Bab 3

...🌲Happy Reading🌲...

Keesokan harinya. Deon kembali ke rumah untuk mengganti pakaian. Sebab, sejak kemarin, dia tidak pulang atau hanya mengganti baju.

Namun, sesampainya di rumah. Dia menemui semua orang tengah berdebat.

"Penyakit ini agak berbeda Kak. Seharusnya kamu tau jika menyembuhkannya hanya akan membuang uang saja" Protes Hendrawan. Adik Abraham sekaligus keturunan kedua dari keluarga besar Abimanyu.

Semua orang nampak berkumpul, termasuk istrinya Celina, Tante Sintya, ayah mertuanya Abraham, ibu mertuanya dan sepupu-sepupu Serta saudara istrinya yang lain.

"Selain itu, penyakit ini tidak hanya menggunakan fasilitas yang terbaru dan mahal, tapi juga mencari Dokter spesialis yang juga sangat hebat. Mau berapa biaya yang akan kita keluarkan untuk ini?" Bayu, sepupu Celina dan anak Hendrawan juga tidak setuju atas keputusan pribadi Celina yang ingin mengobati Shakila anak mereka.

"Selain itu, menghabiskan sekian miliar pun belum tentu bisa menyelamatkan Shakila" Lanjut Bayu.

"Tapi dia juga putriku, Bayu. Aku tidak mungkin membiarkan dia menderita dengan melihatnya saja. Aku sudah bekerja dengan susah payah membangun perusahaan keluarga, tapi aku tidak bisa meminta untuk mengobati anakku?" Protes Celina sedih. Dia merasa kesal dan sedih atas tanggapan semua orang, dia merasa seolah hanya dimanfaatkan sebagai tulang punggung keluarga.

"Meski kamu adalah pemimpin dari perusahaan besar keluarga kita, tapi keputusan mu untuk membiayai Shakila yang membutuhkan miliaran uang yang akan sangat mempengaruhi keuntungan dari yang lainnya. Kami tidak ingin bagian kami akan berkurang karena mu Celin. Kami bukan orang yang memberikan santunan gratis dan membiarkan hidup kami didalam kekurangan" Jawab Bayu ketus.

Semua orang berpikir, Celina sudah pasti ingin mengobati putrinya tanpa pamrih. Meskipun dia adalah penanggung jawab perusahaan, biaya sekian miliar pasti akan mempengaruhi

keuntungan orang lain, jadi mereka semua tidak setuju atas keputusan Celina. Untung dan rugi adalah sesuatu yang harus mereka pertimbangkan. Lagipula, walaupun menghabiskan banyak uang, penyakit itu juga belum tentu bisa disembuhkan. Begitu lah pikir semua orang.

"Bagaimana ini pa?" Tanya Celina sedih. Matanya sudah berkaca-kaca, berharap keputusan ayahnya tidak sama seperti paman-paman dan saudaranya yang lain.

Pak Abraham masih diam, menatap dalam dan menimbang keputusannya setelah berbincang banyak hal bersama keluarganya.

Melihat istrinya yang sedih karena perdebatan ini, Deon pun maju dan berkata, "Jika kalian merasa tidak mau dirugikan, Aku yang akan mencari uang untuk mengobati anakku. Bagaimana pun, Shakila adalah putriku dan sudah menjadi tanggung jawab ku untuk mengobati penyakitnya" Ucap Deon tiba-tiba.

Mendengar itu, semua orang menatap Deon dan mulai menertawai Deon.

"Bagaimana bisa kamu mengobati putrimu. Makan saja masih menumpang, haha" Bayu tertawa meremehkan.

"Dia cuma asal bicara. Palingan nanti juga minta sama kita," Timpal Sintya yang juga meremehkan Deon.

"Deon. Ini bukan lelucon. Jangan bicara sembarangan yang membuatmu malu!" Tegas Pak Abraham yang merasa tak suka mendengar ucapan Deon yang seolah memiliki banyak uang dan kemampuan.

"Aku yakin dia hanya bercanda kak" Balas Sintya yang masih tertawa mengejek.

"Aku tidak main-main. Kalian tidak perlu bersusah payah memikirkan putriku. Karena aku akan mengobatinya sendiri" Jawab Deon tegas dan dingin.

Semua orang mulai terdiam dan menatap satu sama lain.

"Memangnya apa yang kamu punya, hah. Mengurus diri sendiri saja tidak bisa," Sindir Tante Sintya meremehkan.

Deon hanya diam, dan semua orang mulai menatapnya dengan bibir mencebik.

"Ingat ya, Deon. Kamu mau bayar menggunakan apapun terserah kamu saja. Tapi ingat..." Hendrawan menjeda kalimatnya sembari menunjuk wajah Deon dengan peringatan tegas.

"Tidak akan ada sepeserpun uang yang akan keluar dari rumah ini, apalagi berniat untuk mengambil uang dari rumah ini. Dan... Satu lagi. Jangan melakukan sesuatu yang dapat mempengaruhi keluarga ini. Apalagi sampai mencoreng nama baik keluarga ini. Ingat itu" Camnya dengan sangat tegas.

Melihat ini, Celina semakin merasa terluka. Dia juga tidak banyak bicara dan langsung pergi begitu saja, dan kembali ke perusahaan keluarganya untuk bekerja. Dia tahu bahwa suaminya, Deon, tidak akan bisa mengeluarkan uang sebanyak itu apalagi harus mencarinya. Sebab, dia tahu siapa Deon dan dari mana suaminya itu berasal. Bahkan, suaminya itu tidak memiliki relasi besar yang bisa menguntungkan dirinya sendiri dan keluarga.

Melihat kepergian Celina yang tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, membuat Deon mengerti keraguan yang dirasakan istrinya terhadap dirinya saat ini.

Semua orang hanya bisa mengejeknya, namun Deon sudah tidak peduli akan sindiran orang-orang terhadapnya. Karena yang paling penting untuknya saat ini adalah fokus mengobati penyakit anaknya.

Ditempat lain.

Deon menggenggam sebuah kertas dengan nomor telepon di dalamnya dan mengingat perkataan kakek Wuji kepadanya semalam setelah memberikan nomor itu.

"kalau ada kesulitan ataupun

kebutuhan, boleh hubungi nomor ini saja. Mereka akan melayani tuan dengan baik dan memberikan apapun yang tuan inginkan." Begitulah kira-kira yang kakek Wuji katakan kepadanya.

Deon langsung pergi dan menelpon nomor yang diberikan kakek Wuji kepadanya.

"Hallo tuan! Senang bisa menerima panggilan anda Tuan. Saya sudah lama menunggu telepon dari anda." Menerima panggilan ini, orang di seberang sana bersikap dengan hormat

Deon terkejut ketika orang yang dia telpon seolah sudah mengenal dirinya.

"Saya Deon!" Deon mencoba untuk memperkenalkan diri nya kembali.

"Saya memerlukan bantuan anda. Bolehkah kita bertemu?" Lanjut Deon bertanya.

"Baik tuan. Saya akan datang sendiri untuk menemui tuan."

"Tidak. Jangan!" Tolak Deon cepat. Diseberang sana, orang itu menaikan alisnya bingung.

"Saya yang akan datang menemui anda. Jika anda datang kesini, keluarga saya akan salah paham nanti" Jawab Deon kemudian menjelaskan.

"Baiklah tuan. Saya akan mengirim alamatnya kepada tuan" Jawab orang itu setelah mendapatkan penjelasan dari Deon.

Deon tersebut lebar, "Terimakasih. Terimakasih. Saya akan datang secepatnya" Jawab Deon senang.

Usai telepon dimatikan. Deon pun bergegas pergi menuju alamat yang diberikan oleh bawahannya.

Tak lama setelah diperjalanan. Deon datang kesebuah gedung mewah di distrik bisnis utama di Indonesia. Wajahnya mendongak, menatap gedung itu dengan penuh kekaguman.

Tak terpikirkan olehnya akan bisa memasuki gedung semewah ini setelah bertahun-tahun selama dirinya lahir hingga dewasa, dirinya hanya bisa memandang dari kejauhan.

Distrik bisnis ini merupakan klub elit untuk para orang-orang kaya di Indonesia. Hanya orang memiliki kekayaan yang berlimpah yang pantas masuk ke dalam sana.

Deon pun segera melangkahkan kakinya untuk masuk menemui Pak Eiden yang katanya adalah tetua di Sekte Elang Dewa yang juga merupakan bawahan Deon. Namun, baru saja sampai di depan gerbang, seorang wanita menahannya.

"Stop!" Deon langsung mengangkat alisnya bingung.

"Anda tidak bisa masuk!" Ucap gadis itu lagi yang sepertinya adalah penjaga keamanan di gedung itu. Tatapannya dingin dan sangat tajam.

"Maaf. Tapi saya harus menemui pak Eiden. Saya sudah ada janji dengannya, jadi ijinkan saya masuk!" Pinta Deon dengan wajah memohon.

Wanita itu menatap Deon dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu diiringi dengan decahan kecil.

"Cih. Pengemis sepertimu apa pantas menemui pak Eiden. Tidak ada orang yang akan menemui pak Eiden dengan penampilan pengemis seperti dirimu. Sebaiknya pergi sebelum saya mengusir mu secara tidak hormat!" Ancam wanita itu menggertak.

"Percayalah. Saya memang memiliki janji bersama pak Eiden. Tunggu sebentar, saya akan menelpon pak Eiden dan kamu pasti akan percaya" Ujar Deon meyakinkan Wanita itu.

Tetapi, disaat dia akan siap-siap untuk menelpon pak Eiden, tiba-tiba pandangan nya mengarah ke salah satu kakak laki-laki istrinya yang terlihat sedang berjalan kearahnya dengan seorang pria paruh baya yang botak.

"Iya, saya akan memberikan pelayan yang paling spesial untuk anda hari ini, pak" Ujar pria berkepala botak itu kepada Farhan. Sebut saja namanya pak Jinbo. Dia merupakan manager di Distrik Klub tersebut, dan sepertinya sedang membicarakan tentang pekerjaan bersama kakak Iparnya, Farhan.

Farhan bukannya menjawab ucapan pak Jinbo, dia malah terlihat diam sembari mengerutkan alis, menatap heran, melihat keberadaan Deon di klub mewah tersebut.

Pak Jinbo melihat Farhan dan Deon secara bergantian, lalu bertanya, "Apa anda mengenalinya, pak?" Tanya Pak Jinbo heran.

"Iya. Dia pria miskin yang menikahi adikku. Dia hanya pria tak berguna" Jawab Farhan.

Setelah mengetahui identitas Deon dari Farhan, wajah manager itu langsung memasang raut tak peduli dan menyuruh petugas keamanan mengusir Deon untuk pergi.

"Usir saja dia dari sini!" Perintah pak Jinbo.

.

.

.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Harman LokeST

Harman LokeST

belum tahu dia siapa sebenarnya Deon

2023-09-27

1

Aliwafi

Aliwafi

lanjut thoor

2023-08-18

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!