Setelah Arjuna pergi mencari kayu bakar.
Desa Sukoharjo.
Tidak semua orang tahu akan kehidupan di desa tersebut karena desa itu jauh dari desa tetangga. Di desa itu,orang - orang bebas bisa berkencan dengan siapapun. Namun dengan catatan bila wanita sudah haid dan pria sudah bisa ngecrot. Dan tak ada paksaan. Hanya saja,di desa itu tidak boleh orang luar tinggal di desa itu kecuali ada persetujuan dari kepala desa.
Joko yang sedang memasukkan karung berisi gabah ke gudang karena mendung.Lalu Eko datang menghampiri.
" Jok..." ucap Eko.
" Opo kang..." ucap Joko.
" Nganu... Aku boleh gak garap Dini?" ucap Eko langsung to the point mengatakan keinginannya.
" Tanya dulu Dininya..Mau gak" ucap Joko.
" Hemmm...Ya udah deh...Aku ke rumahmu dulu ya.." ucap Eko.
" Iya.." ucap Joko.
" Kalau kamu mau ngentuin Emi... Datang aja kerumah.." ucap Eko lalu pergi.
Setelah selesai memasukkan gabah,Joko pergi ke rumah Eko untuk menikmati tubuh Emi.
Eko berjalan riang gembira,ia akan membujuk Dini agar mau di ajak bercinta. Karena dirinya ingin menikmati gadis yang sedang tumbuh dewasa.
Sesampai di rumah Joko.
" Mana Dini Rum?" ucap Eko tak melihat Dini.
" Pergi bersama Juna cari kayu bakar kang.." ucap Dewi Arum.
Mendengar ucapan Dewi Arum,Eko menjadi tak bersemangat.
" Kirain ada di rumah.." ucap Eko.
" Kenapa nyariin Dini kang?" ucap Dewi Arum.
" Aku tadi bilang ke Joko,aku ingin ngentuin Dini,terus Joko bilang tanya sendiri ke Dini..." ucap Eko.
" Ooo..Begitu...Dini tadi maksa pengen ikut.." Dewi Arum mendekati Eko.
" Maen sama aku aja...Gimana..?" ucap Dewi Arum.
Eko lantas mencium bibir Dewi Arum.
Dewi Arum yang mendapat serangan dari Eko,lantas mengikuti permainan Eko. Hingga akhirnya mereka tak memakai pakaian dan Eko sedang menggerakkan pinggulnya.
Terdengar suara rintik hujan.Makin lama makin deras.
Setelah Eko mengeluarkan lahar panasnya di atas perut Dewi Arum,Eko memakai pakaiannya.
Sementara Joko nampak menggenjot Emi anaknya Joko yang masih SMA. Istri Eko saat ini berada di rumah adiknya. Ia juga sedang memadu kasih dengan keponakannya.
Setelah Joko mengeluarkan laharnya di perut Emi.
" Enak banget lubangmu Mi..." ucap Joko.
" Punya paklek juga enak..." ucap Emi.
Joko mendengar suara hujan turun sangat lebat. Lalu ia memakai selimut dan memeluk Emi.
Emi yang kelelahan menghadapi serangan Joko memejamkan matanya,kesuciannya hilang karena di ambil oleh ayahnya. Kemudian ia menjadi kecanduan. Setiap hari dirinya selalu bermain dengan ayahnya. Kemudian Joko melihat dirinya sedang di genjot oleh ayahnya. Joko pun ikut serta.
Tak jauh dari rumah Joko berada,retakan tanah yang di lihat oleh Arjuna semakin dalam. Hujan belum juga reda.
Tepat pukul 4.10.
Bujan masih turun lebat,warga desa Sukoharjo belum ada yang bangun.
Tanah di lereng mulai bergerak.
Tiba - tiba suara petir di susul dengan longsoran tanah terdengar.
Warga tak ada mendengar suara longsoran tersebut.
Batu - batu besar menggelinding di sertai longsoran tanah,material tersebut mengenai rumah warga.
Tak sampai 5 menit,seluruh rumah di desa Sukoharjo lenyap di telan bumi.
***
Di sisi Arjuna.
Arjuna terbangun dari tidurnya. Ia segera menyalakan api.
Kayu bakar di susun,lalu di siram minyak. Setelah itu Arjuna menyalakan korek.
Kayu yang Arjuna susun itu pun terbakar.
" Aseemm...Hujannya kok masih ada..." gumam Arjuna,ia merasakan badannya kedinginan karena tak memakai apa - apa,karena selimutnya di pakai Dini.
Kayu mulai terbakar,kini Arjuna tak lagi merasakan dingin. Ia teringat 3 minggu yang lalu pernah menaruh mie instan. Kemudian Arjuna mencari mie tersebut.
" Slamet....Untung masih ada mieku.." ucap Arjuna ketika menemukan 3 bungkus mie instan. Ia mengira mie tersebut di makan hewan.
Arjuna mengambil panci,lalu mengisi dengan air hujan kemudian meletakkan di perapian. Sambil menunggu air mendidih,Arjuna meletakkan pakaiannya yang masih basah di dekat perapian.
Dini membuka matanya,ia mencium aroma tidak asing,ia pun turun dari tempat tidur lalu berjalan menghampiri Arjuna.
Saat Dini berjalan,ia merasakan ada yang berbeda saat ia berjalan. Tidak seperti biasanya. Namjn Dini cuek saja. Karena perutnya keroncongan.
" Masak mie kah dek?" ucap Dini yang tubuhnya di lilit selimut.
" Iya mbak..Untung aku ingat masih ada mie yang ku simpan." ucap Arjuna.
" Hujannya kok gak berenti ya dek.." ucap Dini.
" Iya mbak...Semoga aja gak sampe sore...." ucap Arjuna.
Setelah mienya matang,mereka makan berdua di dalam wadah panci tersebut.
" Untung hari ini hari minggu ya dek.." ucap Dini.
" Iya mbak..." ucap Arjuna.
" Oh iya..."
" Kamu pernah begituan gak dek?" ucap Dini.
" Enggak mbak.." ucap Arjuna.
" Masa seh?" ucap Dini tak percaya. Sebab wajah Arjuna sangat tampan di bandingkan pria di desanya.
" Waktu itu pernah seh mbak..Aku di ajakin sama mbak Tri.."
" Cuman aku sibuk..Jadi aku gak datang kerumahnya..."
" Sebentar..."
Arjuna teringat dengan suara Dewi Arum saat ia tidur.
" Jadi...Suara yang aku dengar itu mamak gak lagi mengingau ya mbak?"ucap Arjuna.
" Enggaklah..."
" Masih terasa ee dek..." ucap Dini.
" Apanya yang terasa mbak?" ucap Arjuna.
" Iniku ( Dini menunjuk selangkangannya) seperti burungmu masih ada di dalam.." ucap Dini.
Selesai mereka makan,Arjuna membersihkan panci tersebut dengan air hujan,kemudian masuk kedalam lagi dan duduk di samping Dini.
" Dek..."
" Aku penasaran deh sama kamu.." ucap Dini.
" Penasaran kenapa mbak?" ucap Arjuna.
Dini memegang tangan Arjuna lalu menempelkan lenganya.
" Coba lihat..Kulit kita beda.."
" Sementara mbak Susi sama mas Doni sama warna kulitnya.." ucap Dini.
" Kata mamak seh waktu kita lahir,mbak duluan keluar tapi mati lampu,begitu aku mau keluar,lampunya nyala..." ucap Arjuna.
" Masa seh?" ucap Dini.
" Iya...Kalau gak percaya,tanya aja sendiri..." ucap Arjuna.
" Kamu ngapain aja di sini sama mbah kung dek?" ucap Dini.
" Cuman ngobrol maenan dan tidur." ucap Arjuna. Ia merahasiakan tentang apa yang di lakukannya,sebab Ki Suro meminta kepada Arjuna untuk tidak menceritakan kepada orang lain,termasuk keluarganya.
Dini melihat sebuat tape radio,lalu mengambil tape tersebut dan menyalakan radio.
" Batreinnya habis itu mbak..." ucap Arjuna.
Dini meletakkan radio itu kembali ketempatnya.
" Kirain bisa nyala..."
Dini melihat kotak kecil,lantas mengambilnya dan membuka kotak tersebut.
Nampak sebuah kalung emas di dalam kotak tersebut. Dini terkejut lalu melihat ke Arjuna.
" Ini kalungnya siapa dek?" ucap Dini.
Arjuna merebut kalung tersebut lalu memakainya.
" Ini kalungku mbak..." ucap Arjuna.
" Kalungmu...?? "
" Siapa yang ngasih dek ?" ucap Dini.
" Mbah kung..." ucap Arjuna.
" Kamu gak kedinginan dek?" ucap Dini.
" Dingin lah mbak...Selimutnya mbak pke gitu.." ucap Arjuna.
Dini membagi kain selimutnya dengan Arjuna sambil bersandar di dinding papan.
" Mbak..." ucap Arjuna
" Apa...?" ucap Dini.
" Perasaanku kok gak enak ya..." ucap Arjuna.
" Gak enak kenapa?" ucap Dini.
" Gak tahu...." ucap Arjuna.
Mereka kemudian terdiam. Hanya ada suara atap daun yang terkena air hujan.
Arjuna turun dari tempat tidur.
" Mau kemana dek?" ucap Dini
" Mau kencing..."
Dini juga ikut turun.
" Mbak mau kemana?" ucap Arjuna.
" Mau pipis juga..." ucap Dini.
Setelah itu mereka kembali naik ke tempat tidur lalu membagi selimut. Dini tak memakai apa - apa,karena sarung yang ia pakai basah terkena air hujan,sebab kamar mandinya terpisah dari gubuk.
" Dek...." ucap Dini.
" Apa mbak..?" ucap Arjuna.
" Kamu gak pengen begituan lagi?" ucap Dini.
" Ya pengen seh..Tapi..." ucap Arjuna.
" Aku pengen dek..Yuk kita begituan lagi.." ucap Dini.
" Ayoo..." ucap Arjuna.
Mereka pun kembali melakukan hubungan terlarang. Meskipun Arjuna bukan adik kandung Dini,akan tetapi mereka sepersusuan dari Dewi Arum.
" Enak dek....Teruss...Aaah...Aaah...Yang kenceng dek..Aaah...." ucap Dini saat pisang Arjuna keluar masuk.
Hingga akhirnya Arjuna menyemprotkan lahar panas di dalam goa Dini.
Nafas mereka ngos - ngossan.
" Enak banget dek..." ucap Dini.
" Iya mbak..." ucap Arjuna.
Pukul 14.10.
Hujan sudah reda.
Arjuna dan Dini bersiap - siap untuk pulang. Mereka memakai pakaiannya. Dan pergi meninggalkan gubuk tersebut.
Saat akan mendekati desanya. Arjuna kaget,sebab ia ingat ada pepohonan dan bebatuan yang akan di lewati,namun ia tak melihatnya.
Arjuna mempercepat langkahnya.
" Jangan cepat - cepat dek.." ucap Dini karena tertinggal.
Arjuna berhenti dan menunggu Dini.
" Mbak ingat kan di sana itu ada batu.." ucap Arjuna sambil menunjuk.
" Mana aku ingat...Jalan pulang aja aku lupa.." ucap Dini.
Mereka lanjut berjalan lagi.
Hingga akhirnya mereka terkejut melihat desanya sudah hilang,longsoran tanah menutupi desa mereka.
Arjuna meletakkan kayu bakar,dan parannya,setelah itu berlari ke arah longsoran tanah.
" MAAAAAAK....
" PAAAAAK......." teriak Arjuna sambil berlari.
Air mata Arjuna keluar.
Dini yang melihat desa tempat ia tinggal tertimbun tanah,terduduk lemas. Ia tak menyangka desanya terkena bencana.
Arjuna berusaha mencari kedua orang tuanya.
Dini berjalan pelan sambil memandang sekeliling untuk memastikan ada yang selamat dari musibah tersebut.
Beberapa jam kemudian.
Segala cara Arjuna gunakan,untuk memcari kedua orang tuanya.
" Maaak...Mamak di mana.." ucap Arjuna tak menemukan Dewi Arum.
Tak terasa malam pun tiba,Arjuna masih mencari Dewi Arum. Ia tak memperdulikan suara perutnya yang minta di isi.
Hingga akhirnya Arjuna menyerah saat matahari terbit.
Arjuna duduk di samping Dini sambil menatap longsoran tanah,dirinya tak bisa lagi mengeluarkan air mata. Sebab semalaman ia menangis sambil mencari kedua orang tuanya,begitu juga dengan Dini.
" Dek...." ucap Dini.
" Iya mbak..." ucap Arjuna.
" Apakah musibah ini akibat kita begituan dek?" ucap Dini.
" Aku gak tahu mbak...." ucap Arjuna lemas. Karena belum ada makan setelah dari gubuk.
" Dek...Aku laper..." ucap Dini.
" Sama mbak...Aku juga lapar..Tapi..."
" Mamak sama bapak belum ketemu.." ucap Arjuna.
Arjuna berdiri,ia menggunakan sisa tenaganya untuk mencari orang - orang di desanya.
Siang harinya.
Arjuna tak menemukan siapapun. Tubuhnya penuh dengan tanah,begitu juga dengan Dini.
Mereka sudah tidak kuat lagi,akhirnya mereka pingsan karena lapar dan keletihan.
***
Esok harinya.
Seorang pria memakai sepeda motor menuju desa Sukoharjo.
Setelah sampai,pria itu terkejut melihat longsoran tanah. Lantas pria itu menghubungi polisi.
Atas laporan dari pria itu. Polisi segera bertindak.
Tim SAR tiba di lokasi,mereka segera mencari korban yang selamat. Dan mereka menemukan Arjuna dan Dini terbaring di longsoran.Mereka mengira Arjuna dan Dini telah tewas sebab tubuhnya di penuhi lumpur.
" Mereka masih hidup.." ucap salah satu tim SAR memeriksa Arjuna dan Dini.
Mereka pun membawa Arjuna dan Dini ke rumah sakit.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 188 Episodes
Comments
dhani satria
akibat free sex jadi di laknat
2025-02-25
0
Faizal Azwar
Pompeii versi lokal
2024-09-01
2
hitamanis
hoh kena azab ni ceritanya.satu kampung
2024-01-07
1