Zaid menangis.

Rhys mengelap wajahnya yang basah dengan handuk. Ia baru selesai mandi setelah Zaid. Sedangkan Zaid duduk menghadap tv hologram di ruang tengah, ia merasa tak enak jika harus makan duluan.

"Polisi masih menyelidiki siapa pelaku dan apa motif penghancuran gedung di kota Grythwil. sejauh ini, polisi telah menemukan markas yang ditinggal kabur oleh si pelaku, dan pabrik terbengkalai ini masih dalam penyelidikan lebih lanjut," tutur sang wartawan di televisi hologram yang sedang ditonton Zaid yang sedang duduk.

TV hologram itu tiba-tiba mati. Rhys yang mematikannya.

Rhys tampak sudah berganti pakaian, ia berjalan menuju meja makan. "Hei, Zaid, sudah. Ayo makan."

Zaid pun menurutinya, ia sebenarnya memang ingin segara makan.

Aleyna tampak menghampiri pintu kamar Chiara. "Chiara, makan, Sayang," serunya.

"Tidak, Ma! Aku ngantuk banget nih!"

"Hmmm... Anak itu selalu saja. Jangan biasakan tidur terlalu larut, Sayang!" Aleyna berjalan menuju meja makan dan duduk. Di sana sudah ada Rhys dan Zaid.

Kalian tidak tahu, Chiara memang suka tidur larut malam, ia suka meracik obat-obatan tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya; untuk keperluan diri sendiri, atau untuk dijual dan uangnya ia tabung. Atau jika tidak, Chiara membaca buku-buku sejarah tentang apapun. Apalagi tentang 'persihiran'.

Selang beberapa saat tidak ada yang bersuara, hanya terdengar suara piring dan sendok serta garpu yang beradu.

"Berapa usiamu, hmm?" tanya Aleyna pada Zaid.

"Dua belas," jawab Zaid datar.

"Oh, ya, flashdisk ini," Aleyna menunjukkannya pada Zaid, "saat aku coba pasangkan pada gadgetku, flashdisk ini seperti tidak berfungsi. Mungkin karena flashdisk ini menggunakan komponen lama, jadinya sudah tidak bisa. Dan jika dilihat-lihat, di sini ada singkatan ORT, jelas sekali ini berasal dari kota Orithorne. Mungkin aku akan menemui ahli teknologi atau mencari barang antik agar benda ini bisa berfungsi," kata Aleyna panjang lebar.

Zaid nampak tidak tertarik. Palingan ramalan lagi, menyebalkan, pikirnya.

"Chiara sudah cerita semuanya mengenai dirimu tadi malam, Nak. Aku tak menyangka kau bukan berasal dari sini. Lebih tepatnya berasal dari galaksi yang berbeda. Tetapi untungnya kita menggunakan bahasa yang sama." Aleyna tertawa kecil. "Chiara juga bilang bahwa kau adalah anak ramalan, kami semua mengharapkan ramalan itu memang ada, dan kuharap ramalan itu benar, tidak meleset."

Zaid diam saja. Ekspresinya tampak sedikit cemberut. Tuh, 'kan, ramalan lagi, batin Zaid, menyebalkan.

Aleyna mengerti. "Kuharap kau suka tempat barumu ini." Aleyna mencoba tersenyum. "Maaf kami tak bisa berbuat apa-apa. karena aku sendiri tak tahu di mana letak--"

"Kau, setelah ini ikut denganku. Ada sesuatu yang penting," kata Rhys pada Zaid datar. Memotong kalimat Aleyna. Ia merasa bahwa kalimatnya lebih baik ia potong. ia kasihan melihat ekspresi anak itu, yang seperti mau menangis namun terus ia tahan.

Zaid sebenarnya bukan anak yang cengeng. Tetapi, siapa yang tak sedih jika harus berpisah dengan kedua orangtua? Lebih lagi, Zaid masih hidup, orangtuanya pun kemungkinan masih hidup, itu berarti seandainya ia tak jatuh ke jurang dan terjebak di planet yang berbeda, ia masih berkesempatan untuk setidaknya melihat wajah kedua orangtuanya.

Zaid, ia berpikir seandainya ia tahu takdir akan seperti ini, dan ia memang tak bisa mengelak dari takdir ini, kalau memang harus terjadi seperti itu, setidaknya ia ingin menyampaikan berita kepada orangtuanya bahwa ia masih hidup di dunia lain. Walau tak mungkin dan mustahil baginya untuk sekedar berkomunikasi dengan ayah-ibunya, untuk sekedar mendengar suaranya. Ia merasa dengan orangtuanya tahu jika ia masih hidup, itu sudah cukup membuatnya bahagia. Tapi, sayangnya mungkin tak seperti itu kenyataannya, mungkin orangtuanya mengira ia sudah tewas di dasar jurang dan jasadnya sudah membusuk.

Zaid, lihatlah anak itu, seberapa kuat ia manahan rasa tangis, bendungan air mata di kantung matanya perlahan dapat tertembus, satu tetes dua tetes air mata mulai mengalir membasahi pipinya, menandakan kesedihan yang amat sangat. Meski anak itu menangis setengah bersuara, justru itulah tangisan yang sangat pedih yang mau tak mau harus ia rasakan. Bukan tangisan yang menjerit-jerit lebay karena ditinggal nikah pacar yang sangat menyedihkan, tetapi sebaliknya tangisan yang tertahan, itulah tangisan yang sangat menyedihkan.

Aleyna dan Rhys, kedua suami-istri itu hanya menatap Zaid yang terus tertunduk menahan tangisnya. Membiarkan tangisan itu reda oleh sang waktu.

Aleyna, ia merasa bersalah.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

"

Terpopuler

Comments

WiraBP

WiraBP

lanjut! semangat terus🔥

2023-09-15

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!