Turin Internasional Airport
Setelah menempuh perjalanan hampir sepuluh jam, akhirnya rombongan Tokyo tiba di Turin lewat tengah malam karena selisih waktunya adalah tujuh jam lebih dahulu Tokyo. Sergio bersama beberapa pengawal datang menjemput mereka.
"Welcome back Vicenzo. Halo Hyde, Shohei dan..."
"JJ, paman Sergio" jawab Hyde. "Dia salah Satu ahli IT dan pelacak andalan Takara."
Sergio dan JJ saling bersalaman. "Ayo kita ke mansion Mancini. Kalian semua butuh istirahat."
***
Mansion keluarga Mancini
Dante menyambut kedatangan putra dan keponakannya dengan wajah sumringah. "Syukurlah sudah sampai kalian." Pria yang makin tampan di usia matangnya memeluk Vicenzo dan Hyde bergantian.
"Mana Madre?" tanya Vicenzo.
"Madremu sudah tidur. Tadi terkantuk-kantuk menunggu kalian jadi Padre suruh tidur di kamar saja. Kasihan kalau menunggu di sofa."
Vicenzo mengangguk.
"Ayo, kalian semua istirahat. Ottavio akan menunjukkan kamar kalian." Dante memberikan kode ke salah satu pelayan nya untuk mengantarkan mereka ke kamar masing-masing."
***
Tokyo Jepang
Pesawat yang membawa rombongan Turin tiba di bandara Narita dan oleh Nobu, semua nya langsung didata oleh pihak imigrasi. YangYang dan Keita yang ikut disana segera membawa kelima orang yang dibius itu ke dalam dua mobil mini Van mewah yang sudah disediakan.
"Langsung ke Toyama, YangYang-senpai?" tanya Nobu.
"Langsung ke Toyama. Aku akan mengikuti dari belakang" jawab YangYang.
Dua mobil MPV itu langsung berangkat dan diikuti mobil Nissan GTR milik YangYang yang bersama dengan Keita di dalamnya.
"YangYang-senpai, kenapa Mancini-san dan Bianchi-san repot-repot mengirimkan mereka ke Tokyo?" tanya Keita.
"Karena kita masih butuh mereka, Keita. Aku tidak tahu siapa di belakang kasus 15 tahun lalu selain Michael Ferrara dan Kartel Brazil."
"Menurut YangYang-senpai, apakah ada yang lain? Maksud aku, ada pihak-pihak lain yang memiliki dendam dengan keluarga Mancini atau Bianchi?" Keita menoleh ke kakak Yakuza nya.
"Maybe. Kenapa?"
"Aku rasa, dendam ini tidak hanya soal wine dan anggur tapi ini akan berkembang lebih lanjut" jawab Keita.
"Feeling mu memang selalu kuat, Keita. Tidak heran Luke sangat mempercayai kamu menjadi bayang-bayang Shohei."
"Saya hanya tidak ingin kehilangan keluarga Takara, senpai. Mereka semua sudah seperti keluarga ku. Saya ingat bagaimana Hyde menolong saya saat hendak dibunuh preman dan Luke-san tanpa ragu membawa saya ke kalian. Saya ingin memberikan kemampuan saya untuk keluarga Takara Bianchi."
YangYang tersenyum. "Terimakasih Keita. Berikan semua yang kamu kuasai, bantu Hyde dari sini. Oke?"
"Haik, senpai."
***
Mansion Mancini Turin Italia
Leia memeluk Vicenzo dan Hyde bergantian dengan wajah senang karena semua tiba dengan selamat.
"Shohei dan Shaun, aman perjalanan?" tanya Leia.
"Aman nyonya" jawab Shaun.
"Dan ini pasti JJ. Pria yang macam anjing hound yang bisa melacak segala sesuatu. Halo JJ" sapa Leia.
"Hajimemashite. Yoroshiku Onegai shimasu ( senang bertemu dengan anda )" jawab JJ sambil membungkuk hormat ke Leia.
"Yoroshiku Onegai shimasu" balas Leia. "Ayo, sarapan dulu"
Di meja makan Dante dan Leia bertanya soal Luke dan Rin termasuk kabar Shinichi dan Kedasih.
"Jadi Nyunyun buat b*m cat tapi tidak membuat formula buat membersihkan?" kekeh Leia yang selalu takjub dengan kelakuan keponakannya yang cantik itu.
"Dan Oom Shin bangga lho dengan kelakuan anaknya" ucap Hyde. "Definisi orang tua yang kacau... Anaknya bobrok kok ya dibanggakan..."
"Nyunyun pasti punya alasan kenapa melakukan itu" timpal Dante. "Bukannya kalian juga sama saja jaman sekolah?"
"Tapi Nyunyun kan cewek... Masih SD ..." jawab Vicenzo.
"Apa kalian lupa Rania dan Biana seperti apa?" sahut Leia.
Vicenzo dan Hyde saling berpandangan. Kita lupa dengan dua cewek bar-bar itu.
"So, apa rencana kalian ?" tanya Dante.
"Mencari Michael Ferrara dan orang-orang di balik semua gegeran ini" jawab Vicenzo.
"Caranya?" Dante bukannya tidak mau membantu tapi dia ingin melihat sampai sejauh mana kemampuan putra dan keponakannya. Dia sengaja memberikan kesempatan ke dua pria muda itu sebagai pelatihan mereka nanti sebagai pemimpin keluarga Mancini dan Takara.
"Anak buah yang sudah aku kirim, sudah mendapatkan posisi Michael Ferrara. Shohei dan Shaun akan kesana untuk mengawasi" jawab Vicenzo.
"Good. Padre ingin tahu sejauh mana kamu bisa menghandle nya Vic. Jika kamu membutuhkan bantuan Padre, jangan ragu-ragu untuk meminta."
"Absolutely."
***
Taman Kota Turin
"Apakah benar Michael Ferrara tinggal di flat itu?" tanya Shohei ke Shaun yang duduk di kursi taman sambil membaca novel. Shohei sendiri berlagak sedang melukis sambil mengawasi sekitarnya. Anak buah Vicenzo sudah ditarik pulang begitu dua pengawal itu datang untuk menggantikan mereka.
"Hasil pengamatan Tomasso dan Bert begitu. Mereka tidak mungkin salah karena levelnya mungkin sama dengan Keita di Tokyo." Shaun menatap ke arah jendela yang tampak ada pergerakan. "Eh badut, apakah kamu berpikir ini tidak hanya dendam kasus Turin 25 tahun lalu?"
"Aku rasa ada agenda yang lebih dari sekedar dendam 25 tahun yang lalu, domba" jawab Shohei. "Apa itu, aku belum tahu."
"Perasaan aku tidak enak, badut. Entah kenapa menurut aku, keluarga Bianchi dan Mancini akan menjadi sasaran nya..." Shaun memperhatikan sekitarnya.
"Kamu kira aku tidak merasakan hal yang sama?" Shohei menoleh ke arah Shaun. "Aku khawatir, Domba. Aku tahu Vicenzo ingin melakukan vendetta ke keluarga Ferrara tapi tampaknya akan ada sesuatu di belakang..."
"Apakah menurut mu kartel Brazil akan berani mengajak perang Tokyo?" Shaun menatap Shohei yang kali ini wajahnya tampak serius, tidak ada wajah jenaka seperti biasanya.
"Jika mereka berani datang ke Tokyo, Luke-san sudah mempersiapkan semuanya. Kamu tahu, Luke-san sejak aku bergabung dengan Yakuza Takara, sudah melobi banyak keluarga Yakuza seluruh Jepang. Bagi Luke-san, mendapatkan sekutu jauh lebih baik daripada musuh" balas Shohei.
"Jadi jika Jepang mendapatkan invasi kartel Brazil, semua keluarga Yakuza akan membantu keluarga Takara?" tanya Shaun.
"Yup. Keluarga Takara tidak pernah ikut campur dengan keluarga Yakuza lain dan tidak pernah ribut perebutan daerah kekuasaan."
Shaun mengangguk. "Ngomong-ngomong, kamu melukis apa itu Badut?" Pria Italia itu mengedikkan dagunya ke arah kanvas yang sudah tampak corat-coret gambar tidak jelas.
"Taman inilah..." jawab Shohei. "Ala Picasso. Abstrak tidak jelas..."
Shaun hanya bisa melengos melihat hasil corat-coret Shohei yang jauh dari karya Picasso karena lebih mirip lukisan anak TK.
Tiba-tiba keduanya melihat seorang pria muda keluar dari bangunan flat itu sambil merokok. Mereka berdua tahu kalau pria itu adalah blasteran dan dikawal dengan lima orang pengawal.
"Domba, itu siapa?" tanya Shohei penasaran.
"Aku tidak tahu. Tapi aku sudah mendapatkan wajahnya."
"Perasaan aku tidak enak, Domba. Pria itu jauh lebih kejam wajahnya dibandingkan Michael Ferrara..." ucap Shohei.
Shaun hanya diam saja tapi dalam hatinya dia membenarkan ucapan Shohei.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️ ( revised 27 08 23 )
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Ita Xiaomi
Kondisi taman saat direnovasi total😁
2025-02-17
1
Yuli Budi
pas Moco tekan ngisor kok lsg deg deg y? 🤔
2023-08-01
1
wonder mom
anake yunita psycho y, mbak Hana? modelan penghalalan sing ptg karepe kelakon
2023-08-01
1