"Katakan apa tujuanmu kembali?" penekanan kalimat itu membuat bulu kuduk Nilam berdiri.
Salahkah ketika kita kembali ke tanah kelahiran sendiri terlebih ada keluarga disini?
"Kenapa?" satu kata mewakili ribuan tanda tanya.
Wajah Yudha memerah.
"Hidupku sudah tertata dengan baik tidak akan kubiarkan masa lalu masuk begitu saja."
Nilam telah selesai dengan urusannya dia tidak berharap apapun dari pembicaraan mendadak ini, sudah cukup seperti delapan tahun ini menjalani hidup tanpa mengharap apapun dari masa lalu. Untuk apa?
"Pergilah, kembali ke tempatmu yang sudah lama kamu tinggali."
Siapa Yudha yang bisa memberi perintah pada Nilam?
Rasanya begitu aneh mendengar ucapan laki-laki yang menjadi masa lalunya ini padahal Nilam tidak melakukan hal yang merugikan pria tersebut.
Disini harusnya Nilam yang terluka.
Tidak mudah menerima keadaan, ditinggalkan dengan alasan cinta pertama dari laki-laki yang telah mengakadnya kembali.
Mereka memang pernah menjadi sepasang suami istri, tapi tidak secuil pun ada niat di hati Nilam untuk mengusik mantan suaminya itu.
Sakit, benci dan kecewa, Nilam sudah tahu tiga rasa itu syukurnya dia bukan orang yang larut dengan perasaan. Sikap Yudha semakin membuatnya bijak, yang pernah Yudha lakukan membuatnya lebih dewasa Nilam berhasil membuktikan bahwa dia tidak jatuh melebur bersama luka yang diberikan Yudha.
Di depan apoteker Nilam berpapasan dengan Yudha. Bukan Nilam tapi Yudha yang memulai obrolan ini Nilam sama sekali tidak ada niat menyapa.
"Aku sudah bahagia. Jangan usik hidupku."
Yudha hanya tidak suka melihat Nilam hidup di kota yang sama dengannya. Bukan tidak mungkin akan ada goresan luka di hati Ruliana jika sampai tahu masa lalunya telah kembali. Yudha sangat menjaga hati wanita yang sangat dicintainya itu.
"Aku bukan manusia plin-plan, saat sudah memilih pergi dari kehidupan seseorang aku tidak akan pernah ingin kembali. Jangan terlalu percaya diri dan buang jauh-jauh pemikiran jika adanya aku disini untuk menoleh pada sampah yang pernah ku tinggalkan."
Jelas sekali kata-kata Nilam hanya orang bodoh yang tidak memahaminya.
Nilam terbiasa tampil di depan umum. Dedikasinya dituntut sempurna jika berkaitan dengan tanggung jawab.
Hal itu pula yang diterapkan dalam rumah tangga. Yudha yang bodoh tidak mengendalikan nafsunya hingga semuanya porak-poranda.
Bisa dilihat Nilam jika rahang lelaki itu mengeras.
"Jangan buat sensasi..."
"Saya hanya mengenal anda sebagai direktur grup perusahaan Dawarta." Nilam memotong kalimat Yudha. "Jika pernah mengenal saya, itu hak anda. Sejak saya pergi, sosok masa lalu telah saya anggap mati."
Jika Yudha ingin mengungkit masa lalu maka sebenarnya tidak ada pada Nilam, justru jika Nilam mau mengungkit masa lalu mereka Yudha yang kalah telak.
"Jika benar begitu anggapan mu, maka jangan pernah muncul dihadapan keluargaku."
"Anda menasehati diri sendiri?"
Dan kalimat itu tidak sanggup digapai Yudha. Belum diakui, tapi Yudha melihat Nilam bukanlah sosok biasa.
"Saya hanya minta, bekerjasama lah." itu kata terakhir Yudha sebelum pergi dari hadapan mantan istrinya.
*******
"Dapat?"
Senyum manis terbit di bibir Yudha.
"Penjaga apoteker nya sedikit bodoh! Sepertinya orang baru, kita cari di apotik lain saja sayang."
Ruliana hanya menoleh kesamping ingin memperhatikan apotik yang baru saja di kunjungi suaminya, kepalanya sakit, minta tolong Yudha mencarikan obat. Saat mobil melintas tepat di depan apotik Ruliana melihat sosok cantik yang pernah ditemuinya di acara pelantikan direktur beberapa hari lalu.
"Bertemu dengan Bu Nilam, Mas?"
"Ha?"
"Tadi di apotik bertemu dengan Bu Nilam direktur baru yang baru dilantik waktu itu?"
"Tidak, ada apa?"
"Aku baru melihatnya tadi di depan apotik."
"Kamu salah lihat, aku tidak bertemu siapapun."
Ruliana mengangguk. Mungkin dia memang salah lihat.
Pasangan dewasa yang mengerti dan saling menjaga, itulah mereka. Keduanya sudah menjalin kasih sejak duduk di bangku kuliah, sudah semestinya jika Yudha dan Ruliana saling memahami.
Hari itu Yudha tidak menyangka akan kembali bertemu dengan Nilam, bukan salah Nilam karena mereka berada di tempat umum.
"Kamu.... apa kabar?" ada rindu yang tersirat di mata wanita yang pernah menyandang status sebagai ibu mertuanya.
Sementara dilain sisi ada seorang wanita yang menahan nafas melihat adegan di lihatnya. Ruliana tidak tahu, dan mulai menghubungkan beberapa titik mengenai sikap Yudha akhir-akhir ini. Yudha tidak menyinggung perasaannya, tapi wanita itu tahu Yudha merasa terganggu. Yang membuat Ruliana marah adalah interaksi antara ibu mertuanya dan wanita itu.
"Anda di sini juga?"
Yudha tidak suka ketika Nilam menyapa. Mengulurkan tangannya, dan ibunya menyambut dengan suka cita.
"Kamu sudah bahagia."
Nilam tidak menanggapi tapi senyum manis tetap terukir di bibirnya.
Ini bukan mimpi. Seseorang dari masa lalu telah kembali, apakah kesetiaan Yudha akan diuji?
"Jangan berpikir yang membuatmu sedih." Yudha berbisik pada Ruliana yang terlihat kaget melihat interaksi antara ibu dan mantan istrinya.
Nilam sialan!
"Entahlah."
"Kamu tahu sebesar apa cinta ku." karena Yudha pernah melepaskan Nilam dan memilih wanita itu.
Sadar diperhatikan oleh wanita yang menjadi istri mantan suaminya, tidak ada pengaruh apa-apa pada Nilam.
*****
Perbedaan sangat mencolok antara mantan menantu dan menantunya.
Hari ini Maulida melihat sendiri bahwa Nilam tidak bisa dibandingkan dengan wanita pilihan Yudha, wanita itu terlalu hebat hanya Yudha yang dibutakan mata hatinya.
Sejak dulu Maulida memuji kecantikan Nilam. Sebagai sesama wanita beliau juga cukup terpana dengan Nilam. Tidak hanya cantik wanita itu bersahaja dan tentunya berkelas, Nilam juga santun dan tidak tampak sombong dengan raut datarnya, malah raut dan wajah Nilam membuat orang segan.
"Kunjungi Mama sesekali."
Selesai berbincang sebentar Nilam langsung pergi, yang dibawa Nilam dari pertemuan tadi adalah menyapa seorang ibu tidak ada hubungannya sama kedua orang lainnya yang ikut bersama mereka.
******
Aku tidak ingin menjadi wanita jahat. Aku ingin semuanya terbuka, bukan menyembunyikan galau yang tak berujung.
Sudah tiga hari Ruliana mendiamkan suaminya. Dia kecewa pada Yudha yang tidak berterus terang siapa sebenarnya wanita ini.
Pantas saja, sejak menghadiri acara pelantikan Nilam sikap Yudha berubah. Ternyata semua karena masa lalu.
"Kamu bisa membujuk Yudha, Mama sudah tua jika kalian sama-sama sibuk kapan akan memberikan cucu untuk Mama."
Ruliana menelan ludah, dan lanjut mendengar ucapan ibu mertuanya.
"Perkara rezeki, jodoh dan maut itu rahasia Tuhan, tapi sebagai hamba kita wajib berusaha. Kalau terus-terusan seperti ini mau sampai kapan ada pengikat kuat rumah tangga kalian, cinta saja tidak akan cukup."
Tidak hanya Maulida, yang menginginkan cucu, Ruliana juga ingin memiliki anak, tapi untuk pergi ke dokter dan melakukan bayi tabung itu bukankah terlalu dini mengingat usia pernikahannya baru empat tahun.
"Nanti Ruli bicarakan dengan Mas Yudha, Ma."
"Suruh Yudha temui Mama sore ini."
Belum sempat Ruliana ingin menanyakan apakah dia juga di undang ucapan Maulida membuat hatinya kecewa.
"Yudha saja, kamu tidak perlu ikut."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒
sbnre ruli tau g si yuda pernah nikah, kok g kenal b nilam
2025-03-14
0
Mia Mhionk
dibuat sebel sama si yudha
2024-06-10
0
Mrs. Labil
skak mad 😆😆😆
2024-04-17
1