Mereka makan dalam diam, Yoana sesekali melirik kearah piring Alexander.
Melihat apakah kira-kira Alexander menyukai masakan yang dia buat, dan ternyata Alexander memakannya dengan lahap.
"Siapa yang masak makan malam, kenapa rasanya berbeda dari masakan Bibi Ana?" tanya Alexander sembari mengambil sayur.
"saya yang masak Tuan, apakah tidak sesuai dengan selera anda?" tanya Yoana menghentikan sendoknya mengambil nasi dari piringnya.
"Enak, cocok dengan lidahku, aku suka!" kata Alexander.
Yoana tersenyum senang.
"Mulai hari ini, apakah kau bersedia memasak untukku pagi, siang dan malam hari?" tanya Alexander dengan nada sedikit canggung dan sedikit rasa malu.
Yoana tersenyum lagi melihat Alexander yang terlihat canggung dan malu, membuat Yoana begitu semangat karena Alexander menyukai masakannya.
"Ya, tentu! saya akan masak untuk anda Tuan, tenang saja, saya akan selalu memasak menu yang lezat untuk anda makan!" sahut Yoana dengan wajah yang berbinar.
"Terimakasih!" ucap Alexander pelan, lalu melanjutkan makannya.
Yoana ingat dalam cerita aslinya, Alexander pria yang memiliki sikap tidak percaya diri karena luka diwajahnya.
"Makan yang banyak Tuan!" Yoana mengambil sayur, lalu meletakkannya kedalam piring Alexander.
Mengambil lauk, lalu meletakkannya lagi kedalam piring Alexander.
"Terimakasih," ucap Alexander pelan.
Yoana tersenyum, dia senang melihat Alexander memakan sayur dan lauk yang dia berikan.
Perasaan Yoana sangat puas melihat Alexander menghabiskan makanannya dengan lahap dan bersih.
"Aku akan ke ruang baca, ada yang ingin ku kerjakan!" kata Alexander setelah mereka selesai makan, bangkit berdiri lalu pergi dari ruang makan tersebut.
"Baik Tuan!" sahut Yoana, lalu mulai membersihkan meja makan.
Membawa piring kotor ke dapur untuk dicuci, mengelap meja makan, dan mengaturnya seperti semula.
"Mulai besok biarkan saya membantu anda untuk memasak sarapan Tuan Alexander, anda pasti kerepotan untuk menyediakan makan Tuan Alexander!" sahut Bibi koki pada Yoana.
"Tidak apa-apa Bik, mulai besok Tuan Alexander menginginkan makanannya saya yang urus!" kata Yoana, lalu mencuci piring kotor.
"Maaf kalau sudah merepotkan anda Nona" kata Bibi Koki.
"Tidak masalah Bik", Yoana tersenyum memandang kearah Bibi Koki yang tengah merapikan kulkas, menyusun sayur dan ikan yang sepertinya baru datang.
Setelah Yoana selesai, dia pun keluar dari dapur menuju ruang baca Alexander.
Yoana sedikit bingung mencari ruang baca Alexander, karena ruang kerja dengan ruang baca berbeda tempat.
Yoana sempat berputar-putar mencari ruang baca Alexander, ternyata tidak jauh dari ruang kerja Alexander.
Untung dia melihat Nick keluar dari salah satu ruang dekat ruang kerja Alexander, dan Nick langsung membukakan pintu untuknya, mempersilahkan Yoana untuk masuk.
"Terimakasih Nick!" ucap Yoana, lalu masuk kedalam.
"Sama-sama Nona!" jawab Nick, lalu menutup kembali pintu setelah Yoana masuk kedalam.
Yoana melihat Alexander duduk di sebuah sofa dengan santai sambil membaca sebuah buku.
Ruang baca Alexander luas juga, ada beberapa rak buku yang penuh dengan buku.
Ternyata Alexander suka membaca.
Dalam novel yang Yoana baca, Alexander hanya diceritakan suka menyendiri dan mengurung diri.
Ternyata mengurung diri ditempat ini, membaca buku sendirian tidak ingin diganggu oleh siapapun.
Yoana berjalan menuju rak buku, melihat buku apa saja yang ada dalam rak tersebut.
Ada novel, ada buku tentang sejarah, buku mengenai bisnis, buku puisi, dan buku lainnya.
Begitu banyak, dan tersusun dengan rapi menurut jenisnya.
"Anda ternyata sangat suka membaca Tuan, ini perpustakaan yang begitu lengkap!" sahut Yoana sembari jemarinya menyentuh buku-buku tersebut.
"Ini buku peninggalan orang tuaku, mereka suka mengoleksi buku!" sahut Alexander sembari masih terus fokus membaca buku yang dia pegang.
"Oh..pantas begitu banyak!" kata Yoana, jemarinya menarik satu buku novel.
Dia begitu tertarik dengan judulnya.
"Apakah kau suka membaca juga?" tanya Alexander, menurunkan buku yang dia baca untuk memandang Yoana, yang tengah mulai membaca novel yang dia pegang.
Yoana begitu senang mendengar Alexander tidak memanggilnya dengan sebutan 'Nona', berarti Alexander sudah mulai mencoba akrab dengannya.
Itu suatu kemajuan yang bagus, dan Yoana menyukainya.
"Ya..saya suka Tuan!" jawab Yoana, jemarinya membolak-balikkan lembar buku novel yang dia baca.
"Biasanya buku apa yang kau sukai?" tanya Alexander, memandang Yoana yang terlihat mulai fokus dengan novel yang dipegangnya.
"Saya suka membaca buku novel Tuan!"
"Oh, apa judulnya?" tanya Alexander lagi, sepertinya dia ingin mengetahui novel apa yang suka dibaca oleh Yoana.
"Saya biasanya suka membaca novel....." tiba-tiba lidah Yoana tidak bisa dia gerakkan untuk mengatakan judul novel yang suka dia baca.
Yoana spontan memegang lehernya, dia begitu terkejut merasakan suaranya tidak bisa keluar.
Mata Yoana terbelalak ketakutan, dia merasa ada yang aneh.
Dia ingin menyebutkan nama novel, yang sekarang dia berada di dalam plot ceritanya.
Buku novel yang dia pegang terjatuh dari tangannya, tenggorokannya terasa begitu kaku.
Dia baru tersadar, dia tidak boleh menyebutkan judul novel yang di mana dia berada di dalamnya.
Wajah Yoana memerah menahan sakit di kerongkongannya, kakinya gemetar dan merasa sangat lemas.
Yoana terjatuh berlutut dilantai memegang lehernya.
"Yoana..!" tiba-tiba Alexander terkejut melihat Yoana yang memegang lehernya kesakitan, dan tanpa sadar menyebut nama Yoana.
Buku yang Alexander pegang terjatuh ke lantai, dengan reflek Alexander berlari menuju Yoana yang berlutut memegang lehernya.
"Kau kenapa?" tanya Alexander dengan wajah yang begitu khawatir mengguncang tubuh Yoana, yang terlihat seakan mencekik lehernya sendiri.
"Yoana..hentikan!!" teriak Alexander ketakutan melihat urat-urat di wajah Yoana terlihat menonjol di pori-pori wajahnya.
Alexander menarik tangan Yoana yang memegang lehernya.
"Hah..hah..hah!" nafas Yoana tersengal-sengal begitu Alexander menarik tangannya yang memegang lehernya.
"Kau kenapa?!" tanya Alexander dengan suara keras, wajahnya terlihat begitu sangat cemas.
"Tuan..!" gumam Yoana, akhirnya suaranya kembali lagi.
Wajah Yoana langsung terlihat cerah, begitu merasakan tenggorokannya tidak terasa kaku lagi.
Keringat dingin telah mengucur di punggungnya, karena ketakutan dia tidak bisa bicara tadi.
Bersambung.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
gaby
Palingan bibi koki jg jahat. Kan dia yg milih Lily utk jd asistennya. Dan Lily bisa leluasa menaruh racun, ga mungkin tanpa sepengetahuan bibi koki. Mreka bekerja sama meracuni melalui makanan
2024-08-04
0
Zolojulo
Semangat.
Mampir juga ya😉
2023-07-18
0