Zaid menutup pintu. Di pundaknya tersampir handuk, ia hendak mandi.
"Chiara!" Zaid bisa mendengar Aleyna berseru di dapur.
Tidak ada jawaban dari anaknnya itu. Mungkin dia sudah tidur, pikir Zaid.
"Chiara, Nak, bisa bantu mama sebentar?" Aleyna tampak membawa sebakul nasi.
Tidak ada jawaban lagi. Sebenarnya, di kamarnya, Chiara baru hendak tidur. Belum benar-benar tidur.
"E, Nyonya, biar kubantu," kata Zaid. Ia melangkahkan kakinya ke dapur, hendak membantu manyajikan makanan.
"Oh, tidak jangan, Nak. Kau bukan pembantuku," kata Aleyna. "Lebih baik sekarang kau mandi saja, bukankah kau hendak mandi?"
"Tidak apa. Aku akan tetap membantu," kata Zaid. Ia membawa mangkuk berisi sup dan meletakkannya di atas meja makan. "Membantu orang tidak harus jadi pembantu," katanya, "menolong orang juga tak perlu jadi pahlawan. Bahkan terkadang, pahlawan dan pembantu pun membutuhkan pertolongan dan bantuan. Dokter juga membutuhkan dokter yang lain, begitu pula tukang cukur, tak mungkin ia akan mencukur rambutnya sendiri."
Aleyna tertawa kecil. Ia lantas membiarkan Zaid membantunya.
"Baiklah, Nyonya, aku mandi dulu," kata Zaid setelah semua makanan tersaji.
"Ya, dan jangan panggil aku 'Nyonya'," seru Aleyna pada Zaid yang sudah mulai masuk ke kamar mandi. Menutup pintu.
"Baik, Bibi Aleyna." Zaid kemudian memangginya "bibi". Ia rasa itu lebih cocok. Ia memanggil Rhys "paman", sudah seharusnya memanggil Aleyna "bibi".
Tetapi ia terus memikirkan keanehan sambil mandi, Kak Chiara memanggil ibunya "mama", kenapa mamanggil ayahnya "ayah" bukan "papa"? Hmmm, pikir Zaid.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Elena tampak mendekatkan wajah berantakannya ke jendela mobil terbang, sebentar lagi mendarat.
"Jangan lakukan itu, Elena," titah bodyguard berparas timur tengah itu. Meskipun ia sebagai bodyguardnya, ia tak segan untuk memanggil nama Elena langsung.
Kendaraan hitam putih berbentuk mouse itu mendarat otomatis, berdesing halus. Tiba di pekarangan rumah Elena yang cukup mewah, di sana juga terdapat kolam renang dan taman.
Sabuk pengaman otomatis terbuka, bodyguard itu dan Elena melompat turun. Bodyguard itu mematikan kendaraan.
Keduanya lalu masuk ke rumah putih besar dengan halaman yang luas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Benda berbentuk manik-manik itu masih tertempel di belakang kepala baju robot itu. Itu semacam alat pendeteksi, ketika diaktifkan, benda itu akan mengirim titik lokasi yang otomatis akan terkirim ke pihak kepolisian.
Kalian bisa lihat, baju robot itu tengah dicharge oleh kabel-kabel besar seukuran lengan yang tersambung ke punggung robot itu. Baju robot itu terletak di sebuah tempat seperti ruang bawah tanah. Ruang bawah tanah itu dipenuhi alat-alat canggih, di sana terparkir motor yang keren yang agak sulit di gambarkan, senjata laser, dan barang unik lainnya, juga terdapat monitor raksasa yang menempel di dinding ruangan itu. Pemiliknya alias si pencuri robot itu juga berada di sana. Ia sedang menatap layar monitor raksasa, memerhatikan titik merah yang terus berkedip sedang menuju ke tempatnya.
Bagaimana mungkin mereka bisa tahu, pikirnya. Apa aku meninggalkan jejak?
Tak lama setelah itu ia mendengar suara sirine yang semakin mendekat, lalu terdengar seruan, "Siapa pun itu yang berada di dalam, menyerahlah! Kami tahu kau ada di sana, tak ada gunanya kau melawan, kau sudah dikepung!"
Beberapa mobil polisi berwarna putih biru berbentuk mouse itu mengepung pabrik terbengkalai, suara sirine bersahutan, beberapa polisi keluar, menggenggam senapan laser. Mobil-mobil polisi itu juga bertransformasi, berubah menjadi robot polisi.
Polisi-polisi itu tidak tahu bahwa di si penjahat bersembunyi tepat di bawah pabrik terbengkalai itu, bukan di dalamnya.
"Sekali lagi kami perintahkan anda untuk keluar! Anda sudah dikepung! Segera serahkan diri anda! Atau kami terpaksa melakukan kekerasan!
Pria bertangan robot itu menatap layar monitor yang menampilkan pengepungan di luar. "Hhmmph! Coba saja!" gumam pria itu.
Ia menekan beberapa tombol di ruangan itu, lorong selebar tiga meter terbuka. Lalu pria bertangan robot itu naik ke motornya, dan langsung tancap gas masuk ke lorong itu. Lorong itu tertutup. Ia sudah kabur.
Merasa tak ada jawaban dari dalam pabrik, polisi-polisi memutuskan untuk masuk dan menggrebek buronan. Mereka bersama robot-robot polisi mulai masuk. Kosong tidak ada apa-apa di sana.
"Ke mana dia pergi?" tanya salah satu polisi.
"Entah. Tapi... Koordinatnya menunjukkan di sinilah alat pendeteksi itu," timpal polisi yang lain. Ia mencoba mengecek titik merah lewat gelangnya.
"Di sini hanya ruang kosong, tidak ada apa-apa," kata yang lain lagi.
"Sebaiknya kita selidiki tempat ini. Mungkin ada petunjuk yang bisa kita temukan."
Polisi-polisi itu dan robot-robot langsung memeriksa setiap jengkal pabrik terbengkalai itu, mereka tidak tahu, alat pendeteksi itu menempel di baju robot, dan baju robot itu tepat berada di bawah bangunan yang mereka injak. Sedangkan pencurinya sudah kabur.
Alat pendeteksi itu terus berkedip-kedip.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments