"Jen... " seseorang memanggilku di tengah jalan saat aku baru akan berjalan pulang setelah selesai makan dengan Noah ke depan flatku. Aku menoleh ke belakang, sebuah mobil sport modifikasi melewatiku.
"Fred..." Freddie Holmes. Kenapa dia harus muncul disini. My ex boyfriend yang masih mengharapkanku. Jantungku berdebar melihatnya.
Aku melihatnya dengan kaus casual pas badan, dan jaket kulit, seperti biasa dia terlihat gagah. Tempat kerjanya tak begitu jauh dari sini.
"Bagaimana kabarmu. Aku kebetulan melihatmu." Dia parkir dan berdiri di depanku. Kali ini sosoknya yang terasa mengintimidasi entah kenapa. Mungkin karena kami sudah cukup lama tidak bertemu.
"Baik, ... " Dia berumur 33 tahun, pecinta modifikasi mobil, kami bertemu di sebuah acara community di daerah ini beberapa tahun yang lalu. Jatuh hati saat pertama melihatnya. Dan kemudian tidak bisa melepasnya.
Dia pemilik bengkel modifikasi mobil yang cukup terkenal di El Paso. Dia mapan, gagah, dia bisa mendapatkan siapapun yang dia inginkan.
Setahun lalu, Freddie dan aku berpisah tanpa dia setujui setelah kami bersama kurang lebih setahun. Dia menginginkan hubungan lebih serius, aku belum siap untuk itu sama sekali.
Saat itu itu aku sama sekali tak menyangka dia bisa melamarku secepat itu.
"Kau sudah makan malam?"
"Sudah." Sebenarnya aku menghindari momen seperti ini. "Aku harus pulang Fred, besok ada operasi pagi." Aku mencari alasan untuk menghindarinya.
Dia menggangapku terlalu egois. Dia marah dan tidak mengerti saat mendengar alasanku. Dan menanyakan dimana logikaku karena ingin menjalani kuliah tambahan yang begitu panjang. Sementara dia bisa memberikan segalanya buatku.
Dia benar, dia bisa memberikan segalanya. Kecuali dia tidak bisa menyembuhkan tahun-tahun sulit yang sudah kulewati. Aku sangat tahu aku telah berlaku egois. Aku melepaskannya dan berharap dia bertemu gadis yang lebih pantas.
"Kau sangat senang menghindariku Jen. Bukankah begitu?!" Dia berdiri dekat sekali membuatku mundur selangkah.
"Fred, kau tahu alasannya. Kenapa kau membuat ini sulit." Mungkin hampir setengah tahun kemudian dia tidak menghubungiku. Tapi kemudian dia mencoba bicara denganku lagi. Aku sedikit banyak selalu mencoba menghindarinya.
"Mau menemaniku minum sedikit, sudah lama kita tak berbincang..."
"Aku harus..." Aku ingin menjawab tidak bisa dan menghindarinya.
"Ini hanya mengobrol,... kenapa kau selalu menghindariku, bahkan teleponku pun jarang kau angkat. Aku tak akan memaksakan apapun padamu." Nada marah tersisip di suaranya.
Aku tetap tak bergerak dari tempatku.
"Kita hanya minum di Herrings, aku akan mengantarmu pulang jam 11." Itu pub tempat kami selalu pergi
Aku masih diam ditempatku.
"Ayolah. Aku berjanji tak akan lebih dari jam 11." Dia menarik tanganku. Akhirnya aku menyerah dan naik ke mobilnya.
"Kenapa kau begitu kaku, dimana Jen yang kukenal dulu..." dia tertawa. Aku berdebar, aku tak yakin apa yang kulakukan ini benar atau tidak. Tapi sekarang aku sudah dimobilnya. Kami berdua berdiam sesaat saat mobilnya berjalan membelah jalanan yang sudah mulai sepi.
"Bagaimana bengkelmu ... " Dia mengangkat bahunya.
"Baik berjalan baik seperti biasa. Semua orang menanyakanmu kenapa kau tak pernah datang lagi. Nampaknya mereka mau konsultasi gratis denganmu..." Aku tertawa.
"Kau terlihat lebih kurus, apa kau makan dengan baik..."
"Aku baik-baik saja." Dia bukan orang yang pertama mengatakan aku kurus. Apa aku terlalu memaksakan diri?
"Jika kau butuh sesuatu kau bisa memintanya padaku. Kenapa kau tak menghubungiku..." Aku diam. Aku bukan seperti gadis yang lain, meminta semua macam kepada pacar mereka. Aku merasa terhina melakukannya.
"Aku masih bekerja Fred, dan aku baik-baik saja..." Dia menghela napas mendengar jawabanku.
"Kenapa kau tak menemui gadis lain Fred, ini sudah hampir setahun." Dia diam. Aku tak tahu apa yang ada dipikirannya. Dia hanya diam sampai kami tiba di Herrings Pub.
Pub itu tidak terlalu ramai. Aku sebenarnya tidak ingin minum. Freddie memesan coktail whisky and coke. Aku hanya minum lemonade.
Dia mulai bicara seperti biasa. Menceritakan hal-hal sederhana, menyenangkan mendengar Fred bercerita, dia selalu bisa membuatmu tertawa.
Dia menempati janjinya untuk pulang jam 11. Aku masuk ke mobilnya dan dia mengemudi menuju ke flatku.
"Fred, kenapa kau tidak melupakanku saja."
"Katakan padaku caranya Jen." Dia menatapku. Jantungku teremas mendengar perkataannya.
"Fred..." Dia menepikan mobilnya disebuah parkir on street. Dia menghadap ke arahku.
"Jen, aku akan menunggumu..." Dia memegang tanganku. Menatapku di mataku di keremangan lampu jalanan.
"Kau apa?"
"Aku akan menunggumu kuliah. Asal kau bersamaku. Apapun yang kau inginkan asal kau tetap bersamaku..."
"Kau membuang waktumu Fred..."
"Tidak!" Suaranya mengeras.
"Fred, kau dan aku sudah pernah membicarakan ini. Kau membuat semuanya jadi sulit. Aku tahu apa yang ada dipikiranmu..." Dia menginginkanku mengandung bayinya dan aku akan membuat aku menyerahkan mimpiku.
"Kenapa kau tak mencobanya.Kau tak merindukanku. Aku tak akan melanggar janjiku..."
"Fred,..." Dia maju melepas seat beltku dan dengan cepat menarikku dalam ciumannya. Itu memaksa dan aku tidak dapat bernapas ketika Fred mengunci posisiku. Aku mengecap harum napasnya yang berbau vodka.
"Kau tahu betapa aku merindukanmu. Jika kau tahu obat yang bisa membuatku melupakanmu beritahu aku Jen." Aku menatapnya dan merasa kasihan padanya.
"Fred,..."
"Aku berjanji tak akan memaksamu." Sebuah ciuman kembali menyasarku. "Aku tak bisa melupakanmu. Aku mencoba Jen! berkencan dengan yang lain, bahkan membencimu! Dan aku menjadi lelah melakukannya."
"Kembalilah padaku..." aku tahu permohonan ini akan membawaku dalam masalah.
"Aku sangat egois Fred, tidakkah kau sadar itu. Kita akan banyak bertengkar."
"Aku tak perduli! Jika kau bisa begitu egois! Aku juga bisa! Kenapa kau begitu bangga dengan dirimu sendiri! Seolah kau tak butuh orang lain? Kau kira itu benar!?" Dia marah dengan penolakanku.
Aku diam dengan kemarahannya. Andai aku bisa melepaskan keegoisanku sendiri. Tapi rasa marahku tak akan membiarkan aku menerimanya.
Fred benar aku terlalu bangga dengan diriku sendiri. Aku seperti dikutuk hidup seperti ini.
Aku mulai terisak.
"Kenapa kau sangat keras kepala Jen! Kau tak baik-baik saja! Aku tahu apa yang kau jalani, lihat dirimu! Kau berusaha keras, lalu apa yang akan kau capai didepan! Untuk apa kau berusaha begitu keras!? Siapa yang akan melihat pembuktianmu. Ibumu yang tak pernah menganggapmu ada! Kenapa kau begitu bodoh!" Semburan kemarahannya membuatku air mataku berjatuhan.
Dia tak akan pernah mengerti. Dia tak pernah menjalaninya...
Dia mundur melihatku menangis.
"Aku benar-benar tak mengerti Jen..." Dia menggengam erat kemudi. Dan menjalankan mobil. Aku tak bicara apapun hanya mencoba menghapus air mataku yang sialnya tidak bisa berhenti keluar.
Kupikir kami akan pulang. Tapi kemudian aku sadar kami tidak mengarah ke rumahku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 464 Episodes
Comments
mrs YoYaman
fred cakep bgt ya.james juga panas.jd bingung
2022-08-26
0
Yasmine aja
fred ganteng banget
2022-08-25
1
Evelyne
gila Thor... kenapa cerita mu cowok bucin semua... betapa bahagia nya cewek2 disini... tapi gw suka banget Thor...keren..gw jadi ikut termehek mehek...kwkwkkk gak inget umur yo
2022-06-29
0