Nilam tidak perlu menjelekkan Yudha pada orang tuanya, mereka mengenalkannya sebagai orang baik maka saat menyudahinya pun tidak ingin memberi kesan buruk sehingga membuat orang tua merasa bersalah.
Untuk itulah mungkin kecacatan sifat Yudha tidak diketahui hingga kini, hubungan antara Yudha dan orang tuanya juga tidak berubah.
Mungkin?
"Aku masih ada pekerjaan, apa ada perlu?"
Begitu tidak juga mendapat kejelasan Yudha atas sikapnya Nilam memberi tahu bahwa dia sedang sibuk.
Yudha melangkah lebih dekat dan merasa lega melihat sebuah laptop yang sedang menampilkan gambar desain bener, berarti kehadiran pria itu ke rumah mantan istrinya karena pekerjaan.
"Tentang Mylea." ucap Yudha seperti ada beban yang terangkat dari dadanya. "Aku bisa menunggu." tambahnya yang kini tanpa dipersilahkan duduk di hadapan Nilam dan Alfaaro.
Delapan tahun lalu, Yudha menyetujui perjodohan mereka bukan karena cinta.
Delapan tahun lalu juga dia dengan bodoh melepaskan Nilam karena Ruliana kembali.
Itu dulu, delapan tahun lalu.
Sekarang. Delapan tahun kemudian, apa yang sudah terlewat tidak bisa disesali lagi.
Lalu, apa yang bisa Yudha harapkan dari Nilam jika tanpa dirinya saja Nilam sudah seperti sekarang?
Wanita itu tidak kekurangan suatu apapun, dan Yudha juga bisa tebak jika banyak laki-laki yang menginginkan Nilam untuk menjadi pendamping hidup.
Dan mungkin salah satunya adalah pria yang kini tengah duduk di samping mantan istrinya.
Saingan berat.
Pria itu masih muda dan mungkin juga bukan pria sembarangan mengingat dia bisa bekerja sama dengan Nilam.
Alfaaro tidak menganggap kehadiran Yudha, dia tetap membahas apa yang perlu dibahas dengan Nilam, sesekali dia juga mencetuskan ide, mereka tampak kompak yang membuat sepasang mata tak lepas menatap keakraban keduanya.
Tiga puluh menit akhirnya pekerjaan mereka selesai tidak tahu mengapa Yudha juga dengan tanpa malu masih menunggu Nilam.
Setelah Alfaaro pergi dari rumah Nilam saat itu Nilam melihat pada mantan suaminya.
"Ada apa?" tanya Nilam setelah kembali dari mengantar Alfaaro dari pintu depan.
"Aku mau izin membawa Mylea menemui Ibu."
Hanya itu?
"Ya, silahkan. Tapi tidak untuk menginap."
"Terimakasih."
"Sudah bicara dengannya?"
"Akan segera ku bicarakan, yang terpenting aku mengantongi izin darimu."
Nilam mengangguk kemudian pamit keruang kerjanya.
Hanya seperti itu saja.
Terlalu sulit mencari waktu berdua dengan mantan istrinya.
Tidak lama setelah Nilam masuk keruang kerjanya Yudha juga beranjak pergi.
Tuhan tidak menjanjikan suatu kebahagiaan tanpa kesedihan. Namun, jelas semua itu menjadikan hidup manusia penuh dengan warna. Adanya bahagia dan sedih, menghadirkan sesuatu yang lebih menguatkan diri.
*******
Alfaaro pulang kerumah ayahnya kebetulan disana ada sang Kaka dengan suaminya yang tengah mengunjungi Udgam.
"Baru pulang Aro?" tanya Kaka iparnya yang bernama Gyantara.
"Ya, kak."
"Masih belum selesai proyek perumahan?"
"Sudah 99%" ujar Alfaaro ikut bergabung dengan Kaka iparnya.
"Betah kan kalau sudah terjun lagi? Kamu aja yang nggak mau coba." cecar Lyga.
"Sayang," tegur Gyantara pada istrinya.
Bukan tanpa alasan Alfaaro saat itu pergi dari perusahaan harusnya istrinya tidak perlu mengungkit lagi.
"Alfaaro?"
Udgam ikut bergabung bersama anak dan menantunya.
"Bagaimana kerjasama dengan Bu Nilam?"
Aneh? Bukan nama PT atau perusahaan yang disebut ayahnya melainkan direkturnya.
"Lancar."
"Suka yang dewasa?"
Apa?
"Mandiri dan bonus putri cantik pula."
Ada apa dengan ayahnya?
"Ayah bahas apa?" tanya Lyga kepo.
"Ciri-ciri tipe istri idaman Alfaaro."
"Hah?"
"Ayah hanya bercanda." Alfaaro menanggapi.
"Tidak, ayah serius. Jika memang kamu sudah merasa siap niat baik harus disegerakan." tutur Udgam bijak.
Alfaaro bergeming. Apakah ayahnya ini paranormal? Bagaimana ayahnya selalu tahu keinginannya?
"Aku naik dulu, mau mandi." pamit Alfaaro setelah beberapa saat duduk bersama mereka.
******
"Ada apa menemui Ibu?"
Yudha menelan ludah dengan susah payah. Hati ibunya masih belum cair.
"Kelihatannya Ibu lelah," yang dilihat Yudha dari wajah ibunya bukan raut lelah melainkan kesal.
"Pulanglah, istri tercintamu menunggu."
Tak ada yang tahu luka hatinya yang harus melihat Yudha melalaikan tanggung jawabnya.
Tidak ada yang salah dengan Nilam memilih pergi waktu itu, Yudha- lah yang terlalu lemah pada hatinya sehingga tidak mampu melupakan dan menggeser nama Ruliana dari hatinya yang saat itu padahal sudah menikahi Nilam.
Tapi untuk anak harusnya pria itu tidak bisa meninggalkan tanggung jawabnya hanya karena terlalu cinta pada sang istri.
********
Tidak ingin pulang dan bertemu istrinya ke rumah Ibunya juga tidak diizinkan maka di sinilah Yudha bersama David meneguk cairan merah pekat.
"Kalau aku datang kerumahnya, dia tidak akan perduli setiap melewatimu dia tidak akan menyapa dia benar-benar menganggap ku tidak ada." Yudha mengatakan hal yang telah dilewati selama ia berkunjung ke rumah Nilam.
Harusnya Yudha tidak mengatakan hai itu. Cukup melakukan apa yang ingin dilakukan tujuannya datang untuk bertemu dengan Mylea untuk apa memancing perhatian Nilam? Mantan istrinya bukan orang bodoh.
Tapi tetap saja melihat keacuhan Nilam pada kehadirannya hatinya terasa tercubit.
Puluhan kali panggilan dari Ruliana Yudha abaikan.
Dia sedang ingin menenangkan pikiran bukan menambah beban perasaan, setidaknya dengan mabuk sedikit luka hatinya terobati.
Meski Yudha sendiri tidak tahu dia terluka sebab apa?
********
Besok boleh aku datang? Lusa aku akan ke Riau.
Nilam melihat pesan dari Alfaaro. Pria itu benar-benar sibuk. Diusia muda bisa mengemban tanggung jawab yang begitu besar.
Diseberang sana Alfaaro dengan cemas menunggu balasan dari Nilam. Pesannya sudah centang biru tapi tak kunjung ada jawaban yang dinantinya.
Satu menit.
Tiga menit.
Hingga tujuh menit.
Boleh.
Penantian panjang itu hanya dijawab dengan satu kata. Sangat tidak sesuai ekspektasi. Tapi hanya dengan satu kata itu saja sudah membuat sudut bibir putra tuan Sean dan tuan Udgam tertarik keatas.
Esok hari yang dinanti tiba.
Kali ini beda dari sebelumnya Alfaaro sudah membawa kopernya di mobil karena jam sembilan pagi dia sudah harus take-off.
"Om, Je "
Senyum Mylea mengembang melihat kedatangan Alfaaro. Putri Nilam juga gegas menarik tangan Alfaaro ketempat tadi dia sedang duduk.
"Mama dimana?" tanya Alfaaro pada Mylea.
"Masih di kamar " jawab Mylea masih menggenggam tangan Alfaaro.
"Mylea jadi anak pintar ya, Om kesini mau pamit beberapa hari kedepannya om belum bisa berkunjung."
"Kenapa?"
"Om ada pekerjaan di luar kota."
"Sama Mama?"
Alfaaro menggeleng.
"Om akan kembali?" tanya Mylea kini dengan wajah sendu.
"Tentu."
"Nanti boleh Mylea telepon?"
"Kapanpun."
Kini senyum putri Nilam dan Yudha kembali terkembang.
"Kalau begitu om pergi." pamit Alfaaro.
Alfaaro baru saja pergi sekitar satu menit saat Nilam turun menemui putrinya.
"Tadi ada Om Je."ucap Mylea kembali pada alat tulisnya. "Om Je datang untuk berpamitan pada Mylea Ma, kan Mylea jadi sedih Om Je akan pergi untungnya Om Je bolehin Mylea telepon kapan saja semau Mylea."
Ada yang aneh di hati Nilam mendengar ucapan putrinya, hatinya terusik dengan perhatian Alfaaro pada Mylea, berbeda dengan pria lain yang berusaha mendekatinya untuk mengajak berhubungan, pria itu terus terang mengatakan perasaannya tapi justru mendekati putrinya.
Lihatlah bahkan Alfaaro tidak perlu bertemu dengannya, dia hanya perlu berpamitan pada Mylea.
Alfaaro juga tidak seperti pria yang sering mendekatinya selama ini.
Alfaaro tidak mengganggunya, kirim pesan juga sesekali, saat bersama tingkahnya tidak seperti orang yang caper tapi lebih seperti rekan kerja.
Diantara pria yang mendekatinya, baru kali ini juga putrinya welcome.
######
Penyematan terbesar bagi author adalah dukungan reader.
Jadi jangan lupa jejak cinta untuk author ya..
happy reading ❤️❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Heryta Herman
alfaro cocok untukmu nilam..putrimu juga menyayanginya..persaan anak kecil tdk bisa bohong atau di bohongi...
2024-07-30
1
Shepty Ani
kamu emg pantes dpt yg lebih segalanya nilam alfato cocok bgt sama kepribadian kamu yg tertutup baik hati elegant pokoknya pas bgt bt jd jodohmu klo soal usia yaelah jaman sekarang usia mah cuma angka
2024-06-28
0
Fi Fin
sangat dukung Alfaro sama Nilam
2024-05-02
0