Bab 7

"Kita masuk gang anggrek."

Jenar menuruti kemauan bosnya, mobil mereka sudah terparkir di depan rumah bercat biru tosca.

Dari dalam muncul seorang perempuan berambut pirang yang di cepol asal.

Mengerti Nilam hendak keluar gegas Jenar membukakan pintu.

"Terimakasih."

Jenar mengangguk sekali dan kembali masuk kedalam mobil menunggu Nilam.

"Siapa?" Lisa tidak bisa berkedip melihat cowok mengenakan kaos hitam dan celana jeans dengan warna senada yang menonjolkan warna kulitnya.

"Yang aku bilang kemarin."

"Yang benar saja." Lisa terpana.

Nilam tidak mengerti mengapa tanggapan Lisa sangat berlebihan dan Lisa tidak perlu bertanya kenapa Nilam tidak terpesona pada pria bernama Jenar. Jawabannya karena Nilam sulit jatuh cinta.

*******

Sudah sepekan Jenar menjadi orang yang terus berada di samping Nilam.

Selama ini tidak terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan selain hari pertamanya yang di ganggu Yudha.

"Mungkin aku sedikit lama." Nilam memberi tahu Jenar.

"Baik Bu."

Tentang kesibukan Nilam sedikitnya mulai dipahami Jenar dan pria itu mulai menikmati pekerjaannya yang awalnya terpaksa. Perlahan dia juga mengenal wanita seperti apa Nilam. Memang berbeda dengan wanita pada umumnya, mungkin karena Nilam seorang pemimpin jadi kharismanya terasa lebih kuat.

Sekarang Jenar tertawa, dia tidak suka bekerja dengan formal tapi sekarang menjadi bodyguard seorang direktur dan anehnya ia menikmati.

Baru dua hari yang lalu Jenar mengetahui jika Nilam seorang ibu, bukan karena wanita itu bercerita tapi karena Jenar menjemput Nilam di sebuah apartemen yang ternyata ada gadis kecil yang matanya sangat mirip dengan Nilam.

Nilam juga memperkenalkan Mylea sebagai putrinya. Hanya sebatas itu yang Jenar tahu tentang bosnya.

******

Maulida merasa tersanjung dengan kedatangan Nilam dan Jenar.

Pandangan Maulida tetap sama pada mantan menantunya, bangga dan juga sayang.

"Jadi ini gantinya anak mama yang bodoh itu? Ganteng dan berwibawa, kalian serasi."

Nilam tersenyum tipis tanpa niat mengoreksi ucapan Maulida, dia datang hanya untuk melihat kondisi wanita itu. Sementara Jenar mulai paham siapa yang sedang dikunjungi oleh Nilam.

"Ibu sudah bisa berjalan walau pelan."

"Syukurlah." Nilam senang mendengarnya.

"Diminum Teh nya, Bu, Pak." bibi mempersilahkan Nilam dan Jenar minum.

"Terimakasih."

Dalam hati bibi yang sudah bekerja sejak lama dengan Maulida memuji mantan istri anak Majikannya. Sebagai wanita dari keluarga biasa dia cukup terpana dengan Nilam. Tidak hanya cantik wanita itu juga bersahaja, Nilam juga santun dan tidak tampak sombong meski dengan mereka yang hanya pembantunya.

Ketika Nilam sedang mengobrol dengan Maulida dan Jenar Yudha masuk dari pintu utama. Ia belum menyadari keberadaan Nilam di ruang tamu, karena baru saja tiba.

Yudha sendiri sedang kelimpungan karena Ruliana sang istri marah besar padanya. Kedatangannya ke sini untuk menenangkan diri tapi yang ada jiwanya makin berkobar saat melihat wanita yang tengah bercengkrama dengan ibunya.

Yudha kembali pada amarahnya, selama satu minggu dia benar-benar memikirkan wanita itu juga perasaan penasaran yang sudah di bantah olehnya sendiri.

"Untuk apa kau datang?"

"Melihat ibu."

Jawaban direktur selalu pasti.

Melihat amarah di wajah Yudha Jenar waspada.

"Mau pamer kalau kamu sudah laku setelah ku buang?"

Kalimat itu harusnya menohok di hati, tapi Nilam tidak merasakan efek apa-apa.

Kilatan mata Yudha menghunus objek di hadapannya. Melihat pria di samping mantan istrinya ada rasa yang tersulut emosi.

"Apa salahnya Nilam membawa suaminya pada Ibu, kalian berpisah juga sudah delapan tahun bahkan kamu sudah menikah kembali empat tahun yang lalu, edan kamu Yudha!" Yang terpancing emosi malah Maulida mendengar perkataan putranya.

Membuang katanya?

Tapi telinga Yudha tuli untuk mendengarkan nasehat Ibunya.

"Aku datang baik-baik ingin melihat anak kita. Tapi apa yang kamu lakukan? Menolak ku? Kamu mau balas dendam setelah dulu aku pernah membuang mu di pernikahan kita yang belum genap satu bulan?"

Yudha tertawa.

"Sejak awal kamu tahu aku tidak mencintaimu, pernikahan itu terjadi karena ayahku, jadi begitu ayah pergi sudah sepantasnya aku kembali pada Ruliana wanita yang sejak lama menjadi kekasihku."

Jenar mencium aroma yang familiar.

Pria ini mabuk!

Mata Maulida mendelik mendengar ucapan putranya, jadi selama ini mereka berpisah karena Yudha yang meninggalkan Nilam?

Setelah tertawa dan menangis Yudha ambruk di sofa ruang tamu.

Tidak ada yang bersuara setelah Yudha terkapar.

Nilam segera berpamitan pada Maulida dan ibu Yudha tidak punya alasan menahannya. Setelah mendengar pengakuan Yudha jujur Maulida malu sekedar menatap wajah Nilam.

Ia merasa gagal mendidik putranya yang berakhir dengan ketidak becusannya menjadi seorang suami.

"Mari Bu," Nilam kaget saat Jenar menarik tangannya.

Nilam merasa canggung dengan sikap Jenar, padahal laki-laki itu bisa mengajaknya dengan kata-kata dan Nilam akan langsung bertindak.

Sekali lagi Nilam dibuat canggung oleh Jenar, pria itu tak melepaskan genggaman tangannya dan menuntun hingga mereka tiba di mobil dan Jenar membukakan pintu untuk Nilam.

Selama menikah dengan Yudha dan menjanda selama delapan tahun tak ada satupun pria yang dekat dengannya bahkan dengan Yudha dulu tidak pernah diperlakukan seperti ini. Tapi Jenar? Dia hanya pengawal bukan siapa-siapanya kenapa bersikap seperti ini?

******

Selama bertemu dengan Yudha. Nilam tidak melihat itikad baik dari laki-laki itu. Ada satu kata yang harusnya Nilam dengar dari Yudha. Yaitu permintaan maaf Yudha atas apa yang sudah mereka lewati.

Tapi sekali lagi. Nilam tidak pernah mengharapkan Yudha meminta maaf. Menurutnya percuma. Dia sudah memutuskan pergi dari laki-laki itu dan saat ini dia sudah sangat bahagia dengan hidupnya bersama Mylea.

Entah kini bagaimana pandangan Maulida dan Jenar setelah mendengar perkataan Yudha hari ini.

Dulu ketika memutuskan pergi Nilam tidak perlu memberitahu teman-temanya atau orang tua perihal alasan Yudha meninggalkannya.

Bahkan ketika telinganya mendengar sendiri jika pria yang menikahinya masih mencitai kekasihnya Nilam mudahkan. Apa yang diharapkan Yudha kala itu? Kemarahan Nilam? Mimpi saja, Nilam jauh dari sikap itu. Jadi apa? Rentelan tanya dengan tangisan yang menguras emosi? Sayang sekali Nilam terlalu berharga untuk melakukan hal itu.

Begitu baik Nilam menyimpan perasaannya, memutuskan segala sesuatu sendiri mungkin jika orang lain Yudha akan dipermalukan. Tapi Nilam? Mungkin karena wanita itu memiliki jiwa kepemimpinan wajar jika Nilam mandiri.

Bahkan sebelum hari ini Nilam tidak membenci Yudha.

Seburuk apapun pria itu darahnya mengalir pada putrinya.

"Apa aku terlihat menyedihkan sekarang?"

Jenar sempat kaget mendengar pertanyaan Nilam, tapi setelahnya Jenar menggeleng. "Aku sedih karena tidak tahu perasaan anda sekarang."

"Itu bukan suatu yang besar karena kami tidak menikah karena cinta."

"Tapi kamu melakukan kewajibanmu selama jadi istrinya, terlihat dari satu bulan kurang hidup bersama kamu memiliki anak darinya "

Sayang ucapan itu hanya menggantung di benak Jenar.

Bercerai baik-baik tanpa membuat perkara, hingga orang tua bertanya-tanya dan menyayangkan perpisahan keduanya hanya dikarenakan ketidak cocokan.

Mulia sekali hati Nilam, tapi kini justru pria itu sendiri yang menggali kebusukannya.

Terpopuler

Comments

𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒

𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒

ms pgglny kamu sm bu bos

2025-03-14

0

Heryta Herman

Heryta Herman

yudhaadalah pfia tdk berakhlak...pria yg tdk pantas untuk wanita sekelas nilam...

2024-07-29

0

Shepty Ani

Shepty Ani

bye bye yudha welcome jenar hihi nggak pp cinta sama bodyguard yg udh pasti ngelindungi dr pada ama lelaki yg terlihat seperti pemimpin nyatanya kayak dajjal

2024-06-28

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!