Senyum ramah terpancar dari bibir pria dewasa yang tengah menunggu kedatangan putranya.
"Apa bersama Bu Nilam?" akhirnya tanya itu terlontar.
"Tidak ayah, beliau hanya mengantar." jelas Alfaaro dengan memandang Nilam untuk ikut di ajak masuk.
"Oh begitu, mari silahkan masuk."
Suatu kehormatan Nilam di sambut hangat oleh Udgam di depan pintu rumah pria itu. Tidak secara khusus sebenarnya karena Nilam bisa melihat sebuah gunting dan sarung tangan di tangan pria tersebut.
"Siapa yang di dalam mobil?"
Begitu jeli penglihatan pria paruh baya itu sampai bayangan Mylea dapat di tangkap oleh Udgam.
"Putri saya."
"Ayo diajak masuk, jangan sungkan di dalam banyak buah strawberry."
Mendengar strawberry mengingatkan Nilam pada cerita singkat Alfaaro yang mengatakan strawberry adalah buah kesukaan ibunya.
Mereka berkumpul di sebuah ruangan yang cukup megah, segalanya tampak mewah dan juga tertata rapi.
Di dinding banyak sekali foto-foto keluarga.
Jika mau melihat mungkin disana ada foto Alfaaro bayi hingga dewasa.
Seorang wanita tua yang duduk di kursi roda mendekat dan ikut memperkenalkan diri.
Nenek Alfaaro dari sang papa. Itu yang Nilam ketahui.
Hanya seputar obrolan kecil. Mylea menjadi pusat perhatian semua orang. Tidak hanya tuan Udgam, wanita yang duduk di kursi roda itu juga tidak bosan mengajak putri Nilam berbicara.
Obrolan mereka nyaman dan harus terhenti karena Alfaaro sudah siap.
"Kenapa harus Nilam? Sopir di rumah ini tidak ada?" sindiran kecil itu mengundang tawa.
"Nek," Alfaaro tidak suka ucapan neneknya, takut Nilam tersinggung tetapi lihat bibir wanita itu melengkung ke atas Alfaaro lega.
*********
Yudha kembali ke rumah ibunya yang kini sudah kembali rapi.
Maulida menatap tajam kearah Yudha.
"Kamu tidak malu pada Nilam?"
Ruliana mengalihkan tatapannya. Wanita pilihan Yudha itu tidak sependapat dengan ibu mertuanya.
"Kalau kamu keberatan dengan keputusan yang ibu ambil silahkan keluar dari rumah ini! Akan ku coret namamu dari surat warisan!"
Seketika Yudha lemas. Dia satu-satunya anak Maulida, kenapa ibunya tega bicara seperti itu?
"Ibu kenapa begitu tidak adil?" tiba-tiba Ruliana menyela. "Sebenarnya mas Yudha ini pura kandung atau anak angkat?"
Pertanyaan tidak sopan itu meluncur begitu mulus dari bibir wanita pilihan Yudha. Yudha sampai terkesiap sangking kagetnya.
"Jadi orang tua kok mau diperas oleh mantan menantu, nggak mikir bagaimana jika wanita itu hanya mengada-ada, belum tentu anak haram itu anak mas Yudha."
Satu buah pot bunga berbahan kaca tebal itu melayang mengenai pelipis Ruliana hingga bocor.
Mungkin terkesan jahat, tapi jika membunuh bukan suatu dosa atau kejahatan saat ini juga Maulida akan memotong leher sekaligus lidah Ruliana yang tajam itu.
Yudha sangat mengenal karakter sang Ibu. Jika beliau sudah turun tangan artinya masalah sudah sangat fatal. Yudha melirik Ruliana yang berdiri di sampingnya melihat wanita itu terpekik karena kesakitan. Dari pelipisnya juga mengeluarkan cairan merah. Kasian. Tapi tidak berani melawan sang Ibu.
"Kenapa harus dengan tangan Ibu? Kemana tangan dan mulutmu Yudha? Bagaimana kamu bisa tetap tenang sementara anak mu di hina sebagai anak garam?" emosi Maulida semakin membuat Yudha panas dingin.
Tahu begini dia tidak akan kembali mengajak Ruliana datang.
"Tidak ada yang membedakan kita di muka bumi selain ini." Maulida menunjuk dadanya."Semua akan jadi bangkai, kamu juga tidak ada apa-apanya nanti kecuali hatimu bagus."
Kepala Ruliana mulai pening dia ingin menyangkal ucapan Ibu suaminya tetapi mulutnya seolah terkunci.
"Pergi dari rumah Ibu. Urus istri mu, kamu mungkin sudah bosan jadi anak Ibu. Ibu sudah tua, jadi tidak sanggup lagi harus berdebat dengan kalian."
Yudha memeluk ibunya. "Aku minta maaf Bu. Aku berjanji akan lebih tegas lagi. Aku berjanji akan melakukan yang terbaik." Yudha masih membutuhkan doa ibunya.
"Sebagai seorang ayah kamu telah gagal melindungi putrimu dari ucapan keji istri mu, bagaimana bisa kamu tenang sementara anakmu disebut haram?"
Maulida mendorong dada putranya.
"Bagaimana bisa aku percayakan perusahaan pada laki-laki yang bahkan tidak bisa menjaga nama baik putrinya?" Maulida melanjutkan. "Dia " Ruliana di tunjuk oleh Maulida. "Terlalu sayang kamu padanya sampai membuatmu buta dengan kebenaran."
Yudha tidak bisa berkutik setiap kali Ibunya menyinggung perusahaan.
"Belajar menghargai keluarga dulu. Karena perusahaan ku dibangun dengan darah, air mata dan ketulusan. Apa tidak sia-sia jika ku wariskan untuk orang sepertimu?"
"Ibu menginginkan cucu?" Yudha ingin mengubah pembahasan.
"Tidak. Yang sudah ada tidak sanggup kamu jaga."
Telak! Yudha lemas tanpa sanggup menyanggah.
"Aku akan istirahat. Ajak istrimu berobat."
********
Yudha melarikan Ruliana ke rumah sakit terdekat. Cukup banyak darah yang keluar dari pelipis istrinya membuat Yudha panik.
Tidak sampai mendapat jahitan tapi memang lukanya mengeluarkan darah cukup banyak.
Mereka akan pulang tapi lagi-lagi Ruliana mencari ribut dengan suaminya.
"Aku akan melaporkan ibumu ke polisi."
Apa lagi ini?
"Ana,"
"Kamu pikir ini tidak sakit?" tanya Ruliana bengis.
Yudha memijit pelipisnya yang sudah terasa pening sejak tadi tapi kian parah saat mendengar ucapan Ruliana.
Ada perbedaan antara Ruliana dengan Nilam. Jika Nilam adalah istri yang dipilih maka Ruliana wanita pilihannya.
Tapi sikap keras kepala ini baru Yudha ketahui.
"Pikirkan lagi Ana, kamu tidak ingin Ibu semakin membencimu."
"Aku nggak perduli, pokoknya aku akan laporkan ibumu!"
Dengan cepat Yudha menghentikan mobilnya yang membuat Ruliana hampir terbentur dashboard.
"Turun!"
Hah!
"Turun!" bentak Yudha lagi yang membuat Ruliana ternganga.
"Mas, kam.."
"Kamu ingin laporkan Ibu ke kantor polisi kan? Maka laporkan sendiri, aku tidak ingin menjadi anak durhaka."
Ruliana tidak percaya dan merasa salah dengar. Tapi yang terjadi Yudha benar-benar menarik tubuhnya keluar dari mobil.
Pria itu kembali naik ke dalam mobil dan benar-benar meninggalkan Ruliana di pinggir jalan.
********
"Om Je hati-hati ya." Mylea mencium punggung tangan Alfaaro saat pria itu hendak turun dari mobil.
Senyum manis diberikan Alfaaro pada putri Nilam.
Nilam ikut turun saat Alfaaro mengambil kopernya di bagasi mobil.
Setelahnya Alfaaro menatap Nilam.
"Kita urus proyek setelah aku datang saja, jangan turun seorang diri."
"Ya,"
Menjawab jawaban singkat Nilam tanpa bertanya alasannya membuat Alfaaro gemas.
"Aku pergi." pamitnya.
"Hati-hati."
Alfaaro mengangguk sekali sebelum menenteng kopernya.
Cukup seperti ini saja, Alfaaro tidak akan terlalu menampakkan rasa tertariknya.
Biarlah Nilam merasa nyaman dulu baru dia mulai bertindak.
Setidaknya Alfaaro memahami menjalin sebuah hubungan yang baru tidaklah mudah bagi ibu satu orang anak itu.
Nilam memiliki masa lalu yang pahit, butuh waktu, butuh keyakinan besar, harta, dan ketampanan Alfaaro sudah miliki tinggal menunggu sang pujaan hati siap di halalkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Heryta Herman
yudha,skrng baru kau tau bagaimana sifat ruliana yg sbnrnya...dia mau kamu krna harta mu...hahaha...sukurin lu yudha...
2024-07-30
2
Shepty Ani
ruliana mampus kau haha mending dicerai aja tinggalin itu cwe masalahnya dibelain ama laki juga makin ngelunjak di baekin makin jd dikasarin nggak bisa jahat bgt ke ibumu anakmu dan kurang ajar juga ke suami yg padahal mati"an belain kamu sampe rela ninggalin istri anak sama ortu biarin dia hidup miskin dijalanan dasar jalang nggak tau diuntung ya ampun kesel bgt gw
2024-06-28
0
fiza
aish.. cemburu buta sgguh isteri yudha.bio la dia jmpa ank dia pastu yudha pon xguna,ank disebut haram berkali2 dia diam aje🙄
2024-05-07
0