Seperti dugaan Syahla, malam itu tidak ada ustadz atau ustadzah yang masuk ke kelas mereka. Setelah memastikan bahwa semuanya aman, Syahla dan Laksmi langsung melancarkan aksi yang sudah mereka rencanakan sebelumnya.
Saat teman-temannya memilih untuk kembali ke asrama, Syahla dan Laksmi menunggu di gedung sekolah. Sekolah formal dan non-formal memang masih menggunakan gedung yang sama, tapi kelas non-formal dibedakan bukan dari angkatannya, melainkan dari kemampuan mengajinya. Setelah sekolah sepi, mereka buru-buru pergi ke kantor guru yang berada di lantai dua gedung tersebut.
Syahla terlebih dulu mengintip dari jendela kaca, memastikan tidak ada siapapun di sana. Rapat dewan guru memang diadakan di aula pertemuan pesantren, jadi sudah pasti tidak ada siapa-siapa sekarang. Syahla segera membuka pintu kantor yang memang tidak terkunci, dan Laksmi mengikutinya dari belakang.
Lampu kantor yang dimatikan membuat suasana menjadi gelap gulita. Penglihatan mereka di bantu dengan cahaya senter kecil yang mereka bawa, sehingga membuat keadaan menjadi remang-remang. Ditambah dengan suasana gedung sekolah yang sepi, membuat malam itu terasa lebih horor.
"La," Laksmi mengeratkan pegangannya pada lengan Syahla. "Aku takut,"
"Baca ayat kursi saja," Syahla menjawab asal. Dengan senter kecil di tangannya, dia sibuk mencari meja milik Ustadz Amar.
"Ketemu!" Syahla kegirangan. Amar Maulana Syarief, Syahla membaca nama yang tertempel pada meja. Tanpa membuang waktu, Syahla buru-buru mencari buku yang tadi disita oleh Ustadz Amar.
"Bantu cariin dong Mi," Syahla menyuruh Laksmi yang hanya berdiri di belakangnya. "Kalau cepat ketemu, cepat pulang kita,"
Laksmi berdecak. Dia benar-benar ketakutan sekarang. Bukan hanya takut bertemu hantu, ia juga takut akan ketahuan oleh para guru. Tapi mendengar kata 'cepat pulang', ia akhirnya memutuskan untuk membantu.
Syahla sudah membuka laci-laci kecil yang berada di meja itu. Tapi tetap tidak ketemu.
"Kok nggak ada sih?" Syahla kembali mengacak-acak tumpukan buku di atas meja kerja Ustadz Amar, tapi hasilnya nihil. "Gimana Mi? Ketemu?"
"Nggak ada," Laksmi menggeleng. "Mungkin disimpan di tempat lain,"
"Disimpan dimana ya?" Syahla mulai berpikir sambil tangannya sibuk mencari-cari. "Masa sih Ustadz Amar bawa buku ku kemana-mana?"
"Ya mungkin saja terbawa di tasnya. Sudah yuk, sudah nggak ada, kita pulang saja lah,"
"Nanti, sebentar lagi," Syahla mengibaskan tangan Laksmi yang menepuk-nepuknya mengajak cepat keluar. "Kayanya di sebelah sini belum aku cari deh,"
"Ayolah," Laksmi masih menepuk-nepuknya tidak sabar. "Nanti kita ketahuan,"
"Nggak kok, tenang aja," Syahla berkata sok menenangkan. Ia masih mencari dengan teliti buku kwarto-nya di antara buku-buku tugas di atas meja itu.
"La," Laksmi kembali menepuk-nepuk pundak Syahla. "Ini kok ada yang nepuk-nepuk pundakku ya?"
"Aduh, siapa sih Mi? Kucing kali," Syahla kembali mengibaskan tangan Laksmi.
"La," Laksmi menggoyang-goyangkan badan Syahla lebih kencang. "Ini tangannya manusia,"
"Apa sih Mi? Jangan halu deh,"
"Tapi ini beneran.."
Syahla menghela napas jengkel. "Mana mungkin sih ada hantu di pondok pesantren Mi? Mungkin cuma—"
Perkataan Syahla berhenti di kerongkongan saat ia menoleh ke belakang. Laksmi yang melihat sahabatnya berekspresi demikian ikut menoleh, alangkah terkejutnya dia saat melihat sebuah wajah yang disinari senter berada tepat di depan muka mereka.
"AAA!!! SETAN!!!" teriak mereka bersamaan.
KLIK!
Ruangan kantor seketika menjadi terang benderang. "Loh, kalian bertiga ngapain di sini gelap-gelapan?"
Yang barusan berbicara adalah Ustadz Yasir, salah satu dewan guru di Pesantren Al-Raudhah. "Kang Amar ngapain?"
Syahla dan Laksmi sontak menoleh ke arah 'hantu' yang berada di depan mereka. Ternyata sosok itu bukan hantu, tapi jelas lebih menakutkan dari hantu, karena wajah Ustadz Amar sudah terlihat mau meledak menahan marah.
Syahla dan Laksmi langsung menundukkan kepala takut-takut. Kenapa Ustadz Amar bisa ada di sini?
"Tadi sih niatnya mau ngambil tugas anak-anak di kantor Kang, tidak tahunya malah ketemu dua tikus kecil ini," Ustadz Amar menjawab pertanyaan Ustadz Yasir sambil kedua matanya menatap tajam ke arah Syahla dan Laksmi.
Kedua gadis itu menelan ludah. Tatapan mata Ustadz Amar sudah seperti mau melahap mereka bulat-bulat.
"Coba jelaskan, ngapain kalian ke sini?" Ustadz Amar memulai interogasi. "Berikan jawaban yang cepat, tepat, dan jelas! Dalam tiga.. dua.."
"Saya mau setor hapalan!" Syahla menjawab cepat sebelum hitungan selesai. "Kan Ustadz bilang saya disuruh hapalan rumus molekul,"
"Oke," Ustadz Amar melipat tangannya di depan dada. "Coba sekarang setorkan,"
Laksmi melotot. Mati sudah. Kenapa sih Syahla harus beralasan seperti itu? Memangnya Syahla beneran hafal?
Tanpa diduga, Syahla ternyata bisa menyebutkan semua rumus-rumus itu dengan lengkap. Laksmi yang berada di sampingnya, serta Ustadz Yasir yang sadari tadi memperhatikan mereka hanya bisa tercengang melihatnya.
"Sudah kan, Ustadz?" Syahla memperlihatkan deretan giginya yang rapi. "Jadi sekarang saya dan Laksmi sudah boleh keluar ya,"
Ustadz Amar menganggukkan kepalanya. "Lumayan sih. Tapi apa gunanya kalau saat pelajaran tidak memperhatikan? Sekarang coba jujur, kalian ke sini karena mencari ini kan?"
Syahla terbelalak karena ternyata buku yang ia cari-cari sedang dipegang oleh Ustadz Amar. Ia dengan cepat mencoba meraih buku itu, tapi Ustadz Amar jauh lebih cepat, mengangkat buku itu tinggi-tinggi.
"Ustadz kan janji mau kembalikan buku itu kalau saya sudah hapalan!"
"Kamu benar. Tapi kan bukan cuma itu syaratnya. Masih ada waktu satu bulan untuk membersihkan toilet santri putri,"
"Tapi kan—"
"Ah, karena sekarang kalian ketahuan menyusup di kantor guru, hukuman ditambah menjadi dua bulan. Bukan cuma Syahla, Laksmi juga,"
"Loh, kok saya juga kena?" Laksmi memprotes tidak terima.
"Kalian ini kan satu paket. Partner of crime namanya, jadi hukumannya kongsi."
Setelah memutuskan hukuman bagaikan hakim pengadilan, Ustadz Amar menunjuk ke arah pintu. "Sekarang, silahkan keluar."
"Tapi Ustadz—"
"Apa mau ditambah jadi tiga bulan?"
Syahla sudah tidak mampu menjawab lagi, buru-buru menarik Laksmi keluar dari ruangan itu.
...----------------...
"Apes, apes, niat bantu sahabat malah jadi ikut kena hukuman," Laksmi mengomel sambil tangannya sibuk menyikati WC.
"Kan kita bestie!" Syahla yang menyikat di bilik lain menyahut. "Lagian tuh Ustadz memang rese banget deh! Sok ganteng! Sok keren! Kok bisa sih banyak yang suka sama dia?"
"Kan memang keren La.." Laksmi berulang kali menahan diri agar tidak muntah. "Aku juga kalau ditembak sama Ustadz Amar bakalan mau kok,"
"Dih!" Syahla mencibir. "Untung ujian akhir tinggal tiga bulan, jadi nggak perlu lagi aku pusing-pusing menghadapi malaikat Izrail itu! Bye bye Ustadz galak!"
"Loh, kenapa begitu?" Laksmi memundurkan badannya agar bisa melihat Syahla. "Kan masih bisa ketemu kalau di kampus,"
"Memang siapa bilang aku akan kuliah di sini?" Syahla ikut memundurkan badannya agar bisa melihat lawan bicaranya. "Aku mau kuliah di Jakarta!"
"Loh, kok bisa? Terus gimana dengan persahabatan kita? Kamu tega ninggalin aku sendirian di sini?"
Syahla menghentikan aktivitas bersih-bersihnya dan berjalan menghampiri Laksmi. "Sayang.. Kadang-kadang kita memang perlu mengorbankan hal-hal paling berharga di hidup kita, demi meraih masa depan yang indah,"
"Nggak usah sok puitis deh! Aku serius! Kamu beneran mau pergi? Terus aku gimana? Nanti masuk kuliah sama siapa? Tidur di asrama sama siapa? Huhuhu.." Tiba-tiba saja, air mata Laksmi sudah mengalir deras.
Syahla panik, buru-buru mengusap pipi Laksmi. "Jangan sedih dong, aku bakalan sering ngabarin kamu kok. Jangan nangis.."
Tangis Laksmi malah semakin kencang. "Syahla!"
"Laksmi!" Syahla turut menangis juga.
Jadilah dua sahabat itu saling berpelukan di dalam kamar mandi yang bau pesing sambil bertangis-tangisan seperti di dalam drama korea. Para santri putri yang lewat di depan kamar mandi hanya bisa terheran-heran melihat mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Rahma Inayah
persahabtn bagai ke pompong hal yg tak mudah berubah JD indah.ngakak bc nya mkn seru
2025-03-03
0
ati putri
jadinya ngakak kok jadi nangis barengan
2025-03-14
0
nobita
ngakak.. kocak banget
2025-02-24
0