Aleyna

Sore hari. Jam menunjukkan pukul 04.00 sore.

Chiara bangun dari tidur, ia mencium aroma harum dari dapur.

Perutnya langsung berbunyi. Ia belum makan dari siang, tadinya ia hendak masak, tetapi tidak jadi karena suatu masalah. Kalian tahu sendiri.

Chiara langsung keluar kamar, berjalan menuju dapur. Di sana ada seorang wanita paruh baya yang tengah memasak.

"Mama?" Celetuk Chiara.

Orang yang dipanggil 'mama' itu setengah berbalik badan, tampak wajahnya mirip Chiara; rambutnya pirang dipotong sedagu, kulitnya pucat dan sedikit berkerut. Ia memakai kacamata. Ia tersenyum pada Chiara.

"Astaga, Mama, kenapa kau tidak bilang-bilang akan datang ke sini?" Chiara berjalan menuju mamanya sambil merentangkan kedua tangan, mamanya menyambutnya, mereka berpelukan.

"Kejutan!" Kata mama Rafela. Namanya Aleyna.

Mereka menyudahi pelukan, Chiara memerhatikan wajan ukuran sedang di sana.

"Wah harum sekali," ujar Chiara.

Aleyna kembali ke pekerjaannya.

"Oh ya, Ma, bagaimana keadaan di kota Grythwil?"

"Tidak banyak berubah, Nak. Hanya yang berbeda sekarang sedang ada pembangunan gedung. Kabarnya, gedung itu akan menjadi gedung tertinggi ketiga di seluruh dunia."

"Wow! Boleh ajak aku ke sana nanti, Ma?"

"Ya... sekarang gedung itu masih belum selesai. Mungkin kalau mama ada cukup uang kita akan ke sana."

Sesaat hening. Aleyna fokus memasak di kompornya; Chiara memerhatikannya memasak.

"Oh ya, saat mama baru masuk ke rumah, kukira yang menyambut adalah kau, ternyata bukan, yang menyambut mama seorang anak laki-laki. Siapa dia? Apakah dia tamu kita, atau dia izin menginap di sini?" Tanya Aleyna memecah hening.

"Oh, anak itu namanya Zaid. Ya, dia menginap di sini," jawab Chiara. "Mungkin selamanya."

"Apa maksudmu?" Aleyna terkejut.

"Ya... panjang ceritanya. Nanti aku ceritakan pada Mama di lain waktu. Sekarang aku lapar, tadi siang aku tak sempat makan.

"Oh ya? Kebetulan mama tak sempat makan siang tadi. Perjalanannya panjang sekali, dan saat mama baru datang ke sini, perut mama sudah keroncongan. Untung di dapur ada bahan makanan," kata Aleyna lantas tertawa. Chiara ikut tertawa.

Sementara Zaid sibuk di kamarnya. Ia duduk di ranjang, kakinya selonjoran. Ia tengah membaca buku tua itu. Sebenarnya ia samae-samar mendengar perbincangan mereka di dapur, tetapi ia tak menghiraukannya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Aleyna meletakkan semangkuk semur ayam kecap di atas meja; Chiara meletakkan piring, sendok dan gelas. Di meja itu juga sudah tersaji teko berisi air teh, buah-buahan yang diberikan nenek itu dan sebakul nasi.

"Oh ya, pasti Zaid juga belum makan," kata Chiara, "biar kupanggil dia." Chiara pergi sambil berseru meyebut nama Zaid.

Aleyna mengelap meja dengan celemek.

Chiara membuka pintu kamar Zaid, tak dikunci. Kepala Chiara tampak di ambang pintu. Chiara memandang ke dalam, ia mendapati Zaid sedang membaca buku tua itu.

"Zaid?"

Zaid menutup buku, mengangkat kepalanya. "Ya?"

"Mari makan. Kau pasti lapar, 'kan?"

Tanpa bicara Zaid langsung turun dari ranjang, menyimpan buku itu, dan melangkahkan kaki keluar.

Chiara dan Zaid berjalan menuju dapur.

"Maafkan aku," kata Zaid.

Chiara mengerti. "Tidak usah dipikirkan. Aku yang salah," katanya sambil menggeleng.

Aleyna, Chiara, dan Zaid mulai melahap makanan mereka. Sesaat hanya terdengar suara garpu dan sendok.

"Di mana ayahmu, Chiara?" Tanya Aleyna.

"Aku baru bangun, Ma. Aku tidak tahu di mana Ayah," kata Chiara. "Zaid, apa kau melihatnya?" Chiara menoleh pada Zaid.

"Paman Rhys bilang dia mau ke suatu tempat. Dia tidak mengatakan dengan jelas ingin pergi ke mana."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!