Gelap. Tidak ada yang terlihat.
Lalu tak lama setelah itu Zaid perlahan membuka matanya. Pandangannya masih buram, baru setelah beberapa saat ia dapat melihat dengan jelas. Di penglihatannya ia melihat anak perempuan berusia sekitar 6 atau 7 tahun. Rambutnya panjang bergelombang, dan sedikit pirang, kulitnya putih pucat. Mata hijaunya persis hanya satu jengkal dari mata Zaid. Namun yang unik adalah telinganya. Telinganya yang runcing.
"Kakak, dia sudah si-su-siu-silu.... Ah iya, Kakak, dia sudah siluman!" seru anak itu sambil meletakan tangan kirinya di sudut bibir. Punggung tangannya menghadap ke samping. Ia tak tahu sudah salah mengatakan kata 'siuman'.
"Oh, ya?"
Seruan itu berasal dari ruangan lain. Seruan remaja perempuan.
Zaid yang berbaring di ranjang kayu sederhana terpana dan sedikit kaget melihat telinga runcing anak itu---yang duduk di tepi ranjang, apakah ini mimpi? Atau aku ini sebenarnya sudah mati? Astaga, ya Tuhan! Bidadari kecil ini tampak sangat lucu dan menggemaskan, pikir Zaid.
"Hei, kenapa kau menatapku begitu?" anak perempuan itu heran.
"Eh, tidak! Bukan itu maksudku." Zaid salah tingkah. "Tapi..." Zaid mengangkat tangannya hendak menyentuh telinga runcing itu.
Tiba-tiba, anak itu menjabat tangan Zaid, dan berkata, "Oh, kau mau kenalan... Namaku Elena, kau?"
"E-e aku Zaid," jawabnya terbata. Ternyata aku belum mati, batinnya.
"'Zaid'? Haha, nama yang aneh!"
Zaid bangkit dari ranjang dan berseru, "Apa katamu?"
"'Nama yang aneh', apa kau tidak dengar?" kata Elena merasa tak bersalah.
Zaid bangkit lalu duduk dan menunjuk Elena. "Ka-kau, dasar! Agh." Tiba-tiba kepalanya pusing. Zaid memegangi kepalanya dengan salah satu tangan.
"Ka-kau tidak apa?" Elena merasa cemas. "Kakak cepat ke sini! Kenapa kau lama sekali?"
Terdengar seruan, "Ya, sebentar!" lalu diikuti suara langkah kaki masuk ke kamar.
"Astaga, kau tidak apa-apa?" Remaja perempuan itu langsung berlari menghampiri.
"Tidak, tidak, aku baik-baik saja. Hanya sedikit pusing," jelas Zaid.
"Sebaiknya kau istirahat saja dulu. Jangan terlalu banyak bergerak," kata remaja perempuan berambut panjang pirang itu.
Zaid menurut, ia kembali berbaring di ranjang lalu bertanya, "Sebenarnya, apa yang terjadi? Dan... Kenapa aku bisa berada di sini?
"Oh, Kakak Chiara menemukanmu hanyut di sungai saat mencuci pakaian, lalu ia membawamu ke sini," jelas Elena. "Sebaiknya kau istirahat saja. Kau tak perlu bergerak lagi untuk berkenalan dengan Kak Chiara, aku sudah memberitahumu namanya. Astaga, aku tak menyangka hanya dengan menggerakkan tangan kau bisa pusing, apalagi kalau kau dijadikan pembantu di sini, mungkin kau sudah pingsan, atau bahkan mati," Elena terus saja berbicara. Sekali lagi tanpa 'rasa bersalah'.
"Jaga ucapanmu, Elena," tegur Chiara. "Eee... Baiklah, apa kau sudah makan? Eee... Siapa namamu?"
"Zaid." Elena yang menjawab.
"Eee... Zaid apa kau mau makan? Kau pasti lapar." Tangan Chiara membawa semangkuk bubur.
Perlahan Zaid pun duduk lagi, seperti mengatakan 'Ya aku lapar'.
"Ini. Makanlah." Kedua tangan Chiara menyerahkan semangkuk bubur. Ia lalu menarik kursi kayu dan duduk memerhatikan Zaid makan. Juga Elena.
"Berapa usiamu?" Chiara bertanya memecah hening.
"Dua belas."
Setelah itu kembali hening beberapa saat sampai Zaid menghabiskan buburnya.
Zaid mengelap ujung bibir dengan lengan baju kirinya, dan baru menyadari sesuatu.
"Eh, pakaianku, kenapa aku mengenakan pakaian perempuan? Dan ke mana pakaianku?" Zaid heran dan sedikit terkejut.
"Oh, itu pakainku waktu kecil. Pakainmu sengaja diganti. Karena basah, aku jemur di luar."
Zaid sekali lagi terkejut. "Jadi, yang mengganti pakaianku..." Zaid menatap Chiara.
"Eee... Tidak, tidak, bukan aku yang melakukannya, tetapi ayahku," jawab Chiara ketika ia mengerti maksud Zaid.
"Yah, aku yang mengganti pakaianmu. Menjijikan. Aku tak mau melakukannya lagi untuk kedua kalinya." Orang itu memasuki kamar. Dia tinggi besar, janggut dan rambutnya tebal, Sebagian sudah memutih.
"Dia Paman Rhys, ayah Kak Chiara," jelas Elena. "Sekarang kau tak perlu berkenalan dengannya."
"Aku tak peduli." Zaid meletakkan mangkuk di meja di dekatnya. "Aku hanya ingin tahu, sebenarnya aku berada di mana? Aku ada di belahan bumi mana? Dan... Kau, Elena... Apa tadi kau bilang? Aku hanyut di sungai? Ah... Sepertinya aku mengingat sesuatu. Aku---"
"Apa tadi kau bilang? 'Bumi'?" tanya Chiara, setengah kaget, setengah tak percaya. Juga Elena dan Rhys---walaupun sebenarnya Rhys tampak hanya sedikit kaget jika dilihat dari raut wajahnya.
"Yah, bumi. Memangnya apa yang salah?"
"Astaga, Ayah... Ramalan itu... Apakah mungkin dia..." Chiara tampak semakin tidak percaya, ia menoleh menatap Zaid. Juga Rhys, ayahnya.
Rhys berjalan perlahan ke arah jendela, memandang keluar. "Ya... Ramalan itu... Tidak salah lagi. Dialah anak itu..." gumam Rhys.
"Ramalan?" Elena bertanya heran dan penasaran. "Ramalan apa?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
CahNdablek
tata bahasa sudah bagus dan kalimat dan pengetikan juga bagus bahkan tanda dalam pengetikan sudah pas pada letak nya
lanjutkan 👍👍
2023-10-20
2
Dimas Setiawan
kipassss
2023-10-19
0