Di markas bawah tanah. Tak jauh berbeda dengan yang sebelumnya; di ruangan berdinding putih itu terdapat monitor raksasa, motor-motor yang tampak lebih modern dan keren, senapan-senapan laser yang terpajang di dinding, baju robot, dan lain-lain.
Pintu itu terbuka otomatis, seseorang masuk dengan menaiki motornya yang berdesing halus,. Setelah memarkir motornya, kaki itu berjalan menuju orang yang tengah duduk di kursi, menghadap monitor raksasa yang menampilkan peta di permukaan. Banyak titik merah di peta yang ditampilkan monitor itu.
Tangan robot itu meletakan dua tabung kaca berisi bebatuan merah ke atas meja, menghasilkan bunyi pelan.
Mendengar suara, wanita yang duduk menghadap monitor bertanya tanpa menoleh, "Bagaimana, apa kau berhasil mendapatkannya?"
"Ya, jawab pria bertangan robot itu. "Tapi... aku hampir ketahuan, jadi..."
"Kau mengaktifkan bom penghancur?" Tebak wanita itu. Jika kalian perhatikan, wamita itu berusia kurang lebih dua puluh tahun, kulitnya putih, rambutnya panjang kemerahan, matanya tertutup topeng hitam.
"Ya, Tuan Putri," jawab pria bertangan robot.
"Tak mengapa," kata wanita itu, "kita masih punya belasan markas. Dan yang penting kau berhasil membawa pulang xiberium." Wanita itu memutar kursi, berhadapan dengan pria bertangan robot dan meja yang di atasnya terdapat dua tabung berisi bebatuan merah yang tuan putri sebut 'xiberium'.
"Apa?! Hanya dua tabung xiberium?" Seru tuan putri ketika sepasang matanya yang tertutup topeng hitam hanya melihat dua tabung berisi bebatuan merah.
"Ya-ya, Tuan Putri, karena di gedung itu juga tidak terdapat banyak xiberium. Dan lagi, banyak robot yang berjaga di gedung itu. Meskipun aku membawa belasan robot memakai baju robot sekalipun, aku tetap kalah jumlah. Itulah kenapa, aku hanya berhasil membawa---"
"Kalau begitu," potong tuan putri, "Kenapa kau tidak mencari lebih banyak xiberium di tempat lain?"
"Tuan Putri, aku juga perlu beristirahat, aku---"
Tangan tuan putri terangkat, di telapak tangannya keluar uap dingin yang langsung membekukan leher pria bertangan robot itu.
Pria bertangan robot itu agak kesulitan bernapas, ia mengangkat tangannya, hendak menghancurkan es yang mencekik lehernya, tetapi, baru saja ia mengangkat tangan robotnya itu, tuan putri langsung membekukannya, bahkan tak tanggung-tanggung membekukan seluruh tubuhnya, menyisakan kepala.
Di markas bawah tanah itu terdapat kurcaci tua setinggi 1 meter, berwajah dan berpakaian layaknya ilmuwan,dan 5 pria kembar tinggi kurus berjubah dan berambut hitam. Keenamnya menjadi saksi 'pembekuan'. Bahkan mereka seakan-akan dibekukan, tidak ada yang bersuara, keenamnya menunduk.
"Kau bilang kau ingin istirahat," kata tuan putri dingin, "baiklah kau diam saja di dalam es itu."
Tuan putri itu menoleh, berkata pada kurcaci yang berpakaian ilmuwan, "Karcho, ambil dua tabung xiberium itu."
"Baik," kata Karcho mengiyakan. Si kurcaci ilmuwan itu langsung berlari kecil dan meraih dua tabung kaca berisi bebatuan merah itu, karena tangannya kecil dan pendek, ia memeluk dua tabung xiberium itu, membawanya ke suatu tempat.
"Kalian," kata tuan putri, "Dadan, Didin, Dudun, kita harus membesarkan Golium kecil ini sesegera mungkin," jelasnya. Di tangannya terdapat makhluk batu yang sedikit lebih kecil dari bola takraw. Makhluk batu itu mempunyai tangan dan kaki yang pendek. Sekilas mirip kura-kura.
"Baik, Tuan Putri," kata tiga pria dari kembar 5 itu. Mereka bertiga bergegas menaiki motor mereka dan menuju permukaan menggunakan alat semacam lift.
Sementara itu, di ruangan berbeda, si kurcaci ilmuwan membuka 2 tabung xiberium itu, dan memasukan isinya ke dalam suatu alat yang langsung mengubah bebatuan merah itu menjadi cairan yang disalurkan ke dalam selang kecil dan dikeluarkan di ujung selang, ditampung di tabung kosong yang lain. Dua tabung bebatuan merah itu hanya memenuhi setengah tabung saat dicairkan. Karcho menutup tabung berisi cairan merah itu dan menyimpannya di lemari.
"Deden, Dodon, kalian tetap di sini, jaga tempat ini. Aku ada urusan," titahnya pada dua orang yang lain dari kembar lima itu. Tuan putri menuju pintu lift setelah menaiki motornya dan melepas topeng hitam yang menutupi matanya itu. Mungkin di lain tempat ia berpenampilan lain.
Sementara itu, pria bertangan robot hanya bisa pasrah dibalut es itu. Ia tak bisa melakukan apapun selain bernapas ditempat dan menahan dingin, menunggu dilepaskan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
Qean
tiriz
2023-10-18
0