Berdagang Di Restoran.

"Baik buruknya segala sesuatu di dunia tergantung pandangan seseorang."

...****************...

Sore hari, kelimanya mendarat di gerbang kota Cempa Dao. Setelah membayar biaya masuk mereka segera menusuri kota itu.

"Ayo.... makan dulu."Richie memberi komando.

Pilihan mereka jatuh di restoran dekat tengah kota yang tidak jauh dari rumah Lelang.

"Berikan kami makanan terbaik dan anggur serta dari buah."

Mereka memilih meja tengah.

"Pertajam pendengaranmu untuk mendapatkan berita disekitarmu. Aku sudah mengajarkan padamu, kan?." Bisik Cade. Mila segera melakukan apa yang pernah diintruksikan Cade bila ingin memilki pendengaran melebihi manusia biasa.

"Memang dapat sih. bahkan aku bisa mendengar sepasang kekasih bertengkar diluar. Penipu yang mengatur trik dan para janda saling berbisik sambil mengamati pria-pria yang dilihatnya. Jadi risih."

Kata Mila dengan suara rendah membuat lainnya tertawa.

"Kamu benar-benar bisa menggunakan keahlian unik Cade?."Luki menatap takjub kearah Mila.

"Ya. Apakah aneh?."

"Kemampuan unik dari kelinci penjaga sangat sulit dipelajari."

"Mungkin itu hanya teori, buktinya muridku bisa menirunya." Richie berkata dengan santai.

"Makanan kalian disini."

Pelayan datang membawa pesanan mereka.

"Bisakah kamu menceritakan beberapa hal menarik belakangan ini dikota Cempa?."

Luki meletakkan Satu pecahan perak yang membuat mata si pelayan berbinar.

"Tentu saja." Pelayan tersenyum malu-malu.

"Pelelangan besok akan dijual bulu emas iblis kunlun dan telur aneh. Perceraian tuan Bady Morgan dengan istri sahnya sekaligus ulang tahun nona Lisna. Cucu keluarga Yakza menghilang. Informasi pendaftaran sekte."

"Terimakasih." Pelayan itu pergi dengan hati puas.

"Makan ini." Meletakkan sayuran di piring Mila.

"Ini herbal Fatos yang bersifat panas, bahan dasar dalam pembuatan banyak resep pil. Baik untuk tubuhmu."

"Semakin banyak herbal kamu makan, makin baik baik untuk tubuhmu." Richie ikut berujar tanpa mengangkat kepala dari piring di depannya.

"Tidak perlu banyak makan dagingnya, ini tidak sebaik dengan biawak Badak yang sering kamu makan."

"Tetap saja, itu adalah daging." Mila menggerutu dalam hati.

plok! plok! plok!

"Sangat hebat!." Seorang pemuda berwajah bengis berjalan ke meja mereka.

"Biawak Badak yang sering kamu makan?! kamu sangat hebat membual!." Pemuda itu membungkuk memberi tatapan mengejek.

"Kamu pembual sialan! menurutmu gampang menemukan biawak Badak? Hha!."

"Menjauhlah, napasmu bau!."

Mila yang berada di sisi pria itu menarik wajahnya, dia cemberut dan mengipaskan tangannya depan hidungnya mengusir bau. Ekspresi polosnya membuat orang-orang dalam restoran menahan geli tapi tidak berani tertawa.

"Ha.... ha... ha... ." Richie terbahak.

"Murid kecilku sangat jujur."

"Beraninya kamu bicara buruk tentangku?! apa kamu tahu siapa aku?!." Si pria berteriak marah.

"Kenapa aku harus tahu kamu? aku bukan orang kurang kerjaan kayak kamu yang suka ngurusin urusan orang." Mila memberinya tatapan aneh.

"Kamu mengatakan seperti itu agar untuk menutupi kebohonganmu. Biawak Badak terakhir kali muncul bulan lalu dan hanya keluarga Morgan yang membelinya."

"Terimakasih informasimu." Mila berbicara dengan mulut penuh makanan.

"Thapi khami nggak nanya dan tidak butuh jhuga berita ithu."

"Kamu... ." Pria itu menunjuknya dengan kesal tapi Mila mengabaikannya.

"Aku tahu."Pria itu mengangguk serius.

"Kalau kalian memang pernah makan biawak Badak, bisakah kamu membuktikannya?!."

"Kamu itu nggak punya kerjaan apa, ya? urusanmu apa kita pernah makan daging biawak Badak atau tidak." Riri ikut bersuara.

"Supaya kalian tidak sembarangan membual." Pria itu tidak menyerah.

"Ya, saudara Farly hanya ingin kamu membuktikan atau mengakui kesalahan." Teman pria itu bergabung membuat masalah.

"Tahu darimana kalau aku berbohong?." Mila berbalik menatap mereka. Dia mulai emosi karena makan diganggu.

"Ckckck.... kalian lebih nyebelin dari emak-emak kepo."

"Kalau begitu buktikan dong!."

"Kalau aku mengatakan, kalau aku dari kencing, kamu juga akan memintaku membuktikan dan pergi ke toilet melihatku kencing?."

"Kamu.... ."

"Aku tidak menyangka ada orang mesum yang ingin melihat seorang gadis di toilet." Satu suara menarik perhatian semua orang dalam restoran itu. Tiga sosok baru saja memasuki restoran.

"Farly Morgan, apa kamu menganggap restoran Lunra' keluarga Patau ini halaman rumah keluarga kedua Morgan? jadi kamu sibuk memasukkan hidungmu kedalam urusan orang yang makan disini." Kata pemuda berjubah biru.

"Aku ini pelanggan, jadi aku punya hak bertindak kalau mendengar seseorang berbohong disini."

"Kamu memasukkan kembali otakmu kedalam kepalamu, kan?." Gadis yang pertama kali bicara tertawa mengejek.

"Sebagai pelanggan. hakmu disini hanya memperoleh barang yang kamu beli dengan pelayanan standar restoran Lunra'. Sejak kapan pelanggan punya hak menghakimi pelanggan lain karena mereka berbicara?."

"Benar. Mereka berbicara diantara mereka sendiri. Tidak menggosipkan kamu, tidak mengancam kamu, mereka bahkan tidak kenal kamu." Pria berbaju biru mencibir.

"Peter Patau, ini bukan urusanmu!." Hardik Farly Morgan.

"Masalah mereka sudah makan daging biawak Badak juga bukan urusanmu!." Sentak pemuda lain berbaju ungu.

"Apa menurutmu tidak ada hukum bagi mereka yang membuat keributan di ruang publik?."

"Yunrong Yabes, kamu menggunakan kekuatan keluargamu untuk mengintimidasi." Tuding Farly.

"Memang iya. Kenapa?." Mata Yunrong Yabes melirik dingin ke arah Farly yang berjalan kembali ke mejanya.

"Ini restoran keluarga Patau. Maaf karena ada pelanggan yang salah minum obat dan membuat masalah pada kalian."Pemuda baju biru yang dipanggil Peter Patau menghampiri meja Mila, berkata dengan senyum canggung.

"Aku akan mentraktir kalian daging ayam spiritual sebagai permintaan maaf." Dia memberi isyarat pada pelayan.

"Ini bukan salahmu. Nggak perlu repot-repot." Mila menjadi tidak enak mendapat makanan gratis.

"Ditarktir ya ditraktir!." Richie menyahut."Itu juga niat baik dari tuan muda Patau."

"Baik. Terima kasih kalau begitu."

"Tidak apa-apa."

"Karena kalian sudah berbicara untuk kami, aku akan memberikan ini sebagai balas budi."

Mila mengeluarkan sebongkah besar daging dari cincin penyimpanannya.

"Ini daging biawak Badak level 2. Biarkan koki restoran memasaknya nanti kami bayar biaya tambahan."

"Daging biawak Badak?!." Peter Patau melotot kaget.

"Apa itu benar-benar biawak Badak? jangan menipu lagi!."Teriak Farly Morgan menghina.

"Bukan giliranmu untuk bicara!." Melista, teman Peter memarahi Farly.

"Bisakah yang tua ini mengonfirmasi?."Orang tua berjanggut, Jaswin Jasper, mendekati Peter. Dia seorang tetua dari keluarga Jasper salah satu dari 4 keluarga kuat di kita Cempa.

"Ini benar! daging biawak Badak level 2 tahap puncak."

Begitu kata-kata itu jatuh, restoran menjadi riuh. Orang-orang datang mengucapkan selamat pada Peter sembari menatap iri pada daging itu.

"Nona muda, maaf mengganggumu."Jaswin berkata dengan sopan pada Mila.

"Apakah masih ada daging biawak? kalau mau anda berniat menjualnya aku bisa menawarkan diri membelinya."

Mila berpikir sebentar. Memang ada beberapa ekor biawak Badak level rendah di cincinnya yang dibunuhnya saat berlatih. Cade menyebutnya sampah. Tadinya, mereka berencana menjual daging level rendah ini di kota kecil dua Minggu berikutnya tapi sekarang ada yang memintanya. Mila merasa perlu membuang sampah ini.

"Memang masih ada beberapa ekor level rendah, tapi aku tidak tahu menetapkan harga. Biarkan anda bicara dengan temanku, Cade."

Cade mengangguk ke Jaswin. " Aku akan menetapkan harga untuknya."

"Tidak masalah." Jaswin langsung setuju.

"Ini hanya level rendah, ya."

"Level 2 baik-baik saja."

"Aku punya level 3 disini." Mila mengeluarkan 2 Biawak Badak level 3 tahap menengah masih utuh. Sekali lagi, restoran menjadi gempar.

"Ini sangat baik!."Jaswin Jasper berkata dengan puas.

"Biarkan kalian mengambil ruang pribadi." Peter cepat meminta pelayan datang.

"Bukakan kamar pribadi VVIP untuk mereka."

Cade dan lainnya mengikuti pelayan. Jasper mengekor.

"Dibagian dalam ada kursi besar yang bisa digunakan istirahat." Kata pelayan melihat Richie mengantuk.

"Kalian lanjut trangsaksi, aku mau tidur." Richie langsung masuk mengikuti pelayan.

Jaswin Jasper mengeluarkan dua Biawak Badak dari cincin penyimpanannya.

"Bagaimana anda akan melakukan pemisahan daging? apa dilakukan dikediaman Jasper atau ditempat anda?."

"Apa anda tidak berminat dengan tulang dan kulitnya?." Jaswin terkesiap mendengar pertanyaan Cade.

"Jadi kalian menjual semuanya secara utuh? bagaimana dengan intinya?."

"Semua milikmu kalau kamu sanggup membayarnya."

"Disepakati." Cade dan Jaswin lanjut tawar menawar harga.

Peter berbisik pada Mila.

"Nona, apakah anda masih ada stok? aku juga berniat membeli."

"Masih ada. Kamu mau ambil level berapa?."Mila balik bertanya.

"Aku ada level 4 kalau kamu mau, aku menyimpannya untukmu."

"Kalau begitu, aku akan memanggil paman ke empatku datang." Peter cepat pamit dan berlari pulang.

" Nona, apa kamu juga bisa milikinya?."Melista Marwin kali ini mencoba keberuntungan.

"Aku juga mau memiliki beberapa kilo daging."

Mila tidak langsung menjawab, dia menatap Yunrong

"Apa kamu juga mau?."

"Boleh." Yunrong tersenyum sopan.

" Kalian bisa mendapatkan masing-masing 2, harganya bicarakan dengan Cade, ya " Kata Mila kemudian.

"Tidak masalah."Ujar Melista

"Biarkan aku mengambil cukup emas dulu."

" Kamu tidak pulang?."

Melihat Melista pergi, dia bertanya pada Yunrong.

"Tidak perlu. Aku membawa cukup emas disini."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!