Dititipkan Di Panti Asuhan

Setelah sarapan Rhys menunggu sampai tangis Zaid benar-benar reda, baru mengajaknya keluar.

Rhys dan Zaid tampak berjalan bersisian, mereka berjalan melalui jalan setapak yang dilalui satu dua orang. Di sekitar keduanya layaknya pedesaan; ada orang-orangan sawah, beserta petani dan juga tentu dengan sawah dan tanahnya. Rumah-rumah papan dan batu berjejer di kanan kiri mereka.

"E, Paman Rhys, kita hendak pergi ke mana?"

"Kau ikut saja, nanti kau tahu sendiri," jawab Rhys datar, tetap fokus menghadap ke depan. "Dan jangan panggil aku 'paman', panggil aku 'ayah', kau mengerti?"

"Oh, ya... Ba-baik." Mungkin Paman Rhys punya maksud tertentu, pikir Zaid. Ia jadi ingat waktu ia ke pasar dengan Chiara, Chiara membual bahwa dirinya saudara angkatnya. Yah, mungkin memang harus seperti itu, pikirnya lagi, aku tak punya keluarga di sini, tak mungkin aku membuat orang lain mencurigai diriku sendiri.

Mereka berdua terus berjalan melewati jalan setapak, empat ratus meter kemudian belok kiri di persimpangan. Mereka terus menapaki jalan sampai setengah kilometer. Keduanya sampai di rumah batu besar yang sedikit berlumut. itu tujuan mereka, lebih tepatnya tujuan Rhys.

Di teras rumah itu terdapat pot-pot berisikan tanaman-tanaman aneh yang Zaid tak pernah lihat.

"Tuan Zhang, maaf merepotkan, apa kau bisa keluar sebentar? Ada hal penting yang harus kubicarakan," kata Rhys setengah berseru.

Pintu rumah itu didorong dari dalam perlahan, dan keluar seorang perempuan paruh baya berpakaian pembantu. Kepalanya ditutupi kain putih yang diikatkan di bawah dagunya.

"Maaf, Tuan Zhang sedang tidak ada di rumah. Silakan berkunjung lagi lain waktu," kata pembantu itu.

Meskipun pembantu itu menuturkan kalimatnya dengan lancar dan tanpa ragu, seperti tidak menampakkan celah sama sekali, Rhys tahu sebenarnya ia adalah pembantu yang menyamar.

"Aku akan tetap masuk," kata Rhys sedikit memaksa.

"Bukankah kau mencari Tuan Zhang? Sudah kubilang Tuan Zhang sedang tidak ada di rumah. Aku sebagai pembantunya pasti tahu ia berada di sini atau tidak. Memangnya, apa menurutmu aku ini berbohong?" Pembantu itu melontarkan pertanyaannya pada Rhys.

Rhys dalam hati memuji orang itu, ia ternyata pandai mengarang dan menyusun perkataan, pikir Rhys, dan setiap kata yang ia lontarkan diucapkan dengan lancar, tapi... Aku tak akan tertipu, jelas sekali ia melontarkan pertanyaan tadi agar aku mempercayai perkataannya. Ada kemungkinan ia berbohong. Aku bisa melihatnya dari ekspresinya.

"Maaf memaksa, aku akan tetap masuk. Aku yakin Tuan Zhang tidak akan keberatan," kata Rhys. Ia pun langsung masuk ke dalam.

"Baiklah." Pembantu itu tak menghalangi Rhys.

Zaid mengikutinya masuk, meski sempat ragu sejenak. Diikuti pembantu tadi.

Tangan pembantu itu perlahan mengambil sesuatu di saku bajunya, pisau. Tangan pembantu itu terangkat, hendak menerbangkan pisau itu.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Wusss! Pisau itu terlempar dari tangan si pembantu, tepat menuju punggung Rhys, sebelumnya melesat tepat di atas rambut hitam Zaid.

Rhys dapat merasakan angin di belakangnya, ia membalik tubuh, menangkap pisau itu dengan satu tangan, dan melemparnya kembali tepat ke wajah pembantu itu. Zaid sudah terlebih dahulu menghindar.

Pembantu itu menangkapnya kembali, ujung mata pisau itu nyaris saja menusuk tengah-tengah wajahnya. Ia kemudian berteleportasi.

Pembantu itu muncul tepat di belakang Rhys, tangannya yang memegang pisau sudah berada di udara, hendak menusuk leher belakang Rhys.

Tetapi, Rhys menghentakkan kaki, melompat jauh dengan bantuan angin, pisau itu mengenai udara kosong. Lalu Rhys yang masih di udara berbalik sambil mendarat, disusul tangannya yang diselimuti aura hijau, ia mengeluarkan jurus. Di setiap sela-sela jari tangannya muncul kunai kayu(¹), ia mengayun kedua tangan ke samping, melempar 8 kunai sekaligus, balas menyerangnya.

_______________________________________________

Catatan Kaki (letaknya nggak di bawah, sih):

Sesuai dengan judulnya 'Tujuh Elemen'. Elemen yang ada dalam cerita ini adalah, air, api, es, petir, angin, tanah, dan tumbuhan. Sedangkan akar, daun, kayu, dan sesuatu yang merupakan bagian dari tumbuhan, atau termasuk tumbuhan, dikategorikan ke elemen tumbuhan. Jadi kayu bukan termasuk salah satu elemen di sini.

_______________________________________________

Pembantu itu mengeluarkan jurus angin yang cukup kuat, 8 kunai yang terbang ke arahnya berbalik ke arah yang berbeda-beda.

Kalian perhatikanlah dari arah atas, ke-8 kunai itu menancap di 8 titik yang berbeda, membentuk 8 arah mata angin dengan pembantu itu sebagai pusatnya.

Di kedelapan kunai itu tumbuh akar hijau tua yang dengan cepat memanjang, menjalar, hendak mengikat pembantu yang berada tepat di tengah-tengah.

Di luar dugaan Rhys, pembantu itu maju, menangkap satu akar yang hendak mengikatnya dari arah depan, sedangkan ketujuh akar yang lain luput, malah mengikat satu sama lain.

"Terima kasih!" seru pembantu itu.

Pembantu itu menarik akar, kunai di ujung akar yang menancap ke lantai papan tertarik dan lepas. Pembantu itu kemudian mengayun akar kunai, menggunakannya sebagai senjata.

Ia terus mengayun akar kunainya ke sana kemari, kadang mendekat, kadang menjauh, akar kunai itu seolah sudah memyatu dengan dirinya, membuat Rhys tak bisa mendekat, hanya menghindar dan menghindar.

Keduanya terus bertarung dengan leluasa karena ruangan berdinding batu itu luas, 20×20 meter persegi. Langit- langitnya mencapai 10 meter.

Zaid sudah berdiri di pinggiran, memerhatikan keduanya yang berduel di kejauhan. Ia sejenak memerhatikan sekitarnya, menurutnya ruangan itu aneh; ruangan itu luas, berdinding batu, berlantai papan kayu betula, tapi ruangan itu kosong, benar-benar kosong.

Seharusnya ini ruang tamu, pikir Zaid, tapi... tak mungkin seluas ini. Dan lagi pula tempat ini kosong, tidak ada apa-apa.

Ketujuh akar kunai yang saling mengikat tiba-tiba menghilang, Rhys sudah menyerap kembali energi sihir tumbuhan yang ia bentuk menjadi akar dan kunai tadi. Tapi, akar kunai yang digenggam oleh pembantu itu tidak ikut menghilang.

Sepertinya, pikir Rhys, ia sudah terlebih dahulu menyalurkan energi sihir tumbuhannya pada akar kunai yang kubentuk, itu sebabnya saat kuserap kembali energiku, akar kunai yang ia pegang tidak menghilang karena masih ada energi sihir tumbuhan miliknya.

Zaid kembali memerhatikan pertarungan antara keduanya, sampai ia jenuh. Ia pun duduk selonjoran, lalu menyandarkan punggungnya ke tembok batu.

"Hhhhhh... astaga, sudah setengah jam mereka berkelahi," gumam Zaid, " tapi aku tak bisa memastikan siapa yang akan menang." Zaid pun menghela napas. Ia benar-benar bosan.

"Memang tidak akan ada yang menang, Nak." Zaid bisa mendengar suara kakek-kakek yang serak basah. Suara itu tidak keras, tapi dekat dengannya.

Zaid menoleh ke samping dan mendapati kurcaci tua yang juga duduk selonjoran di sampingnya, ia sedikit kaget. "Sejak kapan kau berada di sini?"

"sejak setengah jam yang lalu. maaf membuatmu terkejut, Nak," jawab kurcaci tua itu tanpa menolehkan pandangan. Fokus pada tontonannya.

"Oh, tidak apa." Zaid menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tapi, omong-omong, kenapa tadi Kakek bilang 'tidak akan ada yang menang'?"

"Hmmm... Kau lihat sendiri, Nak, apa ekspresi keduanya tampak serius?"

Zaid memerhatikan ekspresi Rhys dan pembantu itu dengan seksama, sebenarnya, wajah mereka berdua hanya tampak 'sedikit serius' tidak benar-benar serius.

Zaid berpikir sejenak. "Hmmm... kurasa, mereka berdua cukup serius dalam bertarung, tapi kulihat keduanya seperti tidak ada niatan sama sekali untuk melukai atau apalagi membunuh lawan. Masing-masing dari keduanya seolah-olah menganggap pertarungan mereka hanya sebuah pertarungan atau kompetisi. Menentukan menang-kalah tanpa melukai atau membunuh dengan sengaja."

"Yap, kurang lebih seperti itu," kata kurcaci tua. "Bahkan sebenarnya pertarungan ini hanya sekedar main-main, Nak. Bukan pertandingan seperti yang kau bilang. Untuk apa ada pertandingan jika tidak ada hadiahnya? Mereka terkadang melakukannya, menganggapnya latihan."

"Terima ini!" Seru pembantu. Di sela-sela jari tangan pembantu terbentuk kunai es, ia kemudian melemparnya ke arah Rhys, membuatnya lagi, melemparnya lagi, terus menerus sampai 8 kali. Total 64 kunai es terbang ke arah Rhys, mengantri untuk menusuknya.

Rhys mengeluarkan energi tanah, membemtuknya menjadi tembok tanah yang tebal, melindunginya dari gelombang kunai es.

Di sisi lain, pembantu itu juga terus mengirim gelombang demi gelombang kunai es yang sedikit demi sedikit menghancurkan tembok tanah yang melindungi Rhys.

Rhys yang berlindung di balik tembok tanah menempelkan tangannya ke tembok itu, dan mengalirkan energi tanah, 

memperbaiki bagian tembok tanah yang mulai retak-retak.

pembantu itu mengirim paket berupa kunai es terus-terusan; Rhys juga terus menolak 'paket' itu, ia terus memperbaiki tembok tanahnya. 'Kurir' dan 'pembeli' itu terus mengirim dan menolak sampai 5 menit.

"Apa tangan Orang itu tidak pegal?" Celetuk Zaid. Ia melihat pembantu itu terus mengayun kedua tangannya bergantian selama 5 menit terakhir, melempar kunai-kunai es yang ia bentuk di sela-sela jari tangannya.

"Mana aku tahu. Aku tak peduli," timpal kurcaci tua.

Zaid menoleh ke samping. "Oh, ya, sebenarnya, kakek ini siapa? Kenapa bisa ada di sini? Dan juga orang itu, siapa orang itu?"

Oh, maaf aku belum memperkenalkan diri, aku Oako."

"Eko?" Zaid salah dengar karena, suara kurcaci tua yang kurang jelas.

"Oako!"kurcaci itu sedikit kesal. "Aku Oako, pembantu di rumah ini yang sedang bertarung di sana adalah Tuan Zhang Xiao, majikanku"

"Oh," kata Zaid. Ia berpikir sejenak. "berarti Tuan Zhang yang dimaksud Ayah Sebenarnya dia?" Ia menyebut Rhys sebagai ayahnya, sesuai yang diperintahkan Rhys di jalan.

"'Ayah'? Rhys ayahmu?"

"Oh, e... ya. Dia ayah angkatku," kata Zaid.

Ternyata ia kenal Paman Rhys, pikir Zaid.

"Oh, tidak, tidak, tidak!" gumam Oako si kurcaci. Seolah-olah seperti merapal, ia mengulangi kata 'tidak' sampai 10 kali lagi dengan sedikit lebih cepat dibanding yang sebelumnya.

merasa si Oako ini aneh, Zaid bertanya, "Ada apa denganmu? Kenapa kau terus mengatakan 'tidak'?"

"nak," kata Oako, "Apa kau tahu tempat apa ini?"

"tidak," jawab Zaid pendek.

"ini Panti Asuhan, nak."

Mendengar kata panti asuhan, Zaid langsung mengerti. Apa Mungkin aku akan dititipkan di Panti Asuhan, pikir Zaid, tapi mungkin Paman Rhys punya rencana Di balik semua ini.

Melihat ekspresi Zaid yang seperti tidak senang, Oako melanjutkan berkata 'tidak' lagi.

Zaid tidak memedulikan Apakah ia akan dititipkan atau tidak, ia fokus menonton.

Zhang Xiao masih terus membentuk kunai es 4 demi 4 dan melemparkannya, tetapi ada yang berbeda, tanpa sepengetahuan Rhys yang berada di balik temboknya, Zhang Xiao melemparkan dua kunai ke depan, dua kunai yang lain Iya lempar horizontal ke atas, lalu ia berteleportasi, dzing.

Mendengar suara teleportasi, Rhys berbalik ke belakang, seperti siap menangkis. Tapi ia tak melihat siapapun.

Ternyata Zhang Xiao berada tepat 7 meter di atas Rhys, ia berteleportasi ke atas kunai yang tadi ia lempar, menggunakannya sebagai tumpuan. Zhang Xiao mengendalikan angin agar ia tak cepat jatuh, ia menendang satu kunai yang menjadi tumpuannya di atas, sekarang, satu kunai itu melesat horizontal dari atas ke bawah, melesat melewati telinga kiri Rhys dari belakang dan menancap di lantai papan betula.

"Kau menang," kata Rhys tanpa berbalik. Tatapannya tertuju pada kunai tadi.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Zhang Xiao yang berada di udara mendarat perlahan dengan bantuan angin, lalu Zhang Xiao melepas kain putih yang menutupi kepalanya, memperlihatkan rambutnya yang sebagian sudah beruban. Ia juga melepas topeng di wajahnya yang persis seperti wajah perempuan, memperllihatkan wajah aslinya; matanya sipit, kulitnya putih agak berkerut, alis serta kumis dan janggutnya yang menyatu tampak tebal, sebagian sudah beruban, sama seperti rambutnya.

Zhang Xiao membersihkan bajunya yang sedikit kotor oleh debu, lalu menangkup tangan. "Seperti biasa kau selalu waspada dan tidak mudah ditipu,suatu kehormatan bisa bertemu lagi denganmu, Tuan Rhys."

"Aku punya satu permintaan," kata Rhys sambil berbalik. Ia memutuskan untuk langsung pada tujuannya.

Meski seperti kurang sopan, Zhang Xiao tidak menghiraukan. "Apa itu?" Kata Zhang Xiao. Ia tahu Rhys sedang tak suka basa-basi, maka hanya mengatakan 'apa itu?'.

"Tolong jaga anak itu." Rhys menoleh lalu menunjuk Zaid beberapa meter di sana yang langsung kaget, serta Oako di sebelahnya.

Sudah kuduga, batin Oako, ia menatap Zaid. Ekspresi Zaid terlihat datar.

"Latih ia sedikit lebih keras dari yang lain," kata Rhys. "Tahun depan aku akan mendaftarkannya ke akademi sihir. Kuharap dia lolos seleksi. Soal siapa dia, siapa orangtuanya, dari mana dan sebagainya tanyakan saja pada anak itu.

"Baik," kata Zhang Xiao menyanggupi.

"Aku pamit." Rhys menangkup tangan, lalu ia berjalan menuju pintu, membukanya dan pergi.

Sementara Zaid, ia tak menyangka akan dititipkan. Aku tak masalah jika harus tinggal di sini, pikir Zaid, tapi orang-orang di sini seperti apa, aku tidak tahu, hmm... tapi memangnya apa aku punya kekuatan?

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Terpopuler

Comments

Kolen Rumegang

Kolen Rumegang

kurangenarik ceritanya...terlalu bertele2 dan puter2...pusing aq membacanya

2023-11-01

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!