6 hari tidak sadarkan diri, Raziel pun perlahan-lahan membuka matanya. Luka-luka nya sudah mengering. Tapi masih terasa sakit. "Hemm.... mungkin ini yang Na maksud. Kalau, bertarung dengan keadaan penuh amarah, kekuatan penyembuhan Ra akan hilang" ujarnya dalam hati. Dia turun dari tempat tidur dan mendapati orang tua Gina sedang berdiskusi dengan kepala desa. "Kita harus membantunya" suara ini terdengar ke telinga Raziel. "Desa Amber juga pernah berhutang kepada suku Atar. Setidaknya kita bayarkan kepada dia, The Last Descendant".... Raziel berjalan mendekat "utang apa yang kalian maksud" "eh Nak Ziel" ibu Gina terkejut melihat Raziel yang langsung duduk di sebelah kepala desa. "Hmmmm baiklah. Karena kamu sudah mendengar pembicaraan kami" sambung kepala desa.
Singkat cerita Raziel pun paham setelah dijelaskan oleh kepala desa. "Aku tidak memerlukan nya." "Tapi kau perlu status. Untuk naik ke puncak, kau harus memiliki status"
"Aku akan menuju puncak dengan jalanku sendiri"
"Itu mustahil Ziel"
"Tidak ada yg mustahil buatku"
tok... tok... tok...!!!
Suara ketukan pintu membuyarkan konsentrasi mereka. Koran....!!! Lalu menghilang.
Ayah Gina mengambil koran, lalu melihat halaman belakang. Dia sangat terkejut melihat berita itu. Ibu Gina yang menyadari perubahan ekspresi suaminya pun lantas menghampiri nya. Dia juga terdiam dan tak bersuara melihat berita yang ada di koran. "Ini koran dunia bawah" kata kepala desa. Ayah Gina menyerahkan koran itu kepada kepala desa. Tidak berbeda dengan ekspresi kedua orangtua Gina. Kepala desa sangat terkejut melihat berita dari koran dunia bawah itu.
Dia pun menyerahkan koran itu ke Raziel. Raziel mengambilnya dan melihat, foto dirinya dalam bentuk sempurna Ra dengan sebuah tulisan "Number Three The Lone Wolf"
Melihat ini Raziel hanya tersenyum tipis. "Na, sebentar lagi aku akan mewujudkan janji kita" ujarnya dalam hati.
.......
Disisi lain,
"Herman kau seharusnya di posisi kedua dunia bawah khawatir."
"Apa yang perlu aku khawatirkan. Dia hanya sampai diposisi tiga"
"Ya dan akan segera menggesermu"
"Tidak kalau aku yang menghabisi dia"
Terlihat pimpinan Unohana sedang berdebat dengan Ninja nomor 1 di Klan nya tersebut.
"Ingat Herman, kau adalah yang terbaik di Unohana. Tanpa kau, Unohana tidak akan sebesar ini. Kumohon jangan gegabah"
"Tenang saja master. 12 Tahun aku belum pernah kalah selain kepada si nomor 1"
"Baiklah terserah kau saja"
Dirumah Gina
"Ah...... aku kenyang" celetuk Gina
"Mama kalau masak suka enak"
Raziel hanya tersenyum melihat kepolosan anak perempuan ini dan melanjutkan sarapannya.
Selesai sarapan, Raziel pun keluar rumah dan berjalan ketepi danau.
Ditepi batu di pinggir danau, Raziel pun duduk dipinggir danau. Udara pagi yang sejuk dipinggir danau melamunkan dia. "Na, apa kabar. Aku rindu senyuman mu Na" ucapnya dalam hati......
"Kakak......!!!"
Sebuah suara menyadarkan lamunannya. "Hei Gina...!!" sahutnya. "Kakak kok suka sekali duduk disini. Kan dingin kak". " Oh.... hehehe, kakak cuma kekenyangan" Balasnya
Dari kejauhan, kepala desa mendekat. "Emmm Ziel. Anu..." Raziel melirik kepala desa yang mendekati mereka. "Anu.... itu"..... " Ya aku udah tau" sambung Raziel. "Aku sudah menyadari kehadiran mereka daritadi". " Baiklah. Kami penduduk desa akan mendukung apapun keputusan mu"
Ternyata sedari tadi Raziel melakukan meditasi, sekumpulan Ninja dengan ikat kepala berwarna Biru yang berlambang Air sedang mengamati dia.
"Kalian berikutnya" ujarnya dalam hati....
......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments