Serin duduk di menyilang di samping Jeha, ia tersenyum menatap wajah Jeha yang sudah kembali normal tidak menyeramkan lagi.
Kalau di lihat lihat Jeha itu seperti seorang selebritis, memiliki wajah yang tampan sesuai standar di Korea. Tumbuhnya lumayan tinggi, kulitnya seputih salju, hidungnya mancung, matanya sipit. Jika dia debut pasti akan menjadi seorang idol yang terkenal.
"Jeha kenapa aku bisa melihatmu? Padahal aku bukan anak indigo?" Tanya Serin bingung.
"Saya juga tidak tau"
"Pasti aku terlihat sangat jelek sekali saat ketakutan tadi hu..hu.." Ujar Serin yang cemberut.
Tingkah lucu Serin membuat Jeha terperangah di tempat, ia tertawa kecil membuat senyuman terukir di wajah yang manis itu.
"Bagi saya kamu itu sangat cantik"
"Terus saja merayuku!! Dasar hantu tukang gombal" Serin mendengus kesal.
Serin beranjak berdiri dari duduknya, lalu menaruh tas yang akan dia bawa di meja riasnya. Jeha ikut beranjak berdiri di samping Serin, Serin sedikit terperangah karena tinggi badannya Jeha.
Tinggi banget dia! Aku yang seorang idol terlihat begitu pendek jika berdiri bersampingan dengannya--- batin Serin.
Kemudian Serin duduk di pinggir ranjang tidurnya. Di ikut dengan Jeha yang membungkukkan badannya sedikit agar bisa menatap wajah Serin lebih dekat.
"Bisakah kita berteman, Serin?"
Agak horor ya? Tapi sosok Jeha yang sekarang sangat tampan. Lagipula seperti dia tidak mengganguku--- batin Serin berpikir.
"Iya mari kita berteman. Jeha pasti sangat kesepian tinggal di gunung kan?" Tanya Serin.
"Iya saya benar benar sangat kesepian di sana"
Serin dan Jeha secara resmi menjadi teman. Jeha begitu sangat senang ketika Serin menerimanya sebagai teman. Dengan refleks Jeha berusaha memeluk Serin namun gagal karena tubuhnya tembus pandang.
"HAHAHAHA" Serin tertawa terbahak-bahak melihat Jeha yang tembus pandang saat hendak memeluk dirinya.
"Andai kita tidak beda dimensi. Pasti saya bisa menyentuh kamu" kata Jeha memasang wajah sedih.
"Tapi waktu di hutan aku bisa menyentuh tanganmu?" Tanya Serin.
"Karena disana adalah wilayah kekuasaan saya"
"Woah.. Daebak Jeha Sang penguasa Gunung ha..ha..ha.." kagum Serin setengah mengejeknya.
"Sepertinya kamu sangat senang mengejek saya?"
"Nggak kok" Jawab Serin ketar ketir.
"Nggak apa-apa. Saya sangat senang jika melihat kamu tertawa seperti itu"
"Jeha tapi kenapa wajah dan tubuhmu terlihat hancur tadi? Pasti kamu sangat menderita sekali?" Tanya Serin mengingat wajah Jeha yang menyeramkan tadi di penuhi oleh luka dan darah mengalir.
"Mau dengan cerita saya?"
Serin menganggukkan kepalanya." Iya aku penasaran"
"Tapi bukannya kamu mau pergi ke Seoul tadi?"
"Nggak jadi! Nanti aja aku ingin berada di sini dulu bersama dengan Jeha"
Mendengar ucapan dari Serin, Jeha merasa senang. Lalu dia duduk di samping Serin dan mulai bercerita.
"Jadi saya adalah korban pembunuhan kejam di Gunung Halla. Saat itu, saya ingat betul saya dan anggota trainer lain sedang shooting MV buat debut kami"
Serin menyela pembicaraannya. "Tunggu berarti kau seorang trainer idol?"
"Iya. Kita sama namun saya meninggalkan sebelum debut"
"Oke lanjut"
"Saya adalah anak tunggal, ayah saya adalah pemilik agensi MG Entertainment. Dengan usaha dan perjuangan keras saya akhirnya saya bisa debut di agensi memiliki ayah saya sendiri. Tapi banyak yang iri pada ke sukses saya dan menghujat saya karena saya adalah anak pemilik agensi makanya bisa lolos debut. Padahal saya berjuang mati matian untuk membuktikannya pada ayah saya kalau saya mampu berdiri sendiri tanpa bantuannya. Tidak jarang orang orang selalu menghina saya di bilang menang duit doang, menang tampang doang, asli adalah orang payah yang sembunyi di balik orangtua." Jelas Jeha.
"Tapi akhirnya saya bisa membuktikan pada orang orang kalau saya itu hebat. Banyak warga net yang mendukung saya untuk menjadi idol K-Pop dan saya juga banyak berlatih vocal dan dance hingga akhir saya bisa debut bersama dengan trainer lain yang beranggotakan tujuh orang."
"Tapi para trainer yang lain sangat membenci saya, karena saya lebih banyak memiliki fans hingga mereka selalu membully saya. Mereka berharap saya mati dan tidak menghambat kesuksesan mereka.
Lebih sedihnya lagi ayah saya yang mengetahui hal itu hanya diam saja, dia takut reputasi perusahaannya hancur"
Serin mulai meneteskan airmata saat mendengar cerita dari Jeha. " Tidak apa apa kamu tidak usah lanjutkan ceritanya. Pasti sangat sakti jika di bully baik fisik maupun mental."
Jeha menggeleng menghapus air matanya. "Dihari shooting MV di Gunung Halla ternyata teman teman saya berencana untuk menyiksa saya. Saat para kru sedang beristirahat saya di bawa oleh teman teman saya menuju tengah tengah hutan mereka menyiram saya dengan air kotor lalu melucuti pakaian saya dan mereka rekam. Mereka mengancam akan menyebar video tersebut. Saya berusaha untuk merebut handphone tersebut tapi saya malah di dorong kepala saya terbentur oleh batu dana teman teman saya malah melempari wajah saya dengan batu. Mereka bilang muak dengan wajah saya yang sok tampan itu. Dengan penuh darah di wajah saya, saya hanya bisa menangis menahan rasa sakit berharap ada orang yang menolong saya."
"Hati saya benar benar takut, hanya demi ketenaran mereka tega menyiksa temannya. Lalu saat kesadaran saya mulai menghilang mereka membuang tubuhnya saya ke jurang dengan keadaan tubuh saya yang telanjang dan di ikat dan yang lebih menyakitkan lagi adalah ayah saya sendiri yang menutupi kasus kematian putranya dia malah mendebutkan para pelaku pembunuh putranya sendiri."
"Bisa kamu lihat wajah dan tubuh saya hancur. Saat itu saya tidak dapat merasakan tubuh saya, sepertinya tubuh saya benar sangat hancur. Darah mengalir terus membahasi daun daun di hutan begitu sangat sakti mengingat siksaan yang di lakukan oleh teman saya sendiri. Saya pasrah menerima takdir yang tragis itu. Bahkan saat saya menjadi roh saya melihat tubuh saya sendiri masih ada di hutan tersebut tidak ada yang menguburnya dan keluarga saya menganggap saya sudah menghilang."
Jeha tersenyum tipis. "Semua berlalu begitu sangat cepat. Saya pikir saya tidak akan bisa melihat dunia ini lagi setelah menjadi roh. Tapi saya salah, saya bisa melihat dunia ini lagi dan saya memutuskan untuk tinggal di gunung tersebut hingga suatu hari saya bertemu denganmu Serin. Ku pikir awalnya kamu adalah gadis bodoh yang ingin bunuh diri karena putus cinta. Tapi saya salah ternyata kamu semangat hidup baru saya"
"Hiks... Hiks.. pasti sangat sakti banget jadi kamu Jeha. Keluarga dan teman teman kamu sangat jahat sekali" Serin tidak tahan lagi ia menangis cukup keras. Ia merasa ngeri membayangkan posisi Jeha saat itu pasti sangat menderita.
"Sakit banget mendengar cerita kamu, ku pikir hanya penderita aku saja yang menyakitkan ternyata kamu mengambil hal yang lebih buruk dari padaku" Isak tangis Serin.
"Saya mencoba untuk melupakannya. Tidak apa apa mungkin itu sudah takdir hidupku tidak bahagia. Tapi setidaknya saya ingin merasakan kebahagiaan untuk saat ini"
"Iya Jeha, kamu harus bahagia"
Jeha tersenyum memandang wajah Serin." Saya berharap bisa terus berada di sisi Serin dan bisa melihat senyuman kamu setiap hari. Itulah kebahagiaanku sekarang"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments