Bab 18

"kamu mau?" Serin menyodorkan sepotong roti pada Jeha.

"Saya sangat senang bisa di suapin oleh kamu. Tapi saya juga merasa sangat sedih karena tidak bisa menerima itu" Jawab jelas tersenyum lesu, duduk di sebelah Serin.

"Maafkan aku Jeha. Aku lupa kalau kamu itu tembus pandang" balas Serin merasa nggak enak.

"Nggak apa-apa. Serin harus makan yang banyak biar kenyang. Karena perut kenyang hati pun senang itulah yang ibu saya sering katanya" nasehat Jeha, sementara Serin langsung makan rotinya.

"Hahaha aku sangat penasaran dengan ibu jadinya?"

Serin pun menyelesaikan sarapannya dengan cepat. Setelah selesai sarapan ia langsung menuju balkon villanya, dia duduk di sana sambil bersandar. Lalu ia membuka galeri handphonenya dan menatap foto foto dirinya bersama dengan Lucas.

"Kenapa hubungan kita jadi seperti ini? Padahal banyak mimpi mimpi yang belum kita gapai bersama?" Gumamnya menghapus foto foto tersebut.

Serin memejamkan matanya karena tak kuat mengingat hari hari bahagianya saat bersama dengan Lucas.

Saat hendak menghapus foto, Serin melihat sebuah video saat dirinya di lamar oleh Lucas. Di video itu terlihat di sebuah pantai yang di hias senja Lucas berlutut di depan Serin sambil membawa sebuah kotak cincin dan berkata padanya "jadilah ibu dari anak anakku nanti"

Hati Serin benar sangat hancur ketika melihat video tersebut. Yang tak akan pernah terwujud.

Jeha memaklumi saat ini Serin merasa sangat sedih karena penghianatan dari orang yang dia cintai. Jeha ingin memeluk gadis itu memberikan ketenangan untuk Serin. Namun apa daya ia tidak bisa melakukan itu.

Selama Serin larut dalam kesedihannya. Jeha memberanikan dirinya untuk duduk di samping Serin berusaha menghiburnya.

"Jangan menangis Serin, saya merasa terluka jika kamu menangis terus"

Serin tidak menjawab, melainkan ia merasa malu dengan keadaannya sekarang. Pasti sangat memalukan."aku sangat menyedihkan sekali ya" lirihnya dengan mata berkaca-kaca.

"Tidak. Bagiku kamu adalah wanita yang baik yang mau menghargai keberadaan saya"

Serin tersenyum mendengar ucapan Jeha.

"Saya berharap bisa menghibur kamu!"

"Kuharap semua ini adalah mimpi. Aku ingin tertawa lagi bersamanya seperti dulu lagi. Sejujurnya sangat sulit melupakannya karena kami sudah lama bersama. Kuharap dia tidak akan pergi meninggalkanku. Bukankah aku sangat bodoh berharap seperti itu?" lirih Serin.

"Jangan sedih. Saya akan selalu berada di sisimu. Menjadi tempat keluh kesah kamu dan saya berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu!"

Serin merasa sangat senang mendengarnya ucapan tulus dari Jeha. Kenapa Tuhan mengirimkan sosok lelaki seperti Jeha padanya yang sangat pengertian namun dunia mereka yang berbeda. Sekedar menyentuh saja tidak bisa, mereka hanya bisa menatap satu sama lain.

"Setidaknya saya ingin jadi penghibur dalam kesedihan Serin"

"Aku ga mau kamu jadi penghiburku yang hilang dalam sekejap. Ketika kesedihanku sudah menghilang."

"Kalau begitu, jadikan saya temanmu yang terus berada di sisimu sebagai sandaran."

Sepanjang hari mereka melakukan percakapan panjang. Percakapan kecil mampu membuat Serin tersenyum dan tertawa. Begitu juga dengan Jeha yang sangat bersemangat menceritakan dirinya saat menjadi trainer idol. Hal itu menambah pengetahuan Serin tentang sisi gelap seorang Idol K-Pop.

Jika di lihat dari sisi Cerita Jeha, banyak sekali kenangan buruk dan perjuangannya untuk debut di industri hiburan. Serin membayangkan betapa beratnya hidup yang di jalan oleh Jeha. Ia termasuk beruntung bisa memiliki teman teman yang baik padanya.

"Saya sangat iri pada orang orang yang memiliki keluarga yang perduli dan sayang pada anaknya" kata Jeha.

"Justru saya harus berusaha keras agar dapat pengakuan dari kedua orangtuanya saya. Terkadang hidup memanglah tidak adil saya memiliki semuanya harta kekayaan melimpah tapi tidak seorang pun yang mencintai saya" Jeha menatap Serin mendalam"ku pikir menjadi seorang idol saya akan mendapatkan banyak cinta dari fans, tapi itu hanya membawa malapetaka bagi saya" ungkapnya.

"Jeha?" Panggil Serin pelan.

Jeha menoleh mengangkat kedua alisnya, ia tersenyum manis. Kemudian Serin berusaha mengengam tangannya namun tidak bisa.

"Tuhan mencintai kamu, semua orang mencintai kamu" Serin menatap wajah Jeha." Tapi izin aku untuk membuatmu merasakan cinta di kesempatan kedua mu ini"

Jeha mematung mendengar kalimat dari Serin, lalu dia tersenyum bahagia.

Semilir angin mulai menghembus kencang. Pergantian matahari pun mulai tenggelam bergantian dengan malam. Jeha menatap langit langit dengan sendu.

"Kamu itu ibaratkan siang dan aku adalah malam" ucap Jeha.

Serin ikut menatap langit yang mulai gelap.

"Sama sama sangat sulit untuk di satukan!"

Hening.

Serin menghela nafas berat, dengan perasaan yang bercampur aduk di hatinya.

"Kamu gadis pemberani, kamu gadis galak, kamu gadis cengeng yang terlihat cantik saat menangis dan kamu itu satu satunya alasan aku bahagia sekarang"

"Terimakasih sudah mengizinkannya saya menjadi temanmu"

Kata kata itu memilih makna yang berbeda bagi Serin. Mengingat dirinya dan Jeha sangat berbeda.

Jeha tersenyum bahagia, dan itu malah membuatnya Serin menangis. Airmata Serin perlahan meleleh. Kemudian Serin menunduk menyembunyikan wajahnya yang sedih.

Serin berusaha untuk tidak menangis karena ini terlalu menyakitkan untuknya baru kali ini ia merasa seseorang tulus padanya. Ia selalu ingin bersama dengan Jeha membuat memori indah dan tidak ingin semua ini lenyap dari hidup. Betapa sangat egoisnya.

"Langit sudah gelap" ujar Jeha. Serin langsung buru buru menghapus airmata nya.

"Tidurlah! Jangan bergadang nanti kamu sakit" jelas Jeha.

"Iya. Aku mau tidur" balas Serin masih menunduk karena habis nangis.

Jeha yang tau Serin masih menangis. " Saya akan selalu bersamamu!"

Serin pergi beranjak ke lantai dua menuju kamarnya. Tidak lupa dia mandi dulu sebelum tidur. Seperti biasa Jeha menemaninya di samping sembari duduk menjaganya.

"Mau saya bacakan dongeng tidur?"

"Memangnya saya anak kecil"

"Kalau gitu bagaimana saya akan menyanyikan lagu pengantar tidur. Serin bobo oh Serin bobo kalau tidak bobo saya akan gigit kamu"

"Hahaha Jeha sudah" Serin tertawa terbahak-bahak. Jeha yang melihatnya ikutan senang.

Serin kemudian menggeser badan agak ke tengah. "Jeha jika kau mengantuk kau bisa tidur di sampingku"

"Saya mana bisa tertidur"

"Hehehe maaf aku lupa"

Serin mulai menarik selimutnya dan memejamkan matanya perlahan. Tangannya Jeha berusaha mengusap lembut rambut Serin walaupun sama sekali tak bisa menyentuhnya.

"Selamat tidur.... Pelangiku" bisik Jeha di telinga Serin.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!