"Sejak kapan?"
Semua mata memperhatikan interaksi ibu dan anak tersebut.
"Maaf."
Maulida tertawa dalam hati. Keputusan dengan alasan masih cinta, sehingga Yudha berani mengambil langkah yang jelas-jelas tidak disukai keluarga besar.
"Kamu berani bertindak, maka hadapi konsekuensinya."
Ruliana menggebrak meja dengan kasar. Kemudian matanya menatap laki-laki yang duduk di hadapan Maulida.
Maulida tersenyum miris, melihat keberanian sang menantu yang terang-terangan menentangnya.
"Bisa kamu masuk kedalam kamar, saya butuh bicara dengan anak laki-laki saya!"
Ruliana tahu, ucapan Maulida menekan dirinya. Tapi, ia tidak suka di anggap asing seperti ini. Yudha tidak salah memilihnya, karena sejak awal Nilam yang mengambil apa yang harus menjadi miliknya.
"Aku ingin tetap disini."
Yudha berdeham, obrolan ini tidak sehat dan akan berujung pertengkaran.
Maulida melirik putranya.
"Sayang, masuklah ke dalam,"
Maulida menunggu reaksi Ruliana. Mata Ruliana berkaca-kaca. Tatapannya menghunus tajam pada Yudha, sehingga laki-laki itu kalut.
Ruliana berdiri berbalik, keluar dari ruang tamu dan naik ke kamarnya.
"Kamu tidak ikut naik ke kamar?"
"Ngapain?"
"Istrimu lagi ngambek biasa ..."
"Nggak. Mama butuh bicara dengan ku."
Tumben.
Hening.
"Soal Mylea aku akan coba bicara dengan Nilam."
"Jangan pernah lakukan!" kecam Maulida.
"Tapi Mylea anak ku!"
"Kehadirannya hanya sebuah kesalahan, bukankah itu katamu?"
"Aku hanya salah bicara."
"Mau di tutupi sampai kapan? 8 tahun kurang?"
"Dengarkan aku Ma."
Saat mengatakan itu Yudha menguatkan hatinya.
Mata Maulida memerah. Ibarat bom waktu, ia bisa meledakkan diri di detik ini juga.
"Kali ini turuti permintaan mama, anggap ini sebagai permintaan terakhir dari mama sebelum akhirnya ajal menjemput."
"Ma!!"
Maulida tersenyum tipis.
"Ada alasan yang perlu kamu tahu mengapa mendiang ayahmu memilihkan Nilam menjadi pendamping mu Yudha."
*********
"Ma...."
Lirihan itu membuat Nilam mendongakkan kepala dan melihat mata yang masih terpejam.
Nilam tergugu pilu.
Matanya tak bosan melihat wajah yang sangat di sayangi nya. Merekam wajah yang setiap harinya semakin tampak cantik.
Ini pertama kali putrinya menangis seperti ini, tidak ada yang lebih menyakitkan dari pada di tolak oleh ayah sendiri terlebih kehadirannya dianggap sebagai kesalahan.
Ini kali pertama Mylea sakit. Dan, dalam keadaan separah ini. Sakit yang tidak tampak tapi sangat berdampak.
Air mata Nilam luruh. Bersama hati yang hancur. Sebesar ini efek yang dirasakan putrinya. Tubuh kecil itu bergetar. Demamnya sudah reda tapi mata itu masih enggan terbuka.
"Tidurlah!" suara yang lebih seperti nada perintah itu di ucapkan oleh Jenar. Tidak ada embel-embel Ibu.
"Kamu tidak pulang ke paviliun?"
******
Di dalam kamar, Yudha dan Ruliana bersitegang. Kecurigaan Ruliana beralamat, artinya Yudha harus siap pada sikap yang akan diambil Ruliana.
"Kalian bersekongkol?" Kata Ruliana dengan tatapan tajam dengan wajah bersimbah air mata.
"Mas hanya ingin tahu tentangnya."
Yudha tidak berniat membohongi istrinya. Ia berniat jujur, tapi belum menemukan waktu yang tepat untuk bicara dan menceritakan semuanya.
Ruliana hanya sedang menutupi ketakutan hatinya. Sosok Mylea sudah tentu membuat Yudha jatuh cinta. Bukan hanya Yudha, banyak orang yang menyukai Mylea. Ketakutannya kian menjadi karena mereka memiliki ikatan darah.
"Kamu pernah berjanji tidak akan mengusik masa lalu." Ruliana tidak bisa terima. " Kenapa kini seolah sedang menggali masa lalu itu?"
"Ada Mylea diantara aku dan Nilam."
Ruliana tidak percaya. Nilam? "Mudahnya kau menyebut nama wanita itu di depanku?"
Dulu dia sangat mengagumi kecantikan dan pesona seorang Nilam. Tapi ketika tahu bahwa wanita itu adalah mantan Elit suaminya jelas itu menumbuhkan kebencian yang tumbuh karena menutup ketakutannya.
Mengusap wajahnya Yudha bertanya. "Kamu percaya sama aku?"
"Apakah bisa setelah apa yang ibumu katakan?"
Yudha tertawa hambar. Kemana perginya Ruliana yang pengertian?
"Posisi ku sebagai wanita, juga istri. Mas bisa mengerti?"
"Ketakutan mu tidak akan terjadi " Yudha meyakinkan Ruliana. "Aku mencintaimu."
"Setelah hari ini sulit percaya mendengar ucapan mu!"
Se-egois apa istrinya sekarang?
"Apa yang kamu inginkan sekarang?"
"Jangan pernah cari tahu tentang masa lalu mu, tentang dua wanita beda generasi itu. Sanggup?"
"Putriku bernama Mylea Elvarette." Yudha masih ingat hari dimana Nilam memberi tahu nama gadis cantik yang langsung mencuri hatinya.
"Jangan sebut namanya."
"Ana...,"
"Dia masih punya ibu."
"Dia juga membutuhkanku, dia darah daging ku."
Ruliana tahu. Hanya melihat mata dan cara memandang gadis kecil itu saja, bisa di dilihat jiplakan siapa yang melekat di wajah gadis kecil itu.
Ruliana marah.
"Bagiku, kamu adalah keluargaku. Masa lalu mu aku haramkan mereka masuk apalagi dianggap oleh mu."
Lagi Yudha tersentak. Dihadapkan pada dua pilihan paling sulit. Ini pertama kalinya Ruliana menghakiminya.
"Ruliana.... hati-hati berbicara! Kamu sedang marah. Yang kamu katakan akan kamu sesali." sama seperti dirinya.
Ruliana membuka pintu kamar. Pertengkaran kedua yang cukup hebat dan diketahui oleh ibu Yudha.
"Keluar! Sana se-puas mu lihat mantanmu yang glow up dan anak haram yang sudah besar."
Yudha tidak berbicara lagi. Kepalanya terasa mau pecah.
Ucapannya membuat Mylea yang belum mengenalnya merasa takut, permintaan sang ibu, kemarahan istrinya dari semua itu yang terus terbayang di benak Yudha adalah tatapan dingin serat kekecewaan yang dilayangkan oleh Nilam.
Nilam, haruskah Yudha menaklukkan benteng wanita itu agar bisa dekat dengan putrinya?
Mengenang hari itu. Mata Yudha menatap wajah mengemaskan putrinya.
"Semoga kamu segera melupakan perkataan ayah yang tak sengaja kau dengarkan." lirih Yudha pada sepoi angin.
Yudha memejamkan mata. Melihat sosok itu hadir dalam memori.
"Kamu akan baik-baik saja." Yudha menunduk."
********
"Aku yang tidak diinginkan atau mama yang terbuang?"
Dua-duanya.
Pertanyaan berat untuk anak seusia Mylea.
Nilam terpengkur. Lebih dahsyatnya jiwa Mylea terguncang, karena Nilam takut memberikan jawaban.
Keadaan Mylea telah diketahui, dokter sudah menjelaskan dengan detail.
Dan sampai Mylea kembali terlelap, putri Nilam belum juga mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.
"Masih ingin disini."
"Sudah malam."
Pria itu menatap wajah yang masih memperhatikan putrinya.
"Anda bisa berbaring di sisi kanan, saya tidak tega melepaskan tangan ini."
Kebenarannya putri Nilam tak melepaskan pelukannya pada lengan kokoh Jenar.
"Apa yang Anda takutkan?" melihat keraguan di mata Nilam Jenar bertanya." Bukankah aku ini seorang yang bertugas melindungi anda?"
Benar.
Perlahan Nilam melepas alas kakinya dan membaringkan tubuhnya di samping kanan Mylea, sementara di sisi kiri ada Jenar. Posisi mereka sudah seperti keluarga kecil bahagia.
Nilam memeluk putrinya tidak sengaja tangannya bersentuhan dengan lengan Jenar.
Wajar jika sebagai bodyguard seseorang memiliki otot lengan yang kokoh dan juga stamina bagus.
Melihat lengan kemeja itu telah di gulung hingga siku membuat Nilam gagal fokus. Bukan karena urat-urat yang menonjol dari lengan Jenar. Tapi salah fokus karena betapa bersihnya kulit seorang Jenar, putih dengan jemari yang begitu panjang.
Sepertinya esok Nilam harus menghubungi pamannya untuk menanyakan sosok yang berada di satu ranjang dengannya malam ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Rima baharudin
hah..... enak aj bilang anak haram
lu yang udah ngerebut ayahnya PA
sorry tor ikut emosi
2024-09-09
1
Heryta Herman
ruliana sang wanita pelakor ga sadar apa ya...dia yg menghancurkan rmh tangga orang..dia yg seorang jalang..mengata anak pria yg kau rebut anak haram?....bukan nya kamu,jadi wanita yg haram jadah ruliana...
2024-07-29
1
Shepty Ani
ah apa kata wanita itu anak haram?? hei dia dihamili suaminya yg sialnya suaminya pacar lu, kalian emg cocok bareng" bodohnya ampe keubun", tolong jangan ganggu nilam lagi dia akan bahagia bersama mylea sama ayank baru
2024-06-28
0