Bab 5

...🌳Happy Reading 🌳...

Sementara itu. Kedua petugas keamanan yang hendak menyeret Deon pergi dari sana terlihat berteriak kesakitan.

Mereka dilempar begitu saja oleh kedua sekertaris berwajah dingin itu hingga mereka mengalami patah tulang yang cukup serius. Tak seorang pun mengerti, kenapa kedua sekertaris itu memiliki tubuh yang kuat dan handal dalam bela diri. Sejauh ini, Tak ada seorang pun yang berani melawan kedua sekertaris cantik itu. Sementara, Kedua petugas itu hanya meringis takut melihat kedua sekertaris yang siap untuk menghajar mereke.

"Berhenti!" Titah Pak Eiden kepada sekertarisnya. Kedua sekertaris itupun pun langsung berhenti dan dengan wajah sedingin es, keduanya berdiri tegap layaknya seorang pengawal yang sangat handal.

Sementara itu. Pak Eiden menatap Deon yang masih terlihat mematung dengan wajah syok. Deon tak mengira bahwa kedua wanita cantik itu sangat kuat, hingga dengan mudah melempar kedua petugas itu menjauh darinya.

Melihat tuan Eiden yang mulai berjalan dari arah belakang mendekati Deon, Manager Jinbo buru-buru menghampiri Tuan Eiden dan bertanya, "Tuan. Kenapa tuan membela pria miskin ini dan malah memukul para pengawal?" Tanya Manager Jinbo cepat dan penasaran.

Tuan Eiden langsung melayangkan tatapan tajam, membuat Manager Jinbo menelan saliva-nya karena takut.

"Ma-maaf tu-tu-tuan. Ma-maaf jika saya salah bicara. Tapi pria ini hanyalah seorang pria miskin. Jadi, saya mengusirnya. Jika tindakan saya salah, mohon maafkan saya!" Ujar Manager Jinbo terbata, yang menyadari tatapan tajam tuannya.

"Benar Tuan Eiden. Kenapa anda repot-repot untuk membela pria ini. Dia hanyalah sampah keluarga kami. Dia hanya seorang menantu yang tidak berguna. Jangan terlalu dipikirkan. Dia tidaklah penting" Sambung Farhan menimpali.

Tuan Eiden menatap tajam dan berseru kesal, "Berani sekali kalian menghina tamu penting Ku!" Sentaknya geram.

Manager Jinbo dan Farhan tersentak dan saling menatap bingung.

"Tuan. Tolong maafkan saya yang terlambat menjemput anda. Cepatlah bangun!" Pak Eiden merasa bersalah dan buru-buru membantu Deon untuk bangun.

Semua orang menatap bingung dan tak percaya. Orang sekelas Tuan Eiden yang sangat di hormati malah membungkuk penuh hormat kepada Deon yang mereka anggap sebagai seorang pengemis. Lalu berdiri tegap seraya menatap semua orang dengan sorot matanya yang tajam.

"Mulai hari ini. Kalian semua yang sudah menghina tuan Deon, kalian semua aku pecat!" Tegas Tuan Eiden.

"Tapi pak, saya..."

Tuan Eiden mengangkat sebelah tangannya, dan Manager Jinbo yang ingin protes sontak terdiam tak bersuara.

"Dan kamu Pak Farhan" Tuan Eiden menjeda ucapannya sejenak sambil menatap nya penuh penekanan.

"Kerja sama kita dibatalkan. Untuk itu, silahkan pergi meninggalkan tempat ini, karena anda tidak dibutuhkan lagi di tempat ini." Usirnya telak, yang seketika membuat Farhan kehilangan muka.

"Tuan. Apakah anda baik-baik saja. Sekali lagi, tolong maafkan saya atas kejadian ini!" Ucap Tuan Eiden lagi kepada Dion.

"Saya tidak masalah. Lagipula, saya baik-baik saja sekarang" Jawab Deon tersenyum senang.

Tuan Eiden balas tersenyum ramah, "kalau begitu Mari... Kita bicara di ruang saya saja" Ujarnya kemudian. Deon hanya mengangguk, lalu mengikuti langkah Tuan Eiden yang membawanya menuju Lift khusus.

Manager Jinbo yang masih di lantai bawah pun langsung memasang wajah tercengang, dan bertanya dengan bingung, "Bukankan pria itu hanya seorang menantu pria yang tidak berguna. Lalu, kenapa dia begitu di hormati oleh tuan Eiden?" Tanyanya disela kebingungannya.

"Aku juga tidak mengerti" Jawab Farhan yang juga memasang wajah yang sama.

"Mungkinkah semua ini karena Celina?" Tebak Farhan didalam hatinya.

Farhan berpikir, seharusnya keluarganya tengah menjalin hubungan kerja sama dengan Tuan Eiden. Selain itu, Celina juga selaku pemegang kendali perusahaan keluarganya adalah istri Deon.

"Mungkinkah Celina mengatasnamakan perusahaan dan menyuruh Deon untuk datang kesini meminjam uang?" Lirihnya curiga dengan kedua mata melebar sempurna. Kemudian, dia pergi dengan buru-buru setelah memikirkan apa yang dia pikirkan saat ini, dan berencana akan melaporkan masalah ini kepada ayahnya.

Sementara itu di tempat lain. Deon sudah duduk di sebuah ruangan yang cukup mewah bersama Tuan Eiden.

Setelah Pak Eiden duduk, Deon segera menyampaikan keinginannya, "Kedatangan saya kesini, saya ingin meminjam uang. Saya membutuhkan banyak uang untuk mengobati putri saya dari penyakitnya" Ucap Deon menjelaskan kedatangannya.

Tanpa menjawab apapun, Pak Eiden langsung mengeluarkan sebuah kartu ATM bewarna hitam dengan permata hijau di atasnya. Lalu memberikannya kepada Deon.

"Gunakan saja kartu ini untuk mengobati putri anda Tuan. Dengan Kartu ini, Tuan bisa menarik uang diberbagai macam Bank apapun, termasuk kredit. Selain itu, kartu ini memiliki uang yang tidak akan pernah habis. Pemilik perusahaan utama berhak menerima kartu ini. Jadi... Tuan tidak perlu menggantinya, karena ini adalah milik anda" ucap Pak Eiden menjelaskan.

Deon tercengang mendengar penuturan pak Eiden, "Benarkah semua ini? Saya sedang tidak bermimpi kan, Pak?" Tanya Deon syok seraya memastikan.

Pak Eiden hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ramah.

Setelah mendapatkan uang yang dia mau. Deon pun segera pulang untuk memberitahu istrinya kabar baik ini.

Sesampainya di rumah. Deon masuk dengan senyuman lebar. Semua orang yang sedang berkumpul di ruang keluarga pun terlihat menatap dingin ke arah Deon.

"Pa. Aku sudah mendapatkan uang untuk mengobati Shakila" Ujar Deon bahagia.

Bukannya ikut bahagia, semua orang tidak percaya dan malah memutar bola matanya malas.

"Alah. Jangan bicara omong kosong Deon. Mana mungkin dalam waktu sekejap, kamu sudah bisa mendapatkan uang. Kamu nyolong uang orang ya?" Tuduh Tante Sintya sinis.

"Tidak Tante. Ini adalah uang saya. Saya tidak mencuri!" Deon membela diri.

"Kamu pikir kami percaya kalau itu uang kamu?" Jawab Bayu sinis.

"Itu bukan uang dia!" Farhan pulang dan langsung berucap lantang.

Seketika perhatian semua orang beralih kepada Farhan yang baru muncul dari pintu utama. Mereka sontak menatap Farhan meminta penjelasan.

"Itu bukan uang milik dia" Ujar Farhan mengulangi.

Setelah menghentikan langkahnya, Farhan menatap tajam ke arah Deon.

"Saat aku mengunjungi Distrik Klub milik tuan Eiden, Aku bertemu dengan Deon. Dia mencari Tuan Eiden dan menggunakan nama keluarga kita untuk meminjam uang. Itu adalah uang yang dia dapatkan dengan cara penipuan" Ujar Farhan.

Mendengar itu. Ayah mertuanya, Abraham, sangat marah.

"Berani sekali kamu menggunakan nama keluarga ini untuk meminjam uang. Apa kamu sudah hilang akal. Kamu tidak punya rasa malu, hah?" Sentak Pak Abraham geram.

"Tapi ini bukan...."

"Alah. Bilang saja kebenarannya Deon. Aku sudah tahu niat licikmu" Ujar Farhan cepat yang segera memotong ucapan Deon.

"Pa. Tolong percaya kepadaku sekali ini saja. Aku mengatakan kebenaran. Uang yang aku dapatkan tidak ada hubungannya dengan meminjam nama keluarga ini." Jelas Deon, mencoba meyakinkan keluarganya.

"Bohong. Aku curiga kalau dia bekerja sama dengan Celina. Sebab, hanya mereka berdua-lah yang bersikeras ingin mengobati penyakit Shakila. Kamu menggunakan nama perusahaan keluarga ini kan untuk mendapatkan uang itu?" Tuduh Farhan yang masih bersikeras dengan pikiran buruknya.

"Dimana Celina. Cepat panggil dia kesnini segera!" Titah pak Abraham setelah mendengarkan perdebatan Farhan dan Deon.

Tante Sintya pun segera mengambil gawainya dan menghubungi Celina untuk segera pulang.

Di tempat lain, di kantor. Celina yang mendapatkan kabar dari Tantenya, bahwa di rumahnya sedang ada masalah pun segera pulang.

Tak berapa lama Celina pun sampai. Dia segera masuk dan mendapati bahwa suaminya sedang dipojokan oleh keluarganya, "Ada apa ini?" Tanya Celina bingung.

Melihat yang di tunggu pun sudah tiba, Pak Abraham pun segera bertanya, "Celina, apa benar kamu menyuruh Deon untuk meminjam uang kepada Distrik Tuan Eiden dan meminjam nama perusahaan keluarga kita?" Tanyanya balik.

Kening Celina mengkerut bingung, "Siapa yang mengatakan itu? Aku tidak menyuruhnya meminjam uang. Apalagi menggunakan nama perusahaan milik kita" Jawab Celina.

Mendengar itu, Pak Abraham pun sedikit diam.

"Tapi aku yakin sekali kalau dia menggunakan nama perusahaan keluarga kita untuk meminjam uang. Jika bukan ijinmu, lalu siapa lagi?" Ujar Farhan bersikeras.

Pak Abraham lantas tak tinggal diam menerima kejanggalan ini. Untuk mengetahui kebenaran, dia pun mengubungi manager perusahaannya untuk menghubungi pihak Distrik Klub milik Eiden.

Setelah beberapa saat menunggu setelah memanggil manager perusahaannya, mereka pun kembali mendapatkan panggilan dari pihak perusahaan.

Pak Abraham pun segera mengangkat telepon dari managernya. Namun, setelah sesaat mendengarkan penjelasan Manager, Pak Abraham terdiam dan tidak mendapatkan bukti sama sekali, bahwa Deon telah meminjam uang dengan nama keluarganya.

"Dia tidak menggunakan nama perusahaan keluarga untuk mendapatkan uang ini" Ujar Pak Abraham setelahnya. Dan Semua orang pun langsung terdiam dengan mulut menganga.

.

.

.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

dhani satria

dhani satria

lha wong ra reti ko

2024-04-05

0

Rai

Rai

pemilik perusahaan konon, pemilik sekte elang emas tapi masih bodoh dan rela dihina...apa la cerita ni... author nya bodoh ya

2023-10-19

0

Harman LokeST

Harman LokeST

Deon sekarang perlihatkan kemampuanmu bahwa kamu sekarang bukan orang miskin

2023-09-27

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!