Nilam dan Alfaaro sedang meninjau lokasi perumahan yang sudah di bangun di beberapa titik oleh pak Udgam.
Arsitek yang Udgam pakai benar-benar ahli di bidang konservasi, mampu membuat bangunan ramah lingkungan sekaligus indah.
Memerlukan waktu yang cukup lama untuk mewujudkan proyek rumah impian ini. Dan biaya yang dikeluarkan juga tidak main-main. Karena itu sebagai pengganti ayahnya Alfaaro hampir setiap minggu akan turun langsung.
Alfaaro cukup puas dengan progress yang sudah dicapai sejauh ini. Setidaknya proyek ini sudah terlihat hasilnya.
Nilam juga mengusulkan jika mereka akan melakukan promosi untuk menarik minat publik. Dengan iming-iming diskon, hanya langkah awal tapi belum apa-apa sudah banyak peminatnya bahkan ada juga yang sudah membooking rumah sewa tersebut.
"Kenapa harus kebun strawberry?"
Selain pemandangan yang indah salah satu fasilitas yang disediakan adalah kebun strawberry yang luasnya hampir satu hektar.
"Karena ibuku pecinta buah strawberry." tanpa menoleh pada Nilam Alfaaro menjawab.
"Waw!!! Cinta ayah anda sangat besar pada ibu anda." Terjawab sudah rasa penasaran Nilam.
"Sayangnya ayah bukan suami ibuku."
Kening Nilam berkerut. Merasa salah dengar tapi Alfaaro langsung menghadap ke arahnya.
"Pernah menikah, tapi hanya sebentar. Kemudian ibu menikah dengan papaku."
Berangsur kening Nilam normal kembali. Yah, dia sempat kaget mendengar ucapan Alfaaro tadi.
Berarti tidak salah jika dia mengatakan cinta pak Udgam begitu besar pada ibu Alfaaro meskipun mereka hanya sebagai mantan. Tapi menikah dengan papaku, apa Alfaaro bukan putra kandung pak Udgam?
Tidak ingin mengorek lebih dalam, Nilam pamit pada Alfaaro.
"Kalau begitu saya duluan."
Nilam melihat mobil mantan suaminya, itu artinya dia harus bergegas.
"Yakin tidak butuh pengawalan?"
"Anda butuh istirahat, nanti kita bahas esok hari saja."
Alfaaro mengangguk melepas kepergian Nilam.
*********
Nilam sempat tertegun ketika Yudha membukakan pintu mobil untuknya.
Ini pertama kalinya Nilam berada di satu mobil yang sama dengan mantan suaminya. Bahkan selama menikah belum pernah rasanya Nilam ikut duduk di kursi mobil Yudha.
Sepanjang perjalanan mereka hanya saling diam. Yudha fokus mengemudi sementara Nilam sibuk dengan pikirannya.
Semalam Yudha meminta izin bertemu dengan Mylea, Nilam tentu mengizinkan asal Mylea tidak keberatan. Dan tadi pagi sebelum meninjau lokasi bersama dengan Alfaaro Nilam sudah mendapatkan jawaban dari putrinya jika dia mau bertemu dengan Yudha.
Dan disinilah mereka Yudha sedang duduk berjongkok dihadapan putri kecilnya.
"Hai.." sapa Yudha kaku.
"Anda ayahku?" celetuk Mylea yang menatap wajah Yudha dengan penuh keingintahunan.
Kini tatapan Mylea menyorot Nilam.
"Jadi benar dia ayah ku?"
Nilam mengangguk dan itu menerbitkan senyum di bibir kecil Mylea.
"Aku senang karena ternyata aku punya ayah. Dan teman-temanku di sekolah tidak akan mengejekku lagi dengan mengatakan jika aku tidak punya ayah."
Betapa hancurnya hari Yudha mendengar ucapan itu dari bibir mungil putrinya.
Kini tangan kecil Mylea menyambut uluran tangan Yudha.
"Aku tidak terluka mendengar hinaan mereka semua, aku hanya perduli dengan perasaan mama. Selama ini mama selalu ada untukku, disaat semua orang bilang bahwa aku ini anak haram, mama yang selalu bilang aku adalah keajaiban untuk nya. Aku tidak tahu apa itu anak haram ayah, tapi yang bisa ku pahami arti haram itu buruk kan? Hal yang tidak diperbolehkan dan dilarang oleh agama?"
Mata Nilam menatap Yudha yang kini sedang melihatnya dengan tatapan yang tidak bisa Nilam artikan. Mata besar itu nanar ada embun yang siap turun menjadi air mata.
Yudha terluka dengan ungkapan sederhana dari putrinya.
Perkataan Mylea sangat-sangat melukai hati Yudha, bagaikan pisau belati yang mengiris-iris dengan tajam dihatinya.
"Aku sedih, tapi tidak bisa membuktikan pada temanku jika aku punya ayah dan bukan anak haram seperti yang mereka katakan."
Sekali lagi pisau itu mengiris hati Yudha, menusuknya, menyebabkan perih dan luka yang amat sangat.
Sementara Nilam hanya mampu menunduk. Ia sendiri baru dengar keluhan buah hatinya. Ternyata putrinya memendam semua itu darinya.
Sudah cukup! Desis Yudha dalam hati, ia tak sanggup lagi mendengar keluhan putrinya rasanya dia bisa memotong lidah-lidah orang yang ikut memperolok putrinya.
Yudha meraih Mylea kedalam pelukannya. Ia mengusap pelan rambut panjang Mylea. "Maafin ayah ya, sayang." mengecup pelan puncak kepalanya.
Capek mengungkapkan perasaan dan isi hatinya Mylea tertidur di sofa dengan tangan Yudha yang menepuk kaki kecilnya.
"Tidur?"
Yudha mengalihkan pandangannya.
"Iya,"
"Ayo makan dulu, aku sudah masak."
Yudha tidak percaya Nilam mau berbaik hati untuknya.
"Tidak perlu, aku langsung pulang saja."
Nilam tidak memaksa dia menyetujui ucapan Yudha.
Lucunya Yudha kecewa melihat Nilam tak menahannya sama sekali.
"Pekan depan aku datang lagi."
"Ya, silahkan."
Yudha berjalan bersama dengan Nilam. Saat mencapai pintu utama perut keroncongan Yudha berbunyi.
Bukan Nilam tidak dengar tapi dia acuh agar Yudha tidak merasa malu.
Tapi ucapan Yudha mampu membuatnya ingin terbahak.
"Apa tawaran makan tadi masih berlaku?"
********
"Masih ingat pulang, Mas?"
Yudha ingin berdamai dengan istrinya. Tapi balasan apa yang didapat dari Ruliana, wanita itu semakin menunjukkan ketidaksukaannya dengan mempertanyakan kedatangannya.
Yudha mengerti, sangat-sangat mengerti perasaan Ruliana ketika ada seseorang yang baru, masuk dan hadir dalam lingkup kehidupannya secara tiba-tiba, itu bukan sesuatu yang mudah untuk menerimanya dengan tangan terbuka. Apa lagi menerima putrinya yang terlahir dari rahim wanita lain. Apalagi keberadaan Mylea tidak ia ketahui sebelumnya.
Tapi jujur Yudha tidak ingin menyembunyikan apapun dari Ruliana, berniat terbuka dengan semua hal, tapi yang terjadi justru penolakan dari Ruliana.
"Mau kemana?"
"Kamu tidak suka aku pulang, aku kerumah ibu saja."
"Pergilah, Yud. Dan tak perlu kembali!"
Yudha tersentak. Barusan Ruliana menyebut namanya?
*******
Nilam hendak menutup gorden kamarnya saat matanya melihat sebuah mobil yang dikenalinya.
Mobil milik Alfaaro.
Untuk apa pria itu disini?
"Ma."
Nilam belum mengalihkan pandangannya dari mobil milik Alfaaro dan kini di kejutkan dengan kehadiran Mylea kedalam kamarnya.
"Kok bangun?"
Nilam berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan putrinya.
"Aku tidak benar-benar tidur."
Itu artinya Mylea berbohong?
"Aku hanya sudah puas mengatakan apa yang ingin aku katakan pada om itu."
Om itu? Padahal tadi Mylea memanggil Yudha sebagai ayah.
"Mylea lega?"
Putri Nilam dan Yudha mengangguk.
"Om itu kecewa pada dirinya sendiri, dan Mylea bisa sedikit membuat dia merasakan kesedihan mama."
"Mama tidak pernah bersedih." Nilam terharu mendengar ucapan putrinya, tapi Nilam tidak mau putrinya tumbuh dengan sebuah rasa benci, tidak meski hanya setitik.
"Ma, aku sudah besar dan tahu jika mendengar om itu mengatakan aku ini hadir karena kesalahan tidak hanya aku yang sakit tapi mama juga."
Tuhan!
Nilam tidak tahu jika putrinya belum bisa melupakan rasa sakit itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
3sna
jgn lupa jg kalo ada kt kesalahn dr kt lahirny
2024-08-30
0
Heryta Herman
mylea anak cerdas...
2024-07-29
0
Anonymous
anak 8 th..bs mikir sp ke sana....hmmm
2024-06-17
0