Suara burung pagi hari membangunkan Raziel. Dia, merapikan tempat tidur nya, lalu mandi. Udara dingin pagi hari menusuk tulang nya. Sehabis mandi dia langsung di suguhkan dengan makanan hangat dan orang tua Gina sudah menunggu di meja makan. "Ayo sarapan. Nanti keburu dingin nggak enak loh" "Eh anu, iya bu" "Udah nggak usah canggung. Kamu udah seperti kakak buat Gina" Raziel hanya tersenyum. Ya, keluarga kecil ini dulunya ada konglomerat dikota besar. Anak mereka Gina adalah misi nya Raziel kala itu. Dia yang pada saat itu masih bersama Morina, ragu-ragu untuk membunuh Gina. "Kenapa anak ini harus mati?" itulah yang terlintas dipikirannya. Akhirnya dia membuat keputusan berani, dengan menjumpai kedua orang tua Gina. Menceritakan siapa dia sebenarnya dan apa misinya. Orang tua Gina tidak bisa berbuat banyak. Apalagi waktu itu, Raziel masih menjadi milik The Mist. Dengan berani Raziel membuat keputusan "Akan kupalsukan kematian Gina. Kalian pindahlah ke desa dan jalani hidup sederhana kalian. Jangan sampai mencolok" Raziel bergegas pergi dan mencari seorang dokter kenalannya. "Aku butuh mayat anak perempuan umur 2 Tahun" "Ada itu baru masuk 4 hari yang lewat. Mati diserang hewan buas." "Sempurna" sambung Raziel. Inilah yang menjadikan Raziel sebagai seorang yang istimewa dimata orang tua Gina. Jika seandainya waktu itu, misi yang dibawa Raziel diberikan kepada Ninja lain, ntah apa jadinya nasib Gina sekarang........
Selesai sarapan, Raziel pun keluar rumah dan berjalan ke arah danau. Dia bermeditasi di batu besar yang ada di pinggiran danau. Setelah beberapa saat, perlahan-lahan Morina muncul dalam meditasi nya. "Kembali lah, mereka membutuhkan mu" Dia pun tersadar dari meditasinya dan melihat ke arah desa. Kepulan, asap hitam terlihat dari jauh. Teriakan penduduk desa terdengar ditelinga nya. "Ada apa itu?" dia pun berlari ke arah desa.
Langkah nya terhenti melihat kepala desa tengah berlutut di depan 6 orang berpakaian Ninja, dengan 1 buah pedang dimasing masing punggung mereka. Dilengan kanan mereka terdapat sebuah kain melingkar berwarna merah dengan lambang Pusaran Angin. "Shino......." ucap Raziel.
Salah satu Ninja tersebut berteriak ke kepala desa "beritahu atau mati" "lebih baik aku mati daripada, menyerahkan nyawa penduduk ku" teriak kepala desa. "Kalau begitu matilah...!!" Ninja itu mencabut pedang nya dari punggung nya, mengarahkannya tepat ke leher kepala desa. "Ting......!!!" Suara besi beradu terdengar keras. "Siapa kau" "Jangan ikut campur. Atau kau target kami selanjutnya" ucap Ninja berikutnya. "Huh...? Siapa aku? aku juga nggak tau siapa aku" jawab Raziel sembari tersenyum sinis. "Habisi dia, Rudra...!! belum sempat para Ninja mendekat mereka sudah tumbang dihajar oleh Raziel. " Well, well, well, Apa yang Big Four cari didesa kecil ini" tanya Raziel kepada mereka. "Ini bukan urusanmu. Siapa kau sebenarnya" mereka kebingungan karena, dengan mudahnya dikalahkan dan identitas mereka terbongkar. "Cuma Shino yang pakai Kain merah dengan lambang Pusaran Angin dilengan kanannya" ejek Raziel. "Ninja kelas teri seperti kalian lebih cocok jualan sayur" lanjutnya. Raziel lalu meraih 1 orang dan mendekatkan kepalanya ke telinga orang Ninja itu. Sembari berbisik pelan dia berkata "Sampaikan pada tua bangka Aaron, desa ini dibawah lindungan ku. A Raziel" mendengar nama ini, ke 6 Ninja tersebut ketakutan setengah mati. "Ti... ti... tidak mungkin. Raziel yang menghancurkan The Mist dan membunuh gurunya, orang terkuat di The Mist itu adalah kau" "kau bisa percaya atau tidak itu urusan mu. Tapi satu hal yang bisa aku pastikan. Kalau si tua bangka Aaron berani mengirim kalian lagi ke desa ini, kupastikan Perang dengan Shino...!!! Camkan itu...!! sekarang pergi...!!!"
Mereka pun lari ketakutan mendengar hal ini.
Kepala desa tidak habisnya berterimakasih kepada Raziel. "Ziel, ntah apa jadinya kalau tidak ada kamu disini tadi"
........
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Alea Thya
Waaaah, aku jadi pengen terus baca sampe pagi nih! 😍
2023-07-25
1