Lelang

"Membuat orang lain nyaman, diri sendiri pun akan menjadi nyaman."

...****************...

Hari pelelangan telah tiba, pagi itu Mila dan Riri sudah berada di ruang makan yang disiapkan rumah lelang keluarga Patau untuk pelanggan VVIP yang menginap. Seperti biasa, Richie masih tidur, Luki sedang mengobati gadis yang ditolongnya dan Cade masih sibuk urusan barang lelang dengan Panreng.

Didepan mereka dua set sarapan telah tersaji. Mila menggerogoti panekuk dan sari buahnya.

"Kudengar, semalam ada pencuri yang mendatangi jendela salah satu kamar tamu."

"Kupikir itu pembunuh bayaran karena kalau dia mau mencuri harusnya datang ke gudang rumah lelang, disana jelas ada harta Karun."

"Mau mereka pencuri atau pembunuh bayaran, yang jelas mereka mati."

"Benar. Katanya mereka berada di rana manusia spiritual level 7 dan mereka terbakar tanpa tersisa."

"Iya, penjaga rumah lelang yang menyaksikan mengatakan kalau mereka tidak mendeteksi energi spiritual ataupun aura pembunuh. itu terjadi sangat cepat."

"Kenapa penjaga rumah lelang tidak bertindak ada yang bermaksud buruk pada tamunya."

"Itu permintaan tamu. Dia tidak mau merepotkan pemilik rumah dagang karena mereka sudah dibantu."

"Dengan kemampuan seperti itu, memang tidak perlu bantuan penjaga rumah lelang."

"Mungkinkah orang itu menggunakan alat sihir atau senjata spiritual tingkat tinggi."

"Bahkan kalau itu senjata, dia pasti sangat mampu karena memiliki senjata seperti itu."

"Kudengar tamu ini yang baru datang ke rumah dagang di malam hari."

"Sorenya, ada juga nona muda menjual Biawak Badak dengan murah hati."

"Kalau berita ini, aku juga dengar. Tiga keluarga besar di kota ini membelinya kecuali keluarga Morgan."

"Mungkin keluarga Morgan merasa tidak membutuhkan."

"Bukan karena itu, tapi tuan muda keluarga Morgan menyinggung nona itu."

Seketika perbincangan gosip pagi memasuki gendang telinga Mila.

"Katamu Richie membunuh tiga penjaga rahasia semalam dan kini sudah jadi berita pagi."Bisik Mila pada Riri yang acuh dengan obrolan disekitarnya.

"Anggap saja membunuh ayam memberi peringatan pada monyet."Ujar Riri.

"Itu bukan ayam, itu tiga nyawa manusia." Mila agak prihatin.

"Mila, seperti inilah dunia ini, siapa yang kuat akan menang. Kalau kamu tidak ingin diintimidasi, tampilkan kekuatanmu di depan para pengganggu."

"Selamat pagi!."

Melista dan dua pelayannya muncul.

"Aku juga belum sarapan." Dia cepat mengambil tempat di depan Mila dan meminta pelayannya membuka bekal mereka.

Aroma roti isi daging menyebar membuat hati Mila meleleh.

"Kamu datang tecepat."

"Iya, aku sengaja bangun pagi buta dan membeli roti ini dari kedai terkenal enak di kota ini. Kalian kan baru datang, jadi aku ingin mengenalkan kalian hal baik di kota kami."

"Ini benenak." Riri mengangguk seolah mematuk.

"Pantas kamu menyebutnya roti isian daging terenak dikota ini."

Dalam sekejap mereka sibuk mengisi perut mereka dengan roti hangat dan beberapa kue manis. Tak lama, Cade juga datang bergabung.

"Kemana Richie dan Luki?." Riri bertanya.

"Mereka tidak sarapan. Katanya, dalam kamar private nanti bisa pesan sarapan."

"Aku memiliki kamar private sendiri, kalian bersamaku saja daripada berdesakan sama tuan Luki dan Tuan Richie yang nanti bakal didatangi banyak orang."

"Lakukan seperti itu saja." Riri setuju.

"Karena kita punya ruang sendiri, kita perlu berdesakan di pintu masuk."Tunjuk Mila keramaian didepan pintu masuk saat dalam perjalanan ke ruang lelang.

"Kalian menunggu kami?." Luki dan Richie muncul.

"Kami sedang menunggu antrian sepi."

"Mari kita lewat jalan khusus VVIP." Kata Yunrong datang bersama Peter.

"Bahkan jalan VVIP penuh."

Peter melongok kepintu VVIP yang memang penuh meski tidak harus berdesakan seperti pintu jalur umum.

"Lelang hari ini cukup meriah seperti pelelangan Akbar." Peter tersenyum menyeringai.

"Pelelangan Akbar?."

"Pelelangan besar rumah lelang keluarga Patau yang dilakukan sekali setiap tahun. Yang dilelang barang-barang lebih berharga dari pelelangan biasanya." Peter menjelaskan.

"Richie, aku bergabung di kamar private Melista, ya." Mila meminta ijin pada gurunya.

"Terserah kamu." Richie mengangguk.

"Kalau ada hal yang kamu sukai, tawar saja. Gurumu ini akan membantumu membayarnya." Richie menepuk-nepuk kepala Mila. Dari jauh, Paturusi melihat adegan lembut Richie seolah tidak percaya bahwa pria itu telah melenyapkan tiga penjaga rahasia keluarga Morgan tanpa suara dan tak berbekas.

"Jangan juga membeli sampah, bertanyalah pada Cade dan Riri apakah barang itu bagus."

"Oke, guru."

Mereka semua memasuki kamar private mereka.

"Terimakasih atas kehadiran kalian semua. Aturan lelang sudah dijelaskan saat kalian mendaftar sebagai anggota lelang."

"Barang pertama, telur binatang spiritual level 8 elemen es! Penawaran pertama 50 ribu emas."

Begitu pemandu lelang selesai, suara penawaran bersahutan. Telur itu terjual diharga 200 ribu emas.

"Barang ke 2, buku pengolahan spiritual tingkat menengah. Menebas langit! Dimulai harga 70 ribu emas."

Beberapa pria melakukan penawaran dan berhenti di harga 300 ribu emas.

"Barang ke 3, tongkat dewa pengemis yang dulu merupakan senjata tingkat ilahi. Namun mengalami kerusakan setelah pertempuran seribu tahun lalu. Tongkat ini bisa diperbaiki dengan memberinya energi inti moster. Pemulihan tingkat tingkat ini tergantung inti moster yang kamu berikan. Harganya diawali 100 ribu emas."

"Ternyata banyak juga yang menginginkan tongkat mati ini." Bisik Mila mendengar penawar yang tidak berhenti berteriak.

"Kami dari sekte raungan naga menawar 350 ribu

Emas."

"400 ribu emas."

"Sekte kerajaan pedang, 450 ribu emas."

"Sekte raungan naga menginginkan ini. Harap menahan diri dengan bijaksana. 500 ribu emas."

"600 ribu emas. Kalau sektemu menginginkannya berikan penawaran lebih tinggi. Sekte kerajaan pedang kami tidak kekurangan emas."

"Kamu... ." Orang tua didekat pemuda yang mengaku dari sekte raungan naga cepat memegang tangannya

"Sudahlah, tujuan utama kita bukan tongkat ini."

"Baik, tongkat dewa pengemis akan diberikan pada tuan dari sekte kerajaan pedang."

"Selanjutnya, disini kami memiliki 10 ekor binatang iblis biawak Badak level 6. Kita akan membagi 5 kali penawaran, setiap kali dijual 2 ekor sekaligus. Harga Pertama 700 ribu emas!."

"1 juta emas!." Pemuda dari sekte kerajaan pedang langsung menaikkan harga tinggi.

"1 juta 200!."Sekte raungan naga tidak mau kalah.

"1 juta 1000 emas!."

"1 juta 100 ribu emas!." Seru Pemuda sekte kerajaan pedang.

"1 juta 200 ribu emas!." Keluarga Marwin berteriak.

"1 juta 500 ribu emas!." Pemuda sekte kerajaan pedang membungkam yang lain.

"Baik. 2 binatang spiritual biawak Badak level 6 jatuh ketangan sekte kerajaan pedang."

"Selanjutnya, pedang dewa petir. Ini adalah pedang patah dari dewa petir ratusan ribu tahun lalu. Penawaran pertama dimulai dari harga 200 ribu emas."

"400 ribu emas!." Pemuda sekte kerajaan pedang berteriak.

"500 ribu emas." Utusan sekte raungan naga tidak mau kalah.

"600 ribu emas."Mila ikut menawar.

"700 ribu emas."Suara gadis dari ruangan sekte kerajaan pedang terdengar.

"800 ribu emas!." Seru Mila lagi.

"Kamu tertarik sama pedang patah itu?." Riri menatap Mila.

"Bukan aku, tapi dia." Mila menarik lengan bajunya dan memperlihatkan ular abu-abu kecil yang polos tanpa sisik melingkar erat ditangannya.

"Sejak pedang itu dibawa pelayan lelang, dia sudah gelisah."

"Oh.... ." Riri mengangguk.

"Terus saja menawar, jangan takut kehilangan uang. Kami memiliki tabungan emas yang bisa kamu habiskan." Melista iri mendengar Riri memanjakan Mila.

"Sekte kerajaan pedang menawar 900 ribu emas!."

"1 juta emas!."

"1 juta 50 ribu. Gadis kecil, kuharap kamu cukup bijak membiarkan ini menjadi milik kita."

Mila tidak peduli bujukan yang menyiratkan ancaman. Dia tetap berteriak.

"1 juta seratus ribu!."

"1 juta dua ratus ribu. Kamu benar-benar ingin bersaing dengan sekte kerajaan pedang?!."

"Kita sekarang ada di pelelangan, siapa yang memiliki penawaran tertinggi dia pemiliknya. Bukannya sektemu tidak kekurangan emas, kalian bukan satu-satunya yang tidak takut kehilangan emas. 1 juta tiga ratus ribu!."

"Kamu akan menyesal!." Seru gadis dari sekte kerajaan pedang.

"Bodoh amat!."Balas Mila.

Penghuni lembah merah tahu kalau Mila memiliki istilah aneh terlebih bila dia kesal dan mengumpat.

"Baik, pedang dewa petir milik ruangan no. 5."

"Selanjutnya adalah, binatang iblis Biawak Badak level 6 2 ekor. Harga Pertama masih 700 ribu emas.!."

"Satu juta emas!." Teriak pemuda dari sekte kerajaan pedang.

"Sepertinya orang dari sekte kerajaan pedang ini marah karena Mila menantangnya." Kata Luki mendengar seksama penawaran diluar.

Richie tertawa." Itulah muridku. Berani dan tegas."

"1 juta 200." Keluarga Marwin menawar.

"Wah! keluarga Marwin punya nyali! Sekte kami menawar 1 juta 500 ribu emas!."

"1 juta 600 ribu emas!." Sekte raungan naga bersuara.

"Sekte kerajaan pedang memberi 1 juta 700 ribu emas!."

"Biawak Badak didapat oleh sekte kerajaan pedang!."

"Sial! Sekte kerajaan pedang ini terlalu mendominasi." Salah satu murid raungan naga berkata dengan kesal.

"Tidak apa. Masih ada 3 penawaran lagi." Tetuanya menenangkan.

"Barang selanjutnya, dua potongan besi hitam terbaik. Dimulai dengan harga 400 ribu emas!."

"500 ribu emas!." Sekte kerajaan pedang cepat menawar. Sebagai sekte yang mengolah jurus pedang, besi hitam merupakan hal penting bagi mereka membuat senjata.

Ular kecil di tangan Mila bergerak.

"Kamu menginginkan benda itu lagi?." Mila mengamati tingkah peliharaannya itu.

"700 ribu emas!." Seru Mila.

"800 ribu emas!." Gadis sekte pedang berteriak.

"1 juta emas!." Tantang Mila.

"1 juta seratus ribu! Kamu benar-benar ingin bersaing dengan kami?."

"Selama uangku belum habis, aku akan menawar sampai bisa memenangkannya. 1 juta 200 ribu emas!."

"1 juta 500 ribu emas!."

"2 juta!."

Kali ini tidak ada yang ingin bersaing dengan Sekte kerajaan pedang karena mereka fokus untuk merebut salah satu dari tiga peluang mendapatkan Biawak Badak.

"Jangan pergi terlalu jauh!." Gadis dari ruang Sekte kerajaan pedang meraung.

"Kalau kamu menginginkannya maka tawar saja dengan harga tinggi." Balas Mila.

"Apa sekarang sektemu kekurangan emas?."

"Nona, bagaimana kalau kita buat kesepakatan, biarkan kami memiliki dua besi hitam ini. Nanti dalam persaingan mendapatkan biawak Badak, satu putaran sekte kerajaan pedang tidak akan berpartisipasi. Bagaimana?."

Mila tertawa sebelum berkata

"Biawak Badak, coki ala', bulu iblis beruang merah, tungku kayu Dewata, inti api dan beberapa barang lain yang ditawarkan pelelangan ini dari kami, kenapa aku menawar barangku sendiri. kalian lucu!."

"Gadis kecil kamu terlalu arogan!." Satu suara berat terdengar sebelum aura mendominasi mengekang semua orang.

"Tuan! Anda harus tahu kalau tidak diperkenankan menggunakan kekuatan diarea lelang!." Paturusi cepat bicara.

Ha... ha... ha..." Suara mendominasi Richie menghapus aura tadi.

"Murid kecilku bersaing dengan benar karena tertarik memainkan besi rongsokan itu untuk mengusir kebosanan. Murid kecilmu kehabisan uang, bukannya membantu membayarnya kamu malah membantu membully muridku yang polos."

Richie mengerahkan auranya yang jauh lebih mendominasi dari tetua sekte kerajaan pedang tadi.

Buk! buk! buk!

Semua bisa menebak kalau semua orang di dalam ruang private sekte kerajaan pedang jatuh berlutut.

"Kalau kamu ingin memiliki barang, berikan tawaran tinggi. Kalau mau berduel, cari tempat yang sesuai, saya akan meladenimu. Rumah lelang keluarga Patau adalah mitra saya, jangan membuat keributan disini kalau kamu masih menginginkan nyawamu!."

Semua orang dalam pengekangan aura Richie berkeringat dingin dan kesakitan karena tidak bisa menahan kekuatan aura bahkan beberapa pingsan.

"He.... he... he... ." Suara tawa ringan Luki terdengar dan menghapus pengekangan aura Richie.

"Temanku kurang tidur semalam karena terganggu tiga lalat nyasar di jendelanya, karena itu dia agak impulsif. Mohon dimaafkan!."

Cahaya keemasan samar melintasi semua orang dan mengobatinya dari rasa sakit akibat pengekangan aura Richie tadi. Bahkan yang pingsan tersadar kembali.

"Saya akan mengkompensasi semua orang dengan inti spiritual dari coki ala' level 3 sebagai permintaan maaf." Dari udara bermunculan bola kecil yang jatuh di pangkuan semua orang yang ada di rumah lelang, bahkan para penjaga lelang juga kebagian.

"Anda bijaksana!." Pemimpin lelang berseru diikuti yang lain.

Lelang berlangsung damai dan lancar. Sekte kerajaan pedang tidak lagi mendominasi.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!