Siapa Saja Mereka "Bertujuh"?

Besok pagi harinya, di halaman belakang rumah, tampak Rhys yang berdiri memerhatikan beberapa kurcaci yang sedang memperbaiki dinding yang retak akibat keributan kemarin.

Chiara menyuruh Zaid yang baru bangun untuk segera mandi; sedangkan dirinya sudah mandi sejak ia pulang dari mengantar Elena ke rumahnya pagi-pagi sekali.

"Ke mana anak itu?" tanya Zaid setengah sadar sambil berjalan malas ke kamar mandi.

"Elena sudah kuantar pulang."

"Oh... Baguslah." Zaid menguap.

"Setelah mandi dan sarapan kau ikut aku ke pasar. Kita beli baju baru untukmu," kata Chiara.

"Baik." Zaid yang sudah masuk ke kamar mandi menutup pintu.

Kalian bisa melihat kedua kaki Zaid yang mulai dibasuh dengan air. Ia sudah mulai mandi.

"Oh ya, bajumu baru selesai kucuci tadi. Sekarang sedang dijemur. Jadi, mau tak mau kau ke pasar menggunakan bajuku lagi, Zaid," seru Chiara di dapur. Ia tengah memasak, punggungnya membelakangi pintu kamar mandi.

Baju perempuan lagi, gerutu Zaid dalam hati.

"Kenapa tidak kau saja yang membelikannya untukku?" tanya Zaid di balik kamar mandi.

"Aku maunya seperti itu," seru Chiara, "tapi aku tak tahu seleramu; aku tak tahu kau suka pakaian yang seperti apa. Jadi, lebih baik kau ikut saja."

"Rumahku jauh dari kota, mana mungkin aku peduli pakaian itu seperti apa, bagus atau biasa saja?"

"Tapi kurasa kau harus tetap ikut, Zaid. Kau perlu pakaian bagus untuk festival nanti malam," jelas Chiara. "Memangnya kau mau, saat kau datang atau pulang, kurcaci itu mengejekmu? Seperti 'Astaga kukira kemarin dia adik perempuanmu, ternyata dia pengemis kecil. Mari-mari silakan masuk, Nak', atau 'Selamat jalan pengemis kecil... Oh ya, Nak, walaupun kau seorang pengemis, mengemislah dengan benar! Jangan meminta pakaian perempuan untuk kau kenakan!'."

Zaid mendengus. "Memangnya kau anggap aku ini apa? lagi pula, memangnya ada yang menjual baju pengemis?"

"Chiara tertawa kecil. "Kalau aku pelit dan tak kasihan padamu, mungkin aku sùdah membelikannya untukmu. Untuk apa aku membuang uang banyak?"

Zaid tidak menjawab. Bahkan sekarang tidak ada jawaban samasekali di kamar mandi. Jelas sekali dia kesal.

Tak ada timpalan dari Zaid, Chiara berkata, "Tidak-tidak aku hanya bercanda."

Chiara lalu tertawa lagi. "Lebih baik kau percepat mandimu, maaf sudah membuat mandimu sedikit lebih lama.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Setelah selesai sarapan, Zaid dan Chiara langsung pergi menuju pasar dengan berjalan kaki.

"Hhhhh... Kenapa kita harus berjalan kaki ke sana?" keluh Zaid.

"maaf aku tak punya kuda. Lagi pula jarak menuju pasar tidak terlalu jauh.

Zaid menghela napas, pasrah. Lalu ia memerhatikan sekitar, ia memerhatikan rumah-rumah di kanan kirinya, kebanyakan dinding rumah-rumah itu terbuat dari papan kayu. Beberapa yang lain berdinding batu. Ia juga baru saja melewati lumbung, juga bangunan tempat pandai besi bekerja.

Suara derap kuda perlahan terdengar dari arah belakang keduanya, makin lama suara derap kuda itu makin kencang, tetapi Zaid dan Chiara tak menghiraukannya, hingga kuda itu tepat di samping mereka.

"Hei, Gadis Cantik, apa kau butuh tumpangan?" sapa lelaki paruh baya itu, yang tak lain adalah tukang kereta kuda.

Chiara menoleh, "Oh, tak perlu paman."

"Hei, ayolah... kita naik kereta kuda saja," bujuk Zaid.

"Tidak, Zaid, aku tak membawa banyak uang, lagi pula sebentar lagi kita sampai."

Mendengar percakapan keduanya, tukang kereta bertanya, "Memangnya kalian mau ke mana?" Kalau tidak jauh, biar kuantarkan saja, kalian tak perlu membayar," tawarnya.

Chiara merasa tak enak. "Ee... Tidak-tidak, sungguh tak perlu. Kami sebentar lagi sampai. Mungkin sekitar satu kilometer la--"

"Kak Chiara!" seru Zaid, "kenapa kau masih mengoceh di sana? Cepat! Naik saja!" Zaid ternyata sudah naik sejak tadi.

Chiara makin tidak enak.

"Sudahlah, ayo cepat naik, jangan malu-malu. Adik perempuanmu saja tidak malu," bujuk tukang kereta.

Chiara pun akhirnya naik. Sebenarnya ia ingin tertawa mendengar sebutan 'adik perempuan', tetapi urung saat melihat muka Zaid yang kesal menatap dirinya.

Chiara terpikirkan sesuatu, tapi...

tunggu, mungkin memang harus seperti itu, pikirnya.

"Sudah?" tanya tukang perahu yanpa menoleh ke belakang. Tanpa menunggu jawaban, ia pun menarik kekang, memacu kuda.

Chiara dan Zaid fokus menatap ke depan.

"Siapa nama kalian berdua?"

"Namaku Chiara, dan dia Zaid, adikku, Paman," kata Chiara memperkenalkan.

"Eh, sejak kapan kau jadi kakakku?" timpal Zaid. Ia tak mengerti kenapa Chiara tiba-tiba bicara seperti itu.

Chiara memberi isyarat untuk diam. "Ssst!"

"Soal itu, aku sebenarnya tahu anak itu laki-laki, hanya... entahlah kenapa dia memakai baju merah muda. Dan soal apakah dia adikmu atau bukan, aku sebenarnya hanya asal bicara saja. Aku tak menyangka kalian memang kakak-adik, padahal kalian tidak mirip," jelas tukang kereta panjang lebar.

Chiara tampak berpikir. "E, ya, karena dia adik angkatku. Sekitar lima tahun lalu, ayahku menemukannya sedang menangis di pinggir jalan, ia juga tampak kebingungan. Ia hanya terus berkata, 'ibu! Ibu! Kau di mana?', sambil terus menangis. Dan karena kasihan, ayah angkatku membawanya pulang dan mengangkatnya sebagai anak. Mungkin itulah sebabnya kenapa kami tidak mirip."

"Ooh, begitu..."

"Dan soal baju merah muda itu," jelas Chiara lagi, "sebenarnya itu bekasku, Paman. Semua pakaian Zaid sudah kekecilan untuk dipakai. Dan sayangnya baru hari ini bisa membelikan pakaian baru untuknya. Karena ekonomi keluargaku sedang kurang baik, aku terpaksa menggunakan tabunganku."

Zaid tak tahan untuk tak berbisik. "Kak Chiara, sebenarnya apa yang kau bicarakan?"

Chiara memberi isyarat untuk diam.

"Kau beruntung punya kakak yang baik, Nak," kata tukang kereta tanpa menoleh. "Baiklah, kita sudah sampai."

Chiara dan Zaid turun. Chiara mengucapkan terima kasih.

Chiara dan Zaid mulai memasuki pasar, yang kebanyakan yang berjualan adalah para kurcaci, sedangkan sebagian lagi elf dan manusia.

"Tadi---" omongan Zaid terpotong.

"Maaf, Zaid, begini... Di mata orang-orang, kau adalah orang asing. Tidak ada yang pernah melihatmu sebelumnya. Dan mereka mungkin akan bertanya, 'siapa namamu?', 'di mana kamu tinggal?', 'siapa atau di mana orangtuamu?'," jelas Chiara. Ia menghirup udara lalu melanjutkan, "dan dikarenakan kau tinggal di rumahku, juga kau tak ada orang dekat di sini, maka anggap saja aku dan ayahku adalah keluargamu, kau mengerti?"

"aku keluargamu? Hmmph! Enak saja! Aku juga punya keluarga dan lagi, sebenarnya aku ingin pulang."

Chiara menghirup napas. "Sangat sulit bagimu untuk pulang, Zaid. Portal menuju planet bumi itu dijaga ketat. Dan tidak ada yang tahu di mana portal itu, hanya hitungan jari yang tahu. Tidak mungkin jika harus menelusuri setiap jengkal sungai. Kalaupun kau berhasil menemukannya, dan masuk ke dalam portal, bagaimana kau akan memanjat tebing tinggi itu saat kau tiba di planet Bumi?"

Zaid terperanjat kaget mendengar kalimat terakhir yang dilontarkan Chiara bagai roket. Ya Tuhan, benarkah aku tak bisa pulang?

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Di ruang tamu yang jendela dan pintunya tertutup rapat, gelap, dua orang lelaki itu duduk berhadapan dibatasi meja. Yang satu berpakaian seperti penyihir, memakai jubah dan topi penyihir berwarna hijau tua; yang satu lagi adalah Rhys.

Tangan itu mengangkat cangkir teh, lalu mulut itu menyeruputnya perlahan. Setelah cangkir diletakkan, mulut itu bersuara, "Kau yakin dia anak ramalan itu?" Tanya penyihir itu. Suaranya serak-serak kering.

"Ya, aku lebih dari yakin," jawab Rhys mantap.

"Kalau begitu, jaga dia baik-baik. Jangan sampai ada orang lain yang tahu soal ini," titah penyihir itu.

"Baik akan kuusahakan." Rhys mengangkat cangkir, minum.

"Kalau memang ia anak ramalan itu, entah siapa enam orang yang lain. Mereka bertujuh, semoga bisa membebaskan planet Imub dari kekacauan yang akan datang nanti," kata kakek penyihir itu penuh harap.

Di atas meja di ruang tamu itu, terdapat bola transparan sebesar kepala. Rhys dan kakek penyihir itu ternyata sedang mengintai Chiara dan Zaid menggunakan bola sakti itu. Di bola sakti itu, tampak Chiara dan Zaid sedang membeli pakaian.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Terpopuler

Comments

Desia

Desia

kok zaidnya dicerita ini belagu ya...bukannya trimakasih ditolongin/Smug/

2023-11-11

0

WiraBP

WiraBP

lanjut Thor!

2023-08-11

0

Solomon72

Solomon72

semangat Thor lanjutkan, mampir juga ya 😁

2023-08-10

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!