Jenar sudah bulat dengan tekadnya, dia akan menunggu waktu yang pas untuk mengatakan pada Nilam. Jadi seharian ini ia melakukan pekerjaannya seperti biasa. Apa yang akan disampaikan pada Nilam nanti sudah dipikirkan dengan matang.
Sayang seribu sayang, hari ini keadaan Nilam kurang baik, selain lelah fisik sepertinya Nilam sedang banyak pikiran.
Hingga kejadian ini membuat Jenar semakin tidak tega untuk keluar dari pekerjaannya.
Ketika dia mengatakan ingin keluar dari pekerjaannya bukan karena keinginan dari hatinya, tapi bisa dikatakan karena tanggung jawab.
Tapi setidaknya dia masih bisa menunggu hingga Nilam bisa mendapatkan penggantinya.
Hingga satu jam berada di ruang yang sama tidak ada obrolan lebih lanjut.
Mereka memang tidak pernah terlibat obrolan kecuali pertanyaan penting dan Jenar segan dengan sikap pendiam Nilam.
Karena sudah terbiasa dengan suasana seperti itu jadi tidak terlihat aneh.
"Aku akan menunggu, setidaknya carilah pengganti ku."
Sesaat suasana kembali hening, hingga Jenar kembali melanjutkan ucapannya.
"Aku akan bekerja satu mingguan lagi, setelah itu aku keluar."
"Baik." Nilam tidak ingin menyulitkan orang lain. Maka dari itu tanpa bertanya alasan Nilam memberi kebebasan pada para pekerjanya.
Menganggap pembicaraan itu telah selesai Nilam hendak membaringkan tubuhnya di samping Mylea.
******
Yudha terpana melihat Ruliana menyambut kedatangannya dengan senyum merekah.
Matanya berbinar dengan pandangan yang tak lepas dari wajah istrinya.
Namun itu hanya ilusi. Karena sebenarnya tidak ada siapapun yang menyambutnya pulang.
"Apa sesulit ini, memperjuangkan seseorang yang kita cintai."
Yudha mendudukkan dirinya di sofa. Ia masih bergelut dalam pikiran dan logika. Hanya detak jarum jam yang menemani malam sunyi itu.
Kepada keluarga, Nilam tidak pernah menceritakan kelakuannya meskipun mungkin wanita itu tengah emosi.
Pengendalian emosinya yang cukup buruk. Sedang Nilam begitu sabar.
Sebab yang ia terima juga akibat ia yang membongkar aibnya sendiri di depan sang Ibu.
Wajar ketika ibunya kini marah padanya. Merasa dibohongi dan pastinya kecewa karena keputusannya tidak sejalan dengan keinginan sang ibu.
Kini bahkan istrinya juga menghindar, tidak ada lagi candaan, tidak ada sapaan kehidupan Yudha merasa sepi.
Keadaan ini membuat hubungannya dengan Ruliana terasa hambar.
Bukan karena tidak cinta lagi. Namun, permasalahan ini memicu kadar stresnya.
Tubuh Yudha yang kekar mulai menirus dengan kantung mata yang teramat kentara.
Malam kejadian saat ia minum alkohol, malam dimana sabarnya menipis dan imannya berada di ujung kuku.
Keangkuhan Nilam dan penolakan Ruliana lah penyebab kekacauan Yudha.
Dalam keadaan teler, memory tak berhenti berputar kenangan dia bersama Nilam dari pertama bertemu hingga memutuskan menikah.
Bagaimana kedua keluarga yang sudah menjalin kekerabatan sebelum hubungan mereka dimulai.
Tak ketinggalan detik termanis hingga berakhir dengan keputusannya memilih Ruliana.
Mata Yudha berkunang-kunang, efek kelelahan juga kekurangan nutrisi mempengaruhi kinerja otak.
*******
"Benahi kesalahan yang pernah kamu lakukan."
Benahi?
Kenapa ibu melimpahkan untukku?
Tangan Yudha memegang erat cangkir yang berisi kopi.
"Kamu melakukan kesalahan besar, Yud! Dan kamu tidak menyesalinya?"
Air mata Maulida sudah menggantung, dengan gejolak emosi pasang surut dalam sukma.
"Ibu terlalu banyak berharap sepertinya. Sekarang untuk bertatap muka dengan Nilam saja ibu malu, apalagi dengan putrinya."
"Dia juga putriku, di dalam dagingnya mengalir darahku, tidak ada yang bisa menghalangi ibu bertemu dengannya, termasuk Nilam."
Percaya diri sekali.
"Darah daging siapa yang mas maksud?"
Tegang.
Seketika tubuh Yudha menegang mendengar suara Ruliana.
Apa yang harus di jelaskan olehnya?
Yudha berbalik dan melihat Ruliana yang mendekat dengan mata berkaca-kaca.
Tidak!
Ini sangat kacau.
"Apa yang sedang kalian bahas?"
"Tidak ada sayang, ini hanya obrolan kecil," timpal Yudha berusaha menenangkan istrinya.
"Aku tidak tuli mas! Kamu punya anak dari wanita itu?"
Yudha tidak sanggup melihat wajah sembab istrinya, tapi dia sendiri sedang tersudut.
"Ruli, itu tidak seperti yang kamu bayangkan. Anak itu hanya sebuah kesalahan, kamu tidak..."
"Kesalahan?"
Bukan suara Maulida ataupun Ruliana. Pertanyaan itu hadir dari bibir kecil dengan rona merah alami.
Sebaris kalimat yang juga disaksikan Nilam dan Maulida meluncur tanpa terkontrol membuat setitik air mata jatuh membasahi wajah cantik putri kecil Nilam dan Yudha.
Pemandangan yang tidak seharusnya disaksikan Mylea, juga kalimat yang tidak sepatutnya di dengar oleh anak seumurannya. Apalagi, diucapkan sendiri oleh ayah kandungnya.
Usai penolakan nyata tentang status anaknya, Nilam melihat pelukan melindungi yang di dapatkan Mylea dari seorang yang menjadi bodyguardnya.
Bukan Nilam yang merencanakan pertemuan ini. Permintaan Maulida yang membawa Nilam kesini bersama garis keturunan mereka.
Skenario Tuhan itu indah.
Nilam tidak perlu repot-repot memberi penilaian tentang ayah putrinya. Yudha sendiri yang membuka mata anaknya untuk menjaga jarak.
Darah itu sudah mengering, Namun goresan kembali disibak oleh penyebab luka.
Ibarat Nilam yang sudah bisa melupakan keburukan Yudha. Tapi justru pria itu sendiri yang kembali membuat catatan keburukan baru.
Putrinya terlahir dalam ikatan sah. Namanya tercatat dalam buku negara. Lantas, dari mana Yudha menjudge putrinya sebuah kesalahan?
Yudha di hantam kesadaran ketika suara Isak tangis ibunya bersautan dengan Isak kecil dari seorang anak dengan kecantikan yang tidak bisa di lukiskan.
Yudha sadar dia telah salah berucap.
Efeknya sangat dahsyat untuk putrinya yang belum sempat ia sapa meski sekedar hello.
Yudha melirik pada Nilam yang tengah menatapnya tajam dan serat amarah.
Wajar. Sejujurnya. Yudha sendiri kaget dengan perkataannya tadi.
Tidak ada kebencian sebelum ini pada Nilam, mereka pernah bersama. Walau tanpa cinta, Yudha masih mengingat des*h nikmat malam itu.
Hati Ibu mana yang tidak akan hancur menyaksikan luka anaknya? Ibu mana yang bisa tersenyum jika ayah kandung menolak kehadiran buah hati?
Kata orang, cinta pertama anak perempuan adalah ayahnya. Lantas, jika cinta pertama Mylea ayah seperti Yudha, bagaimana kasih tulus itu akan terbentuk?
Nilam mengangkat wajahnya. Pelan namun pasti langkahnya mendekati Yudha.
"Sekarang kami pergi! Hapus nama Mylea. Lupakan seperti anda menolak keturunan anda di rahim saya."
Ucapan Nilam mengundang bara yang membakar Yudha hidup-hidup.
"Dia tetap anakku!"
"Selamanya dia akan menjadi sebuah kesalahan, ingat baik-baik itu. Jangan lagi mencoba untuk mendekati putriku, seperti saya, kini Mylea pasti tidak ingin ada anda di tengah-tengah kami seperti harapannya sepuluh menit yang lalu."
Puncak emosi Yudha meledak. Jutaan asa meluruh bersama frustasi kebimbangan.
Saat hendak mendebat Nilam suara kecil dan serak membuatnya melihat kearah sumber suara.
"Bisa om bawa Lea pergi dari sini? Mama salah bawa Lea kesini yang katanya mau bertemu nenek. Tapi Yang ada di ruangan adalah seorang pria pemarahan yang membuat Lea takut. Lea takut om, Lea tidak mau disini."
Mata Yudha memanas melihat tangan kecil Mylea melingkar di leher laki-laki itu. Bukankah dia yang lebih berhak?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Happy Kids
dia sendiri yg aneh. biasa aja gt g bsa ta
2025-03-05
0
Happy Kids
kesalahan tp.neror terus pengen kefemu
2025-03-05
0
Heryta Herman
rasakan akibat mulut kotoemu yudha...
2024-07-29
1