...🌴Happy Reading 🌴...
Mendengarkan ucapan ayahnya, Celina merasa agak aneh melihat ini, dan berpikir dari mana Suaminya mendapatkan semua uang itu.
"Katakan yang sebenarnya. Darimana kamu mendapatkan uang itu?" Celina berseru dingin.
Deon yang mendapatkan pertanyaan itu pun balik menatap istrinya, "Aku mendapatkan pinjaman dari salah satu teman. Dia tidak tega melihat anak kita jatuh sakit, jadi dia bersedia meminjamkan uang ini" Jawab Deon berbohong.
"Aku tidak percaya kalau itu dari temannya. Mana ada dia teman sekaya itu yang mau memberikan uang dengan mudah" Sanggah Bayu sinis.
Deon balik menatapnya tajam, "Apa sedetail itu kalian ingin tahu siapa teman-teman ku. Apa masalahnya jika ini dari temanku. Atau jangan-jangan kalian sengaja memojokkan aku agar anakku meninggal?" Jawab Deon kesal.
"Kamu...."
"Sudah hentikan"
Bayu menunjuk wajah Deon geram namun suara Abraham langsung dihentikan bayu.
"Jika dia sudah mendapatkan uang. Seharusnya kalian senang. Bukankah kalian semua merasa dirugikan jika uang kalian yang akan di ambil untuk mengobati cucuku" Lanjut Abraham. Yang seketika membuat semua orang terdiam karenanya.
"Ayo Deon. Cepatlah bayar biaya rumah sakit agar cucuku cepat sembuh" Titah Pak Abraham lagi.
Deon tersenyum, lalu membawa langkahnya dengan perasaan bahagia. Setidaknya, ayah mertuanya tidak mempermasalahkan dari mana uang itu berasal.
Semua orang nampak menaiki mobil masing-masing. Mereka semua mengikuti Abraham dan Deon yang ingin ke rumah sakit.
"Dari mana pria tak berguna itu mendapatkan uang?" Tanya Bayu di dalam mobil sembari berpikir keras.
"Entahlah. Selama ini dia hanyalah menantu yang tidak berguna. Teman pun tidak ada. Tapi sekarang dia malah berkata bahwa uang yang dia dapatkan adalah dari temannya" Jawab Tante Sintya yang juga merasa heran.
"Jangan terlalu dipikirkan. Kita lihat saja nanti, apa benar dia mendapatkan uang itu. Jika dia berbohong, maka ini kesempatan kita untuk membuatnya di usir dari rumah" Sambung Pak Hendrawan.
Ketiga orang itu pun tersenyum licik, memikirkan rencana untuk menindas Deon.
Setibanya di rumah sakit. Tiga mobil mewah milik keluarga Abimanyu terlihat terparkir rapi di parkiran rumah sakit.
Semua orang turun dari mobil dan menuju ke ruang administrasi rumah sakit.
"Astaga, Apa dia bercanda. Dimana uang yang dia katakan tadi. Seharusnya dia membawa sesuatu yang didalamnya berisi uang" Ucap Tante Sintya menyindir.
Melihat Deon yang tampak tidak membawa uang, semua orang pun menertawainya dan mengejeknya dengan sengaja.
Walaupun begitu, Deon tak peduli apapun yang dikatakan orang-orang tentang dirinya. Dia hanya mengeluarkan sebuah black card miliknya dan menyerahkannya kepada pihak rumah sakit.
Namun, seorang wanita yang merupakan petugas rumah sakit terlihat kebingungan dan tidak pernah melihat kartu semacam ini.
"Apa ini kartu ATM. Dari Bank mana kartu ini berasal?" Tanya petugas rumah sakit itu.
Deon sedikit ragu untuk menjawab. Sebab, dia tidak tahu dari mana ATM ini berasal.
"Tunggu sebentar ya, Suster!" Jawab Deon kemudian setelah sesaat berpikir.
Deon mengeluarkan gawainya. Namun dia terlihat ragu mau menghubungi Pak Eiden atau tidak, karena sungguh, dia tidak tahu cara menggunakan kartu tersebut dan dari mana kartu itu berasal.
melihat kebingungan di wajah Deon, semua orang kembali mengejeknya dan menertawai Deon yang bermimpi terlalu jauh untuk mendapatkan uang.
"Hahaha. Sepertinya dia sudah gila, asal menggunakan ATM yang entah dari mana asalnya dan beranggap bahwa ATM itu ada uangnya" Sindir Bayu.
"Tentu saja dia sudah tidak waras. Teman saja tidak punya, tapi mengaku-ngaku punya teman orang kaya yang meminjamkannya uang" Sambung Tante Sintya kembali menyindir.
Melihat semua itu, istrinya Celina, terlihat berjalan mendekati Deon dan mencoba menghibur suaminya.
"Sebaiknya kamu pulang saja. Tidak perlu memikirkan biaya pengobatan putri kita. Aku akan memikirkan cara untuk mengumpulkan uang" Ujar Celina.
Deon menatap dalam wajah istrinya. Dia sungguh merasa bersalah sebagai suami. Seharusnya dia bertanya bagaimana cara menggunakan kartu ini kepada Pak Eiden sebelumnya.
"Dan kami ingatkan lagi Celina. Kalian berdua tidak boleh menggunakan uang perusahaan keluarga kita." Ujar Hendrawan memotong.
Celina tak menjawab dan hanya sekilas menatap pamannya.
"Sudahlah. Jangan sedih lagi. Aku ada disini. Aku tidak akan membiarkan putri kita menderita, kamu pulanglah dulu!" Ucap Celina lagi kepada suaminya.
"Tidak Celina. Aku disini untuk putri kita. Aku tidak bisa pulang jika putri kita ada di sini" Jawab Deon.
Disaat yang sama. Segerombolan orang mendadak berjalan dari arah samping, dimana segerombolan orang itu berhasil menarik perhatian semua orang. Orang yang berlalu tadi adalah kepala rumah sakit yang tengah menemani seorang profesor kedokteran yang cukup ahli di kota mereka untuk mengamati keadaan rumah sakit, karena memang memiliki hubungan kerja sama dengan rumah sakit tersebut.
Melihat profesor yang cukup terkenal, Celina dan ayahnya Abraham datang menghampiri dan berniat menyapa mereka.
"Selamat siang, Pak Yasa. Senang bisa bertemu anda secara langsung di sini. Nama anda cukup terkenal di kota ini, dan saya Abraham Abimanyu, ini putri saya Celina." Ujar Pak Abraham mengulurkan tangannya untuk bersalaman kepada Profesor Yasa.
"Senang bisa bertemu anda Pak Abraham" Jawab Profesor Yasa ramah dan balas menjabat tangan Abraham dan Celina secara bergantian.
Kepala rumah sakit terlihat juga bergantian menjabat tangan kedua orang yang ada di depannya dan berkata, "Saya juga berencana akan memperkenalkan Profesor Yasa kepada kalian Pak. Beliau Profesor yang cukup ahli didalam pengobatan Leukemia langka. Jadi, saya berniat untuk memperkenalkan beliau kepada Pak Abraham" Jelas kepala rumah sakit tersebut.
"Iya. Syukurlah jika Pak Beni sudah mengundang Pak Yasa kesini. Jika begitu, kami tidak perlu lagi mencari Dokter ahli untuk cucu kami. Semuanya kami percayakan kepada Pak Beni saja" Jawab Pak Abraham.
Abraham tersenyum kecut. Dia memang berniat mengobati cucu kesayangannya, namun keadaan keuangan perusahaan keluarga yang masih kurang stabil juga tidak memungkinkan untuk membiayai cucunya.
Setelah berbincang beberapa saat. Profesor Yasa mendadak melihat Black Card yang digenggam oleh Deon. Raut wajahnya pun langsung berubah.
Profesor Yasa terlihat membisikkan beberapa kata kepada kepala rumah sakit. Setelah sesaat kemudian, pak Beni pun mengatakan apa yang dikatakan Profesor Yasa barusan kepadanya.
"Pak Yasa ingin mengundang tuan Deon dan kalian semua ke ruangan VIP rumah sakit."
Beberapa orang menatap kearah Deon dengan raut wajah heran. Undangan ini malah terdengar ditujukan untuk Deon, yang notabene nya bukanlah orang penting.
Tanpa penolakan, semua keluarga Abimanyu pun menyetujui undangan tersebut dan pergi menuju ruang VIP rumah sakit.
Sesampainya di ruangan VIP rumah sakit. Semua orang nampak duduk di tempatnya masing-masing. Di Sana tersaji berbagai makanan dan minuman mewah. Semuanya makan siang bersama dan berbincang-bincang beberapa hal mengenai masalah pekerjaan.
"Bagaimana keadaan Putri anda Tuan?" Tanya Profesor Yasa kepada Deon.
"Keadaannya cukup serius. Dokter juga menyarankan untuk melakukan kemoterapi secepat mungkin agar penyakitnya tidak menyebar dengan cepat. Namun saat ini, kami sedang mengusahakan uang untuk mengobatinya saat ini." Tukas Deon.
"Kami sudah memutuskan untuk mengobati putri anda secara gratis di rumah sakit ini. Jadi, semua pengobatannya tidak perlu menggunakan bayaran apapun." Jawab Pak Beni, selaku kepala rumah sakit tersebut.
Semua orang terlihat tercengang melihat interaksi Profesor Yasa dan kepala rumah sakit kepada Deon yang terlihat sangat menghormati Deon.
Mereka tak mengira bahwa pengobatan itu diberikan secara gratis untuk Shakila.
Deon yang mendengar perkataan kepala rumah sakit, mengucapkan beribu-ribu terimakasih kepada kedua orang itu. Dia sangat senang mendengar ini dan langsung memeluk istrinya dengan perasaan haru. Pak Abraham juga merasa senang, dia hanya menatap anak dan menantunya itu dengan tersenyum tipis.
Sementara, Paman dan Tantenya malah menatap tak suka. Mereka berpikir bahwa Deon dan Celina hanya beruntung saja saat ini.
Setelah makan siang usai. Semua orang berpamitan untuk pergi dari sana. Tak lupa, pak Abraham mengucapkan rasa terimakasih nya atas bantuan yang diberikan oleh pihak rumah sakit kepada cucunya. Setidaknya, dia tidak perlu khawatir lagi memikirkan uang untuk mengobati sang cucu.
"Tuan Deon. Tunggulah sebentar!" Titah profesor Yasa.
Setelah semua orang mulai pergi. Profesor Yasa menyuruh Deon untuk menunggu sebentar. Deon yang sudah hendak pergi pun kembali duduk di kursinya.
"Saya tidak melihat Black Card milik anda tuan, dan langsung mengenali anda. Sebenernya saya adalah anggota dari Organisasi Sekte Dewa Elang." Ujar Profesor Yasa.
Deon sedikit terkejut, "Apa organisasi Sekte Dewa Elang ada dimana-mana?" Tanya Deon penasaran.
"Benar tuan. Sekte Dewa Elang memiliki akses ke jaringan mana pun. Baik perusahaan, rumah sakit dan lain-lain." Jawab Profesor Yasa tanpa ragu.
"Saya sudah memeriksa keadaan putri anda sebelumnya. Kondisinya cukup serius dan disini sepertinya perlu mengundang beberapa Dokter ahli terbaik di seluruh dunia. Selain itu, harus memakai obat-obatan terbaru, termasuk memerlukan donor sumsum tulang belakang secepatnya. Jika tidak dilakukan segera, akan di khawatirkan bahwa Putri tuan tidak akan selamat" Ucap Profesor Yasa lagi menjelaskan.
"Saya mohon, pak Yasa. Tolong lakukan apapun dan berikan pengobatan tebaik agar anak saya bisa disembuhkan."
Mendengar itu, Deon buru-buru memohon kepada Profesor Yasa untuk segera menyelamatkan putrinya.
Kemudian, melihat Deon yang memohon kepadanya, Profesor Yasa pun buru-buru berlutut dan berkata, "Saya akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan Nona kecil, tuan" Jawab Profesor Yasa berlutut hormat.
.
.
.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Sak. Lim
idioooooot songong
2024-04-22
0
Harman LokeST
maaaaaaaaaaaaannnnnnnnnntttaaaaaaaaaaaaaaaaaaaapppppppppppp banget
2023-09-27
1
Nurgusnawati Nunung
semangat thor
2023-09-19
1