Ilustrasi Dini Maharani
Ilustrasi Arjuna Dwi Raharjo.
Arjuna jenuh,ia bingung harus ngerjain apa. Lantas ia berinisiatif memperbaiki taman,karena taman nampak tidak rapi.
Arjuna berdiri masuk ke dalam rumah untuk mencari alat.
Tak lama kemudian,Arjuna keluar membawa cangkul dan gunting.
" Mau ngapain kamu dek?" ucap Dini.
" Dolanan lemah mbak..." ucap Arjuna.(Mainan tanah).
Arjuna memulai menata tanaman. Sementara Dini diam memperhatikan Arjuna.
Tak terasa suara adzan Dzuhur terdengar. Arjuna terus melanjutkan aktifitasnya hingga pintu pagar terbuka.
Nampak bu Tika masuk mengendarai sepeda motor. Arjuna melihat bu Tika datang nampak cuek saja,ia terus menata tanaman.
Sementara Dini tertidur di emperan rumah.
Bu Tika yang melihat Arjuna sedang menata bunga menegur" Juna..Jadi kesana apa enggak?"
" Jadi bu...." ucap Arjuna,lalu meletakkan alat yang ia pakai lalu cuci tangan dan menghampiri bu Tika.
" Ini untukmu.." ucap bu Tika menyerahkan 2 kantong kresek.
" Apa ini bu?" ucap Arjuna.
" Pakaian..."
"Kalau tidak mau,kamu harus memakai baju milik ibu..." ucap bu Tika.
" Ma...Ma..Mau bu..." ucap Arjuna.
" Aseem...Masa iya aku harus pakai baju wanita seh..Apa kata dunia jika melihatku memakai pakaian wanita.." ucap Arjuna dalam hati.
Dini membuka matanya lalu bangun.
" Kalian sudah makan?" ucap bu Tika.
" Belum bu..." ucap Arjuna dan Dini.
" Ayo makan dulu...Setelah itu kita kesana.." ucap bu Tika.
Mereka kemudian masuk kedalam rumah.
1 jam kemudian mereka meluncur ke desa Sukoharjo menggunakan mobil.
Seaampai di tempat tujuan,mereka melihat tim SAR masih mencari korban. Nampak 2 alat berat di kerahkan ,serta beberapa ekor anjing pelacak.
Bu Tika menghampiri posko tim SAR bersama Arjuna dan Dini.
" Permisi pak...Maaf, ini Arjuna dan Dini. Mereka anak desa Sukoharjo hendak mencari ayah dan ibunya.." ucap bu Tika.
Pria yang bertugas di posko lantas menyerahkan sebuah map.
" Ini daftar korban yang telah terindentifikasi dan belum teridentifikasinya bu.." ucap pria itu.
Bu Tika membuka map tersebut.
Arjuna dan Dini berdiri di samping bu Tika dan melihat isi dalam map.
Nampak nama - nama daftar korban tanah longsor.
Arjuna melihat nama kedua orang tuanya masuk dalam korban yang telah di identifikasi
Air mata Arjuna seketika keluar. Ia merasa sedih melihat kenyataan bahwa kedua orang tuanya tidak selamat dalam musibah itu. Begitu juga dengan Dini.
" Ada di mana jenasahnya pak?" ucap bu Tika.
" Ada di rumah sakit bu..." ucap petugas.
" Terima kasih pak atas informasinya.." ucap bu Tika.
" Sama - sama bu.." ucap petugas.
" Ayo Juna..Dini..Kita ke rumah sakit.." ucap bu Tika.
Mereka pun berjalan ke mobil menuju rumah sakit.
Saat dalam perjalanan,Arjuna dan Dini masih menangis.
" Yang tabah ya..Juna...Dini.."
" Dulu ibu juga pernah mengalami hal seperti itu.." ucap bu Tika.
Arjuna dan Dini diam tak menjawab.
Sesampai di rumah sakit,tepatnya ruang jenasah.
Petugas rumah sakit membuka peti pendingin yang isinya kedua orang tua Arjuna dan Dini.
Tangisan Arjuna dan Dini semakin menjadi ketika melihat jasad kedua orang tuanya terbujur kaku.
Esok harinya,jenasah kedua orang tua Arjuna dan Dini di makamkan.
Arjuna dan Dini menangis di pusara Dewi Arum,bu Tika yang melihat mereka bersedih juga ikut sedih. Ia juga pernah mengalami hal seperti itu.
" Juna...Dini...Ayo kita pulang..." ucap bu Tika.
20 menit kemudian,Juna dan Dini akhirnya pulang.
Selama dalam perjalan pulang,tak ada sepatah katapun keluar dari mulut mereka hingga mereka tiba di rumah.
Malam harinya.
Bu Tika melihat Arjuna dan Dini belum ada makan sesuap nasi,lantas ia membujuk agar mereka mau makan.
Saat berada di rumah,bu Tika berpenam0ilan sangat seksi ,ia mengenakan pakaian celana pendek dan kaos singlet saja. Arjuna yang melihat penampilan bu gurunya biasa saja,ia hanya terkejut akan sifat bu Tika. Jika di sekolah bu Tika selalu killer,tetapi bila di rumah sangat ramah.
" Aku gak lapar bu..." ucap Arjuna.
" Makanlah Juna...Nanti kamu sakit,jika sakit.... Ibu kena marah oleh semua orang. Membiarkan kalian kelaparan di rumah ibu.Kalian sudah menjadi tanggung jawab ibu..."
" Apa kamu mau ibu di demo seluruh warga desa ini? " ucap bu Tika.
" Iya deh..." ucap Arjuna.
" Pinter..." ucap bu Tika.
Akhirnya bu Tika berhasil membujuk Arjuna dan Dini mau makan.
Setelah Arjuna dan Dini makan,mereka duduk di ruang keluarga,diam tak bicara. Bu Tika duduk di depan mereka.
" Kapan kalian masuk sekolah lagi..?"
Mereka diam tak menjawab.
" Tenang saja...Ibu akan menyekolahkan kalian hingga SMA,bila kalian mau lanjut kuliah,ibu akan berusaha semampu ibu..." ucap bu Tika.
" Kita tidak punya seragam sekolah bu...Buku saja tidak punya,bagaimana mau sekolah?." ucap Arjuna.
Bu Tika pindah tempat,ia duduk di antara Arjuna dan Dini lalu merangkul.
" Kalian akan ibu belikan seragam dan peralatan sekolah..." ucap bu Tika.
Dini memeluk bu Tika.
" Terima kasih bu..." ucap Dini.
" Tapi kalian harus janji..Belajarnya harus giat..Gak boleh malas - malasan..." ucap bu Tika.
" Iya bu..." ucap Arjuna dan Dini.
" Sebentar...Kenapa kulit mereka tidak sama ya?" ucap bu Tika dalam hati baru menyadari. Sebab saat melihat jenasah kedua orang tua Arjuna. Kulitnya tidak sama dengan Arjuna.
Bu Tika hendak bertanya,namun tidak jadi. Karena waktunya tidak tepat.
*
Esok paginya.
Bu Tika pergi kesekolah, sementara Arjuna dan Dini tidak ikut.
Mereka bingung harus ngapain,akhirnya Dini berinisiatif membersihkan rumah. Sebab rumah bu Tika agak berantakan. Sementara Arjuna mengerjakan taman.
Di saat Arjuna menanam bunga,Dini datang menghampiri. Dini mengenakan celana pendek dan baju kaos. Ia membawa minuman untuk Arjuna.
" Dek...Ini minummu.." ucap Dini.
Arjuna menoleh ke Dini.
" Iya mbak...Taruh di situ aja..." ucap Arjuna.
Dini meletakkan minuman di meja kecil lalu menghampiri Arjuna.
" Dek..." ucap Dini.
" Heemmm..." Arjuna.
" Apakah kita pergi saja dari rumah bu Tika?" ucap Dini.
Arjuna menoleh ke Dini.
" Terus kita tinggal di mana mbak?" ucap Arjuna.
" Ya kita kembali ke desa kita..." ucap Dini.
" Desa kita sudah tidak ada lagi mbak...." ucap Arjuna.
" Kita bangun rumah,terus kita tinggali..." ucap Dini.
Arjuna menghela nafas.
" Mbak..."
" Kita gak punya uang sepeserpun..Bagaimana bisa kita membuat rumah.." ucap Arjuna.
" Ya kita kerja dek..." ucap Dini.
" Kita sudah janji sama bu Tika mbak..." ucap Arjuna.
" Begini saja...Setelah lulus SMP kita cari kerjaan. Terus bangun rumah.." ucap Dini.
" Kita lihat saja dulu nanti mbak..." ucap Arjuna.
Arjuna mencuci tangannya,lalu minum.
Siang harinya.
Bu Tika datang,ia melihat taman di depan rumah menjadi rapi.
" Ternyata dia sangat rajin berkebun..." gumam bu Tika lalu masuk ke dalam rumah.
Di saat berjalan masuk,ia melihat ruangan rapi dan bersih. Kemudian ia melihat Arjuna dan Dini tidur di lantai depan tivi.
Setelah itu bu Tika masuk ke dalam kamar tidurnya.Ia tak berani membangunkan Arjuna dan Dini.
Sore harinya.
" Juna..Dini..Ayo ikut ibu..." ucap bu Tika.
" Kemana bu...?" ucap Dini.
" Jalan - jalan...Beli peralatan sekolah.." ucap bu Tika.
***
Hari Sabtu.
Arjuna tak bisa berdiam diri,ia ingin selalu beraktifitas. Karena ia terbiasa melakukannya. Entah merawat bunga,mencari kayu bakar,atau mengerjakan yang di suruh ibunya.
Nampak.Arjuna membersihkan parit,sementara Dini dan bu Tika mengobrol di teras.
Sebuah mobil Ayla warna merah berhenti.
Bu Tika berjalan lalu membuka pintu pagar. Mobil Ayla masuk ke halaman rumah lalu berhenti.
Pintu mobil terbuka,nampak seorang gadis keluar dari dalam mobil memakai kacamata.
Gadis itu langsung masuk ke dalam rumah,ia tak melihat Arjuna sedang membersihkan parit.
" Itu adik ibu..." ucap bu Tika ke Dini.
" Cantik....." ucap Dini.
" Kamu juga cantik..." ucap bu Tika.
" Nama adik ibu siapa?" ucap Dini.
" Nurmala...Panggil saja kak Nur..." ucap bu Tika.
Setelah selesai membersihkan parit,Arjuna tak melihat kakaknya dan juga bu Tika,ia pun segera masuk lalu mandi.
Arjuna tak melihat Nurmala datang maupun di dalam rumah.
Malam harinya.
Nurmala keluar kamar tidur,lalu berjalan menuju dapur.
Di saat ia berjalan,ia melihat 2 orang tak di kenal,1 orang ia pernah lihat saat mau masuk rumah,dan satu lagi tidak pernah ia lihat. Nurmala lantas mencari kakaknya.
Baru saja hendak mengetuk pintu kamar kakaknya,pintu terbuka.
" Mbak...Kok ada dua orang di rumah kita..Itu siapa?" ucap Nurmala.
" Mereka itu Arjuna dan Dini. Mereka kakak beradik.."
" Orang tuanya meninggal..Desa tempat ia tinggal terkena tanah longsor..." ucap Kartika.
" Tanah longsor...Bentar - bentar.."
" Yang mbak maksud itu desa Sukoharjo kah?" ucap Nurmala.
" Iya...." ucap Kartika.
" Kakak menampung mereka?" ucap Nurmala.
" Iya..Mbak kasihan sama mereka...Semua keluarga besarnya tidak ada yang selamat..." ucap Tika.
" Tadi mbak bilang mereka kakak beradik..Kok gak mirip dan mereka beda..?" ucap Nurmala.
" Mbak gak tahu Nur...Mbak juga penasaran tentang mereka,kenapa kok gak mirip dan tidak sama warna kulitnya.."
" Kamu sudah makan?" ucap Kartika.
" Belum..Ini tadi aku mau makan,terus lihat mereka..Makanya aku mencari mbak tuk menanyakan mereka itu siapa.." ucap Nurmala.
" Makan dulu sana..." ucap Tika.
Nurmala berjalan ke arah dapur. Sementara Tika mengambil buku lalu duduk di ruang keluarga sambil membaca buku.
Sementara Arjuna dan Dini,mereka mengerjakan tugas sekolah. Kartika memberi tahu jika ada tugas dan harus di kerjakan. Jika tidak,ia akan menghukum Arjuna dan Dini meskipun tinggal satu atap dengannya.
Dini nampak bingung dengan tugas yang di berikan.
" Dek...Nomor 5 tahu gak jawabannya apa?" ucap Dini.
" Gak tahu mbak..Jawab seperti biasa saja..Yang penting di kerjakan." ucap Arjuna.
Tika mendengar suara mereka.
" Jika tidak tahu tanya sama ibu...Kan kalian tinggal serumah dengan ibu..." ucap bu Tika.
" Oh iya....Lali aku.." ucap Arjuna.
Arjuna lantas mendatangi bu Tika.
" Bu...Ini jawabannya apa?" ucap Arjuna.
" Ibu tidak mau memberi jawaban..."
Dini ikut mendekat.
" Bawa sini buku tulismu..." ucap bu Tika.
Arjuna mengambil buku tulisnya,kemudian bu Tika menjelaskan rumus untuk mengerjakan.
Arjuna menggaruk - garukkan kepalanya.
" Kamu paham gak Juna?" ucap bu Tika.
Nurmala muncul lalu duduk. Ia memperhatikan Arjuna lalu Dini.
" Enggak...Tolong ulang bu..." ucap Arjuna.
Bu Tika lantas mengulang kembali.
" Sudah paham? " ucap bu Tika.
" Sudah bu..." ucap Arjuna.
" Juna..." ucap Nurmala.
Arjuna melihat ke arah Nurmala.
" Iya bu..."ucap Arjuna.
" Panggil aku kak Nur..." ucap Nurmala.
" Iya kak Nur.." ucap Arjuna.
" Kamu saudara tiri atau saudara kandung dengan Dini?" ucap Nurmala.
" Kandung kak..." ucap Arjuna.
" Beda bapak atau satu bapak?" ucap Nurmala.
" Satu bapak.." ucap Arjuna.
" Masa seh...?" ucap Nurmala tak percaya.
" Ya kalau gak percaya ya sudah..." ucap Arjuna lalu mengerjakan soal.
" Jangan bahas itu ya dek..." ucap bu Tika.
" Nganu kak...Waktu kita lahir.. Pas saya lahir itu mati lampu,terus ketika Arjuna lahir,lampunya menyala. Jadi berbeda.." ucap Dini.
" Ha....Ha....Ha....Ha....Ha....Ha....Ha...." Nurmala tertawa mendengar ucapan Dini.
Nurmala berdiri lalu masuk ke dalam kamarnya.
" Jangan di ambil hati ya adiknya ibu.." ucap bu Tika.
Setelah selesai mengerjakan tugas.
" Waktu itu ibu lihat bunga Anggreknya ada banyak,kenapa tiba - tiba sisa satu saja saat kembali dari sekolah?" ucap bu Tika.
" Maaf bu...Itu saya ambil.." ucap Arjuna.
" Ooo..." ucap bu Tika.
" Di makan sama Juna bu.." ucap Dini.
" Heeeeee....!!!!
" Di makan...?"
" Apakah ucapan kakakmu itu benar Juna?" ucap bu Tika.
" Iya bu..." ucap Arjuna.
" Kalau kamu lapar..Makan saja apa yang ada di dapur...Jangan makan bunga..." ucap bu Tika.
" Maaf bu...Itu kebiasaan saya sejak kecil hingga sekarang..." ucap Arjuna.
Bu Tika lantas menggeleng - gelengkan kepala. Ia baru tahu jika Arjuna suka makan bunga.
Tengah malam.
Arjuna tidur di sofa panjang. Tiba - tiba ia mendengar suara langkah kaki,dan bunyi kretek - kretek.
Mendengar suara itu,Arjuna terbangun. Lalu mempertajam indra pendegarannya. Asal suara dari pintu samping. Arjuna berjalan ke arah pintu tersebut tak lupa meramalkan ajiannya.
Lampu di rumah dalam keadaan mati,Arjuna bisa melihat dengan jelas.
Arjuna yakin,pintu itu telah ia kunci. Sebab sebelum tidur,ia memeriksa pintu dan jendela apakah sudah terkunci apa belum.
Pintu terbuka,muncul 3 orang berjalan mengendap - endap,ada yang membawa linggis, dan celurit.
Arjuna yang melihat 3 orang tamu tak di undang dengan terpaksa menggunakan ilmunya,mata Arjuna berubah seperti mata Harimau. Ia tahu ilmunya belum sempurna. Jika tak memakai ilmu itu,ia khawatir akan kalah.
Kemudian Arjuna melesat dengan cepat,kecepatannya melebihi manusia normal lainnya,ia merebut linggis dari tangan pencuri,lalu memukul ke tiga pencuri tersebut.
BUUUGGGHH.......
BUUUGGGHHH....
BUUGGHHHH....
BUUUGGHHH...
BUUGGHH....
BUUUGGGHHH...
BUUGGHHH...
Ketiga pencuri yang mendadak mendapat serangan tak sempat mengelak atau menghindar,sebab ia mendapat pukulan sangat keras di tubuhnya. Hingga ke tiga pencuri itu tergeletak di lantai.
Mata Arjuna kembali normal. Arjuna merasakan tenaganya berkurang banyak akibat menggunakan ilmu Harimaunya.
Arjuna melihat ketiga pencuri itu merintih kesakitan lalu membuat pingsan ke tiga pencuri itu,setelah itu mengambil tali dan mengikat ke tiga pencuri tersebut.
" Bereees...Tinggal bangunin bu Tika.." ucap Arjuna dalam hati.
Arjuna berjalan ke kamar Kartika.
Tok....Tok...Tok..
" Buuu...Ibuuuu..."
Tok....Tok...Tok...
" Bu....Ada pencuri bu..." ucap Arjuna.
Arjuna mendengar suara langkah kaki mendekat ke pintu.
Ceklek....Ceklek...Kriiieeeet... Pintu terbuka.
Arjuna melihat gurunya memakai pakaian tipis tembus pandang.,sehingga kulitnya terlihat.
" Pencuri...?" ucap bu Tika.
" Iya bu...Sudah saya ikat,telpon polisi buu.." ucap Arjuna.
Bu Tika kembali masuk,lalu muncul lagi. Ternyata bu Tika memakai lapisan agar tak kelihatan jika dirinya memakai pakaian tembus pandang.
" Di mana pencurinya ?" ucap bu Tika.
" Pintu samping bu..." ucap Arjuna.
Bu Tika dan Arjuna berjalan,sambil berjalan bu Tika menyalakan lampu.
Ketika sampai di pintu,bu Tika terkejut melihat 3 orang pria bertopeng terikat dan pingsan.
" Juna...Apakah kamu sendirian yang melakukannya?" ucap bu Tika.
" Iya bu...Tadi saya dengar suara langkah kaki terus suara kretek - kretek gitu,ternyata ada 3 orang pencuri bu.." ucap Arjuna.
Bu Tika lantas mengambil ponselnya lalu menelpon polisi.
Tak lama kemudian terdengar suara sirine polisi.
Nurmala yang mendengar suara sirine lantas terbangun dan keluar dari kamarnya. Ia melihat seorang polisi sedang berbicara ke kakaknya dan Arjuna.
Nurmala berjalan mendekati kakaknya.
" Ada apa kak? Kok ada polisi..?" ucap Nurmala.
" Ada pencuri dek..." ucap bu Tika.
" Pencuri? mana...Mana kak?" ucap Nurmala celingukan mencari.
Muncul beberapa polisi dari dalam membawa 3 pencuri yang masih pingsan. Ke tiga pencuri itu di masukkan dalam mobil.
Setelah itu,polisi meninggalkan rumah bu Tika.
" Siapa yang mengikat pencuri itu kak?" ucap Nurmala.
" Arjuna..." ucap bu Tika.
" Iya kak..Aku yang mengikatnya,tapi ibu yang menghajar pencuri itu.." ucap Arjuna.
Bu Tika lantas memeluk Arjuna.
" Terima kasih ya Juna..." ucap bu Tika sambil memeluk lalu melepaskan pelukannya.
" Sama - sama bu..." ucap Arjuna.
" Ibu gak tahu lagi jika tidak ada kamu di sini.." ucap bu Tika.
" Sudah sewajarnya saling membantu bu..." ucap Arjuna.
" Juna...Kamu bisa beladiri ?" ucap Nurmala.
" Sedikit kak..." ucap Arjuna.
Arjuna menutup pintu tak lupa menguncinya.
" Kok bisa pencuri itu masuk? Apakah pintunya gak di kunci?" ucap Nurmala.
" Sebelum aku tidur,semua pintu dan jendela serta pagar aku cek kak..Kecuali jendela kamar kak Nur dan ibu.."
" Dan mereka memakai linggis untuk mencongkel pintu..Jadi mereka bisa masuk.."ucap Arjuna.
"Kok aku jadi takut begini ya..."
" Kamu tidur sama kakak saja ya Juna.."ucap Nurmala.
" Maaf kak..Aku tidur di luar saja.." ucap Arjuna.
Arjuna duduk di sofa panjang,lalu berebah. Sementara Dini,Kartika dan Nurmala masuk ke dalam kamar tidur.
Tak lama kemudian muncul Kartika dan Nurmala membawa bantal dan selimut.
" Loooh...Kok ibu dan kak Nur tidur di luar?" ucap Arjuna heran melihat mereka tidur di lantai dekat Arjuna.
" Aku takut jika ada pencuri datang lagi Juna..." ucap bu Tika.
" Sama...Kamu seh di ajakin tidur bareng gak mau.." ucap Nurmala.
" Aseemm... Ya sudah..Aku mau..." ucap Arjuna terpaksa,sebab tak mungkin membiarkan gurunya dan adik gurunya tidur di lantai.
Akhirnya mereka tidur bersama di kamar Kartika.
Arjuna berada di tengah.
Nampak Arjuna belum bisa tidur,baru pertama kali ia tidur bersama guru sekolahnya,di tambah gurunya memakai pakaian yang transparan.
" Kenapa kamu belum tidur Juna...?" ucap bu Tika pelan.
Arjuna menoleh.
" Belum bisa tidur bu..." ucap Arjuna.
" Kamu jangan panggil ibu,panggil saja kakak,kecuali di sekolah ya..." ucap Kartika.
" Iya bu..Eh kak..." ucap Arjuna lalu melihat ke arah plafon.
" Kamu sudah punya pacar?" ucap Kartika.
" Belum bu...." ucap Arjuna.
" Sudah pernah ke Jogja apa belum?" ucap Nurmala.
" Kirain dah tidur kak..."
" Aku belum pernah ke Jogja kak.." ucap Arjuna.
" Nanti kakak ajak kamu ke Jogja..." ucap Nurmala.
" Mbakku di ajak gak kak?" ucap Arjuna.
" Ya di ajak dong...Dah yuk tidur.." ucap Nurmala.
Tak lama kemudian mereka pun tidur. Arjuna memasang insting Harimaunya kembali,jika ada suara yang mencurigakan sebelum tidur.
Pagi harinya sebelum matahari terbit..
Arjuna membuka mata,ia melihat Kartika dan Nurmala memeluk dirinya.
" Diampuut...Gimana aku mau bangun coba..Aseem...Aseemmm" ucap Arjuna dalam hati.
Arjuna mencoba menyingkirkan tangan Nurmala,kemudian Kartika.
Kartika terbangun saat tangannya di sentuh.
" Jam berapa Jun...?" ucap Kartika.
" Gak tahu bu...Eh..Kak.." ucap Arjuna.
Kartika lantas bangun dan melihat jam.
" Masih jam empat Juna,dan ini hari libur.." ucap Kartika lalu kembali tidur.
Arjuna perlahan menggeser tubuhnya hendak turun dari tempat tidur.
" Mau kemana?" ucap Kartika.
" Mau buang air kecil bu..." ucap Arjuna.
Pukul 9.20
Nampak Arjuna memperbaiki pintu yang rusak akibat di congkel paksa.
Nurmala menghampiri Arjuna.Ia pun sama dengan kakaknya,memakai celana pendek dan kaos singlet.
" Kamu bisa baikin pintu?" ucap Nurmala.
" Bisa kak..Kecuali alat penguncinya,harus di ganti yang baru..." ucap Arjuna.
" Bentar..Kakak ambil uang dulu..." ucap Nurmala lalu pergi untuk mengambil uang.
Tak lama kemudian Nurmala muncul ,lalu memberikan uang.
" Lima ratus ribu cukup apa enggak Jun..?" ucap Nurmala.
" Enggak tahu kak..." ucap Arjuna.
" Kamu bisa naik motor?" ucap Nurmala.
" Bisa kak..." ucap Arjuna.
Nurmala berjalan menemui kakaknya.
" Kaak....Kunci motor kamu taruh manaa...?" ucap Nurmala.
" Samping tivi.." suara Kartika.
Setelah menemukan kunci motor,Nurmala memberikan kunci itu ke Arjuna.
" Hati - hati...Jangan ngebut.." ucap Nurmala.
" Iya kak...." ucap Arjuna lalu pergi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 188 Episodes
Comments
Abay Darman
jancok kok kyok ngene iki,pdhl wes ngaceng min
2024-10-06
0
Arizawahyu Qomaruzaman
aku pengen dadi juna reeekkk
2024-01-03
1
bee hika
makasih updetannya..
2023-07-13
0