"Ramalan? Astaga... Jangan membuatku bingung," kata Zaid.
Rhys balik badan, berjalan menghampiri ranjang Zaid, lalu membungkuk. Mereka beradu pandang.
"Tetapi... Ada yang harus kutanyakan terlebih dahulu padamu, Nak." Rhys mulai bicara. "Kau bilang, kau mengingat sesuatu, sesuatu apa yang kau ingat?"
"Eee... Aku hanya ingat, aku jatuh ke jurang, lalu di dasar jurang terdapat aliran air sehingga aku selamat. Aku tak tahu harus ke mana, aku hanya berenang mengikuti arus sampai kehabisan tenaga dan aku perlahan tenggelam dan saat sadar aku sudah ada di sini dengan anak menyebalkan itu." Zaid melirik Elena.
Elena geram. Ia tak terima.
"Sudah jelas," kata Rhys. Ia menegakkan tubuhnya, tidak membungkuk lagi. Sesaat kemudian ia tampak berpikir.
"Sudah jelas? Maksud Ayah?" Chiara masih bingung, ia bertanya lewat ekspresi muka. Juga Elena, ia menatap Rhys penuh tanda tanya.
"Dia secara tak sengaja masuk ke portal di dasar jurang yang tertutup kabut di planet bumi. Yang memindahkannya kemari. Ke kota ini."
"Maksud Ayah, dia keluar dari portal yang ada di dasar sungai kota ini? Tapi bukankah tempat itu dijaga oleh belasan penyihir yang cukup hebat?"
"Ya, tapi bisa saja mereka lengah."
"Hmmm, mungkin saja sih." Chiara menekan pipi dengan telunjuk.
Rhys menghela napas, lantas berkata, "Tapi ada satu hal lagi yang perlu kita selidiki."
Rhys berjalan ke belakang Zaid dan secara tiba-tiba merobek bagian belakang baju Zaid.
Elena, Chiara, dan terlebih Zaid terkejut melihat bajunya (baju yang dipinjamkan Chiara), dirobek olehnya.
Rhys juga kaget, tetapi ia kaget karena melihat sesuatu di punggung Zaid. Ia berseru, "lambang Bunga es!"
Zaid, Elena, serta Chiara kaget. Elena yang duduk di tepi ranjang merangkak ke belakang punggung Zaid, penasaran. Chiara bangkit dari kursi, ia juga ingin melihatnya.
"Bunga es? Zaid ternyata kau terlahir dengan kekuatan es. Kau akan menjadi penyihir es," terang Chiara.
"Hah? Apa? Kekuatan?"
"Ya, mungkin kau adalah keturunan si Dewa Es Freezor yang kesekian."
Elena menempelkan telapak tangannya ke punggung Zaid. "Dingiiin..."
"Hei, jangan sentuh punggungku!" kata Zaid. "Hei hentiikaan!"
"Haha, Elena memang seperti itu. Selalu antusias terhadap sesuatu yang ia belum pernah lihat," jelas Chiara. "E, tapi omong-omong, apa kau tidak pernah menyadarinya, Zaid?"
"Tidak, aku tak pernah menyadarinya," jawab Zaid. "E, hei hentikan! Jauhkan pipimu dari punggungku!" Zaid baru menyadari Elena menempelkan pipinya di punggungnya.
Elena tak menghiraukan. Ia masih saja menempelkan pipinya.
Zaid tiba-tiba mengingat sesuatu, yang sesaat membuatnya tak acuh terhadap tingkah laku Elena terhadap punggungnya "Oh ya kucing itu! Aku baru ingat, aku jatuh ke jurang gara-gara kucing itu. Yaa... Itu karena aku mengejarnya juga sih. Tapi yang uniknya, kucing itu bisa berteleportasi."
Dzing, di saat yang hampir bersamaan kucing itu muncul.
"Nah, itu dia!" Zaid menunjuk kucing yang muncul di lantai dekat ranjang tempatnya duduk.
"Vin! Kau ke mana saja?" Elena turun dari ranjang---sedikit kesusahan karena dia masih pendek. "Jangan kabur-kaburan melulu... Kau tahu? Aku mencarimu ke seluruh kota sejak pagi." Elena mengelus-elus kucing abu-abu berbulu lebat itu, ia lalu duduk dengan kaki dilipat ke belakang lalu kucing itu diletakkan di atas pangkuannya sambil terus dielus. Kucing itu menggeram manja.
Astaga mungkin ini alasan kenapa dia menempelkan pipinya di punggungku, pikir Zaid, ternyata dia sering melakukannya pada kucing itu. Hmm... Memangnya aku dianggap apa? Kucing?
Elena---yang sekarang menempelkan pipinya ke punggung kucing yang diangkatnya, bangkit berdiri. Sambil membawa kucing dalam pelukannya, ia melangkahkan kakinya keluar kamar. "Kak Chiara, Paman Rhys, aku pamit pulang yaa... Sampai jumpaa..."
Mendengar namanya tak disebut, Zaid berkata, "Di sini ada 3 orang selain dirimu."
Elena mendengus, "Kau bukan pemilik rumah ini, untuk apa aku pamit padamu?"
"Heeeehh... Dasar menyebalkaan!" Zaid mengepalkan tinju, hendak turun dari ranjang dan mengejarnya.
Chiara tertawa kecil, "Sudahlah jangan hiraukan dia."
Zaid mencoba melenyapkan kekesalannya. Menarik lalu membuang napas. Kepalan tangannya melonggar.
"Aku ada perlu. Chiara, kau jaga anak itu," titah Rhys. Lalu ia keluar kamar.
"Ba-baik, Ayah." Chiara menyanggupi, lalu berkata pada Zaid, "Zaid, kau istirahatlah... Aku tinggal dulu, maaf, yaa..." Chiara meninggalkan Zaid sendirian di kamarnya.
"Kalau kau ada perlu, teriak saja namaku! Aku tidak akan perggi jauh dari rumah." Seruan Chiara terdengar di ruangan lain.
Hhhmmm... Dasar. Bilang pada ayahnya ia akan menjagaku, pikir Zaid, tapi aku ditinggal.
Zaid memutuskan untuk tidur, ia pun menarik selimut, lalu memejamkan mata.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments