Cerita (bagian 2)

Chiara mengingat-ingat sampai mana terakhir ia bercerita waktu itu.

"Setelah mengevakuasi semua jenis hewan dan biji-bijian ke tempat tinggal para kurcaci di bawah tanah, para kurcaci memutuskan membuqt senjata canggih dan alat perang lainnya untuk berjaga-jaga, karena mereka tak mempunyai kekuatan. Para kurcaci juga menyuruh anak-anak dari ras manusia dan elf untuk berlatih ilmu sihir, beladiri dan pengobatan sampai keadaan di permukaan membaik. Ada perpustakaan di bawah sana.

"Beberapa penyihir dan ahli beladiri serta ahli pengobatan ada yang tidak ikut serta dalam peperangan, mereka ditugaskan untuk melimdungi dan membimbing anak-anak dalam berlatih.

"Hari demi hari, setelah satu bulan, di atas permukaan Imub (planet Imub), perang melawan virus Orch Goblin 19 belum usai, bahkan para penyihir yang bertarung semakin sedikit dan semakin kewalahan. Banyak yang tewas dan terinfeksi. Lebih lagi semua robot-robot tidak dapat lagi membantu, sebagian rusak, sebagian kehabisan baterai. Tidak ada robot yang tersisa.

"Dan setelah satu tahun, jumlah kedua belah pihak di seluruh planet Imub hanya tersisa kurang lebih satu juta. 900.000 dari pihak orch dan goblin; 100.000 sisanya para penyihir. Itu pun susah banyak yang terluka dan mulai terinfeksi." Chiara menghela napas sejenak, meneguk tehnya.

Elena tak suka bayangannya terhenti. "Terus?" Elena meneguk susu dinginnya.

"Sabar!" Kata Zaid. Meskipun sebenarnya ia juga penasaran.

Chiara melanjutkan cerita setelah meneguk tehnya lagi. "Tapi, bukan itu masalah terbesarnya. Karena banyak mayat bertebaran di seluruh planet Imub, belatung-belatung mulai bermunculan, dan mengerikannya, belatung-belatung itu saling memakan satu sama lain, hingga pada akhirnya, belatung raksasa tercipta."

Zaid ingin muntah.

"Kau tidak apa-apa?" Tanya Chiara.

"Oh, ya, aku tidak apa-apa," jawab Zaid. Ia meneguk tehnya sampai habis, lalu berkata, "Lanjutkan."

"Belatung-belatung raksasa itu paling kecil sebesar gerbong kereta, jumlahnya sangat banyak, tersebar di seluruh permukaan Imub (planet Imub). Mungkin jumlahnya ribuan atau bahkan lebih.

"Saat para penyihir dikepung oleh goblin dan orch, para belatung juga sudah berkumpul dari berbagai penjuru. Mereka sambil terus makan memakan, secara tak sengaja mempersempit area peperangan antara para penyihir melawan goblin dan orch. Seketika, para goblin dan orch yang mengepung para penyihir dikepung kembali oleh belatung-belatung yang mulai melahap goblin dan orch yang mengepung dari bagian luar."

"Tunggu," sela Zaid, "jika belatung-belatung dari seluruh penjuru secara tak sengaja merapat ke tempat kedua belah pihak bertarung, dan mempersempit medan pertempuran mereka, lantas bagaimana cara belatung-belatung yang berada di pulau, atau benua berbeda yang terpisahkan oleh laut untuk merapat? Apa mungkin... mereka bisa berenang?" Tanya Zaid.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Di kota Grythwil. Di ruangan gelap, kurang pencahayaan.

"Pertanyaan yang bagus," kata pria bertubuh tinggi besar bertangan robot itu dingin. "Apa tadi kau bilang? 'Apa kau akan mengampuniku setelah aku memberikan kuncinya padaku?'" Orang bertubuh tinggi besar itu mengulangi pertanyaan orang yang ia cekik dengan tangan kirinya. Tangan kanannya menggoyang-goyangkan kunci di hadapan orang itu.

Lelaki yang dicekik itu sesak napas, ia hanya bisa menghirup udara sedikit demi sedikit. Tatapannya tampak ketakutan dan putus asa, ia tak bisa ke mana-mana, ia juga terpojok oleh tembok.

Kumohon, kumohon ampuni aku, batin lelaki yang dicekik itu.

"Tentu saja tidak!" Kata lelaki tinggi besar bertangan robot itu sambil melempar orang yang dicekiknya ke tembok.

Terdengar suara keras, si korban lelaki membentur tembok dan jatuh. Giginya pecah, kepalanya berdarah. Ia tak bisa apa-apa kecuali terkujur lemah.

Terdengar suara laser, punggung orang yang sudah lemah itu sudah ditembak oleh laser, tembus ke dada, darah segar mengalir di lantai. Orang itu tewas.

Pria bertangan robot itu membuka pintu besi yang sudah ia dapatkan, di ruangan itu tampak belasan robot, dan satu baju robot yang tengah dicharge oleh 3 kabel tebal.

Tangan robot pria itu menekan beberapa tombol hologram di ruangan itu, belasan robot itu aktif. Ia sendiri melepas kabel di baju robot dan mulai mengaktifkan dan memakainya.

Terdengar suara mirip ledakan, pintu besi dan dinding di sekitarnya hancur, menciptakan lubang besar. Belasan robot keluar, juga pria itu yang sekarang mengenakan baju robot.

Ia tertawa lebar, ia sepertinya akan melakukan penyerangan di kota Grythwil dengan robot-robot itu. Ia tak tahu, ada semacam alat pelacak yang melacaknya. Benda berbentuk manik-manik itu, tertempel di robot yang ia pakai.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

"Pertanyaan yang bagus," kata Chiara. "Tapi, Zaid, kau tidak tahu, di planet Imub hanya memiliki satu negara dan benua," jelas Chiara. "Sebenarnya memang ada pulau, ada tiga pulau kecil, tetapi ketiga pulau itu hanya dihuni oleh sedikit sekali orang. Dan hanya mereka yang tak terinfeksi. Jadi tidak ada belatung di sana. Dan belatung memang tak bisa berenang."

"Dan apa nama benua itu?" Tanya Zaid.

"Benua Esia."

"Maksudmu 'Asia'?" Tanya Zaid penasaran.

"Chiara mengerti maksudnya. "Bukan, bukan benua Asia salah satu benua di Bumi, melainkan 'Esia'. Dinamakan 'Esia' karena kebanyakan orang-orang di sini menggunakan bahasa suku Esia. Dan Bahasa Esia menjadi bahasa yang digunakan di seluruh planet Imub."

"Esia, Esia, Indonesia..." gumam Zaid.

"Ya," kata Chiara. Adapun negara Indonesia di Bumi dinamakan 'Indonesia', itu karena yang menemukan wilayah Indonesia adalah salah satu orang dari suku Esia."

Zaid terkejut.

Chiara melanjutkan penjelasan. "Kata 'Indon' dari kata 'Indonesia' diambil dari salah satu bahasa di planet Imub yang berarti 'wilayah', sedangkan kata 'Esia' adalah nama suku Esia. Jadi, nama 'Indonesia' mempunyai arti---"

"Wilayah suku Esia?" Potong Zaid.

"Ya, tepat sekali."

"wah... ini menarik, bisa kau ceritakan lebih lanjut, Kak Chiara?" Tapi... kau tidak bohong 'kan?"

"Aku tidak bohong," kata Chiara. "Tapi, mungkin ceritanya cukup sampai di sini terlebih dahulu, sekarang sudah larut."

Dengan sedikit pencahayaan lilin di kamarnya, Zaid menatap ke jam dinding, pukul 09.30 malam. Baginya masih belum waktunya tidur.

"Oh, ayolah... sedikit lagi saja. Ini belum terlalu malam," bujuk zaid.

Chiara melihat Elena sudah tertidur meringkuk seperti kucing. "Nanti kalau ada waktu," kata Chiara. "Kasihan jika Elena terlewatkan banyak cerita," katanya lagi. Chiara bangkit dari duduk, meraih Elena dan meletakkan Elena di ranjang.

Vin, kucing abu-abu milik Elena yang sempat tertidur di samping Elena membuka mata, melihat Elena dipindahkan ke ranjang, kucing itu pun bangkit dan melompat ke kasur. Ia kemudian meringkuk di dekat telapak kaki Elena dan tidur lagi.

Hujan di luar juga sudah tidak sederas sebelumnya.

Setelah itu ia membereskan gelas-gelas dan nampan, juga mematikan lilin, lalu keluar kamar.

"Oh, ya, Kak Chiara, kenapa tidak kau bawa saja Elena ke kamarmu?"

"Di kamarku banyak bahan obat-obatan dan racun, berbahaya jika Elena tidur di kamarku," seruan Chiara terdengar samar di ruangan berbeda.

Zaid hanya bisa menghela napas pasrah, ia lalu naik ke ranjang dan tidur di samping Elena. Mereka saling memunggungi. Elena menghadap ke luar jendela. Dengan cahaya kilat yang hanya sekejap, Elena tampak tidur dengan nyenyak, bahkan sesaat ia tersenyum. entah ia mimpi apa.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!