Pagi hari yang cerah menunjukkan pukul 09.00 matahari sangat terang menyinari wajahnya Serin saat tertidur. Hal itu membuatnya terbangun karena meras silau.
"Hoamm" Serin membuka matanya perlahan. Ia melihat ke sekeliling dan memiliki Jeha sedang duduk di sampingnya.
"Astaga jam berapa ini?" Serin langsung beranjak duduk dan melihat jam di tangannya. "Ini sudah siang sekali"
"Jeha kenapa kau tidak membangunkanku?" Tanya Serin dengan keadaan rambut yang masih berantakan.
"Mengemaskan" kata Jeha melihat Serin.
"Ish... Nyebelin banget! Aku nanya serius tau" dengus Serin kesal langsung merapikan rambutnya menggunakan tangannya.
"Saya tidak tega membangunkannya kamu. Karena terlihat sangat nyenyak tidur" Balasnya membuat Serin salah tingkah di buatnya.
Kok aku deg deg kan ya? Si Lucas aja nggak pernah begini..--- batin Serin.
"Ya sudahlah ayo kita berangkat sekarang" ujar Serin.
Kemudian Serin bersiap siap berkemas untuk melanjutkan perjalanannya bersama Jeha. Dengan terburu buru ia langsung memakai sepatunya yang sudah 3 hari tidak ganti.
Di sepanjang perjalanannya Serin terus mengoceh pada Jeha. Karena ia merasa sangat bosan sekali jika mereka hanya berdiam saja.
"Jeha kenapa kita belum sampai sampai juga?" Tanya Serin yang sudah lelah berada di dalam hutan.
"Karena kamu masuk ke bagian hutan terlarang jadi sangat jauh untuk bisa sampai ke jalur pendakian" kata Jeha serius.
"APA? Kok bisa sih?" Kaget Serin.
"Padahal saya sudah menunjukkan jalan yang benar. Tapi kamu tidak mendengarkannya!" Jelas Jeha.
Serin hanya terdiam sambil berpikir mengingat ingat kapan Jeha berbicara seperti itu kepadanya? Sungguh dia tidak mengingatnya.
Serin berjalan di belakang Jeha sambil menatapnya dari belakang. Lelaki yang berada di depannya itu benar benar sangat tinggi, putih sangat sempurna, membuat Serin terpesona oleh Jeha.
Tampak sadar tiba tiba Jeha menghentikan langkah kakinya dan Serin yang tidak fokus menabraknya dari belakang.
BRUG!
"Aduh..." Serin memegang kepalanya.
Jeha nengok kearah belakang melihat Serin yang kesakitan.
"Saya minta maaf, karena membuat kamu terluka" Jeha memasang wajah khawatirnya.
"Tidak apa apa. Ini salah aku karena tidak fokus he..he.." Serin tertawa kecil agar Jeha tidak cemas.
Jeha kembali melangkah kakinya. Kali ini ia berjalan bersampingan dengan Serin.
"Jeha berapa usiamu?" Tanya Serin penasaran.
"Saya berusia 18 tahun"
"Benarkah.. kalau gitu kau harus memanggilku nuna karena usiaku lebih tua darimu 20 tahun" pintah Serin merasa lebih tua.
"Akan saya pikirkan"
"Jeha sangatlah menyebalkan! Terkadang terlihat sangat dingin, kadang juga sangat perhatian, kadang bikin orang salting bikin jantungku berdebar debaran" gerutu Serin memalingkan wajahnya dan berkata kasar"huhu... Ngeselin"
"Saya harus apa agar tidak terlihat menyebalkan di mata kamu?" Tanya Jeha memelas menatap Serin.
Deg.
Blush.
Anjir! Lagi lagi dia memasang wajahnya seperti itu! Sangat imut, aku tidak tahan.. --- batin Serin berdebaran
"Gak tau. Pikir aja sendiri!"
Serin langsung berjalan dengan cepat agar ia tidak berjalan bersampingan dengan Jeha. Tapi, Jeha malah menyusul Serin berjalan memepet dengannya. Agar dia tidak menjauh dari Serin.
"Jangan dekat dekat! Sana" Serin mempercepat langkahnya lagi.
Jeha menggelengkan kepalanya pelan
"Maafkan Saya.."
"Tidak mau, karena kamu telah membuat perasaanku menjadi sangat aneh. Aku belum pernah merasa seperti ini! Bahkan saat aku dulu bersama Lucas..." Ujar Serin terputus.
"Jangan bicarakan pria itu! Saya tidak suka jika kamu menangis lagi karena dia"
Deg.
Seketika pipi Serin langsung merona memerah mendengar ucapan dari Jeha.
"Sudahlah lupakan saja"
...__________...
Di sisi lain Renjun, Lucas, bersama dengan tim pencari menelusuri area pendakian menuju puncak Gunung Halla. Mereka meneriaki nama Serin namun tak ada jawaban sama sekali.
"SERIN!" Teriak Renjun merasa frustrasi.
"SERIN KAU DIMANA!" Teriak Lucas.
Renjun dengan gigih terus melanjutkan perjalanannya untuk menemukan Serin. Hingga pada akhirnya rombongan mereka sampai di puncak Gunung Halla. Disana mereka mulai mencari jejak keberadaan Serin.
Renjun yang hampir putus asa karena tak kunjung juga menemukan Serin. Ia kemudian duduk sejenak di bawah pohon sambil menatap langit langit.
KREK!
Renjun menduduki sesuatu. Dan ternyata itu sebuah handphone miliknya Serin, Renjun hendak membuka handphone tersebut namun ternyata di kunci oleh kata sandi.
"Pak saya menemukan handphone miliknya Serin" Seru Renjun pada tim pencari.
"Sepertinya Serin memang pernah kesini. Tapi kemungkinan dia menuju arah turun gunung" ujar Tim pencari.
Rombongan mereka menelusuri area turun gunung di sebelah kiri. Sementara sambil berjalan Renjun berusaha membuka sandi handphone miliknya Serin.
"Sial! Kenapa tidak bisa" Renjun mencoba memasukkan tanggal lahir Serij namun gagal.
"Biar aku coba" Lucas mengambil handphone tersebut. Dan ternyata dia bisa membuka sandi handphone milik Serin.
"Kok bisa?"
"Kata sandinya adalah tanggal jadian kami" Jawab Lucas.
Renjun pun kesal mendengar ucapan Lucas. Tapi mau gimana lagi Serin memang sudah bucin pada Lucas.
Setelah sandi handphone tersebut terbuka. Renjun langsung memeriksa isinya, dia melihat video Serin saat berteriak teriak di puncak Gunung mengumpat nama Lucas dan Soomin.
Lucas pun yang penasaran langsung melirik video tersebut. Betapa kagetnya dia melihat Serin seperti itu, dia yakin betul jika kali ini Serin benar benar membencinya.
"Kau lihat ini Lucas! Serin sangat membencimu! Jadi pergilah dari hidupnya, kau itu cuma memanfaatkan ketenarannya Serin untuk perusahaanmu" ancam Renjun.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments