Serin dan Jeha masih berjalan menelusuri hutan untuk turun dari gunung. Disepanjang jalan debaran jantung serin melonjak dua kali lipat karena berdekatan dengan Jeha. Entahlah apa yang di rasakan oleh Serin? Mungkin dia benar benar suka dengan Jeha?. Karena berada dekat Jeha selalu menimbulkan ledakan yang menyenangkan sekaligus sangat nyaman yang membuatnya tak karuan.
"Jeha? Apakah masih jauh?" Tanya Serin menatap ke arah Jeha.
"Masih jauh. Ini baru daerah pos 4 menuju pos 3"
Mereka masih menelusuri trek tanah bebatuan menurun dari pos 4 menuju pos 3, sama sekali tak ada jalur datar. Udara di gunung yang dingin membuat keringat Serin cepat mengering, membekukan kulit. Di tambah lagi hari semakin malam membuat suhu udara semakin mengigil.
SHUT!
Kaki Serin hampir terpeleset untung saja Jeha menahan tubuhnya Serin dengan kedua tangannya.
"Hobi banget jatuh ini hampir yang ke empat kalinya"
"Bukan hobi! Aku terpeleset, jalan di sini sangat curam" dengus Serin.
"Lain kali hati hati kalau berjalan! Saya takut kamu terluka lagi" kata Jeha tersenyum.
Wajah Serin memerah merona seketika, lagi lagi Jeha hampir membuat jantung meledak.
Serin memalingkan wajahnya malu." Dingin sekali" guman Serin tanpa sadar memeluk dirinya sendiri.
Jeha menoleh kearahnya."mau saya peluk?"
"Peluk? Bilang aja mau modus"
Jeha langsung memeluk Serin tanpa persetujuan darinya. Peluk dari Jeha terasa sangat dingin bagi tubuh Serin, dengan refleks Serin langsung menempelkan tangannya ke dahinya Jeha memeriksa suhu tubuhnya.
"Jeha seperti kau benar benar sakit. Tubuhmu sangat dingin" Ujar Serin dengan wajah khawatir.
"Saya baik baik saja" kata Jeha.
"Nanti pas kita sudah turun gunung. Aku pasti akan membawamu ke rumah sakit" kekeh Serin.
"Kamu tidak perlu khawatir pada saya! Justru saya lah yang khawatir padamu karena tubuhmu sangat lemah sekali" kata Jeha cemas.
"Lagi lagi aku baper dengan kata katamu Jeha. Andai saja kekasihku seperti dirimu! Dia tidak akan mengkhianati ku" Ujar Serin dengan raut wajah sedih.
"Kalau gitu saya akan merasa sangat beruntung jika bisa menjadi kekasih kamu" ujar Jeha tersenyum lembut menatap kearah Serin.
"Ha..ha.. tentu akan sangat beruntung karena menjadi kekasih seorang Selebritis yang terkenal seperti diriku" Jawab Serin tertawa terbahak-bahak. Jeha merasa senang bisa melihat tawa Serin.
"Ayo! Kalau gitu kita harus cepat turun dari gunung ini" Seru Serin.
Tuhan jika aku boleh meminta satu hal..
Biarkan Serin tetap di sisiku. Jangan ambil dia dari saya...
Setelah berjalan cukup lama akhirnya Serin dan Jeha sampai di pos 3. Tapi tiba tiba terdengar teriakan seseorang memanggil manggil nama Serin dengan sangat kencang.
"Tunggu sepertinya aku kenal dengan suara ini?" Serin terdiam berpikir keras. "RENJUN"
"RENJUN! AKU DISINI" Teriak Serin mengelegar.
Serin menoleh ke arah Jeha lalu mengengam tangan Jeha erat, dengan mata terharu."Jeha akhirnya kita bisa keluar dari hutan ini!" Serin melompat kesenangan sementara Jeha memasang raut wajah sedih dengan senyuman tipis di bibirnya.
"DIMANA KAMU SERIN?" Suara teriakan lagi.
"AKU DI POS 3"
SRET!
Dari arah kiri muncullah Renjun bersama tim pencari. Dengan perasaan sangat senang Serin langsung berlarian ke arah Renjun, ia refleks memeluk Renjun dengan sangat erat, Pria itu membalas pelukan Serin dengan haru, seakan-akan sudah menemukan sesuatu yang sangat berharga bagi hidupnya.
Serin merasa sangat lega sekarang, melihat Renjun ada di hadapannya. Air matanya Serin langsung jatuh dalam dekapan Renjun karena berkat kedatangannya Serin merasa aman.
"Serin tenanglah aku ada di sini" lirih Renjun mengusap lembut rambut Serin dalam dekapannya.
"Aku sangat lelah sekali" Isak tangisnya.
Renjun melepaskan pelukannya lalu menggenggam kedua tangan Serin, menatap gadis itu dengan wajah khawatir." Serin Kamu baik baik sajakan?"
"Aku baik baik saja"
Renjun menghapus airmata yang membasahi pipi Serin. "Jangan menangis lagi! Aku pasti akan selalu berada di sisimu"
Serin mengangguk senang mendengarnya hal itu.
"Eemm... Serin aku ini kekasihmu! Bisa bisa kau malah memeluk lelaki ini dulu" Ujar Lucas menatap kearah Renjun.
"LUCAS?"
Serin langsung tersentak kaget saat melihat Lucas berada di hadapannya.
"Aku sangat cemas padamu sayang, itu sebabnya aku ikut mencari mu" Lucas mendekat kearah Serin dengan tatapan khawatir. Khawatir kalau sumber duitnya hilang.
"Hah? Sayang?"
"Aku salah, aku khilaf waktu itu. Maafin aku ya sayang. Aku janji nggak akan mengulangi lagi." Ujar Lucas memelas menggenggam tangan Serin.
Serin menepis tangan Lucas."Lepaskan aku!"
"Hei lepaskan tangan Serin" teriak Renjun marah.
"Kau itu cuma temannya Serin nggak usaha ikut campur" Lucas menunjuk ke wajah Renjun.
"HENTIKAN LUCAS! KITA SUDAH PUTUS! AKU TIDAK SUDI BERKENCAN DENGAN KAU LAGI!" Teriak Serin.
"TIDAK! Aku tidak ingin putus darimu! Aku sangat mencintaimu" kekeh Lucas.
"Aku tidak butuh cinta dari seseorang yang berselingkuh dengan adikku sendiri." Ujar Serin dengan tatapan jijik.
"Ayo Serin kita kembali, biarkan saja dia di sini" ajak Renjun mengandeng tangan Serin.
Lalu kemudian Serin teringat oleh Jeha yang saat itu sedang bersamanya.
"Tunggu Renjun! Aku di tolong oleh seseorang saat tersesat di gunung" Ujar Serin.
"Lalu di mana orang itu? Aku ingin berterima kasih padanya karena telah menolongmu" Jawab Renjun.
Serin langsung berjalan menuju Pos 3, ia menengok kesana kesini mencari Jeha. Namun seperti Jeha sudah pergi dari pos itu.
"Tadi dia disini bersamaku"
"Mungkin dia sudah pergi"
"Tidak mungkin, dia lagi sakit tubuhnya juga sangat dingin. Aku berjanji padanya akan membawanya ke rumah sakit saat turun dari gunung" ujar Serin Panik.
"Tenang Serin, kita akan mencarinya. Dia pasti warna desa yang tinggal di sini, tapi kita harus kembali dulu" bujuk Renjun tersenyum.
"Baiklah" dengan berat hati Serin mengikuti saran dari Renjun.
Tapi saat hendak berjalan tiba-tiba kepala Serin terasa sangat sakit sekali, pengelihatan nya mulai menjadi kabur, semua orang pun menjadi sangat khawatir. Dan dia pingsan, Renjun dengan cepat langsung menggendongnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments