Chiara memanggil beberapa orang, lebih tepatnya beberapa kurcaci yang kebetulan lewat di halaman belakang rumahnya. Tinggi mereka sekitar 1 meter. Ia meminta sepuluh kurcaci itu untuk menggotong dua mayat penyusup itu ke pegunungan untuk dikuburkan. Dan ia memberikan masing-masing kurcaci itu 2 tail perak.
"Baik, Chiara, dengan senang hati kami akan menguburkannya," kata salah satu kurcaci.
Chiara membalasnya dengan tersenyum ramah.
Kurcaci tadi menunjuk Zaid. "Siapa dia? Adik perempuanmu ya?"
"Aku bukan perempuan! Dasar si Tua Pendek!"
Chiara tertawa kecil.
"Hmmm... Tapi pakaianmu..." Kata kurcaci lagi.
Zaid menatap bajunya, ia lupa ia mengenakan pakaian perempuan. Wajahnya memerah. Malu bercampur kesal. Kenapa aku harus mrngenakan baju ini, pikir Zaid.
"Tapi aku memang bukan perempuan. Apa kau mau mengeceknya?" Zaid menggerutu, sampai mengatakan yang tidak-tidak.
"Tidak perlu. Untuk apa kami melihatnya, hanya membuat kami muntah," jelas kurcaci itu.
Zaid semakin kesal.
"Sudah ya, hari sudah semakin sore," kata kurcaci itu. Mereka bersepuluh mengangkat dua mayat itu.
"Selamat tinggal anak perempuan!" kurcaci yang tadi berseru lagi sambil menggotong mayat dari bagian kepala. Empat sisanya menggotong lengan dan kaki.
"Hhhheh menjengkelkan! Aku bukan perempuan catat itu di otak mungilmu!" Zaid kesal. Ia terus menghentak-hentak kaki ke tanah dengan kedua tangan terangkat.
Chiara tertawa lagi, lalu teringat sesuatu lantas berseru, "Oh, ya, Tuan Kurcaci, hati-hati! Salah satu mayat itu terkena racun!"
"Yaaa!" jawab para kurcaci serempak. Mereka sudah lumayan jauh. Mereka menuju timur, seperti menuju matahari yang tenggelam (tenang, aku tak salah tulis. Kalian akan mengetahuinya tak lama lagi).
"Baiklah Zaid, mari kita masuk ke rumah."
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Rhys tiba di rumah saat hari sudah gelap. Sementara Rhys mandi, Chiara dan Zaid makan malam lebih dahulu. Chiara dan Zaid juga sudah mandi. Dan lagi-lagi, Zaid mengenakan pakaian perempuan. Bajunya yang sudah kering bau apek.
Chiara melirik Zaid yang tak nafsu makan di hadapannya. Keduannya dipisahkan oleh meja makan.
"Hei makan! Kenapa? Ada apa denganmu?" tanya Chiara.
Kedua tangan Zaid menggaruk-garuk kepala dengan kasar. "hhhhhhh! Sebenarnya apa semua ini!" Zaid lalu menyandarkan kepala dan punggungnya ke kursi, dan...
Gedebuk! Zaid jatuh dari kursi.
"Aduuh..."
Chiara tertawa. Ia paham maksud Zaid.
"Setelah ini akan kujelaskan," kata Chiara.
Rhys bergabung ke meja makan. Ia menyeruput teh hangat di meja.
"Saat aku pulang, aku lihat dinding teras belakang sedikit hancur. Apa hari ini ada penyusup lagi?" tanya Rhys pada Chiara.
"Ya, Ayah."
"Hmmm... Selalu saja..."
Sementara itu, Zaid sudah kembali duduk lagi. Ia masih memegangi kepalanya. Kesakitan.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Setelah sarapan, Zaid masuk ke kamar; sementara Chiara masih sibuk mencuci piring; Sedangkan Rhys pergi ke luar. Entah ke mana.
Zaid merebahkan dirinya di kasur kayu itu. Ia menatap langit-langit. Pikiran Zaid menerawang.
Sebenarnya aku di mana, pikir Zaid. Bayangan ketika ia mengejar kucing abu-abu yang menyebabkannya jatuh ke jurang, lantas ketika sadar ia sudah berada di ruangan ini. Kamar Chiara.
"Hei, apa Kak Chiara ada?" suara anak kecil terdengar. Membuat lamunan Zaid terhenti.
Zaid menoleh ke sumber suara. Ia mendapati seseorang di luar jendela, anak perempuan enam atau tujuh tahun dengan rambut pirang dan bergelombang, matanya hijau, kulitnya pucat, Elena.
"Aku tidak tahu. Sudahlah, pergi sana!"
"Hmmm... jahat sekali! Padahal aku bertanya baik-baik." Elena merengut. Dia berbalik, hendak pergi.
Lalu tak lama, terdengar suara pintu dibuka perlahan, membuat Elena kembali berbalik, melihat ke dalam kamar dari luar jendela. Tatapannya menuju pintu, sosok itu terlihat.
"Kak Chiara!" seru Elena riang. "Boleh aku masuk?" Elena memohon. Mata hijaunya membesar, tampak lucu.
"Oh, hai Elena. Boleh, kalau Zaid tak keberatan." Chiara menarik kursi kayu lantas duduk.
"Aku keberatan," kata Zaid. Ia pun bangkit duduk.
"Aku tak peduli. Ini bukan rumahmu, kau lupa?" Elena kemudian naik dengan susah payah dari jendela. Ia tak dapat naik, tapi tak lama ia berubah menjadi peri kecil bersayap, lantas terbang masuk ke kamar. Dan berubah ke wujud asli. Duduk di tepi kasur dekat Zaid.
"Astagaa, ya Tuhan! Apakah aku ada di alam mimpi? Tuhan bangunkan aku!" Zaid merebahkan kembali tubuhnya dengan kedua tangan terbuka, lantas ia mencubit pipinya sendiri. Sakit. Ini bukan mimpi.
"Apa sebenarnya semua ini?" Zaid, sambil berbaring, ia bergumam pelan. "Ramalan apa yang dimaksud, kucing itu, tanda bunga es, apa maksudnya, aku akan jadi penyihir es, kekuatan semacam tumbuhan dan tanah liat, dan sekarang anak telinga goblin itu bisa menjadi peri kecil." Zaid ternyata masih mengingat hal-hal aneh yang ia lihat selama setengah hari ini.
"Apa katamu? Goblin? Jangan menghina sembarangan, ya! Aku bukan goblin!" Elena tak terima. Ia pun mendengus kesal.
Chiara tertawa. "Baiklah... Mungkin ini waktu yang tepat," kata Chiara. Ia menarik kursi, mendekatkannya di samping ranjang.
Setelah menghela napas, Chiara pun mulai menjelaskan.
"Harus kukatakan dulu, sebenarnya, kau tidak sedang di masa lalu atau pun masa depan. Hanya, kau berada di planet yang berbeda," tutur Chiara. "Kau masih ingat 'kan, ketika kau mengatakan 'planet Bumi', aku dan yang lain terkejut. Kenapa? Karena ini bukan planet bumi, tetapi planet Imub."
"Hah, jadi... Kalian itu alien?"
"Tidak! Tidak! Kami bukan alien, Zaid," jelas Chiara.
"Ya, kami bukan alien, tapi kau yang alien," celetuk Elena. Ia ikut nimbrung. Tubuhnya sampai sedikit maju ke depan. Kedua tangan mungilnya berpegangan di tepi ranjang.
Zaid kesal ia baru saja hendak memaki, tapi Chiara memutuskan melanjutkan penjelasannya.
"Tidak, Elena... Kita, dan Zaid, juga orang-orang di planet Bumi bukan alien. Nenek moyang kita sama." Chiara mengatakannya sambil menggeleng.
Muka Zaid dan Elena bingung.
"Ee... baiklah, seperti ini, menurut catatan sejarah, dulu planet Imub ini merupakan peradaban yang maju. Berbagai teknologi hebat telah diciptakan. Entah itu hologram, jetpack, pesawat tempur canggih, robot-robot, kendaraan yang beroperasi otomatis, semuanya sudah ditemukan sejak lama.
"Ditambah lagi, manusia dan elf di planet Imub mempunyai kekuatan sihir alami. Ilmu sihir pun sudah sangat berkembang waktu itu.
"Namun, di saat masa kejayaan teknologi dan persihiran itu, ada beberapa orang ilmuwan yang mempunyai rencana gila. Mereka adalah kelompok ilmuwan berjumlah 19 orang yang terkenal pada masa itu. Para ilmuwan ber-19 itu berencana untuk membuat obat keabadian, setelah dirasa berhasil, mereka menangkap lima orang sebagai kelinci percobaan, dan setelah itu muncul masalah baru.
"Kelima orang kelinci percobaan itu, bukannya abadi, mereka malah seperti tak sengaja diracuni, mereka berubah menjadi sosok yang mengerikan. 3 dari mereka menjadi makhluk yang sekarang disebut sebagai goblin; dua sisanya menjadi orc. Mereka juga seperti kehilangan akal sehat mereka, menyerang orang-orang di sekitar.
"Dan pada masa itulah, awal pandemi virus orc dan goblin. Atau disebut juga dengan virus orc-Goblin 19. Karena virus itu secara tak sengaja tercipta oleh ilmuwan ber-19." Chiara menghela napas sejenak. "Dan sayangnya mereka ber-19 terinfeksi virus yang mereka buat sendiri secara tak sengaja. Mereka tak menyiapkan semacam obat pemunah terlebih dahulu, untuk berjaga-jaga jika obat abadi itu gagal."
"Senjata makan tuan," celetuk Elena.
"Dalam waktu kurang dari satu hari, virus orc Goblin 19 telah menginfeksi satu kota. Seluruh orang di kota itu telah menjadi orc dan goblin. Presiden langsung memerintahkan untuk mengevakuasi anak-anak, kurcaci dan lansia ke tempat tinggal para kurcaci di bawah tanah. Hewan-hewan juga dievakuasi; segala jenis biji-biji tumbuhan juga dikemas dan diawetkan untuk kemudian ditanam kembali jika situasi sudah aman di permukaan.
"Para ilmuwan yang lain mencoba membuat semacam vaksin, tapi, itu membutuhkan waktu yang lama, dan virus itu keburu cepat menyebar.
"Karena virus orc Goblin 19 seperti virus zombie, dan cepat sekali menyebar, dalam waktu kurang dari 2 minggu sudah menginfeksi setengah benua, Presiden memerintahkan untuk memerangi mereka semua. Menteri Pertahanan langsung memerintahkan untuk mengaktifkan semua robot-robot sekaligus, para penyihir juga turun ke lapangan.
"Presiden juga memerintahkan untuk melakukan ekspedisi, 30 roket antar galaksi diterbangkan untuk mencari planet baru, kalau-kalau planet Imub sudah tak dapat untuk ditinggali.
"Pada saat itu, sudah ada dua planet yang menjadi calon, planet Nars dan planet Relpek 254B. Tetapi karena masih dalam penelitian dan belum dipastikan benar-benar aman, Presiden meminta untuk mencari satu planet lagi.
"Dan setelah pencarian yang lumayan lama, di galaksi Bimasakti, planet yang tampak mirip dengan planet Imub ditemukan, yang kemudian diberi nama 'Bumi'."
Chiara menghirup napas dalam-dalam, ternyata bercerita melelahkan juga.
"Lalu," kata Elena, "apa yang terjadi seterusnya?"
"Hhmmm... Sekarang sudah pukul sepuluh malam. Mungkin besok saja aku lanjutkan, oke?"
Elena dan Zaid kecewa, mereka menatap jam dinding di kamar itu, benar, sudah pukul sepuluh.
Chiara tertawa, lantas menyadari sesuatu dan bertanya, "Oh ya, omong-omong, kenapa kau mau mengunjungiku, Elena? Ada yang bisa kubantu?"
Elena sampai lupa tujuan utamanya ke sini. Astaga, sekarang sudah larut, bagaimana dia pulang?
Rhys tidak kelihatan batang hidungnya. Mungkin begadang di luar, entah di mana (biasalah, bapak-bapak).
"Astaga aku hampir lupa! Aku cuma mau bilang padamu," Elena berkata pada Chiara, " besok malam para kurcaci mengadakan festival besar-besaran di ruang bawah tanah tempat tinggal mereka. Lebih tepatnya, di bawah gunung Oru. Aku ingin ke sana, kau temani, ya?" Elena memohon.
"Itu saja? Baiklah. Mungkin Zaid juga tidak ada salahnya ikut apa kau tak keberatan?"
"Hmmm, dia?" Elena menunjuk Zaid. "Aku keberatan."
"Hei, tapi seharian ini dia tidak ke mana-mana, akan bagus kalau dia keluar, beradaptasi dengan lingkungan barunya,"jelas Chiara.
"Hmmm... Baiklah," kata Elena sambil menguap. Lalu ia bertanya lagi, "Kak Chiara, boleh aku menginap semalam di sini? Aku tidak mungkin pulang sekarang." Elena yang duduk di tepi ranjang langsung merebahkan tubuhnya di kasur.
"He-hei, ini kamarku!" seru Zaid.
Elena ternyata hanya dalam hitungan detik sudah tertidur pulas.
Melihat Elena tidur sangat nyenyak, Zaid tidak tega untuk membangunkannya, apalagi dia tertidur dalam waktu yang singkat, juga dia masih anak kecil, jelas dia sangat kelelahan.
"Hmmm... Baiklah," kata Zaid, "Apa boleh buat."
Ia pun menarik selimut, menyelimuti Elena. Ia awalnya hendak tidur tanpa selimut, tetapi dia juga merasa kedinginan. Ia pun menyelimuti dirinya juga, satu selimut dengan Elena---dengan jarak tentunya. Tapi ketika ia memejamkan mata, ia masih merasa kedinginan, ia pun bangkit duduk dan melihat jendela di sampingnya masih terbuka. "Astaga! Pantas saja aku kedinginan!" Ia pun menutup jendela, dan lekas tidur.
Chiara meninggalkan mereka berdua, ia hendak ke kamar lain, tetapi sebelum itu ia mematikan lampu kamar itu.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments