Pertempuran Di Pasar

Kakek sihir itu bangkit. "Aku mungkin akan mendaftarkannya ke akademi sihir nanti."

Rhys ikut bangkit. Sepertinya pertemuan mereka selesai.

"Ingat, jaga dia," kakek sihir itu mengingatkan.

"Ya, Laks," kata Rhys. Ternyata kakek sihir itu bernama Laks.

Sedangkan di luar sana, tampak seorang penyihir lelaki berjubah ungu sedang memantau sekeliling kota di atas menara batu dengan teropongnya. Ketika melihat ada yang tidak beres, penyihir itu memukul lonceng raksasa yang menggantung di langit-langit menara dengan tongkat beberapa kali, menyebabkan bunyi dentang nyaring. Satu lonceng berdentang, lonceng menara yang berada di sekitar ikut dipukul. Seketika banyak bunyi lonceng berdentangan, susul menyusul. Ada yang seperti dari dekat, ada yang dari jauh. Terus merambat dari menara ke menara lainnya, hingga sampai ke menara dekat rumah Laks, tempat Rhys dan Laks berbincang secara rahasia. Lonceng itu dipukul,

Tong! Tong! Tong!

Rhys yang hendak membuka pintu kembali lagi. "Ada bahaya!"

"Ya, pasar itu diserbu goblin lagi," kata Laks. Ia memerhatikan bola sakti itu. Pasar itu memang benar-benar diserbu goblin. Beberapa orang sudah mulai bertarung termasuk Chiara.

"Kita harus pergi ke sana segera," kata Laks.

Laks segera keluar, ia sudah naik ke kuda putih di samping rumahnya.

"Kenapa tidak teleportasi ke sana saja?" tanya Rhys.

"Kita harus simpan tenaga untuk bertarung nanti. Ayo cepat kau pakai kuda yang satunya." Tanpa menunggu Rhys naik, Laks si kakek penyihir itu langsung memacu kuda. Rhys menyusul beberapa meter di belakang dengan kuda coklat. Kuda itu meringkik.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Di pasar yang kacau.

"Zaid, lari!" Titah Chiara.

Zaid mencari tempat perlindungan. Ia berlindung di balik batang pohon. Ia memerhatikan Chiara dan yang lain bertarung. Para penyihir penjaga juga sudah mulai berdatangan.

"Emaas! Cari dan curi semua emas yang ada!" titah goblin yang paling tinggi. Tingginya sampai 2 meter. Ia juga mengenakan baju zirah. Tampaknya, ia adalah pimpinan para goblin.

"Nak, ikut aku ke tempat yang lebih aman. Jangan di sini," bujuk orang itu kepada Zaid.

Zaid yang menonton keributan di balik pohon berbalik. Itu adalah penyihir berjubah ungu yang pertama memukul lonceng peringatan.

"Ayo cepat!" katanya lagi. Zaid dan anak-anak yang lain serta lansia segera digiring ke tempat yang aman.

Sedangkan Chiara, dengan kedua lengan, dari siku sampai ujung jari yang berubah menjadi akar hijau yang panjangnya sekitar 5 meter, ia terus bertarung. Di ujung kedua akar terikat belati dari bambu. Kedua tangan Chiara bagai menjadi rantai tombak. Ia di atas angin.

Tangan Chiara mengayun ke sana ke mari, satu dua goblin menghindar, beberapa goblin terluka. Ayunan rantai tombak (akar belati) Chiara gesit, dalam sekejap memukul mundur para goblin setinggi 1,5 meter.

Sedangkan goblin yang lebih pendek sibuk mengobrak-abrik kios, membakarnya dengan sihir api, mengambil semua emas yang mereka temukan lalu memasukkannya ke kantong dan lari ke barisan belakang.

Beberapa penyihir mengeluarkan jurus air dengan tangan mereka, memadamkan api.

Pemimpin goblin yang melihat Chiara memukul mundur para goblin mengangkat tombak di punggung, dan melemparnya tepat ke arah Chiara.

Dinding tanah muncul dari permukaan, melindungi Chiara dari tombak, tombak itu menancap di dinding tanah dan bergetar sesaat. Jelas tenaga goblin itu kuat.

"Kau tidak apa-apa, Nak?" Tanya penyihir itu, ia adalah salah satu penyihir penjaga.

"Aku tidak apa-apa, Paman. Terima kasih."

Pemimpin goblin itu mengeluarkan jurus, tangannya sekarang diselimuti es tebal dan tajam. Ia berlari dengan sangat cepat ke depan dengan bantuan elemen angin. Wussh. Ia meninju dinding tanah sampai hancur, sekaligus meninju penyihir penjaga yang ada di baliknya. Penyihir itu terpental 4 meter.

"Paman!" Seru Chiara.

Goblin itu maju lagi, hendak menghabisi penyihir penjaga.

Melihat situasi gawat, Chiara mengganti jurus akar belatinya dengan akar biasa. Satu tangan akar melilit tubuh penyihir penjaga, satu tangan akar yang lain menghalau para goblin dari belakangnya, lantas ia melompat sejauh 10 meter dengan bantuan kekuatan angin, menyeret penyihir penjaga itu ke belakang (dan sayangnya yang Chiara lilit lehernya, penyihir itu tercekik, kesulitan bernapas).

Chiara melepas lilitan. "Astaga, maaf, Paman. Aku tak sengaja."

Penyihir penjaga itu terbatuk. "Tidak masalah, Nak." Penyihir itu terbatuk lalu menekan dadanya dengan satu tangan. Dadanya mengalirkan darah segar. Wajar saja, es yang menyelimuti tangan goblin itu tajam dan keras, sudah melukai dadanya.

"Paman, dadamu!"

"Aku tahu." Penyihir itu mengerang tertahan.

"Paman, minumlah ini dan balut lukamu!" Chiara melemparkan botol obat kecil seukuran pion catur. Penyihir penjaga menangkapnya.

Penyihir penjaga membuka tutup botol, meminumnya. Obat yang ia minum adalah obat yang bisa meningkatkan regenerasi orang yang meminumnya, sekaligus mengurangi darah yang keluar dan menghilangkan rasa sakit untuk sementara. Ia lalu merobek lengan baju, membalut luka di dadanya.

Sementara itu, Chiara sudah mengubah jurus lagi, tangan kirinya menjadi akar hijau panjang, dengan buah durian di ujungnya, sedangkan tangan kanannya menggenggam akar itu, mengendalikannya. Sekarang Chiara tampak seperti menggunakan gada rantai versi tumbuhan (akar durian). Chiara mengayunkan akar durian itu ke arah goblin pemimpin.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Semua anak-anak dan lansia tampak memenuhi ruangan itu, termasuk Zaid di pojokan. Ruangan itu terbuat dari batu, dengan lantai papan. Tampaknya itu adalah balai kota.

Penyihir penjaga berjubah ungu itu berkata, "Tenang, tenang semuanya, semua pasti akan baik-baik saja."

"Ya, kalian semua jangan khawatir, mereka hanya gerombolan goblin. Para penyihir penjaga, orang dewasa, juga para pemuda di sana pasti akan dapat mengusir mereka, mereka pasti menang," kata penyihir penjaga wanita berambut coklat panjang keriting.

"Tapi," kata nenek tua renta, "aku melihat ada goblin yang paling besar, ia mengenakan baju zirah, mungkin dia pemimpin goblin-goblin itu. Walaupun penglihatanku banyak berkurang, aku yakin aku tidak salah lihat. Aku takut banyak yang terluka atau mungkin tewas. terlebih lagi, putraku satu-satunya ada di sana."

Pintu balai kota didobrak agak keras, penyihir penjaga yang dadanya terluka masuk dengan napas terengah-engah; lalu disusul beberapa orang yang juga terluka. Jumlah mereka tiga belas orang.

Karena kata-kata nenek itu yang seolah menjadi kenyataan, anak-anak di sana sontak menangis ketakutan, para lansia juga mulai khawatir, itu berarti orang-orang yang bertarung di sana semakin sedikit.

"Mereka terluka! Cepat, obati mereka!" Titah penyihir penjaga berjubah ungu.

Lima penyihir wanita yang ahli dalam pengobatan menghampiri mereka yang terluka, mereka mengobati dari dua yang terparah terlebih dahulu. Salah satunya yang dadanya terluka.

"Oh, Putraku, Putraku!" Nenek itu berjalan tertatih menuju penyihir yang dadanya terluka. "Kau Putraku, 'kan?" Nenek itu menatapnya lamat-lamat, "ya, kau Putraku, kau Putraku!" Setelah itu nenek itu bertanya, "Nak, dadamu terluka, apa kau baik-baik saja?"

"Ini hanya luka kecil, Bu," ujar anaknya, tetapi kemudian ia memuntahkan darah.

"Kau muntah darah seperti ini kau anggap luka kecil? lalu luka separah apa yang kau anggap bukan luka kecil, hmmm?"

"Ee, Nek, kami akan mengobati putramu semaksimal mungkin. Lebih baik Nenek duduk di sana, biarkan kami leluasa bekerja," bujuk penyihir wanita.

"Oh, ya, bagus! Bagus! obati dia, aku harap dia bisa sembuh total!" Setelah mengatakan itu, ia berjalan menuju bangku, dituntun penyihir wanita tadi.

Zaid yang menyaksikan semua yang dilihatnya merasa tersentuh, perlahan muncul rasa iba dalam hatinya. Walaupun ia sedih karena Chiara bilang bahwa ia tak bisa pulang, melihat nenek itu dan anak-anak yang terus menangis dan berkata, "Ayah, kau tidak apa-apa?", "Kakak, kenapa dengan lenganmu?", "Paman, Paman tak boleh bertarung lagi!", itu membuatnya merasa bahwa nasib mereka lebih menyedihkan dibanding dengannya yang tak bisa pulang.

Hmmm... setidaknya aku masih hidup sekarang, pikir Zaid, seharusnya aku bersyukur tidak mati saat itu. Zaid membayangkan saat-saat ia hampir mati tenggelam.

Zaid pun memutuskan untuk menghibur anak-anak itu. "Hei, anak-anak!" Zaid mulai bicara, semua orang, terutama anak-anak menoleh padanya, "seharusnya kalian bangga dengan ayah, kakak, paman, atau siapa pun itu yang menjadi keluarga atau orang dekat kalian. Kenapa? Karena mereka rela bertarung, terluka, bahkan mati demi kalian, agar kalian bisa tetap hidup sebagai penerus mereka kelak; menjadi pribadi yang lebih baik daripada mereka. Dan semua itu adalah bukti bahwa ayah, kakak, dan paman kalian menyayangi kalian," jelas Zaid berapi-api.

Para penyihir penjaga dan lansia di ruangan itu terdiam. Separuh kagum dengan kecakapan Zaid dalam berbicara, separuh lagi karena mereka mengerti kalimat yang disampaikan Zaid; tetapi anak-anak justru sebaliknya, mereka tak mengerti.

Astaga, aku lupa mereka masih anak-anak, pikir Zaid, mana mungkin mereka mengerti.

"Ee, seperti ini, anak-anak,"kata Zaid, "coba kalian tanya mereka," Zaid menunjuk yang terluka, "apakah mereka menyayangi kalian?"

Anak-anak pun mulai bertanya polos, "Ayah, apa kau menyayangiku?", "Kak, apa kau sayang padaku?", "Paman, aku menyayangimu, apa kau juga sayang padaku?"

Dengan serempak yang terluka menjawab bahwa mereka menyayangi anak-anak itu.

"Aku juga menyayangimu, Ibuku," ujar penyihir yang dadanya terluka dengan darah di sudut bibirnya. Ia berusaha tersenyum, napasnya masih terengah-engah.

"Putraku, aku juga menyayangimu."

"Nah, yang perlu kalian ingat hanya satu hal, mereka menyayangi kalian," jelas Zaid, "dan tenanglah, mereka pasti akan sembuh."

Seorang anak perempuan seumuran Elena berjalan menghampiri Zaid yang duduk di pojokan. "Kakak, apa kau yakin ayahku bisa sembuh?" tanyanya polos. Pipinya tampak menggemaskan, tatapannya penuh tanya.

"Ya, aku yakin." Zaid tersenyum pada anak itu.

"Ya, aku juga yakin putraku akan sembuh," kata nenek itu setuju. " Tuhan selalu melindungi dan mengasihi orang baik, Tuhan pasti akan menyembuhkan mereka semua."

"Nah, baiklah, selagi mereka diobati, bagaimana kalau aku bercerita untuk kalian?" Tawar Zaid.

Anak-anak langsung berlarian berkerumun mengitari Zaid. Zaid memulai cerita. Ia menceritakan sejarah planet Imub yang Chiara ceritakan padanya dan Elena (lihat bab kelima).

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Chiara beberapa kali terus melancarkan serangan dengan akar duriannya, beberapa kali meleset, beberapa kali serangannya hampir mengenai goblin pemimpin itu. Sekarang, tenaganya sudah terkuras habis, keringat mengucur di pelipisnya, ia benar benar kelelahan.

Chiara melirik sekitarnya, para penyihir penjaga tidak mungkin membantunya, mereka juga tampak kewalahan dengan goblin-goblin yang lain, belum lagi jumlah para penyihir yang makin sedikit.

Goblin pemimpin mengeluarkan jurus, ia juga mengeluarkan jurus akar, melilit leher Chiara saat ia lengah, lalu melemparnya jauh-jauh ke udara.

Chiara berputar-putar di udara, ia kehilangan konsentrasi karena mual sekaligus pusing. Sebenarnya ia bisa saja menggunakan jurus angin untuk mencegahnya jatuh, tetapi ia sudah terlalu lelah untuk bertarung ataupun mengeluarkan jurus, ia akan jatuh.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Tepat 3 meter sebelum tubuhnya jatuh bebas, kakek penyihir berjubah hijau itu melakukan gerakan secepat kilat, dan ia menaburkan semacam bubuk yang kemudian langsung tumbuh menjadi jamur raksasa, Chiara tepat jatuh di atasnya. Syukurnya jamur itu bagai kasur yang empuk, bukan bagai trampolin yang bisa membuatnya terpental kembali.

Chiara merasa permukaan itu empuk, ia baru membuka mata, melihat kakek penyihir berjubah yang menatap ke depan. Ke pemimpin goblin itu.

Kakek Laks, batin Chiara.

"Semuanya," seru Laks, "mundur dan jaga jarak lalu kaburkan pandangan mereka!"

Semua penyihir penjaga dan yang lain mengerti, mereka melompat mundur 10 meter dengan bantuan kekuatan angin. Sekarang, sejajar dengan Laks, tanpa diperintah lagi, kedua tangan mereka mengayun, mengeluarkan jurus angin yang cukup kuat. Menerbangkan debu ke udara, membuat para goblin kelilipan.

"Sebagian serbu ke belakang mereka, rebut kantong emas, sebagian lagi bekukan kaki mereka dan bakar mereka!" Titah Laks lagi.

Mengambil kesempatan ketika para goblin kelilipan, beberapa penyihir yang menguasai teknik perpindahan kilat menerobos ke barisan belakang, merebut kantong emas dari goblin-goblin pendek; beberapa lagi membekukan kaki mereka dengan sihir es, lalu membakar mereka dengan bola api (sadis sih, maaf ya).

Melihat situasi tak baik pemimpin goblin memerintahkan kabur, ia sendiri hendak lari, tetapi bayangan Rhys berkelebat, ia datang bagai kilat, dan secara tiba-tiba mencengkram leher pemimpin goblin.

"Kau mencekiknya, aku mencekikmu!"

Seru Rhys, ia lalu melempar goblin itu ke udara, dan melilit leher goblin itu yang masih di udara dengan jurus akar, membantingnya beberapa kali.

Chiara melihat situasi berbalik dengan cepat, ia belum pernah melihat ayahnya bertarung sebrutal itu sebelumnya.

Rhys membanting goblin itu sekali lagi. Goblin pemimpin itu sudah benar-benar pusing, ia sudah tak berdaya, tergeletak di tanah.

Rhys menyerap kembali kekuatan akarnya, akar itu hilang. Ia lalu melompat ke udara, tangannya sekarang diselimuti petir yang bergemeletuk, Rhys lalu menghantamkannya ke arah goblin pemimpin. Goblin itu gosong.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Di balai kota.

"Lukamu tidak benar-benar parah," jelas salah satu penyihir wanita. "Ada empat lubang di dadamu, tapi lubang itu tidak dalam, tidak sampai melukai jantung."

"Syukurlah, putraku akan selamat," ucap nenek itu bersyukur.

"Dan kau juga tidak kehilangan banyak darah, itu sebenarnya sedikit aneh. Apa kau pernah meminum atau menggunakan obat sebelumnya?"

"Ya," jawab penyihir penjaga itu, "ada yang memberiku obat, dia seorang gadis." Penyihir itu mengambil botol obat kecil di sakunya, dan menyerahkannya pada penyihir wanita. "Dan setelah meminum obatnya, aku tidak merasakan sakit samasekali di dadaku."

Penyihir wanita mencium aroma botol obat. "Sepertinya dia peracik obat yang cukup handal. Yang ia gunakan adalah daun Shio yang dicampur dengan rumput obat lainnya. Pantas kau tidak merasakan rasa sakit. Ia juga menambahkan daun Jurk yang dapat menghambat pendarahan."

"Baiklah," kata salah satu penyihir wanita kemudian, "kami akan memberikan resep obatnya nanti. Berterimakasihlah pada gadis itu, kalau kau tidak meminum obatnya, kau bisa kehilangan cukup banyak darah, mungkin tewas, mungkin tidak."

"Ya, aku akan memberikannya hadiah, nyawa anakku telah ia selamatkan, aku akan memberinya hadiah," ujar nenek itu.

Zaid, yang duduk di pojok balai kota yang sekarang mengobrol dengan anak-anak (karena ceritanya sudah habis, tepatnya karena Chiara belum melanjutkannya), sebenarnya ia sambil mengobrol, sambil menguping pembicaraan mereka. Ketika tahu yang memberi obat adalah gadis, ia sempat berpikir itu Chiara, tapi ia merasa bukan dia. Ah, mungkin orang lain, tak mungkin dia, batinnya.

Seorang penyihir membuka pintu. "Kita menang! Kita menang!"

Para penyihir di sana merasa lega, juga para lansia; anak-anak yang sudah agak baikan dan tak menangis lagi, sekarang berubah ceria, beberapa dari mereka bersorak!

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!