Sebuah mobil berhenti di halaman Polsek. Tak lama kemudian, seorang pria memakai jas keluar dari mobil tersebut dan berjalan ke kantor polisi untuk menanyakan keluaraga Lie Xing Chou.
" Permisi pak..." ucap pria berjas.
" Iya...Ada yang bisa saya bantu.." ucap polisi.
" Maaf saya mengganggu..Saya Ferdi ingin menanyakan perihal keluarga pak Lie Xing Chou yang rumahnya terbakar itu pak..." ucap pria berjas.
" Silahkan duduk pak.."
Pria berjas duduk di kursi.
" Maaf..Kalau boleh saya tahu...Anda ini apanya Pak Lie?" ucap polisi.
" Begini pak...Saya hanya ingin tahu mengenai anak pak Lie yang masih bayi itu pak.." ucap pria berjas.
" Dari laporan yang saya dapat,semua keluarga pak Lie tewas termasuk bayinya.." ucap Polisi.
" Maaf pak...Mereka di kuburkan di mana?" ucap pria berjas.
" Pemakaman budi luhur...15 kilometer dari sini..."
" Maaf...Bapak ini siapanya pak Lie?" ucap polisi.
Pria berjas mengeluarkan dompet dan menunjukkan kartu kepolisi. Lalu menyimpan kembali.
" Menurut hasil visum,mereka tewas lebih dahulu sebelum kebakaran itu terjadi.." ucap polisi.
" Mereka kerampokan atau bagaimana pak?" ucap pria berjas.
" Mereka di rampok.."
" Kami telah behasil menangkap pelakunya..Namun"
" Bukan mereka yang membakar rumah itu.." ucap polisi.
" Heemmm...Apakah yang membakar itu telah berhasil di tangkap pak?" ucap pria berjas.
" Belum...Kami sulit melacaknya.." ucap polisi.
" Ada di mana para tersangka itu pak?" ucap pria berjas.
" Mereka di tahan di POLDA pak..." ucap polisi.
" Baik pak..Terima kasih atas informasinya..." ucap pria berjas.
" Sama - sama pak..." ucap polisi.
Pria berjas itu berdiri lalu berjalan keluar ruangan.
Saat berada dalam mobil. Pria berjas mengirim pesan ke atasannya lalu pergi meninggalkan kantor polisi tersebut.
Esok harinya.
Nampak 6 mobil berjalan beriringan menuju pemakaman Budi Luhur. Tempat pemakaman orang Tionghoa.
Setelah sampai,mereka berhenti. Pintu mobil terbuka,lalu pria memakai jas hitam dan kacamata hitam,di telinganya ada alat mengamankan sekitar . Kemudian muncul seorang pria dan beberapa wanita. Mereka berjalan ke arah makam bayi yang tewas terbunuh.
***
Di sisi Arjuna.
Dewi Arum dan Joko merawat Arjuna seperti anaknya sendiri. Dewi Arum sangat terbantu dengan adanya Arjuna,ia bisa menyuruh Arjuna untuk melakukan pekerjaan yang tak bisa ia lakukan.
Saat ini Arjuna berumur 15 tahun lebih, Arjuna memiliki kebiasan aneh,yakni memakan kelopak bunga. Sejak sang Ratu memasukkan batu kristal bewarna hijau,Arjuna tidak lagi menampakkan keanehan di matanya. Sehingga ia menjadi anak normal lainnya,hanya saja kebiasan aneh tersebut yang membuat orang - orang geleng - geleng kepala.
Nampak Arjuna menanam bunga mawar putih di samping rumah Ki Suro.Jika tidak merawat bunga,Arjuna pergi ke hutan mencari kayu bakar.
Ki Suro telah telah tiada setahun yang lalu dan posisi kepala Desa di gantikan oleh adiknya. Ki Warso 4 bersaudara,3 laki - laki dan 1 perempuan. Adik pertama Ki Warso tidak tinggal di desa Sukoharjo.
Dewi Arum berjalan menghampiri Arjuna.
" Jun..." ucap Dewi Arum.
Arjuna menoleh ke arah Dewi Arum.
" Iya mak..." ucap Arjuna.
" Pergi ke apotik belikan obat sakit kepala ya,kepala emak pusing.." ucap Dewi Arum lalu menyerahkan uang.
Arjuna mengambil uang tersebut,lalu cuci tangan. Setelah itu mengambil sepedanya,ia harus ke desa sebelah,karena di desanya tidak ada Apotik.
Setelah Arjuna pergi,Dewi Arum kembali ke rumah.
Sesampai di dalam rumah,seorang pria menyergap Dewi Arum. Pria itu bernama Eko. Eko masih ada hubungan keluarga dengan Dewi Arum. Dan Eko menyuruh Dewi Arum untuk menyuruh Arjuna keluar desa karena ia ingin bercinta dengan Dewi Arum.
Sementara di rumah Eko,Joko sedang menggenjot anak pertama Eko. Mereka sebelumnya sudah membuat janji. Sehingga mereka dengan leluasa menikmati.
Eko mencium Dewi Arum. Hingga mereka berada di dalam kamar.
Eko melucuti pakaian Dewi Arum,setelah itu ia melepas pakaiannya sendiri. Kemudian Eko menindih tubuh Dewi Arum. Mereka bergumul di ranjang.
Dewi Arum mendesis menerima serangan dari Eko.
" Aahh...Enak...Aaah..." ucap Dewi Arum saat Eko menjilati lubangnya.
Tak lama kemudian,Eko memasukkan pisangnya ke dalam lubang Dewi Arum.
Bleessshh....
Eko menggerakkan pinggulnya maju mundur.
Sementara Dini anak Dewi Arum bermain di luar bersama teman - temannya.
Dini yang merasa haus,memutuskan untuk pulang.
" Aku pulang dulu ya...." ucap Dini lalu berjalan ke arah rumah.
Sesampai di depan rumah,Dini menarik tuas pintu. Namun pintu ituterkunci.
Dini memutuskan lewat pintu belakang. Saat Dini mendorong pintu belakang,pintu itu tidak terkunci. Dini segera mengambil air putih lalu meminumnya.
Glek...Glek...Glek...
" Aaah..Terus..Aaah...Ouuh..Hemmphh.." suara Dewi Arum.
Dini yang mendengar suara tersebut lantas berjalan pelan. Ia mendengar suara ibunya berada dalam kamar. Setelah sampai di depan pintu,suara Dewi Arum semakin jelas.
Dini melihat pintu kamar ibunya tidak tertutup rapat. Lantas Dini mendorong pelan pintu itu.
Dini melihat ibunya tidak memakai pakaian sedang menduduki pakdenya bergerak naik turun,pisang pakdenya terlihat sangat jelas keluar masuk di dalam lubang ibunya. Sebelumnya Dini juga pernah melihat ibunya seperti itu,namun bukan dengan pakde Eko atau ayahnya, ia melihat ibunya bercinta dengan kakak sepupunya.
Dini memasukkan tangannya kedalam celana yang terbuat bahan katun,lalu memainkan lubangnya.
Tak lama kemudian,mereka berganti posisi,Eko berada di atas. Saat Eko menggenjot,ia melihat ke arah pintu yang terbuka sedikit dan melihat Dini sedang mengintip.
Eko semakin bersemangat,ia menyuruh Dewi Arum membersihkan pisangnya,lalu Eko membersihkan lubangnya Dewi Arum,setelah itu Eko menggenjot Dewi Arum,ia membayangkan bahwa yang ia genjot adalah Dini.
Dini bersandar di tembok,ia mempercepat aksinya,hingga ia merasakan seperti mau pipis.
Nampak Dini kelonjotan dan matanya merem melek. Setelah itu pergi dari depan kamar ibunya.
Sore harinya.
Dini yang hendak mandi membuka kain sebagai penutup kamar mandi. Namun di dalamnya ada Arjuna yang sedang menyiram tubuhnya penuh sabun.
Arjuna menoleh ke arah Dini.
Dini menyelonong masuk dan melepas pakaiannya.
" Mbak..Aku belum selesai loh..." ucap Arjuna.
" Aku ini mbakmu...Dah diam aja..." ucap Dini.
Dini merebut gayung di tangan Arjuna,lalu menyiram tubuhnya
" Asem....." ucap Arjuna.
Arjuna yang melihat Dini ada di sampingnya nampak biasa saja.Sebab mereka sering mandi berdua. Namun setelah kelas 4,Dini tak lagi mandi berdua dengan Arjuna.
Dini melirik pisang milik Arjuna yang menggantung.
" Kok manukmu kendor gitu Jun?" ucap Dini.
" Embooh...Emangnya kenapa mbak?" ucap Arjuna.
" Gakpapa..Cuman nanya aja..." ucap Dini.
Dini memegang pisang Arjuna.
Eh...!!! Arjuna kaget.
" Mbak..." ucap Arjuna.
" Ssstt ..Diem...Jangan banyak bicara.." ucap Dini pelan.
Dini mendekatkan wajahnya ke pisang Arjuna,lalu memperhatikan dengan seksama.
Setelah itu memikirkan tentang ibunya,kenapa selalu bersuara saat benda yang ia pegang keluar masuk ke dalam lubang,padahal lubangnya sempit. Lalu Dini penasaran akan rasanya. Ia pun memasukkan pisang Arjuna kedalam mulut.
Arjuna yang baru pertama kali di gituin merasakan seperti kesetrum. Ia ingin bicara,namun ia ingat jika Dini melarangnya berbicara,sehingga ia diam saja menikmati.
Lama - lama pisang Arjuna menjadi membesar,dan panjang.
Dini terkejut dan mengeluarkan pisang Arjuna.
" Kok jadi keras Jun?" ucap Dini pelan.
" Gak tahu mbak" ucap Arjuna pelan.
" Enak gak Jun?" ucap Dini pelan.
" Sakit..Kena giginya embak.." ucap Arjuna.
" Ya maaf..." ucap Dini.
Lantas Dini melanjutkan mandinya,sementra itu Arjuna keluar dari kamar mandi.
" Yaaa...Dia malah keluar,padahal aku juga pengen di jilatin.."
" Ya udah deh...Kapan - kapan saja..." ucap Dini dalam hati.
Malam harinya.
Arjuna mengerjakan PR di ruang tamu. Di rumah Joko hanya ada 2 kamar tidur,Arjuna tidur di depan tivi beralaskan tikar. Sementara Dini berada dalam kamar tidur.
Muncul Dewi Arum dari pintu.
" Bapak mana mak?" ucap Arjuna.
" Di rumah pakde Eko..Sebentar lagi pulang" ucap Dewi Arum lalu berjalan masuk ke kamarnya.
Selesai mengerjakan PR,Arjuna menyalakan tivi.
" Pantang....Menyerah...🎶
" Itulah pedomanku..." 🎶 suara di tivi.
40 menit kemudian muncul Joko menenteng kantong plastik,lalu meletakkan di depan Arjuna.
" Mbakmu mana Jun?" ucap Joko.
" Di kamar pak..." ucap Arjuna.
Joko berjalan ke arah kamar anaknya. Sementara Arjuna membuka kantong plastik tersebut,ada 2 kotak,Arjuna mengeluarkan 2 kotak tersebut dan membukanya.1 kotak berisi kue,1 kotak lagi berisi nasi,lauk pauk dan sayuran.
Tok....Tok...Tok...
" Din....Bapak bawa makanan..." ucap Joko.
" Iya pak..." suara Dini.
Joko berjalan ke kamarnya.
Dini keluar kamar lalu duduk di samping Arjuna yang sedang makan.
" Jun.." ucap Dini pelan.
" Opo mbak..." ucap Arjuna.
" Gak jadi..." ucap Dini.
Dini mengambil kue lalu memakannya.
" Mbak..." ucap Arjuna.
" Hemm.." ucap Dini sambil mengunyah,matanya tertuju ke tivi.
" Mbak pernah lihat mamak nganu kah?" ucap Arjuna pelan.
Dini menoleh ke Arjuna.
" Nganu apa dek?" ucap Dini.
" Itu...Mamak tidur..Terus ali dengar suara mamak itu mengigau..Mamak ngomong Aaah..Aaah...Terus..." ucap Arjuna.
" Enggak..."
" Eh...PR Matematikamu sudah kah Jun?" ucap Dini.
" Sudah...Mbak sendiri..?" ucap Arjuna.
" Belum... Lihat ya..." ucap Dini.
" Enak aja...Mbak kerjain sendirilah..." ucap Arjuna.
" Nanti mbak gituin lagi..Mau gak?" ucap Dini.
" Gituin apa mbak..?" ucap Arjuna.
" Kayak tadi pas mandi itu loh.." ucap Dini.
" Hemmm..." Arjuna berpikir.
" Mau ya...Kalau gak mau ya udah.." ucap Dini.
" Mau deh...Tapi jangan kena gigi ya mbak..." ucap Arjuna.
" Ya maaf...Aku baru pertama kali," ucap Dini.
Dini berdiri lalu berjalan ke kamar mandi,lalu ke kamar tidur. Setelah itu menemui Arjuna sambil membawa buku dan pulpen.
" Mana bukumu...?" ucap Dini.
Arjuna mengambil bukunya di dalam tas,kemudian memberikan ke Dini.
Dini menyalin tugas sekolah tersebut,Dini dan Arjuna 1 kelas.
" Nomor 4 sama 8 itu aku jawabnya asal loh mbak..Jangan di ikuti.." ucap Arjuna.
" Kok kamu jawabnya asal?" ucap Dini.
" Aku gak bisa jawab kok,yang penting kan di kerjain,kalau enggak dapat hukuman dari pak ipul" ucap Arjuna.
Selesai menyalin tugas sekolah.
" Buka celanamu..." ucap Dini pelan.
Arjuna membuka celananya,lalu Dini melahap pisang Arjuna.
Arjuna merem melek,ia merasa keenakan,tak seperti tadi sore terkena giginya. Hingga akhirnya Arjuna mengeluarkan lahar panas. Arjuna menahan kepala Dini.
Dini yang tak bisa lepas akibat di tahan,mau tidak mau menelan lahar panas tersebut.
Setelah tak keluar lagi,Arjuna tidak menahan kepala Dini.
" Kenapa kamu tahan kepalaku?" ucap Dini pelan.
" He..He...He...He...Ya maaf..Enak banget mbak..." ucap Arjuna.
" Asin tahu..." ucap Dini lalu berdiri dan berjalan ke dapur.
Tak lama kemudian Dini muncul lagi dan duduk di samping Arjuna.
" Kenapa mbak melakukan itu?" ucap Arjuna.
" Aku penasaran Jun...." ucap Dini.
" Ooo..Penasaran..." ucap Arjuna.
" Kamu penasaran gak dengan punyaku..?" ucap Dini.
" Ya penasaran seh..." ucap Arjuna.
Dini memegang tangan Arjuna lalu berdiri.
" Ayo ikut mbak..." ucap Dini.
Arjuna mengikuti Dini.
Dini berjalan ke kamarnya,lalu memgunci pintu kamar,setelah itu ia melepas celananya dan duduk di tempat tidur.
" Ayo Jun..." ucap Dini pelan.
Arjuna mendekati Dini lalu mendekatkan wajahnya di lubang Dini. Ia melakukan seperti apa yang di lakukan Dini.
Dini tersentak,seperti tersengat saat lidah Arjuna menempel. Sekuat tenaga ia menahan suaranya agar orang tuanya tidak bangun.
Hingga akhirnya Dini merasakan *******,Arjuna menyudahinya.
" Enak mbak?" ucap Arjuna pelan.
" Iya...Enak banget dek..." ucap Dini.
Dini memakai kembali celananya,sementara Arjuna berjalan keluar kamar.
Setelah sampai di depan tivi,Arjuna mematikan tivi kemudian berebah.
Di tengah malam,Arjuna terbangun karena suara petir menyambar.
" Asem...Hujan lagi..." gumam Arjuna. Arjuna masuk ke dalam kamar Dini,ia hendak mencari selimut. Setelah dapat,ia melihat Selimut yang di pakai Dini melorot..Arjuna memperbaiki selimut itu lalu keluar kamar.
Pagi harinya.
Arjuna bangun jam setengah lima,seperti biasa ,Arjuna mengambil kayu bakar lalu menyalakan kayu bakar untuk merebus air.
Saat mengambil kayu bakar,stok kayu bakar hanya tersisa 4 hari saja.
Arjuna berniat setelah pulang sekolah akan pergi mencari kayu bakar.
Namun, setelah pulang sekolah. Cuaca berubah,yang awalnya cerah kembali turun hujan.
*
3 hari kemudian tepatnya hari sabtu.
3 hari berturut - turut desa Sukoharjo di guyur hujan deras.
Pukul 14.05.
Cuaca di langit nampak cerah berawan.
Arjuna tengah bersiap - siap pergi mencari kayu bakar karena stok kayu sisa sedikit. Ia mengambil parang,tali,singkong rebus dan botol air minum. Tak lupa membawa bunga sebagai cemilan.
" Mau kemana dek?" ucap Dini melihat Arjuna memasukkan air ke dalam botol.
" Cari kayu mbak..." ucap Arjuna.
" Jauh gak?" ucap Dini.
" Tergantung...Kadang dekat kadang jauh..." ucap Arjuna.
10 menit kemudian Arjuna sudah siap lalu berangkat.
Dini mengikuti Arjuna.
" Banyak nyamuknya loh mbak..." ucap Arjuna sambil berjalan.
" Aku pake Autan..."
" Oh iya...Kamu sering ke gubuk mbah kung ( Ki Suro) kah dek?"ucap Dini.
" Setiap seminggu sekali aku kesana mbak..Kadang tidur di sana..." ucap Arjuna.
" Aku pengen kesana..." ucap Dini. Sedari kecil ia tak pernah di ajak oleh Ki Suro,selalu Arjuna yang di ajak pergi.
" Kalau kesana lumayan jauh loh mbak.." ucap Arjuna mengingatkan.
" Aku penasaran dek..Kamu terus yang di ajakin,aku enggak.." ucap Dini.
" Yo wes..." ucap Arjuna.
Saat Arjuna berjalan,ia melihat jalan yang ia lewati nampak ada perubahan,ada sebuah retakan tanah.
Mereka berjalan terus hingga menemukan kayu bakar.
Arjuna memotong pohon yang telah mati,sementara Dini duduk memperhatikan Arjuna yang sedang memotong kayu.
1 jam kemudian.
Arjuna mengikat kayu yang telah ia potong.
" Jauh gak tempatnya dek?" ucap Dini.
" Kira - kira setengah jam lah mbak...Jadi kesana kah mbak?" ucap Arjuna.
" Jadilah...Aku penasaran banget.." ucap Dini.
Arjuna memanggul kayu bakar tersebut lalu berjalan ke arah gubuk.
Nampak mendung hitam tiba - tiba muncul,Arjuna yang melihat mendung itu berpikir jika pulang memakan waktu yang cukup lama,sedangkan gubuknya yang ia tuju sebentar lagi akan sampai.
"Dek...Mau hujan..." ucap Dini.
" Iya mbak...Ayo cepat mbak. "ucap Arjuna mempercepat langkahnya.
30 meter dari gubuk,mendung hitam tak sanggup lagi menahan apa yang di bawa,sehingga awan hitam itu mengeluarkan isinya.
Air turun dari awan hitam sangat cepat dan begitu deras mengenai Arjuna dan Dini.
Dini dan Arjuna terkena air hujan sebelum tiba di gubuk.
" Yaaa basah..." ucap Dini melihat pakaian yang di pakai basah kuyup saat tiba di gubuk.
" Asem....Malah hujan lagi,semoga aja hujannya sebentar..." gumam Arjuna.
" Di dalam ada selimut apa enggak dek?" ucap Dini.
" Ada mbak..Sarung juga ada" ucap Arjuna.
" Ambilkan dong..." ucap Dini.
Arjuna membuka pintu gubuk,Dini mengikuti Arjuna.
" Ini sarungnya mbak..." ucap Arjuna.
" Dek..Keluar sana..."
".Aku mau lepas pakaian" ucap Dini.
" Iya..." ucap Arjuna.
Arjuna pergi keluar dan duduk di teras.
Di bukanya kantong kresek berisi bunga,Arjuna mengambil bunga mawar lalu memakan kelopak mawar.
Tak lama kemudian muncul Dini hanya memakai sarung.
" Ada makanan gak dek?" ucap Dini.
Arjuna menyerahkan kantong plastik berisi singkong rebus kepada Dini.
Dini duduk di samping Arjuna lalu memakan singkong rebus.
" Kira - kira cepat reda apa enggal ya hujannya ini dek?" ucap Dini.
" Lama ini mbak..Mungkin malam baru berhenti.." ucap Arjuna.
" Bermalam dong kita di sini.." ucap Dini.
" Iya...Mbak takut?" ucap Arjuna.
" Kalau sendirian ya takut dek..." ucap Dini.
Dan benar saja,saat menjelang magrib,hujan tak kunjung reda.
Arjuna menyalakan lampu teplok. Ia merasakan badannya menggigil karena pakaiannya basah.
" Dek...Lepas bajumu..." ucap Dini melihat Arjuna menggigil.
" Sarungnya gak ada lagi mbak..Cuman satu aja.." ucap Arjuna.
" Hemmm....Pake selimut" ucap Dini.
" Ya udah deh..." ucap Arjuna.
Arjuna melepas semua pakaiannya lalu di gantung,kemudian memakai selimut dan duduk di tempat tidur yang terbuat dari bambu.
Tempat tidur itu muat untuk 3 orang.
" Mamak sepertinya nyariin kita mbak..." ucap Arjuna.
" Iya...Tapi mau gimana lagi,hujan begini mana bisa pulang..." ucap Dini.
Dini naik ke tempat tidur. Terdengar suara derit ranjang bambu.
JEEEDDDERRRRRR........ Suara petir menyambar.
Dini memeluk Arjuna,ia takut akan suara petir.
Hujan turun semakin deras, di sertai angin.
" Aku takut dek..." ucap Dini.
" Gak usah takut mbak...Ada aku di sini..." ucap Arjuna.
" Tidur yuk..." ucap Dini.
Arjuna berebah di ikuti Dini. Arjuna menyelimuti tuh Dini dengan selimutnya,sehingga Arjuna dan Dini berada dalam selimut.
Hawa dingin semakin menjadi.
" Kok jadi dingin begini.." ucap Arjuna dalam hati.
" Kamu dingin gak dek...?" ucap Dini.
" Dingin lah mbak...Lha wong aku gak pake baju.." ucap Arjuna.
" Peluk aku dek..." ucap Dini.
Arjuna memeluk Dini.
Hawa dingin yang di rasakan Arjuna berkurang.
" Kamu pernah melihat mamak sama bapak gituan apa enggal dek?" ucap Dini.
" Gituan apa mbak?" ucap Arjuna.
" Kata orang seh ngentu..Bapak masukin ini ( Dini memegang pisang Arjuna) kedalam tempat pipis mamak.." ucap Dini.
" Enggak pernah mbak..Emangnya mbak pernah lihat?" ucap Arjuna.
" Pernah..."
" Dan aku pernah melihat mamak gituan sama pakde Eko.." ucap Dini.
" Masa seh mbak?" ucap Arjuna.
" Iya..." ucap Dini.
Mereka terdiam cukup lama.
" Eh dek..." ucap Dini.
" Apa mbak.." ucap Arjuna.
" Aku penasaran...Bagaimana seh rasanya jika di masukin.."
Arjuna diam tak menjawab
" Kamu penasaran apa enggak?" ucap Dini.
" Enggak..Kan aku gak pernah lihat mbak..." ucap Arjuna.
" Heemmm..Aku penasaran..Gimana kalau pisangmu masukin di punyaku dek.." ucap Dini.
" Gak ah mbak..." ucap Arjuna.
" Ayo nah...Aku penasaran banget..." ucap Dini.
" Ya sudah....."
Arjuna bangkit lalu menaikkan sarung Dini,setelah itu mencoba memasukkan pisangnya.
" Susah mbak..." ucap Arjuna.
Dini bangkit.
" Ini aja masih lemas..."
Dini melahap pisang Arjuna.
Arjuna kembali merasakan sensasi yang tak dapat di ungkapkan hingga membuat pisangnya yang semula lemas kini menjadi kaku.
" Gantian punyaku juga dek..." ucap Dini.
Arjuna mengikuti ucapan Dini.
Dini menikmati sapuan lidah Arjuna.
Tak lama kemudian.
" Ayo dek...Masukin..." ucap Dini sambil membuka lebar kakinya.
Arjuna mencoba memasukkan,berulang kali oa gagal memasukkan,akhirnya Dini membantu,setelah pas.
" Masukin dek..." ucap Dini.
Arjuna menekan pinggulnya.
Dini merasakan sesuatu telah masuk,tiba - tiba ia merasakan sakit.
" Sakiiiiiiit...."
Arjuna mau mencabut namun di tahan.
" Teruskan dek..." ucap Dini.
Arjuna menekam kembali hingga amblas.
" Mbak....Gakpapa kah kita begini?" ucap Arjuna.
" Gakpapa dek...Tahan,jangan di gerakin dulu..." ucap Dini.
" Iya mbak..." ucap Arjuna.
Setelah dirasa rasa sakit yang Dini rasakan menghilang.
" Gerakin maju mundur dek.." ucap Dini.
Arjuna menggerakkan maju mundur. Rasa sakit muncul kembali,namun tidak seperti yang pertama.
" Masih sakit gak mbak?" ucap Arjuna.
" Sedikit dek..Terus gerakin.."
Arjuna terus menggerakkan pinggulnya.
" Aaah...Aahh...Enak banget dek..." ucap Dini merasakan kenikmatan yang belum pernah ia rasakan.
Begitu juga dengan Arjuna.
Hawa dingin yang awalnya mereka rasakan,kini tidak lagi.
Arjuna terus menggerakkan pinggulnya.
" Dek...**** iniku..." ucap Dini yang telah menurunkan sarungnya,nampaklah gunung kembar.
Arjuna menuruti permintaan kakaknya.
" Kalau mau keluar jangan di dalam..Cabut ya dek....Aaahh..." ucap Dini.
" iya mbak..." ucap Arjuna.
30 menit kemudian.
Arjuna mencabut pisangnya,lalu keluarlah getah kental bewarna putih mengenai perut Dini.
Dini ngos - ngossan,begitu juga Arjuna.
Arjuna membersihkan perut Dini dengan kaosnya. Setelah itu memeluk Dini.
" Tadi itu enak banget dek.." ucap Dini.
" Iya mbak...Aku pikir gak bisa masuk,ternyata bisa..." ucap Arjuna.
" Pantesan mamak sangat suka di giniin sama bapak.Ternyata begini rasanya." ucap Dini dalam hati.
Tak lama kemudian mereka tertidur sambil berpelukan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 188 Episodes
Comments
Putra_Andalas
koplak..msih kecil udah paham aja ni si Mbak nya..🤣
2024-08-23
2
Putra_Andalas
lho...lho...lho...asu tenan iki 😬
2024-08-23
1
Sruwal Mlorot
njirr barter..
2023-07-11
3