Elena tampak memerhatikan punggung seseorang yang mirip dengan Zaid yang sedang memasak di dapur berdinding putih. Namun, dalam versi lebih dewasa. Seperti 17 atau 18 tahun. Ia juga memliki telinga runcing seperti Elena. Jelas ia bukan dari ras manusia, melainkan elf.
"Kakak?" Elena menghampiri orang itu. Elena tampak setahun lebih muda. Ia berusia sekitar 5 tahun. Ia juga tampak baru bangun tidur.
"Ya?" Kata orang itu tanpa berbalik.
"Kakak masak apa? Kata Elena. Ia sudah berdiri di samping orang itu, ingin melihat isi wajan, tetapi tak sampai. Yang mampu ia lihat hanya sampai api kompor itu, itu pun sambil sedikit berjingkat.
Orang yang dipanggil 'Kakak' itu tidak menjawab. Ia mematikan kompor dan langsung menyajikan isi wajan itu ke piring. Nasi goreng dengan ayam suwir ternyata.
Elena mencium aroma sedap itu. "Hmmm... harum sekali!"
Orang itu langsung pergi meninggalkan Elena. "Cepat cuci muka dan tanganmu lalu makan."
Elena mematuhi perintah kakaknya itu.
Setelah itu ia pergi ke meja makan. Di atas meja juga sudah tersaji segelas susu, beberapa macam buah, dan yang lain. Semuanya lengkap.
Orang yang mirip dengan Zaid itu meminum kopinya. "Kakak harus pergi, Elena," katanya, ia juga sudah memakai pakaian jubah penyihir, berwarna biru dongker gelap. Hampir tampak seperti warna hitam.
"Yah, Kakak, kenapa cepat sekali? Setidaknya... temani aku makan," kata Elena kecewa.
"Kakak benar-benar sudah terlambat, Elena. Kakak harus pergi ke Akademi."
Elena tampak sedikit kesal dan kecewa, ia juga langsung tak nafsu makan. Selalu saja begini, batin Elena.
"Oh, ayolah," kata Kakaknya, "jangan marah. Lihat!" Kakak Elena memperlihatkan cincin yang memancarkan sinar hologram. Di sana tampak pukul 07. 22.
Cincin itu memang biasa dipakai oleh pelajar di Akademi Sihir. Selain menambahkan gaya, cincin itu juga merupakan 'handphone' para pelajar di sana. Terkadang beberapa orang yang tak terlalu pandai teknologi menyebutnya 'jam jari' (karena cincin sudah pasti dipakai di jari).
Elena mengerti, lantas berbicara tak peduli, "Iya, iya, sekarang lebih baik Kakak pergi cepat!"
Melihat Elena sedikit marah, kakaknya mengangkatnya dengan kedua tangan ke udara. "Oh, ayolah... jangan marah, Elena. Kakak janji setelah pulang nanti, kita akan pergi ke tempat ke mana pun kau mau, kita bisa bermain bersama sepuasnya nanti, oke?"
Di udara Elena membantah. "Aku tak percaya! Kakak selalu berjanji, tapi hampir semua janji itu Kakak langgar.
"Ya, kau benar. Hanya 'hampir semua janji' yang kakak langgar, berarti ada sedikit dari janji-janji yang tidak kakak langgar. Aku harap janji ini termasuk bukan janji yang dilanggar."
"Ya, aku harap juga begitu," kata Elena, lalu memeluk leher kakaknya di udara.
Kakak Elena perlahan menurunkan Elena ke kursi lagi. "Baiklah, Kakak pergi!"
"Hati-hati!" Elena mulai menyantap makanannya.
Keluarga Elena bisa dikatakan keluarga kelas menengah atas, keluarganya mendiami rumah yang cukup besar dan mewah. Kedua orangtuanya juga merupakan orang penting di kota Freezney.
Tetapi Elena kurang bahagia dengan semua itu, ia sering ditinggal sendirian di rumah, hanya ditemani pelayan dan bodyguard. Orangtuanya selalu sibuk dan pulang malam; kakaknya juga tak banyak berbeda, meskipun terkadang kakaknya pulang sore dan sempat mengajaknya bermain, itu pun sudah terlalu sore sehingga Elena harus cepat-cepat mandi.
Dan sekarang, terjadi lagi dan lagi, dan mungkin akan terus seperti itu. Tetapi, sekarang berbeda. Kakak laki-laki Elena itu, sejak saat itu, ia tak pernah kembali lagi. Kakak Elena mengatakan 'baiklah, kakak pergi' dalam artian mungkin 'pergi untuk selamanya'. Zayd, entah apakah ia sudah mati atau masih hidup, Elena selalu menunggunya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam dinding di kamar itu menunjukkan pukul 01.00 dini hari.
Di kamar, Zaid tampak tertidur pulas, tetapi Elena tidak. Ia terus mengigau di samping Zaid sambil memunggunginya.
"Kakak, Kakak! Kapan kau pulang? Kapan kau pulang?" Elena terus mengigau. "Tak apa kalau kau sering melanggar janji, aku hanya berharap kau pulang." Kalian bisa melihat ekspresi anak kecil itu. Walaupun matanya memejam, ia tampak sangat sedih.
Lama kelamaan Zaid merasa terganggu, ia pun terbangun dari tidurnya dan mendengar Elena yang masih saja mengigau.
"Kak Zayd, Kak Zayd." Elena menyebut nama kakaknya. Tapi karena ia sedang mengigau, Zaid mendengarnya mengatakan 'kak Zaid'.
"Hei, Hei, bangun!" Zaid menggoyang-goyangkan pundak Elena.
Elena terbangun dan duduk.
" Ada apa? Apa kau mimpi buruk?" Tanya Zaid.
Elena, sesudah bangun, ia masih setengah sadar. Ia masih terus bergumam, "Kak Zayd, Kak Zayd."
"Heh!" Zaid setengah berseru.
Elena seperti tersadarkan. "A-aku tidak apa-apa," jawabnya spontan. "Ha-hanya mimpi."
"Kenapa kau memanggil-manggil namaku?" Tanya Zaid lagi.
"Ti-tidak, aku tak memanggil namamu. A-aku, aku hanya..." Elena tak melanjutkan kalimatnya, ia tak mau rasa rindunya terhadap kakaknya diketahui orang lain.
Elena menghela napas. "Kau, bisa antar aku ke kamar kecil?" Elena turun dari ranjang. Karena minum susu dingin, ia jadi ingin cepat buang air kecil. Entah kalau ia terlambat bangun, mungkin ia sudah ngompol.
"Oh... ya, baiklah." Zaid mengikutinya keluar. Sebenarnya, ada apa dengannya, pikir Zaid. Tapi ia hanya memikirkannya sesaat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
,
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments