Dengan rasa percaya diri tinggi Yudha menunggu kedatangan dua orang yang biasanya akan tiba tepat jam delapan pagi.
Demi ingin menemui putrinya Yudha rela membohongi Ruliana.
Ada pertemuan penting dengan kawan lama untuk membicarakan tentang bisnis.
Masuk akal, tapi tetap membuat istrinya curiga.
Waktu semakin merangkak naik, satu jam sudah Yudha menunggu dengan jaket hitam dan topi yang menyamarkan identitasnya tidak lupa masker.
Tapi hingga kelas dimulai gadis kecil yang di tunggu tak kunjung datang.
Kembali perasaannya kacau.
Mungkinkah Nilam lagi-lagi mengetahui niatnya?
Tidak mau kejadian semalam terulang. Yudha terpaksa masuk dan mencari tahu.
"Mulai hari ini Mylea memilih home schooling. Karena Mylea yang masih belum begitu lancar berbahasa Indonesia."
Perkataan itu melekat hingga Yudha kembali masuk kedalam mobil.
Bukan tanpa alasan Nilam memilih home school. Putrinya tidak nyaman berada di antara teman barunya, merasa terlalu asing dan yang utama Nilam tidak mau kejadian seperti malam itu terulang.
Nilam tidak memungkiri mantan suaminya adalah ayah putrinya, tapi bukan berarti lelaki itu memiliki hak atas Mylea.
Yudha memukul keras setir kemudi. Dia tidak akan lupa rasa malu yang diberikan Nilam. Sikap sepihak wanita itu merugikannya.
Harga dirinya sebagai laki-laki dihancurkan wanita itu.
Sementara di dalam sebuah taksi Ruliana merasa heran dengan suaminya, untuk apa berpenampilan seperti itu dan mendatangi sekolah dasar?
Masih mengikuti pergerakan suaminya kali ini Yudha membelokkan mobilnya ke sebuah apartemen elite tak jauh dari kantor.
Rasa penasaran menggerogoti hati wanita yang berstatus sebagai nyonya Yudha.
Dia berperang dengan perasaan antara ingin turun dan mengikuti Yudha atau cukup memperhatikan lelaki itu dari dalam mobil.
Yudha terlihat sangat buru-buru. Kini tampilannya normal tidak ada topi dan masker seperti tadi.
Ada apa dengan Yudha?
Saat kakinya sudah berada di depan salah satu unit apartemen pintu apartemen tersebut terbuka.
Nilam berjalan melewatinya tanpa raut terkejut melihat keberadaan mantan suaminya.
"Saya butuh waktu untuk bicara."
Tidak ada tanda-tanda Nilam akan menghentikan langkahnya.
"Hanya satu menit."
Tanpa berbalik Nilam membalas ucapan Yudha "Saya pernah memberi waktu dua puluh sembilan hari. Kurang?"
Ukiran urat di rahang yang keras terlihat jelas. Yudha menahan tangan Nilam.
"Saya tidak main-main Nilam!"
Dengan kasar Nilam melepaskan kaitan tangan itu.
"Oh ya, jangan cari tahu apapun. Nggak kasihan sama istri anda? Gimana kalau dia tahu, saya punya anak dari suaminya?"
Ingin Yudha mencekik Nilam seandainya tidak ada CCTV.
"Jangan bawa-bawa istriku! Kau dan dia tak sebanding. "
Nilam tertawa kecil. "Ya, anda benar." Nilam mundur dua langkah.
"Perbedaan kami memang sangat mencolok, saya wanita bermartabat, dia wanita bejat."
"Kau..." nafas Yudha memburu karena amarah.
Kilatan mata Yudha menghunus objek didepannya. Namun ia tidak menerima kegentaran dari wanita yang pernah menjadi istrinya dalam hitungan minggu.
"Saya sibuk, silahkan buat janji temu jika anda ingin menemui saya."
Langkah Nilam sangat anggun seperti wanita berkelas pada umumnya. Tapi dimata Yudha Nilam tidak lebih dari seorang pengecut.
Dibalik dinding yang tinggi menjulang seorang wanita menelan kekecewaan. Dengan mata kepalanya sendiri dia melihat suaminya menarik tangan wanita itu, terlihat sekali jika sang suami begitu ingin wanita itu tidak pergi. Hatinya begitu sakit, suaminya mulai tak jujur padanya dan kini diam-diam menemui masa lalu.
*****
Nilam sudah di jemput pak Kadik. Rencananya hari ini dia akan bertemu dengan seseorang yang nantinya akan menjadi pengawal pribadinya.
Bukan ingin berlebihan, tapi melihat situasi akhir-akhir ini sepertinya dia akan membutuhkan seorang pelindung.
Dia tidak yakin laki-laki yang pernah menjadi masa lalunya itu akan berhenti merecoki hidupnya.
Bukankah pria itu sudah mendapatkan cinta masa lalunya? Tapi mana raut bahagia yang dia umbar?
Nilam pernah berjuang. Walau hanya satu kali. Karena berjuang ratusan kali pun klimaksnya akan tetap kalah.
******
Bi Rum berjalan keruang kerja Nilam lalu memberi tahu wanita itu tentang keberadaan tamu yang merupakan orang yang dikirim pak Prakoso.
Di ruang tamu pria itu sudah duduk, dan Nilam menghampiri.
"Saya Mahesa Jenar." seorang pria berperawakan tinggi dan tampan memperkenalkan diri.
Sebuah map berwarna berada di tangan pria itu.
"Saya yang di tugaskan untuk menjaga Ibu oleh Pak Prakoso."
Nilam menerima sebuah map berwarna coklat dan mulai melihat CV pria tersebut. Sebenarnya dia tidak butuh dokumen ini Nilam sudah percaya pada pamannya. Tapi ini hanya formalitas untuk menghargai.
"Baik." Nilam kemudian bertanya apakah pak Prakoso sudah memberitahu sistem pekerjaannya.
"Saya tahu Bu dan saya menyanggupi."
"Oke."
Tidak lama bibi datang membawa secangkir teh dan cemilan.
"Diminum dulu."
Jenar mengangguk. "Tentang seragam, apa saya boleh meminta lebih dari satu?"
Nilam mengangguk tanda menyanggupi.
"Ada lagi?" tanya Nilam.
"Tidak." karena Jenar sudah diberitahu oleh pak Prakoso jam kerja dan segala sesuatu yang lain yang berhubungan dengan tugasnya.
"Silahkan diminum kalau begitu, saya ke ruang kerja dulu."
Jenar mengangguk dan mengantar kepergian wanita itu dengan tatapannya. Pertama kalinya melihat Nilam dia menilai wanita itu sangat irit bicara.
*******
"Selamat pagi Bu."
Itu suara Jenar, Nilam mengangguk sekali tanpa ekspresi lalu masuk kedalam mobil saat pak Kadik membuka pintu.
"Saya titip Ibu ya, Mas." itu suara pak Kadik.
Setelah resmi menjadi bodyguard Nilam maka Jenar bertugas mengikuti kemanapun Nilam pergi saat jam kerja.
Jenar menghentikan mobil saat seseorang tiba-tiba menghadang jalan mereka.
Sudah Nilam duga.
Ketukan di kaca mobil tak Nilam hiraukan. Ia sedang malas menghadapi masa lalu yang tak tahu malu itu.
"Apa perlu saya beri pelajaran, Bu?"
"Jangan. Biarkan saja."
Mendengar jawaban bosnya, begitu Yudha mengitari mobil, Jenar menginjak gas.
Terlalu mendadak, tapi Nilam suka melihat ketangkasan Jenar.
"Sialan!"
Sementara Yudha sudah mengumpat kesal.
*******
"Bagaimana kabar ibu?" Nilam tidak bosan bertanya soalan yang sama setiap mantan mertuanya itu menghubungi. Bukan basa-basi tapi memang ingin tahu kabar wanita yang pernah begitu menyayanginya.
"Ibu hampir mati gara-gara terjatuh dari tangga, nggak ada kamu yang perhatian sama Ibu"
Nilam diam, bagaimana bisa Yudha sibuk mengejarnya sementara sang ibu sedang sakit? Pria itu benar-benar.
Kasian, tapi Nilam tidak bisa melihat keadaan Maulida, dia harus segera terbang ke Palembang.
"Kamu kesini ya, Ibu kangen acar kuning buatan mu."
"Nilam sedang dalam perjalanan bisnis, Bu." sama sekali tidak ada niat untuk membuat mantan ibu mertuanya itu kecewa.
"Berapa lama di sana?"
Nilam tahu Ibu mertuanya kesepian, tapi kenapa tidak menghubungi istri Yudha saja?
Di balik kaca spion Jenar memperhatikan wajah atasannya. Apakah wanita ini tidak memiliki suami. Kenapa untuk perjalanan bisnis saja membutuhkan bodyguard.?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒
s yudha knpa bs g d rasa sm nilam sih? pdhl kan lebih dr yg dicintainya yi rully. kirain dia pgn balikan dan mrsa brslh taunya egois udh buang istri glrn tau pnya anak sok mrsa jd bapk ny
2025-03-14
0
Heryta Herman
nilam keren...salut untukmu
terima kasih thor,sdh membuat cerita seorang wanita hebat dan mandiri sprti nilam
salut juga untukmu thor
2024-07-29
1
Fi Fin
Suka ceritanya biasa nya wanita lemah melow tp di sini wanitanya kuat hebat dan jg nama body guard nya keren mahesa jenar
2024-05-01
0