Keluarga Patau

Pikiran terbuka dan mulut tertutup, merupakan suatu kombinasi kebahagiaan

...****************...

Penatua Patau memiliki 4 putera dan satu Puteri.

Anak pertama saat ini menjadi tetua pertama keluarga, anak kedua seorang jenderal yang belum menikah, anak ketiga pejabat kota, putera ke empat memilih jadi pedagang dan Puteri bungsu telah menjadi istri pejabat di kota lain.

Paman pertamanya Patara Patau memiliki seorang putera dari mendiang istri pertamanya. Parezh Patau 20 tahun dan dua Puteri dari selirnya, Parwita dan Pira.

Paman keduanya Paturusi Patau belum menikah tapi mengambil anak sepupunya yang gugur di Medan perang sebagai anak dibawah namanya Padra Patau.

Ayahnya anak ketiga Pawelloi Patau yang memiliki Peter sebagai anak tunggal dari istri sah dan memiliki satu adik beda satu tahun dari selir ayahnya, Pandu Patau.

Paman keempatnya, Panreng Patau seorang pebisnis sukses yang baru memiliki satu putera berumur 3 tahun, Pavelo Patau dari istri sahnya.

Peter Patau tuan muda yang tidak menonjol di keluarganya. Namun nenek Patau meyakini dia sebagai keberuntungan keluarga.

"Kakek, berikan aku uang untuk membeli daging." Peter masuk tergesa-gesa. Paman keduanya baru tiba jadi dia tidak tahu kalau semua orang berkumpul di ruang keluarga. Biasanya hanya ada kakeknya.

"Peter! Dimana sopan santunmu?!." Tegur Pawelloi pada anaknya tapi wajahnya tidak memiliki ekspresi marah sedikitpun.

Melihat semuanya keluarganya berkumpul. Peter memberi salam pada mereka satu persatu. Selain saudara tirinya, Pandu, para tuan muda Patau tidak berada disana.

"Anak laki-laki biasanya meminta uang untuk membeli senjata, kamu hanya berpikir untuk makan. Kamu benar-benar tumbuh menjadi puteri keluarga alih-alih menjadi tuan muda."Parwita menyindir.

"Paman, seseorang menjual biawak Badak di restoran Lunra' kita. Tidakkah paman tertarik."

"Biawak Badak bukan binatang spiritual rendah biasa yang bisa dijual dengan mudah. Itu Binatang spiritual rendah langka, tidak mudah mendapatkannya." Ujar Pandu seolah menggiring orang lain tidak mempercayai perkataan Peter.

"Mereka memberikan ini padaku." Peter mengeluarkan daging yang diberikan Mila.

"Tetua Jaswin Jasper sudah mengonfirmasi kalau itu memang daging biawak Badak. Dia bahkan sedang proses membeli dua biawak Badak level 3 tahap menengah sekarang."

"Ini memang daging biawak Badak." Keluarga Patau kaget sekaligus gembira mendengarnya anak kedua, Paturusi berkata penuh keyakinan.

Mendengar itu, paman keempatnya, Panreng Patau langsung berkata pada istrinya.

"Jangan bicarakan lagi, aku akan kesana melihat. Istri cepat ambilkan aku uang."

"Ya. pergi memeriksanya daripada menyesal."Kakek Patau cepat bicara.

"Aku juga akan pergi melihat-lihat."Paturusi berdiri dari duduknya.

"Paman, bawa uang lebih kita akan membeli kulit, tulang dan inti spiritual biawak badak itu."

"Jadi kita akan membeli satu biawak Badak utuh! itu sangat baik! gunakan kas keluarga." Kakek Patau bersemangat.

"Kakek, besok ada pelelangan, mungkin ada barang bagus yang bisa kita dapat." Pandu berbicara.Fia tidak suka antusias tetua pada barang yang ditemukan Peter.

"Barang di pelelangan bukan hal pasti kita gunakan dan harganya harus mahal. Kalau ini, kita bisa menggunakan semuanya dengan baik." Ujar kakek Patau, Pandu hanya menunduk tidak membantah lagi.

"Ayo pergi." Paturusi berjalan keluar, Manarik Peter sekaligus. Panreng mengikuti dibelakang.

"Ayah, makanlah duluan. Besok baru kita adakan makan bersama, aku juga mau keluar melihat-lihat."

Pawelloi, ayah Peter berkata setelah berpikir sejenak.

"Pergilah." Penatua Patau mengangguk.

Diruang private, Jaswin dan Luki mengobrol santai ketika Peter muncul bersama dua pamannya.

"Tuan Jaswin disini." Sapa Panreng melangkah maju.

"Ternyata tuan Kedua dan keempat keluarga Patau."Jaswin membalas sapaan.

"Ini tuan Luki, tuan muda ke tiga yang mengundangnya kemari."

"Inilah yang dibicarakan Peter." Paturusi dan Panreng memberi memberi salam pada Luki.

"Senang bertemu dengan para tuan. Saya berjalan-jalan di kota ini untuk memberikan pengalaman pada para junior."Dia beralih ke meja lain yang berada disudut tempat Mila, Cade dan Riri makan. Ketiganya berdiri memberi salam.

"Rekanku yang lain lagi beristirahat di dalam."

"Tidak apa-apa. Jangan mengganggunya." Paturusi berkata dengan cepat.

"Menurut junior kami, tuan menjual biawak Badak. Kami sangat beruntung kalau bisa membelinya."

"Itu barang juniorku. Tuan bisa bicara dengan mereka."Kata Luki.

Sebelum Panreng bereaksi, Mila mengeluarkan dua biawak badak level 3 tahap menengah dan level 4 tahap awal.

"Paman, anda harus membicarakan harganya dengan senior Cade." Kata Peter penuh semangat.

Jaswin merasa iri karena Mila memberinya level 4 tapi dia mengerti karena Peterlah yang pertama kali bicara untuknya tadi.

Dia sedikit menyesal karena tidak membela mereka saat anak muda dari keluarga Morgan itu sesumbar.

Paturusi sangat gembira melihat dua biawak badak utuh itu tapi dia menekan kegembiraannya dan bersikap senormal mungkin dan terus mengobrol dengan Luki dan Jaswin.

"Benar-benar biawak badak level 4."Melista datang dengan pria tua disampingnya.

"Maafkan kelancanganku."Pria itu cepat menyapa orang-orang di meja utama. Melista cepat bergabung dengan Mila dan lain di meja sudut.

Mila cepat mengeluarkan dua biawak badak level 3 menengah di depan Melista.

"Penatua ketiga, tolong diskusikan harganya dengan senior Cade." Ujar Melista membuat orang tua itu bangkit dari duduknya dan cepat berkata pada Luki.

"Tuan Luki, tuan muda ketiga Patau tadi mendapatkan level 4, bisakah kamu juga mendapatkannya?."

"Sejujurnya, itu semua milik juniorku bukan aku yang memutuskan. Lagipula, itu pembicaran awal mereka."

"Oh.... begitu. Sayang sekali." Penatua ke tiga keluarga Marwin itu hanya bisa menghela napas.

"Namun aku memiliki penawaran untuk tuan-tuan karena ingin meminta bantuan."Luki berkata dengan senyum bijaksana. Dia mengangkat tangannya dan memperlihatkan gadis tertidur di dalam cincin ruang nya.

"Dia jatuh diatas kendaraan kami dan terluka parah. Dia sepertinya habis bertarung. Kami sudah mengobati lukanya."

"Ini.... ini bukannya nona muda kedua keluarga pak Walikota?!."Panreng yang pertama mengenalinya. Sebagai penanggungjawab beberapa restoran dan kedai di kota ini, dia sering mengunjungi tempat bisnisnya dan bertemu pelanggan dan melihat nona muda dan tuan muda.

"Iya, benar. Ini nona muda dari keluarga ipar kami. Dia hilang dari kemarin dan meminta orang-orang dari keluarga Marwin kami mencarinya." Penatua ketiga Marwin.

"Kurasa lebih baik tuan-tuan yang membantu kami membawa pulang gadis ini."

"Maaf mengganggu." Yunrong menyela.

"Ada baiknya saya yang membawa pulang sepupu kedua itu. Tapi masih perlu tetua yang bicara dengan paman saya."

"Itu benar. Itu ide baik."Jaswin berkata.

"Nona muda ini kemungkinan diculik jadi kepulangannya tidak bisa mencolok untuk menghindari musuh siaga."

"Kebetulan kakak ketigaku bekerja di balai kota tidak akan mencurigakan kalau dia pergi ke rumah walikota di malam hari, biarkan dia datang kesini dulu." Panreng cepat berkata dan Paturusi menindak lanjuti meminta pengawal yang ditinggalkan diluar pintu untuk mencari Pawelloi.

"Sebagai ucapan terimakasih karena membantu, aku akan memberikan ini pada anda sekalian."Ucap Luki sopan dan mengeluarkan satu coki ala' utuh.

"Biarkan Cade membagi ini untuk kalian. mungkin dimasa depan, kami masih membutuhkan bantuan kalian."

Biawak Badak saja sudah membuat mereka sangat senang, sekarang ada coki ala' di depan mereka yang tingkatnya lebih tinggi dari biawak Badak.

Mereka menyadari kalau Luki dan teman-temannya bukan orang yang bisa mereka singgung.

Tidak lama, Pawelloi yang memang berada di restoran itu cepat muncul. Setelah berbasa -basi dan mengetahui tentang nona muda keluarga walikota dia cepat berkata.

"Pertama, saya ingin bertanya, anda memperlakukan biawak Badak begitu murah, mungkinkah tuan Luki datang untuk melelang sesuatu?."

"Intuisi tuan wakil walikota sangat tajam." Luki tertawa.

"Saya memang memiliki beberapa barang untuk dilelang."

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita bicara secara detail di rumah dagang keluarga kami, itu lebih aman. Bagaimanapun, ini restoran yang cukup ramai. Tidak ada dinding tak bertelinga."

"Tentu saja." Luki langsung setuju dan meminta Cade membangunkan Richie yang membuat mereka merasakan tekanan saat Richie berada diantara mereka. Mereka tahu kalau Luki memiliki kekuatan spiritual berada diatas rana mereka apalagi dia bisa membentuk alam kecil dalam cincin ruangnya. Sekarang, aura Richie sangat mendominasi membuat para tetua itu bersikap hati-hati.

Panreng membuka 3 kamar VVIP di rumah dagang yang memang tersedia bila ada peserta dagang datang dari jauh.

Luki lanjut berdiskusi dengan para tetua dari tiga keluarga, Mila dan lainnya menemani Cade mengurus coki ala' yang akan dibagi. Richie menarik Yunrong berbicara tentang kota Cempa Dao.

Panreng membawa Luki dan lain berdiskusi di ruang rapat rumah dagang yang kerahasiaannya dijaga ketat.

"Saya akan ke rumah walikota untuk memberitahunya. Nanti, penatua ketiga keluarga Marwin membawa nona kedua bersama nona muda Marwin. Nanti tuan Luki akan pura-pura mengantar kalian dan saat itu mengeluarkan nona kedua dari cincin ruang." Yang lain mengangguk.

Cade memasuki ruang dengan daging, tukang dan kulit coki ala' yang sudah dibagi 3 secara adil.

"Hari sudah gelap. Kenapa kita tidak makan malam bersama." Tawaran Panreng tidak ditolak, bagaimanapun mereka senang untuk bergaul dengan kelompok Luki.

"Sebenarnya, selain nona kedua walikota ini, ada gadis lain yang bersamanya dan terluka sangat parah. Saya bermaksud mengobatinya dan membutuhkan ruangan medis. Kalau tidak salah, keluarga Jasper pemilik rumah sakit kota. Bisakah saya menyewa ruang medis yang dirahasiakan agar kalian tidak menyinggung orang dibalik penculikan ini."

"Kamu akan membantu."

Jaswin menjawab secara langsung padahal Luki berpikir tetua ini akan mempertimbangkan lebih dulu dan memberinya jawaban besok.

"Aku akan membayarnya dengan ini untuk uang."Luki membuka telapak tangannya dan ada api kecil merah menyala.

"Inti api?!."Jaswin berseru gembira.

"Inti api yang dipadatkan moster kayu kuno berusia 50 tahun." Luki menarik energi spiritualnya dan api kecil itu berubah menjadi bola merah kecil. Jaswin menyimpan hati-hati.

"Kami akan melakukan pengaturan, setelah menghadiri pelelangan, anda bisa menggunakan ruang kesehatan."

"Bantuan lain yang kubutuhkan adalah menyewa rumah, kami akan tinggal beberapa waktu disini."

"Keluarga Marwin akan melakukannya untuk anda."Penatua ketiga berkata dengan cepat.

"Keluarga Marwin kami mengelola bisnis properti."

"Terimakasih." Luki mengeluarkan kotak.

"Sampaikan terimakasih kami pada penatua keluarga Marwin."

"Tentu."

Penatua ketiga Keluarga Marwin tidak membuat kotak itu, dia langsung melemparnya ke cincin penyimpanannya.

Usai makan malam, Pawelloi menuju rumah walikota, Melista bersama penatua ketiganya membawa nona muda kedua walikota. Peter sendiri diminta pulang.

"Kalau besok kalian ada waktu, kita keluar berbelanja." Kata Melista pada Mila dan Riri.

"Tak perlu takut, Peter dan Yunrong akan mengawal kita."

"Oke." Balas Mila disertai anggukan Riri.

Luki melanjutkan membicarakan bisnis dengan Patau bersaudara.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!