Luna terdiam sampai selesai sarapan, selesai sarapan tentu Luna langsung menuju ke tempat dia memulai untuk kelas. Semuanya berjalan dengan lancar tanpa ada tanda-tanda sifat kekanak-kanakan dirinya keluar di semua mata pelajaran hingga tibalah mata pelajaran terakhir mata pelajaran etika, Luna langsung mengerutkan keningnya dan menghela nafas sepanjang jalan menuju ke dalam ruangan ke pelajaran guru etika yang telah menunggu mereka berdua, Luna yakin kalau guru etika itu akan sangat melampiaskan emosinya melalui siksaan kepadanya nanti.
Dari belakang Luna, Ian menatap kebingungan kenapa sosok gadis di depannya menghela nafas terus. Walaupun dia merasa kebingungan dengan perasaan tinggi hatinya dia tidak tertarik untuk menanyakan kepada sosok gadis yang ada di depannya, sesampainya di dalam ruangan sudah jelas Luna langsung di berikan hukuman berupa cambukkan di pergelangan kaki, alasannya karena Luna tidak berjalan dengan benar masuk ke dalam ruangan, sedangkan Ian yang berada di belakang Luna di izinkan masuk kelas tanpa terlihat ada komentar dari sang guru etika.
"Hari ini kita akan belajar tentang cara berjalan dengan baik,"
"Bukan seperti jalan nona Luna yang membungkuk beberapa derajat, walaupun anda dari kalangan rakyat jelata yang di adopsi oleh duke setidaknya jalanlah dengan tubuh yang tegak,"
"Tetapi itulah gunanya pelajaran dan ditambah lagi sebagai seorang gadis keluarga bangsawan tidak seharusnya anda bersikap sangat manja ataupun berusaha mencari perhatian seperti itu," ucap sang guru etika yang kembali memberikan luka yang kali ini letak lukanya terdapat di lengan tangan berkali-kali
Luna sama sekali tidak berteriak ataupun menangis, tetapi hanya meringis kesakitan dan itu juga masih berusaha dia tahan supaya tidak di anggap sebagai orang yang lemah. Kelas itu dimulai dengan penyiksaan kepada Luna seorang, Ian yang melihat hanya bisa diam melihat, tetapi tiba-tiba saja sifat kekanakan Luna keluar dan mulai berbicara yang membuat sang guru etika cukup lantang berbicara dan memukul Luna dengan cambukkan.
"Seorang guru etika kamu bilang dirimu,"
"Entah kenapa ketika aku melihat dirimu sama sekali tidak terlihat seperti seorang guru, karena seorang guru etika seharusnya mendidik muridnya bukan memberikan cambukkan karena muridnya melakukan kesalahan,"
"Tetapi aku rasa aku tau di mana salahnya kesalahanku, kamu pasti mencari-cari kesalahanku dan bersikap seolah-olah kamu adalah guru yang selalu bersikap benar mengingat kamu mengajarkan etika,"
"Bukankah perilaku guru saat ini lebih rendahan dibandingkan rakyat jelata?" ucap Luna dengan tatapan yang merendahkan dan tawa yang meremehkan
"Ah, iya jangan lupa kamu pasti iri bukan karena aku mendapatkan kasih sayang dari ayahku? Dengar-dengar kalau kamu sangat mencintai ayahku di masa lalu tetapi kamu gagal mendapatkan hatinya,"
"Sungguh menyedihkan sekali ya," ucap Luna lagi kali ini dengan tawa yang merendahkan dan tatapan dingin jijik kepada sang guru etika
Sang guru etika yang mendengarkan ucapan dan melihat tatapan dari Luna langsung merasa kesal dan akan mulai mencambuk Luna, tetapi Luna tiba-tiba berteriak kesakitan dan di saat yang bersamaan itu juga Luna menerima cambukkan. Kali ini cambukkan yang di layangkan oleh guru etikanya tidak peduli lagi di lengan tangan ataupun di lengan kaki, sebab emosi sang guru etika telah berada di puncak tepat di saat yang sama ketika cambukkan itu di layangkan sang duke datang ke dalam ruangan dan memegang cambuk yang hampir mengenai Luna, sedangkan Luna terduduk dengan gemetaran.
"Jelaskan kepadaku nyonya Baron, apakah ini caramu mengajar anak kecil terutama kepada putriku?"
"Apakah kamu pikir layak seorang bangsawan yang rendahan seperti dirimu melayangkan seutas tali untuk melukai putriku?" ucap sang duke dengan tatapan dingin dan tajam ke arah sang guru etika yang merupakan seorang perempuan
Villette langsung membawa Luna dengan Ian menjauh dari duke dan guru etika yang terlihat sang duke sudah sangat marah dengan tingkah itu.
"Villette periksa apakah ada luka cambukkan lain di tubuh Luna,"
"Aku yakin ini bukan pertama kalinya putriku menerima luka cambukkan dari guru etikanya ini," ucap sang duke dengan aura yang gelap dan tatapan yang sangat dingin mulai mencekik sang guru etika itu
Villette langsung mengecek seluruh tubuh Luna yang benar saja, luka-luka di lengan tangan dan lengan kaki begitu banyak jika di hitung mungkin bisa jumlahnya ada puluhan di tubuh seorang anak kecil, betapa mirisnya keadaan seorang putri keluarga bangsawan yang kekuatannya hampir setara dengan raja diperlakukan seperti seorang anak yang di perlakukan sebagai budak.
"Tuan Duke saya mohon,"
"Lepaskan saya, maafkan saya jika saya lancang tetapi tetap saja darah anak itu tidaklah murni seorang bangsawan dia hanyalah seorang anak pungut dari panti asuhan mana bisa disamakan dengan seorang bangsawan," ucap sang guru etika itu dengan nada yang serak dan hampir tidak bisa berbicara karena di cekik dengan kencang oleh sang duke
Mendengarkan ucapan dari sang guru etika itu sang duke langsung membanting tubuh perempuan itu ke dinding dengan tangan yang masih mencekik sosok itu, Villette dengan cepat menutup mata kedua anak-anak itu padahal sudah jelas itu sia-sia, karena jika ingin harusnya dia menutup mata mereka berdua sejak sebelum sang duke mencekik leher sang guru etika itu.
'Ini gara-gara mulut jahat aku sendiri yang membuat duke datang ke ruangan ini,'
'Ini sedikit menyeramkan, apakah di masa depan nanti dia akan langsung membunuhku seperti itu? Karena aku bukan putri kandungnya,'
'Tetapi kenapa ya rasanya hangat di dadaku,' ucap Luna di dalam hatinya dengan menatap sang duke yang begitu dingin mengucapkan kata-kata yang tidak pernah dia dengar setelah dia mengalami transmigrasi ke dunia ini oleh sosok laki-laki itu
"Villette, perintahkan para pengawal untuk mengirim orang itu balik ke wilayahnya dan berikan surat peringatan kepada mereka untuk tidak sembarangan berbicara mengenai putri keluarga Duke Arley,"
"Asal usul sang putriku tidaklah penting, asalkan dia aku bilang putriku maka tetap putriku," ucap sang Duke membuat pandangan Luna menjadi buram dan matanya perlahan-lahan menutup seolah-olah merasa lega akan sesuatu
Disaat bersamaan Luna tertidur, sang Duke memberikan pengumuman kalau putrinya adalah pewaris resmi, tidak boleh ada bangsawan yang meremehkan putri kecilnya. Di sisi lain Luna tertidur, merasa berada di suatu tempat seperti sebuah istana dengan sosok laki-laki bermata merah dan rambut hitam gelap panjang.
"Hidupmu sepertinya sangat damai, sebagai orang tua aku senang bisa melihatmu baik-baik saja,"
"Jangan lupakan kalau kamu bisa memintaku kapan saja putriku tersayang,"
Sistem Kekayaan Milik Antagonis
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments