tidak akan membiarkan bapak memperlakukan saya seperti ini" Protes Deon.

Pak Anton hanya mencebikkan bibirnya tak peduli, "Saya yang berkuasa disini. Kamu hanya bagian kecil yang kapan saja bisa saya tendang. Jadi, jangan pernah meninggikan suaramu seperti ini, jika tidak kamu akan menerima akibatnya nanti" Jawab Pak Anton sinis.

"Saya tidak akan tinggal diam. Masalah ini akan saya laporkan kepada kepala HRD perusahaan" Ancam Deon tegas. Lalu pergi meninggalkan ruangan.

Pak Anton menggeram kesal. Dia menatap tajam ke arah Deon yang semakin menjauh dari ruangannya.

Sementara itu, Deon termenung sedih di meja kerjanya. Setelah melaporkan masalahnya kepada HRD perusahaan, HRD malah tak begitu menanggapi permohonannya dan menyuruhnya untuk menunggu beberapa hari untuk mengumpulkan bukti.

Ia mengemasi barangnya dengan wajah yang lesu, "Apa yang akan aku katakan kepada Celina nanti. Dia pasti juga akan sedih jika mengetahui bahwa aku di pecat dari perusahaan ini" Gumamnya sedih didalam hati.

Disaat yang sama. Manager cabang perusahaan pagi-pagi sekali datang ke kantor.

Dia langsung menemui HRD perusahaan untuk menanyai kondisi Deon yang sekarang menjadi Sales marketing di perusahaannya tersebut.

Berhubung, semalam pimpinan pusat dari perusahaan miliknya menemuinya dan menyebut nama Deon agar perusahaan lebih memperhatikan Deon dan membantunya jika ada kesulitan. Meski tidak tahu apa hubungannya antara Deon dan pimpinan pusat, tapi Mickel tahu bahwa hubungan mereka tidaklah biasa.

"Ada yang bisa saya bantu pak?" Tanya HRD cepat kala melihat Pimpinannya,Mickel, berdiri di depan mejanya.

"Bagaimana performa pekerja Deon. Apa dia bekerja dengan baik. Jangan terlalu menyusahkannya dan pastikan bahwa dia tidak mengalami kesulitan" Ucap Mickel yang terdengar sebagai perintah.

HRD itu tertegun, lalu memberitahu masalah dimana pak Anton yang

mau memecat Deon tadi pagi.

"Maaf pak. Deon sudah dipecat oleh atasannya. Sekarang, mungkin dia sudah pergi. Atasannya memecatnya karena pencapaiannya yang menurun. Tapi, tadi Deon sempat kesini untuk melaporkan Pak Anton, kalau Pak Anton sudah berbuat curang mengambil pencapaiannya untuk keponakannya yang baru masuk sebulan yang lalu" Ucap HRD itu melaporkan.

.

.

.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Sak. Lim

Sak. Lim

karena idioooooot ga tegas jdi pria trllu lebay

2024-04-22

0

Sak. Lim

Sak. Lim

emang idioooooot suami lo ga tegas jdi pria trllu lebay banget bikin malu ja seorang mc

2024-04-22

0

Harman LokeST

Harman LokeST

Deon pecat saja Anton itu

2023-09-27

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!