Setelah Jefri pergi meninggalkan bayi yang ia letakkan di tanah. Tak lama kemudian bayi itu menangis.
Yang awalanya hanya keheningan malam,suara jangkrik dan hewan malam,kini tergantikan suara tangisan bayi.
Rumah penduduk pun sangat jauh dari lokasi bayi itu,karena Jefri meletakkan bayi itu di hutan.
***
Sebuah bangunan yang bahannya dari kayu,atapnya terbuat dari daun. Di diami seorang pria tua yang suka hidup menyendiri setelah istrinya meninggal. Pria tua itu bernama Suroso atau biasa di panggil Ki Suro oleh warga setempat. Bagunan itu letaknya sangat jauh dari lokasi bayi yang di letakkan oleh Jefri.
Ki Suro sedang melakukan meditasi/semedi.
Di saat ia semedi,tiba - tiba terdengar suara tangisan bayi.
Telinga Ki Suro bergerak - gerak mendengar suara tangisan bayi tersebut. Fokusnya untuk semedi pun menjadi ambyar.
Ki Suro membuka matanya secara perlahan.Lalu memejamkan mata lagi,ia mengira itu adalah suara tangisan dari makhluk ghaib yang selalu mengganggunya.
Suara tangisan bayi makin menjadi - jadi,Ki Suro yang sedang semedi pun merasa jengkel dengan suara tangisan tersebut. Lantas dirinya keluar dari gubuk untuk mengecek.
Setelah Ki Suro sampai di luar rumahnya,ia melihat sekeliling,kemudian mempertajam indra pendengarannya untuk mengetahui di mana lokasi suara tangisan bayi tersebut.
Setelah menemukan arah sumber suara tangisan bayi,Ki Suro mengeluarkan ilmunya. Mata Ki suro yang awalnya hitam putih,kini berubah kuning hitam,bagaikan mata Harimau. Setelah itu Ki Suro melesat ke arah sumber suara. Bila tangisan itu berasal dari makhluk ghaib,maka dirinya Kan menghajar makhluk tersebut. Sebab dirinya tahu bahwa di sekitar gubuknya tak ada rumah lagi. Karena gubuknya berada di atas bukit.
Dengan kecepatan tinggi,Ki Suro melesat ke arah sumber tangisan bayi itu.
Setelah menempuh jarak 1 km,Ki Suro berhenti dan mendengarkan suara tangisan bayi tersebut.
Dirinya merasa ada keanehan dengan suara tangisan bayi itu,mengapa sudah menempuh jarak yang jauh dirinya belum menemukan sosok bayi itu,ia mengira letaknya dekat saja. Kemudian Ki Suro melanjutkan lagi pencariannya. Di samping jengkel,ia juga sangat penasaran.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh,akhir Ki Suro menemukan asal suara tangisan bayi tersebut.
Mata Ki Suro kembali normal,dan berjalan ke arah bayi.
Nampak seoarang bayi mungil tergeletak di tanah,lalu ia juga melihat ada benda berkilau. Ia mengambil bayi itu lebih dulu lalu memungut benda berkilau. Ternyata benda berkilau ith adalah sebuah kalung.
Ki Suro menatap wajah bayi yang sedang menangis. Hilang sudah rasa jengkelnya,namun rasa penasarannya belum sirna. Mengapa bayi yang ia gendong itu suaranya bisa sampai ke gubuknya.
Dirinya teringat jika salah satu anaknya mempunyai seorang bayi . Anak ki Suro berjumlah 4 orang,dan semuanya wanita. Mereka telah berumah tangga semua.
Ki Suro memperhatikan di sekitarnya. Ia tahu ada jalan raya tak jauh dari tempatnya berada.Ia berpikir bahwa bayi itu sengaja di buang oleh ibunya karena tak menginginkan bayi itu lahir. Lalu Ki Suro pun segera membawa bayi itu pergi,tak lupa ia memakai ajiannya. Karena rumah cucunya itu lumayan cukup jauh jika berjalan kaki .
***
Di sebuah desa yang letaknya di lereng gunung. Desa itu bernama.desa Sukoharjo,yang letaknya di jawa tengah.
Ki Suro mendatangi salah satu anaknya yang bernama Dewi Arum.
" Arumm...." ucap Ki Suro.
Doook....Dook...Dook... Ki Suro menggedor pintu rumah.
"Oooeeek.....Oooeek.... " suara tangisan bayi yang di gendong Ki Suro sejak tadi malam tidak berhenti menangis.
Dewi Arum adalah salah satu anaknya Ki Suro,namun anak terakhir. 2 bulan yang lalu Dewi Arum melahirkan seorang bayi perempuan.
" Bentar pak..." suara Joko dari dalam rumah,Joko adalah suami Dewi Arum.
Ceklek....Kriiieeeet.....Pintu terbuka.
Joko melihat Ki Suro menggendong bayi.
" Bayine sinten niku pak?" ucap Joko.( Bayinya siapa itu mbah).
Ki Suro masuk kedalam,tanpa di suruh oleh Joko.
" Bapak nemu nang alas...Endi Arum?" ucap ki Suro.
" Nang pawon( di dapur) pak..." ucap Joko.
Ki Suro berjalan ke arah Dewi Arum berada.
belum sampai di dapur,Ki Suro melihat Dewi Arum berjalan ke arahnya,ia mengira anaknya menangis,ketika melihat Ki Suro datang dan melihat Ki Suro menggendong seorang bayi,lantas mendekati Ki Suro.
Dewi Arum mengira yang di gendong Ki Suro adalah anaknya. Begitu melihat bayi yang di gemdong,Dewi Arum terkejut. Karena melihat warna kulitnya berbeda dengan anaknya,dan juga kain selimutnya juga berbeda.
" Ini anaknya siapa pak?" ucap Dewi Arum.
" Bapak nemu nang hutan...Daritadi dia memangis terus,coba kamu beri air asi..." ucap Ki Suro.
" Wegaaah pak...Dia bukan anakku..." ucap Dewi Arum.
" Tulungin disek to nduk...Kupingku panas ngerukke bayi iki..Ket mahu nangis terus.." ucap Ki Suro.
" Tapi aku lagi masak pak.." ucap Dewi Arum.
" Joko...Lanjutkan di dapur,biar Arum mengurus bayi ini dulu.." ucap ki Suro.
Mendengar ucapan Ki Suro,lantas Joko berjalan kedapur.
Ki Suro menyerahkan bayi yang ada di gendongannya ke Dewi Arum.
Dewi Arum menerima dan segera duduk di kursi,lalu mengeluarkan salah satu susunya.
Nampak bayi yang semula menangis menjadi diam saat meminum air asinya Dewi Arum.
Dewi Arum memperhatikan wajah bayi yang ia dekap tersebut,lalu melihat ke Ki Suro.
" Pak..Ini bayine sopo to?" ucap Dewi Arum
" Embooh...Aku wae gak ngerti.."
Ki Suro berjalan ke kursi yang terbuat dari papan kayu.
" Aku lagi semedi...Terus mendengarkan suara tangisan bayi..."
" Tak pikir itu suara Kuntilanak yang membawa bayi.."
" Tangisannya gak berhenti - berhenti..."
" Aku keluar lalu mencari siapa yang menangis itu..."
" Jaraknya lumayan jauh..Tak pikir dekat aja. Ndilalah adoh tenan" ucap Ki Suro.
" Apa jangan - jangan bayi ini di buang sama orang tuanya ya pak..." ucap Dewi Arum.
" Bisa jadi...Nanti aku mau ke desa sebelah,untuk mencari tahu.."ucap Ki Suro lalu berjalan ke arah dapur untuk minum. Sebab dirinya merasa haus dan letih setelah memakai kekuatannya.
Setelah Ki Suro minum,ia kembali lalu duduk dan memperhatikan Dewi Arum memberi asi pada bayi yang ia temukan.
" Coba ndelok en..Lanang opo wedok?" ucap Ki Suro.
Dewi Arum memeriksa jenis khelamin bayi tersebut.
" Lanang pak..." ucap Dewi Arum.
" Lanang.." gumam Ki Suro.
Terbesit di pikirannya untuk menurunkan ilmu yang ia miliki ke bayi yang ia temukan. Namun ia sadar,bahwa bayi itu bukan keturannya,sementara keturuanannya wanita semua,dan ilmu yang di milikinya haruslah seorang pria,bukan wanita.
Ki Suro menggelengkan kepalanya,sebab ia juga memiliki cucu laki - laki. Kemudian ia teringat lagi akan tangisan bayi yang ia temukan. Ki Suro menjadi bingung,antara mau menurunkan ilmunya ke cucunya atau ke bayi yang ia temukan.
" Pak...Lapor polisi wae pak...Ben ono seng ngurus,aku keteteran yen ngurus. Durung aku ngurusin Dini( anaknya).." ucap Dewi Arum.
" Iyoo....Tapi sebelum itu,tolong urus bayi itu.." ucap Ki Suro.
Ki Suro juga merupakan kepala desa. Sehingga dirinya bertanggung jawab atas desa tersebut.
Beberapa jam kemudian,Ki Suro memutuskan pergi mencari informasi,terkait bayi yang ia temukan. Ia mendatangi desa yang letaknya lumayan cukup jauh.
Ki Suro berjalan kaki menuju desa tersebut,ia melewati jalan yang mana jalan itu tempat di temukan bayi tersebut.
Setelah Ki Suro melewati jalan itu,1 jam kemudian muncul sepeda motor yang di kendarai seorang pria. Pria itu adalah Jefri. Dirinya hendak mengambil kalung yang letakkan di samping bayi.
" Semoga aja masih ada..." ucap Jefri dalam hati,lalu turun dari sepeda motornya.
Jefri berjalan menuju lokasi bayi yang ia letakkan tadi malam sambil celingukan mencari bayi tersebut.
Sesampai di tempat bayi yang ia letakkan,Jefri tak melihat bayi itu.
" Loooh...!!!"
" Kemana bayinya ya...? Perasaan aku letakkan di sini.." ucap Jefri.
Lantas Jefri memutari tempat tersebut.
" Siaaaal...Seharusnya kalung itu aku bawa saja..." ucap Jefri dalam hati tak menemukan bayi yang ia letakkan.
2 Jam ia mencari,namun tak membuahkan hasil.
" Apa jangan - jangan di makan sama harimau ya..." gumam Jefri. Dirinya tahu bahwa hutan yang ia datangi pernah muncul seekor Harimau dari berita yang ia dapatkan.
Matahari akan tenggelam,Jefri memutuskan pulang saja,ia menyesal telah meletakkan kalung tersebut,sebab ia melakukan itu tanpa sadar.
Di tempat Ki Suro.
Ki Suro mendatangi rumah kepala desa untuk menanyakan apakah ada wanita yang melahirkan.
" Kulon nuwun." ucap Ki Suro di depan rumah Kades.
Tok...Tok...Tok... Ki Suro mengetuk pintu.
" Pak Wawan..." ucap Ki Suro.( Wawan kepala desa tetangga).
Pintu terbuka,nampak seorang pemuda berusia 17 tahun berdiri.
" Bapak belum pulang Ki..." ucap pemuda itu.
" Nangdi bapakmu?" ucap Ki Suro.
" Ono acara nang balai desa..." ucap pemuda itu.
" Ada kopi ?" ucap Ki Suro.
" Ada Ki..." ucap pemuda itu.
" Aku tunggu saja,kowe gawekno aku kopi yoo.." ucap Ki Suro.
"Monggo..." ucap pemuda itu mempersilah Ki Suro masuk ke dalam rumah.
Ki Suro masuk lalu duduk di kursi,sementara pemuda yang membukakan pintu,masuk ke dalam rumah.
2 jam kemudian.
Ki Suro mendengar suara sepeda motor. Tak lama kemudian muncul seorang pria berusia 48 tahun,pria itu adalah Wawan,kepala desa.
Wawan terkejut melihat Ki Suro berada di dalam rumahnya,lalu ia datang menghampiri dan bersalaman.
" Kapan datangnya Ki...?" ucap Wawan.
" Baru saja...Aku ada perlu...Penting.." ucap Ki Suro.
Wawan duduk di kursi menghadap Ki Suro.
" Perlu apa Ki?" ucap Wawan.
" Di desamu ini,apakah ada orang yang melahirkan seorang anak laki - laki..?" ucap Ki Suro.
" Hemmm...."
Wawan nampak meningat - ingat.
" Sebentar Ki...Tak ambil dulu datanya.." ucap Wawan lalu pergi mengambil berkas.
Tak lama kemudian Wawan kembali sambil membawa buku warna kuning lalu duduk. Ia membuka buku tersebut dan memeriksanya.
" Ini datanya Ki..." ucap Wawan lalu menyodorkan buku kuning tersebut ke Ki Suro.
Ki Suro melihat tulisan tangan Wawan.
Dalam tulisan itu,tertera nama orang tua serta anak yang baru lahir pada bulan Februari.
" Apakah bayi ini masih bersama orang tuanya?" ucap Ki Suro.
" Masih..Emangnge ono opo toh Ki? Kok jengengan tumben tanya soal bayi.." ucap Wawan penasaran.
" Subuh tadi aku menemukan seorang bayi.." ucap Ki Suro.
" Heeh....!!! Bayi...! Bayine sopo Ki?" ucap Wawan.
" Embooh.."
" Di desaku gak ada laporan kehilangan bayi,mangkanya aku kemari untuk mencari informasi..Apakah ada yang membuang bayinya.." ucap Ki Suro.
" Gak ada Ki...Desaku tidak ada yang membuang bayi.." ucap Wawan.
Ki Suro memegang jenggot yang telah memutih.
" Heemmmm...."
" Apakah kamu mendengar berita tentang anak gadis yang hamil di luar nikah?" ucap Ki Suro.
" Ada Ki...Di desa Waluh.." ucap Wawan.
" Itu aku juga sudah tahu...Selain itu?" ucap Ki Suro.
" Gak ada Ki...Terus bayinya ada di mana Ki?" ucap Wawan.
" Di rumah anakku...." ucap Ki Suro.
" Jenengan lapor polisi saja Ki..." ucap Wawan.
" Emmooh...Ribet..."
Ki Suro mengambil gelas kopi yang masih setengah isinya,lalu menenggak habis. Kemudian berdiri.
" Yo wes kalau gitu..Aku pulang dulu..." ucap Ki Suro.
Wawan berdiri.
" Monggo Ki..." ucap Wawan.
Ki Suro berjalan ke pintu.
Di dalam perjalanan pulang ke desanya. Ki Suro memikirkan bayi yang ia temukan.
Sesampai di rumah Dewi Arum. Ki Suro berebah di teras rumah. Tepatnya di ranjang yang terbuat dari bambu. Karena tan mungkin dirinya mengganggu Dewi Arum yang sudah terlelap tidur.
Terdengar suara tangisan bayi dari dalam rumah,lalu suara Dewi Arum menenangkan bayi yang menangis.
" Jika aku lapor polisi,ribet.. Di suruh ini..Di suruh itu.."
" Lebih baik aku tak melaporkan kejadian ini.. Aku akan merawatnya hingga ia besar.." ucap Ki Suro dalam hati.
Akhirnya,Ki Suro menyuruh Dewi Arum mengurus bayi yang ia temukan. Dan Ki Suro memberi nama bayi itu ARJUNA.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 188 Episodes
Comments
𝕐𝕆𝕊ℍ𝕦𝕒ˢ
😂😂🥴🥴
2024-09-13
0
amid
intip iintip kali aja ada update
2023-07-05
2
kenthirkatrok
Maturtengkyu Gus apdetane
2023-07-04
2