"Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."
...****************...
Mila membuka matanya perlahan, mengeliat dan meregangkan badannya.
" Sial! aku berbaring di tanah? nenek Intan mengirimku kemana sih? ahh..... kalau tahu begini aku tidak akan menggodanya tentang menjadi pewarisnya". Mila merutuk dan cepat bangkit. Dia mengedarkan pandangannya, sejauh mata memandang hanya ada pepohonan dan tanah merah.
"Tempat aneh macam apa ini? Apa ini ilusi?". Mila memusatkan pikirannya.
"Jelas ini bukan ilusi, ini nyata". Gumannya sendiri.
Meskipun dia hidup di jaman modern, dia sedikit memahami dunia spiritual karena terpengaruh oleh nenek Intan.
Mila samar- samar mengingat ucapan terakhir nenek Intan sebelum mengirimnya lebih tepatnya sebelum dia ditendang memasuki portal teleportasi.
"Pergilah ke dunia lain dan lakukan yang kukatakan semalam!".
"Jadi ini bukan bumi! lalu dimana aku sekarang?! Pluto, Neptunus, mars.... ".
Mila mengacak-acak rambutnya sendiri dengan putus asa.
"Kenapa suasananya sepi gini, ya?!". Mila merinding sendiri dan cepat bersembunyi di balik salah satu pohon paling dekat darinya.
"Hu.... hu.... hu..... ibu! kalau aku tahu bakal di kirim ke dunia antah berantah ini sama nenek Intan, aku lebih suka ikut bimbel atau kursus meskipun itu hal sia-sia yang buang waktu dan uang. Itu lebih baik daripada seperti ini. Hu..... hu... hu.... ibu! ampuni anakmu yang durhaka ini, aku pasti berdosa karena tidak mendengarnya, ibu!". Mila menangis dalam hati.
" Tenang! tenang! dan berpikir!". Mila mengelus dadanya sembari menumbuhkan lagi keberaniannya yang telah mati.
"Nenek selalu bercerita tentang dunia spiritual. Apa ini dunia spiritual? kalau ini dunia spiritual, bagaimana aku bisa bertahan hidup? di dunia spiritual, orang-orang harus memiliki kemampuan spiritual untuk hidup. Kalau tidak, aku bisa mati kalau ada orang spiritual tinggi bersin di dekatku".
Mila meratap lagi dalam hati.
"Belajar spiritual di usia sekarang mungkin sudah terlambat. dalam beberapa novel yang kubaca, orang-orang spiritual mengolah spiritual di usia muda dan butuh bertahun-tahun untuk menguasai satu tingkatan spiritual".
"Pengolahan spiritual juga tergantung dari bakat, inti spiritual, roh spiritual, warna jiwa, roh ilahi, garis keturunan..... "
Mila mengetuk-ngetuk jarinya ke pohon dan terus berpikir.
"Alangkah bagusnya kalau memiliki semuanya itu, tapi hanya ada satu juta kelahiran yang memiliki keberuntungan seperti itu. Memiliki satu diantaranya saja sudah cukup".
"Aku dikenal lumayan dalam akademik di dunia, apa aku bisa jadi salah satu genius di dunia ini?".
"Untuk menjadi genius butuh bakat bawaan, pemahaman yang baik dan keberuntungan. Aku malah nggak tahu aku bisa mengolah spiritual atau tidak. Untuk mengolah spiritual butuh panduan seperti master dan kitab spiritual. Kedua hal ini harusnya bisa didapat kalau memasuki sekte atau akademi. Masuk akademi juga harus mengikuti ujian dasar. Masalahnya, aku tidak tahu bagaimana memulai mengolah spiritual".
"Masalah utamaku adalah tidak tahu mengolah spiritual! Ahh..... !!!! Kesalnya!!".
Mila memukul dan menendang pohon tempatnya bersembunyi.
"Aku tidak mau mati! Ahhhh..... ibu! ampuni anakmu ini! biarkan aku pulang! aku akan ikut bimbel! ikut kursus, bangun pagi, rajin kerja di rumah!".
Mila kembali histeris dan memeluk pohon sambil menangis.
"Malangnya nasibku!".
Mila menggaruk pohon dengan gemas.
"Master! selamat datang kembali!". Mila melonjak kaget mendengar satu seruan membahana.
"Master! ini benar-benar kamu!".
Mendengar suara tanpa melihat orang lain membuat Mila merinding ketakutan.
"Si... siapa di di... disana?!".
"Master, ini aku Eri!". Satu sosok melayang ke depan Mila.
"Pelayan anda, master".Gadis itu mendaratkan kakinya dan cepat berlutut.
Beberapa makhluk lain juga berbaris di belakang Eri dan memberi hormat.
"Selamat datang kembali, master!". Seru mereka serempak.
"Bukan! saya bukan master kalian!". Mila mundur beberapa langkah dan menabrak pohon tempatnya berlindung.
"Ini jelas aura dan energi anda master". si pohon menyahut membuat Mila melompat karena terkejut.
"Ahhh ... !!! pohonnya bicara!! hantu pohon!!! Ahhh.... !!!". Teriak Mila melarikan diri.
"Master! aku tidak bermaksud mengagetkanmu! master!!".
"Loi! kamu membuat master pergi lagi! aku akan menebangmu!!". Seekor burung Pipit mendekati pohon itu dan berteriak marah.
"Aku tidak bermaksud begitu. Sejak tadi master ada di sampingku, dia memukulku, menggarukku, tapi aku diam saja karena takut dia marah. Aku hanya menyapanya kenapa dia malah pergi? kalau tahu begini, aku harusnya diam saja terus. Booohoooooo ....... !!!". Si pohon yang bisa bicara itu mulai menangis merontokkan daunnya.
"Kupikir, master mungkin kehilangan ingatan".Sahut seekor kelinci.
"Kurasa itu juga benar, master menghancurkan tubuhnya saat itu, wajar kalau spiritual kesadarannya juga hancur". Timpal burung gagak.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?". Si burung Nuri berkata dengan cemas.
"Sudah! jangan bertengkar lagi! kalian kembali saja dulu. Aku akan pergi menemukan master dan membujuknya kembali". Eri menenangkan temannya. Dia sendiri terbang menusuri wilayah itu.
Mila berhenti berlari ketika mendapati sebuah gua. Dia telah jauh masuk ke dalam hutan.
"Hoss... ! hosss... ! hooss...!".
Dia bersandar di dinding luar goa.
" Mungkin, aku bisa bersembunyi dulu disini. Semoga goanya kosong". Pikirnya.
"Semoga tidak ada binatang apapun atau makhluk aneh". Doanya dalam hati.
Goa itu tidak sepenuhnya gelap. Bagian luar masih temaram. Mila mengamati sekeliling, setelah merasa aman dia duduk selonjoran tidak peduli lagi dengan debu yang menempel di pakaiannya. Sebenarnya, goa ini masih memanjang ke belakang tapi Mila nyaris tidak punya tenaga lagi untuk memeriksa lebih jauh.
" Mari istirahat disini saja dulu".
Mila menyandarkan tubuhnya dan mulai bergulat dengan pikirannya.
" Kenapa para makhluk aneh itu memanggilku master?". Mila mengetuk-ngetukkan jarinya.
"Apa aku harus berpura-pura jadi master? mungkin aku bisa mendapat petunjuk sekaligus perlindungan dari mereka". Senyum licik muncul menghiasi wajahnya.
"Tapi kalau kedokku ketahuan atau master yang sesungguhnya datang, bisa-bisa aku dicincang". Wajah Mila kembali muram.
"Master itu harusnya kuat dan punya kuasa, terpenting harus bisa melindungi orang-orangnya".
"Sedang aku hanya orang biasa, tuna wisma, bahkan tidak bisa melindungi diriku sendiri."
"Apa yang harus aku lakukan di negeri antah berantah ini?".
Keluh Mila menghela napas berat.
"Aku dikirim nenek Intan ke dunia ini untuk menjalankan misi, karena tadi terlalu kaget dan cemas, sekarang aku tidak ingat misiku".
Mila memegang kepalanya dan menggeleng keras.
" Tidak! tidak-tidak! bukan saatnya memikirkan misi. Terpenting adalah tetap hidup dan kembali ke dunia asalku, bumi!".
"Kamu bisa kembali setelah kamu menyelesaikan misimu karena hal itulah yang membantumu kembali"
Mila mengingat pesan nenek Intan.
"Ahhhh.... tetap saja harus menyelesaikan misi dulu. Kepalaku sakit memikirkannya".Guman Mila.
"Aku sangat lelah dan kehabisan tenaga. Sepertinya cukup aman disini. Aku mengantuk".
Kelelahan dan sejuknya goa membuat Mila perlahan tertidur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Sweet_Fobia (ᴗ_ ᴗ )
Serius, ceritanya bikin aku baper
2023-08-19
1
Pretty_Mia
Aku gak pernah kepikiran bakal suka banget sama genre ini, tapi berkat cerita ini aku jadi doyan!
2023-08-19
1