Rhys tampak duduk bersila dengan mata terpejam. Di tepi hutan, ia sedang melatih salah satu kekuatan sihirnya, sihir elemen api.
Lihatlah, di seluruh tubuhnya, mengalir aura berwarna oranye kekuningan yang tampak bercahaya. Rhys terlihat seperti matahari tenggelam, sama jingganya dengan matahari yang sudah terbenam separuh di belakang batang-batang pohon itu.
Rhys terus duduk bersila sampai matahari pun terbenam seluruhnya, hanya menyisakan sedikit cahaya redup. Rhys tak menyadari, selama ia bersila selama hampir 2 jam dan tak pegal-pegal, orang itu terus mengintainya di atas pohon.
Orang itu berkulit hitam, memakai topeng khas orang suku pedalaman, giginya bertaring, ia setengah telanjang. Orang itu lalu melompat turun dari pohon dan menepuk-nepuk mulutnya.
"Ulululululululu..."
Rhys membuka mata, ia tidak kaget, karena suara "ululululu" sudah menjadi 'alarm' baginya untuk menyudahi latihan.
"Karcaca, karcaca, karcaca!" Kata orang primitif itu sambil berjingkrak-jingkrak seperti monyet. Ia terus mengatakan "karcaca" sampai sembilan kali.
Setelah itu 7 orang primitif lain turun dari pohon, mereka menggenggam tombak.
Terdengar bunyi anak panah yang membelah angin susul menyusul, tiga anak panah melesat dari atas pohon, tepat mengarah ke perut, leher dan dada Rhys.
Rhys yang sudah berdiri mundur ke belakang dengan kekuatan angin, lalu ia mengayun kedua lengan di udara, jurus angin yang kencang keluar, memutar arah ketiga panah. Dua menancap di batang pohon, satu hampir mengenai kaki salah satu suku primitif itu.
Rhys melihat mereka ada sebelas orang, delapan di depan, mereka laki-laki; sedangkan tiga yang lain baru turun, mereka perempuan, ketiganya langsung mementang busur lagi.
"Karcaca!" Kata mereka bertiga. Angkat tangan. Mungkin itu maknanya.
Rhys tak punya banyak waktu berurusan dengan mereka, ia melompat sambil berbalik dan dengan kekuatan angin ia sudah pergi jauh meninggalkan mereka.
Tiga orang suku primitif sempat melepaskan anak panah, tetapi karena terlalu jauh, anak panah itu terjun kembali ke tanah. Bergetar.
"karcaca cakar kaca raca baca pasar acar," kata salah satu suku primitif pada teman-temannya. Sudah 573 kali dia melarikan diri, itu maknanya.
"Cakar pacar," timpal yang lain. Sangat melelahkan, itu maknanya.
"galancar kamar makslancar?" timpal yang lain lagi. Bagaimana kita mau makan sekarang, itu maknanya.
"Gaslancar bakaru bijalar." Sudahlah pasrah saja, itu maknanya
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pukul 06.30 sore. Pintu rumah dibuka perlahan. Rhys masuk. "Aku pulang."
Chiara menyambutnya. Ia tampak sudah mandi. Ia sekarang mengenakan pakaian dress merah. Bersiap pergi ke festival.
Ayah, Mama sudah pulang dari kota Grythwil," kata Chiara. "Oh, ya, aku dan Zaid akan pergi ke festival di gunung Oru---"
"Festival itu diundur," potong Rhys. Ia mendengar desas-desus itu saat pulang dari berlatih.
"Apa? Kenapa?" Chiara kecewa.
"Mungkin karena Faktor cuaca," kata Aleyna. Ia sudah berdiri di ruang tamu. Ia menggenggam alat semacam Keyboard yang sedikit lebih kecil dari kalkulator. Di depan wajahnya ada semacam hologram. Mungkin ia sudah mengecek cuaca hari ini dengan alat itu.
"Yah, sayang sekali," kata Chiara.
"Ada apa?" Tanya Zaid. Ia sudah mengenakan kostum serigala putihnya.
"Festival itu diundur," kata Chiara.
Aleyna mengetik lagi di keyboardnya. Layar hologram muncul satu lagi. "Dan informasi di sini mengatakan festival itu akan diselenggarakan 3 hari kemudian."
"Kak Chiaaraa!" Terdengar seruan dari luar. Itu suara Elena. Ketiga orang di ruang tamu itu bisa mendengarnya.
Di luar, Elena tampak mengenakan kostum serigala putih, sama seperti Zaid. Bedanya, ia tampak semakin menggemaskan memakai kostum itu.
Chiara membuka pintu. "Ya? Oh, Elena. Sayang sekali festivalnya diundur."
"Apa katamu? Festivalnya diundur?"
Dan tepat kata terakhir diucapkan Elena, Petir disertai guntur datang, mengagetkan semuanya. Elena refleks maju memeluk Chiara, ketakutan. Zaid di dalam menutup kedua telinganya, Aleyna langsung mematikan alatnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kenapa festival itu dibatalkan?" Tanya Elena polos di sela-sela hujan deras disertai kilat dan guntur.
Elena, Zaid dan Chiara berkumpul di kamar Zaid. Chiara sudah berganti baju biasa, sedangkan Zaid dan Elena tetap mengenakan kostum serigala mereka.
Chiara dan Zaid tertawa.
"Kau lihat saja, Elena," kata Zaid, "di luar hujan deras."
"Ya, karena cuaca yang kurang bagus, festival itu diundur," kata Chiara menambahkan.
"Sebentar," kata Chiara. Ia lalu bangkit dan keluar.
"Ke mana?" Tanya Zaid dan Elena bersamaan. Mereka enggan ditinggal. Tetapi Chiara tak menjawab.
Lima menit berlalu. Zaid dan Elena tidak saling bicara. Mereka diam saja. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Kenapa kau menatapku?!" Elena tak suka.
"Oh, ee... tidak, aku hanya penasaran. Telingamu berbeda dengan yang lain. Apa kau..."
"Ya, aku ini elf. Atau disebut juga teri. Eh, eh, pari, ferry, maksudku peri," kata Elena. Karena dia masih 6 tahun, ia sering salah ucap. Apalagi saat makan atau gugup.
Chiara hendak masuk lagi ke kamar, ia membawa 2 cangkir teh dan 1 cangkir susu hangat di atas nampan.
Kilat dan guntur datang lagi, lebih hebat dari yang sebelumnya, lampu kamar mati. Zaid dan yang lain semuanya kaget, Chiara hampir menjatuhkan nampan, Zaid merasakan tangan yang lembut memeluknya.
Chiara mengeluarkan jurus api di salah satu tangan sebagai penerang, ia melihat Elena memeluk Zaid dan menempelkan kepalanya di dada Zaid.
Chiara berdeham. Astaga, batinnya.
"Eh, eh, maaf. Aku tak bermaksud seperti itu. Aku hanya takut. Mang-manga-maaf, ya." Elena lalu menghela napas.
Zaid salah tingkah.
Chiara meletakkan nampan di lantai lalu ia bergerak seperti mencari sesuatu. Lilin itu ketemu. Ia lantas menyalakannya dengan api di tangannya.
"Kenapa harus menyalakan lilin kalau Kak Chiara bisa menggunakan jurus api?" Tanya Zaid.
"Oh, itu agar aku tidak kesusahan. juga menghemat energi sihirku," jelas Chiara.
Dzing. Meong. Vin melakukan teleportasi, kucing abu-abu itu muncul. Mungkin mencari tuannya.
"Oh, hei, Vin," kata Elena. "Kemari."
Vin langsung lompat di pangkuan Elena.
"Energi sihir?" Tanya Zaid. Ia tak peduli dengan kucing itu. Ia sudah membaca seperdelapan buku tua itu. Dan bab awal di buku itu menjelaskan tentang energi sihir, itu sebabnya dia bertanya.
"Ya, energi sihir. Semua orang di sini memiliki kekuatan sihir. Dan mempunyai batasan tersendiri dalam penggunaannya," jelas Chiara.
"emmm... Kak Chiara, "kata Elena sambil mengelus kucing di pangkuannya, "bagaimana jika Kak Chiara melanjutkan cerita yang waktu itu? Aku sebenarnya mengantuk, tapi karena suara hajat, hujat, maksudku hujan, aku tak bisa tidur. Mungkin jika kau bercerita untukku aku bisa tidur di sini." Elena menguap.
"Tidur di sini? Lagi?!" Zaid tak mau.
"Boleh, ya, Kak Chiara," kata Elena memohon. Matanya membesar.
Zaid memberi isyarat untuk tak mengizinkan.
Chiara tertawa kecil. "Oh, ayolah Zaid. Sekarang hujan deras, kasihan Elena, tak mungkin untuknya pulang," kata Chiara.
Zaid menghela napas. "Iya, iya baiklah."
Chiara tersenyum. "Baiklah, sebelumnya minum dulu. Air di sana sudah mulai dingin."
Elena mengambil susu di nampan; Zaid mengambil teh; Elena mengambil sisanya.
Elena mengeluarkan jurus, ia memasukan es ke dalam susunya.
"Udara dingin seperti ini kau minum susu dingin?!" Tanya Zaid. Namun sebenarnya ia terkejut melihat si kecil Elena juga punya kekuatan.
Elena tak menjawab. ia meneguk susunya perlahan.
Chiara tertawa kecil lagi. "Baiklah, kumulai ceritanya."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments