"Mencoba profesional."
Sahabat Alfaaro yang bernama Juan tersenyum sinis. "Kamu eksekutif muda. Lebih dari dia bisa kamu dapatkan." lagi pula menurut Juan mengapa harus janda sedang yang gadis banyak mengantri.
"Janda semakin di depan." jawab Alfaaro seadanya. Lagian siapa yang tahu hati akan berlabuh.
Mama Mylea janda bukan sembarang janda, Alfaaro tidak perlu menjabarkan cukup dia yang tahu pesona seorang Nilam.
"Eh, malah senyum-senyum sendiri."
"Gue cabut, besok sudah harus balik."
"Yang bener aja bro," ucapan Juan tak dihiraukan Alfaaro dia kembali ke kamar nya sendiri untuk beristirahat. Alfaaro sudah tidak sabar bertemu dengan Mylea besok.
********
Sudah satu minggu Yudha mengabaikan istrinya. Ruliana tidak bosan mendatanginya di kantor maupun rumah Maulida tapi Yudha selalu menghindar.
"Sudah tidak butuh kehadiran ku? Aku bahkan belum mengundurkan diri jadi sekretaris mu jika mas lupa ." ucap Ruliana dengan muka masam.
Alamat hari ini dia tidak bisa datang kerumah mantan istrinya untuk menemani aktivitas Mylea yang kini sudah mulai dekat dengannya.
"Pulang nanti kita dinner."
"Hmm," jawab Yudha.
Ruliana tidak datang dalam keadaan baik, ia kesal sejak di tinggalkan di pinggir jalan oleh Yudha hari itu. Tapi ingin membahas dia takut Yudha akan semakin menjauhinya.
Yudha membiarkan Ruliana tetap berada di ruangannya. Diakuinya akhir-akhir ini Yudha sudah jarang mengingat Ruliana. Tidak bisa bertemu dengan sang putri Yudha merasa bersalah padahal kenyataannya Mylea tidak menuntut kedatangannya.
Hingga waktu jam kantor mau tidak mau Yudha membawa istrinya pulang.
Sesampainya di rumah Ruliana mengenggam tangan pria itu seperti biasanya.
"Aku kangen, Mas." Ruliana tahu Yudha paling lemah dengan sentuhannya. Biasanya se-marah apapun Yudha akan mencair jika dia sudah bergelayut manja seperti saat ini.
Tapi sepertinya malam ini menjadi pengecualian. Bukan menyambut intim seperti biasanya Yudha justru meninggalkan begitu saja dirinya dan pergi ke kamar mandi.
Ruliana marah tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
"Ini semua gara-gara tua bangka itu." monolog nya dengan tangan mengepal.
Di dalam kamar mandi Yudha bukan tidak menyadari keanehan yang terjadi, dia sendiri biasanya begitu mendamba dengan sentuhan tangan Ruliana.
Kebutuhan primitif itu akan timbul di permukaan jika Ruliana sudah bergelayut manja, tapi hari ini tidak ada reaksi apapun.
Yudha dibuat frustasi oleh keadaan ini.
******
Bagi Ruliana ini pagi yang cerah karena ia kembali bangun di kamarnya bersama Yudha, tapi hatinya langsung kecewa saat menyingkap selimut dan melihat pakaiannya masih melekat di badan.
"Sudah bangun?" tanya Yudha.
Bukan menjawab Ruliana malah merentangkan tangan dan Yudha membawa wanita itu ke pelukannya.
Keputusannya sudah bulat, dia tidak mau kehilangan Yudha, selain Yudha baik dan tulus mencintainya Ruliana juga tidak mau kehilangan tambang emasnya. Bukan tidak cinta, tapi Ruliana ingin realistis hidup tidak bisa tanpa uang, uang memang bukan segalanya tapi hampir segalanya butuh uang.
Butuh perjuangan untuk membuat istrinya tak terus merusuh. Pekerjaan hari ini menyita waktu dan perhatiannya, Yudha baru menyelesaikan pekerjaannya jam tujuh malam, lalu ia langsung menuju ke rumah mantan istrinya.
******
Aku datang hari ini. Tanyakan pada Mylea ingin di bawakan oleh-oleh apa?
Nilam sedang berkutat dengan beberapa berkas perusahaan saat notifikasi ponselnya menampilkan pesan.
Dia mengenal nomor ini, tapi dia awam dengan isi pesannya.
*****
Tiba di rumah Nilam Yudha menekan bel dan pintu di buka oleh asisten rumah tangga Nilam.
"Ibu dan Mylea ada?"
Wanita paruh baya segera membuka pintu setelah tahu siapa yang datang.
Tiba di ruang tamu Yudha mengucapkan salam sebelum masuk, begitu melangkah masuk ia melihat pemandangan yang mengiris kalbu.
Di kursi Alfaaro duduk bersama putrinya, sepertinya laki-laki itu sedang mengajari Mylea menggambar. Nilam juga duduk di kursi tersebut tepatnya di samping Alfaaro.
Jika dilihat seperti ini mereka seperti keluarga kecil bahagia.
"Aku ingin mengantar ini." sangking kesalnya Yudha lupa menyapa Alfaaro.
Mylea menerima bingkisan yang di berikan Yudha.
"Ayah tidak mau duduk dulu?" Mylea bertanya.
Duduk dimana? Bahkan sofa itu sepertinya tidak muat menampung satu orang lagi.
Banyak sofa tapi yang ingin diduduki oleh Yudha jelas yang ada anak serta mantan istrinya dan itu sudah di tempati pria lain.
"Ayah harus balik ke kantor, ada yang ketinggalan, besok ayah datang lagi ya."
Mylea mengangguk dan kembali duduk bersama pria yang membuat hati Yudha panas.
"Terimakasih."
Itu suara Nilam, terdengar begitu lembut tapi justru membuat Yudha bertambah kesal.
Yudha pergi dengan perasaan hampa. Dia sudah menghubungi Nilam tapi tidak diangkat, ternyata wanita itu terlalu asik dengan kekasihnya yang brondong itu.
******
Sejak melihat kebersamaan mantan istri dengan pria muda itu dan juga Mylea membuat hatinya berdarah. Terhitung sepuluh hari ketika datang Yudha berusaha fokus pada Mylea saja.
Dia ingin menyuarakan isi hatinya tapi tidak berhak. Ia tidak bisa mengatakan pada mantan istrinya bahwa dia cemburu, dia juga tidak punya wewenang mengatur boleh atau tidak pria muda itu datang kerumah mantan istrinya. Biarlah Yudha egois untuk dirinya sendiri Nilam tidak perlu tahu.
Alfaaro tidak punya masalah dengan Yudha, sebagai laki-laki dia cukup profesional dan tahu menepatkan diri. Ia juga tahu mantan suami Nilam sudah memiliki istri.
"Kemana si manis?" si manis yang di maksud Alfaaro adalah Mylea.
"Ada di kamar sedang bersama ayahnya. Kita ngobrol di sini saja tidak apa-apa?"
"Boleh, tidak masalah." jawab Alfaaro dengan senang hati.
Kapan Nilam siap, sebagai laki-laki dia sudah cukup sempurna. Apapun sudah dia persiapan meskipun itu hal kecil tinggal menunggu kapan wanita itu setuju di halalkan saja.
Tidak diketahui oleh keduanya Yudha sudah keluar dan melihat mantan istrinya tengah mengobrol dengan pria muda itu.
Rasanya mau mengumpat.
Bahkan selama apapun dia menemani putrinya Nilam tidak mau melibatkan diri meski hanya melihat tapi kenapa dengan laki-laki lain dia mau menemui dengan mudahnya.
Apa dia mengandung virus hingga wanita itu tidak ingin mendekat.
Kebenarannya Nilam dan Alfaaro sedang membicarakan proyek mereka yang hampir selesai.
Keduanya sangat serius sehingga tidak sadar ketika duduk mereka terlalu dekat. Dari belakang terlihat seperti Nilam yang bersandar pada pria muda itu tapi yang sebenarnya Nilam dan Alfaaro sedang merancang bener promosi untuk langkah akhir kerja sama mereka.
"Bagaimana jika diskon 20% untuk bulan ini?" tanya Nilam.
"Kurasa untuk pertama tidak jadi masalah, tapi tidak untuk sebulan full, kita bisa atur harinya, sebab jika di hari libur sepertinya akan semakin padat pengunjungnya."
"Kamu benar."
"Jadi apa pengecualian hari sabtu dan mingg.."
"Khem."
Tidak hanya Nilam, Alfaaro pun ikut menoleh kebelakang.
Di sana Yudha tersenyum tidak bersalah, sementara kedua orang yang tengah berdiskusi penting itu merasa terganggu dengan deheman Yudha yang sangat tidak penting.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Happy Kids
yauda sii damai aja. toh yudha ga selingkuh slama nikah. terima aja anaknya. cb damai
2025-03-05
0
Happy Kids
krn akhir akhir ini byk pikiran banyak masalah stress aja siii makanya cuti
2025-03-05
0
Happy Kids
memang harus dginiin biar ga slalu merasa diatas awan. skg dia ngemis ngemis
2025-03-05
0