"Ma, kami ingin menikah?" ujar Teguh langsung membuat Ratna terkejut karena laki-laki itu belum mengatakan apapun sebelumnya.
Seharusnya dia kan melamarku lebih dulu.
"Maaf, aku belum melamarmu, tapi kau setuju untuk menikah denganku 'kan?" tanya Teguh yang mengerti dengan pikiran sang wanita, ia yakin wanita itu terkejut.
Ratna hanya tersenyum, ia takut untuk menjawab karena di sana ada orang tua Teguh lengkap. Apalagi dia juga mendapat tatapan yang berbeda dari mama Teguh.
"Kau yakin akan menikah, bukankah kalian masih baru saling mengenal?" tanya mama dengan perasan yang mengganjal di hati.
"Aku sangat mencintai Ratna, Ma. Untuk apa kita berpacaran lama, kalau akhirnnya hanya menjaga jodoh orang. Aku sudah memilihnya untuk menjadi istriku saat pertama kali melihatnya. Lagi pula kami sudah sangat cukup umur untuk menikah."
Perkataan Teguh yang mengatakan menjaga jodoh orang terasa memukul ulu hati mama. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada mama Teguh.
"Kau bersedia menikah dengan putraku dan berbagi suka duka dengannya?" tanya mama Teguh yang tentu saja membuat Ratna gugup.
Tanpa berpikir panjang lagi wanita itu menganggukkan kepalanya.
"Baiklah jika kalian ingin menikah. Kau ingin pernikahanmu bagaimana?" tanya mama pada Teguh, sedangkan ayahnya dari tadi hanya mendengarkan saja.
Teguh menatap wanitanya. "Aku serahkan semua pada Ratna. Kau ingin pernikahan seperti apa, Sayang?"
"Aku tidak pernah berpikir untuk menikah seperti apa. Cukup mendapat suami yang baik dan mencintaiku. Aku 'kan sudah janda mungkin kita menikah secara sederhana saja, tapi aku serahkan semuanya sama mas."
"Janda?" tanya Mama dan papa bersamaan. Ratna terkejut dengan keterkejutan kedua orang tua Teguh. Kemudian Ratna melihat ke arah laki-laki itu seraya bertanya 'kau belum mengatakan pada orang tuamu jika aku sudah pernah menikah?'
"Jadi, kau sudah pernah menikah?" ulang mama teguh.
Ratna merasa dilema untuk menjawab. Ia bingung harus menjawab apa, mau jujur takut salah, mau berbohong sudah keceplosan, ia takut apa yang dipikirkannya itu menjadi kenyataan. Orang tua Teguh tidak setuju anaknya menikah dengan janda.
"Ya, Ma, Pa. Ratna sudah pernah menikah dan sudah bercerai dengan suaminya. Dari awal dia sudah mengatakan semua padaku dan aku tidak mempermasalahkan statusnya." Teguh yang menjawab pertanyaan sang mama.
"Tapi, kau anak mama satu-satunya. Bagaimana kau bisa berpikir untuk menikahi janda. Apa stok wanita di dunia ini sudah habis. Tidak bisakah kau mencari yang sudah perawan?" Mama terlihat marah.
Deg
Lagi-lagi statusku dipermasalahkan, dulu karena aku anak yatim piatu dan sekarang karena aku menyandang status janda.
"Ma, aku mencintai Ratna. Aku hanya ingin menikah dengannya."
"Apa yang kau lakukan pada putraku? Kau memberinya kopi janda sehingga putraku seperti burung yang penurut?" Mama menatap Ratna dengan penuh emosi.
Ratna hanya diam saja, tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak mau melawan orang tua sekalipun mereka menghinanya. Karena jauh di lubuk hatinya ia sangat merindukan sosok orang tua. Dia akan menurut apa yang akan menjadi keputusan mereka.
"Ma, dia tidak melakukan apapun. Aku yang mengejarnya."
"Tidak mungkin kau begitu mencintainya, jika tidak diberi sesuatu. Banyak wanita yang lebih cantik darinya yang menyukaimu, tapi kenapa kau bisa jatuh pada seorang janda?"
"Batalkan pernikahan ini?" Kini papa Teguh yang mengeluarkan suara tegas dan terdengar berat.
Jangan menangis. Jangan menangis. Kau bukan wanita lemah. Ingat tidak ada bahu untuk bersandar. Kau sendirian. Jadi, jangan cengeng!
"Tidak. Kami akan tetap menikah."
"Kau ingin jadi anak durhaka setelah bisa mecari uang sendiri," sentak sang mama.
"Ma, jangan seperti ini. Jangan lakukan ini padaTeguh. Aku mohon ma, ijinkan aku memilih pasangan sendiri."
"Mama tidak pernah melarangmu, tapi kau tidak harus menikahi janda, carilah yang masih gadis yang pastinya belum menikah dengan siapapun."
"Ratna pilihanku, Ma. Aku akan tetap menikahinya."
"Hanya karena waita yang baru kau kenal, kau berani membantah ucapan orang tuamu?"
"Maaf, Ma. Aku tidak bermaksud--"
"Kami tidak akan menikah," potong Ratna yang sedari tadi mendengar perdebatan orangtua dan anak itu.
Spontan Teguh menatap ke arahnya.
"Tidak, kita akan tetap menikah," sela Teguh sembari menggelengkan kepalanya.
"Mas, apa yang di ucapkan orang tua itu pasti yang tebaik untuk anaknya. Tidak ada orang tua yang ingin anaknya masuk ke dalam jurang ataupun tenggelam dalam kegelapan. Aku yakin itu yang terbaik untuk kita." Ratna mengucapkan kata bijak untuk menguatkan diri lalu berhenti sejenak.
"Orang tua Mas, benar. Masih banyak gadis di luar sana yang bisa mas nikahi, tidak perlu menikah dengan janda sepertiku," lanjut Ratna dengan kedua mata berkaca-kaca.
Memang benar dia baru mengenal laki-laki itu, tapi mendapat penghinaan secara terang-terangan dari orang tua laki-laki yang mengajaknya menikah mampu membuat hatinya sakit. Dia haya wanita biasa bukan wonder woman.
"Maafkan, Mas. Maukah kau berjuang bersama agar kita bisa bersatu." Teguh masih berusaha membujuk Ratna.
Ratna tersenyum. "Tidak semuanya bisa diperjuangkan, ada kalanya kita harus berhenti demi kebahagiaan bersama."
Ratna melepas genggaman tangan laki-laki itu.
"Terima kasih sudah memberiku waktu mengenal om dan tante sekeluarga, kalian sangat baik padaku, hanya saja mungkin aku tidak ditakdirkan masuk ke dalam keluarga tante dan om. Saya permisi."
Setelah mengucapkan itu, Ratna beranjak berdiri lalu melangkah keluar dengan langkah cepat. Teguh hendak mengejar wanita itu. Namun, ucapan sang mama menghentikan langkahnya.
"Kenapa?" tanya Teguh menghadap sang mama. "Apa mama senang membuatnya terluka. Dia tidak punya siapapun lagi, Ma. Aku ingin menjadi sandarannya, tapi kalian telah menghina dan menyakitinya. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku mohon ijinkan kami bersama. Berilah kami restu." Teguh menangis dihadapan orang tuanya.
Kedu arang tua Teguh terdiam. Teguh yang tidak mendapat jawaban segera keluar dari rumah tersebut untuk mengejar pemilik hatinya. Ia yakin wanita itu sedang sedih.
Sementara Ratna sudah pergi dengan naik taxi. Ia menatap jendela dengan mimik wajah datar. Tidak ada acara menangis ataupun bersedih. Ia sudah terbiasa untuk menghadapi semuanya sendirian.
Terima kasih atas ujian yang Kau berikan ini, Ya Tuhan. Aku yakin dibalik semua ini pasti akan ada sesutu yang indah telah menungguku.
Di saat kita putus asa hanya kata yang menyenangkan hati yang bisa membuat hati sedikit tenang. Ratna tidak pergi ke rumah Sayla ataupun ke cafe. Tapi ia pergi ke hotel untuk menenangkan diri sebentar. Ia tahu Teguh pasti akan mencarinya.
"Kau pria yang baik, Mas. Kau pantas mendapatkan wanita yang baik, bukan wanita bekas sepertiku," gumam Ratna sembari memaksakan diri untuk tersenyum.
Teguh merasa putus asa karena tidak bisa menemukan wanita yang sangat ia cintai. Pasangan kekasih itu sama-sama terlihat tidak baik-baik saja.
Namun, di tempat lain seorang laki-laki tertawa dengan air mata yang membasahi pipi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Elizabeth Zulfa
sprtinya itu ulah Raditya dech
2023-11-01
0
Mpk Tahmid
mas teguh tertawa dan menangis, lalu Ratna bersedih juga apa ya, kl janda kenapa, jodoh gak bisa di tolak.
2023-08-21
0
Hman Pedang
sabar ratna..jodoh terbaik telah d siapkan
2023-07-26
0