"Konsultasi pasien pertamamu Mr. Wilson." Aku memanggilnya Mr. Wilson, bagaimanapun dia sekarang atasanku dan dia senior surgeon.
"Kau tinggal dimana Jen,..." Dia tidak memanggilku dengan nama panggilan itu lagi.
"Tak jauh dari sini..." Aku menjawab singkat. Dia tidak perlu tahu aku hidup sederhana. Aku tak ingin membicarakan hidupku kelabu.
James Wilson.
Kami bertetangga dulunya. Dia teman dekat kakakku Kenneth Gothard, tapi dia pindah saat berumur 15 tahun.
Meneruskan senior high schoolnya ke Massachusetts dan mengejar cita-citanya kuliah di Medical School Harvard. Dan keluarganya memang punya latar belakang kedokteran.
Dia dan kakakku Kenneth berotak encer, sahabat dekat sejak mereka di elementary school. Dan aku selalu mengekor kemana mereka pergi sejak kecil. Kami semua punya panggilan masing-masing.
Aku Tootsie!
Dia Dickhead!
Kakak Pighead!
Kami memang menggelikan.
"Ibumu masih bersamamu?"
"Yeah, Mom sehat-sehat saja..." Ibuku sehat, tapi mungkin tak ada bedanya dia ada atau tidak. Dia tinggal bersamaku. Tapi tak pernah menggangapku ada.
"Kau tahu kakakku sudah meninggal bukan." Kakakku sayang telah tenang di surga sana. Kakakku meninggal karena kecelakaan diumurnya yang ke-19. Yang kemudian mengirim ibuku ke masa depresi, pemakaian obat-obatan terlarang dan hal tidak baik lainnya. Aku hampir putus sekolah jika pamanku tidak menolongku membayar fee sekolahku.
"Aku tahu, aku tidak sempat kembali ke London. Sangat mengejutkan saat aku mendengarnya dari Ibuku. I feel sorry..."
"Itu sudah lama..."
"Ayahmu juga meninggal karena kecelakaan bukan. Pasti sangat berat buat kalian." Dia menatapku dan bersimpati.
Aku membenci simpati. Di usiaku yang 15 tahun aku sudah tahu arti berjuang sendiri untuk hidup. Aku sudah mulai bekerja apa saja untuk membiayai diriku sendiri.
"Kami baik-baik saja. Itu sudah cerita yang harus dilewati." Aku tersenyum. Melihatnya membuatku teringat kepada kakakku. Dia memang membawa keberuntungan untukku. Mungkin kakak mendengar doaku dan membantuku mengirimkan sumber tambahan uang ini.
Tapi jika Dickhead ini tahu aku berencana memanfaatkannya sebagai tambang uang, dia sudah pasti akan membunuhku.
Aku akan memohon dia mengampuniku. Masalah selesai. Dia baik hati. Aku meringis sendiri melihat malaikat putih melawan malaikat hitam dalam kepalaku.
"Dokter Dickson mengirimnya padamu karena dia pikir pasien ini punya arrhythmia¹." Aku langsung fokus kembali ke pekerjaan. Aku memberinya sebuah chart ECG dan menujukkan padanya masalah yang dimaksud.
James melihat chart yang kuberikan.
"Kau bisa membaca chart... "
"Tentu saja, aku menjadi perawat senior kepercayaan Dr. Richards dan mendapat beasiswa di usia 27 bukan kebetulan. Aku banyak belajar, mengamati dan bertanya. Kau bisa mengandalkanku untuk membantu mengawasi..." Dia tersenyum dan mengangguk.
"Kau selalu bertekad penuh seperti dulu."
"You're right. I don't do average Sir**. Jika ada yang bisa kupelajari dan aku harus tahu. Aku akan mempelajarinya dan mungkin menyusahkanmu dengan pertanyaanku, tapi kau bisa percaya aku untuk mengawasi banyak hal dari pasien, dan aku pastikan pengamatanku tak pernah salah..."
***I don't do average: saya tidak melakukan hal-hal biasa *
"Hmm, aku percaya itu. Bahkan dengan kakakmu sendiri kau tak pernah mau kalah. Kau selalu ingin memenangkan setiap perlombaan dulu..." Aku diam.
Kakakku adalah kebanggaan Ibuku. Dan aku yang cuma perawat dipandangnya sebelah mata tanpa berpikir bahwa biaya kuliahku yang dihabiskannya di masa dia depresi menyebabkan aku harus mengakses dana pinjaman kuliah pemerintah yang hanya bisa memberiku kesempatan menjadi perawat, membayar kuliahku sendiri. Dan meninggalkan mimpiku menjadi dokter.
Aku berjuang sendiri mencapai apa yang kuinginkan. Membiayai kehidupan kami, tapi satu detikpun dia tidak berusaha menghargaiku. Pikirannya selalu terpaku pada dua laki-laki yang ada dihidupnya.
Tapi belakangan aku sudah kebal. Kupikir tanpa dia menghargaiku aku harus menghargai diriku sendiri. Aku akan membuka matanya.
"Kakakku selalu menang, sekeras apapun aku berusaha. Hanya kau tak tahu." Aku menjawabnya sambil tersenyum masam. James diam tak mengatakan apapun tentang itu.
"Baiklah, panggil pasien kita."
💙💙💙💙💙
"Aku minta nomor teleponnya..." Susan, perawat cantik sexy ini berdiri didepanku sambil memelas.
"$100... " Aku meringis lebar.
"Mahal sekali..." Dia mendelik menatapku.
"Jika kau mendapatkannya $100 tidak akan ada artinya... Dan jangan berikan ke orang lain. Sebagai bonus dia akan kesini sebentar lagi untuk mengambil form pengecekan rutin pasien hari ini. Kau bisa menyapanya disini. Kau beruntung..." Aku menjual nomor telepon James Wilson. Dalam 4 hari ini sudah tiga orang berarti $300.
Susan mengeluarkan dua lembar $50 yang kuterima dengan cepat dengan senyum lebar. Aku langsung menulis nomor teleponnya di notes kecil dan memberikan padanya.
"Jangan katakan kau mendapatkannya dariku..." Aku memastikan aku terlindungi. Susan membuat tanda oke dan gerakan mengunci bibirnya.
Tak lama James datang ke mejaku mengambil data pasien.
"Jen, ... " aku memberikan padanya laporanku ketika dia datang. Dan Susan dengan cepat mengambil kesempatan.
"Mr. James, aku mendengar kau dokter baru disini. Selamat datang. Aku Susan...senang bertemu denganmu." James melihat ke arah gadis blonde itu.
"Hai Susan, senang bertemu denganmu juga." Dia tersenyum sedikit. Formal sekali. Jelas-jelas Susan dengan provokatif membuat gerakan berlebihan memainkan rambutnya dan tersenyum menggoda. James tidak mengambil kesempatannya?
Well, nampaknya dia tidak tertarik sama sekali. Mungkin seleranya terlalu tinggi.
"Jen ikut aku..." dia langsung pergi setelah mengambil data dan mengabaikan Susan yang cantik itu.
"Sure." Aku mengendipkan mata ke Susan yang menghela napas panjang karena dia diacuhkan begitu saja.
Kami pergi ke ruangan prakteknya. Ada seorang dokter muda tanpan menunggu didepannya. Mungkin seumur denganku.
"Ini Noah Adamson bersama Kenneth dia akan jadi internku. Noah, Evan ini Jennifer Gothard..."
Aku bersalaman dengannya Noah . Senyumnya mengembang di wajah tampannya secerah matahari. Dia terlihat sangat menyenangkan. Aku berani bertaruh dia popular di kelasnya.
"Senang bertemu denganmu dr. Adamson..." Dia menjabat erat tanganku. Aku membalas senyum dan jabat tangannya dengan antusias. Aku merasa kami akan jadi tim yang hebat.
"Panggil aku Noah saja, senang bisa bekerja denganmu Jen..." Dan tampaknya dia orang yang rendah hati.
"Oke Noah, kita akan tim hebat."
Banyak dokter bedah yang baru calon meminta dipanggil dengan gelarnya Doc setidaknya oleh para perawat.
"Kita punya beberapa case yang aku ingin kalian bantu segera...."
---------
¹Arrhythmia: Kelainan irama jantung, entah tidak beraturan terlalu cepat atau terlalu lambat, terjadi ketika denyutan jantung tidak bekerja sebagaimana mestinya. *
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 464 Episodes
Comments
DHIFA NADHIFA
ini ototnya makan apa sih bisa pinter bgt kyk gini 😘😍
2022-08-29
0
mrs YoYaman
jd ingat drama korea dr kim.ngomong" soal dr bedal jd ingat pas 17 thun pngalaman oprasi pr1ku.kebayang ruang oprasi.hiii❄️🌬️🌬️brrrrrr
2022-08-25
0
erma
Author Margaret cantik.. saluut kpdmu, novelmu mengisahkan berbagai macam bidang dari berbagai negara. mulai dunia bisnis, hukum, mafia, ..eh yg ini kesehatan jadi nambah wawasan buat readermu... tks
2022-08-13
0